PEMUDA DAN LINTASAN SEJARAH DUNIA
Oleh: Faizatul Rosyidah
Sobat, kalau sampe di sini kamu masih aja belum yakin bahwa kita (para pemudalah) pengukir sejarah masa depan kita, rasanya kamu emang tidak boleh ngelewatin bahasan terakhir berikut ini!!
Sobat…. Kalau kita mau memperhatikan sejarah bangsa dan kaum manapun di dunia ini, kita akan mendapatkan gambaran bahwa betapa di lintasan sejarah bangsa manapun di dunia ini ternyata penulis dan pencetaknya adalah para pemuda/pemudi.
Pemuda memiliki peranan penting dalam hampir setiap perjuangan meraih cita-cita. Revolusi Perancis yang menumbangkan kekuatan monarki digerakkan oleh para pemuda. Perjuangan pro-demokrasi di RRC dan Burma juga digerakkan oleh pemuda. Lapangan Tiananmen di Cina bisa menjadi saksi bagaimana keberanian pemuda menyongsong desingan peluru demi cita-cita demokratisasi yang didambakannya. Bahkan foto yang merekam keberanian seorang pemuda pro-demokrasi menyongsong iringan tank, menjadi foto jurnalistik terbaik ketika itu. Para pengikut setia Lenin dan Stalin di awal kemenangan komunisme di Rusia kebanyakan adalah para pemuda. Pemuda Mikhail Gorbachev ketika berusia 18 tahun menulis, “Lenin adalah ayahku, guruku dan Tuhanku”. Kini, di Indonesia setelah PKI sudah lama dibubarkan, disinyalir muncul ideologi “kiri baru” yang kebanyakan penganutnya tetaplah kalangan muda. Demonstrasi kolektif menuntut reformasi antar kampus-kampus besar di Indonesia yang akhirnya menumbangkan kekuasaan Orde Baru dan Presiden Soeharto 21 Mei 1998 lalu, juga dilakukan mahasiswa yang notebene pemuda.
Begitu juga dalam sejarah dakwah Islam, pemuda memegang peranan penting. Para Nabi dan Rasul yang diutus Allah untuk menyampaikan ajaran agama ini, terpilih dari kalangan pemuda yang rata-rata berusia sekitar empat puluh tahun. Berkata Ibnu Abbad ra. “Tidak ada seorang Nabi pun yang diutus Allah melainkan ia (dipilih) dari kalangan pemuda saja (antara 30 –40 tahun). Begitu juga tidak seorang alim pun yang diberi ilmu melainkan (hanya) dari kalangan pemuda saja.” (Tafsir Ibnu Katsir III/63).
Di Indonesia, pemuda Islam – dengan semangat jihad – berjuang mengusir penjajah kafir Belanda. Pemuda Islam juga yang menjadi garda terdepan dalam aksi penumpasan PKI. Teriakan “Allahu Akbar” pemuda Bung Tomo membakar semangat arek Suroboyo melawan tentara sekutu.
Dalam Al-Qur'an sendiri, terdapat banyak kisah keberanian pemuda. Ada pemuda Ashabul Kahfi, pemuda Musa, Yusuf dan sebagainya. Simaklah bagaimana kisah keberanian Ibrahim yang diantaranya tertuang pada surah Al-Anbiya’ ayat 60,
“Mereka berkata: Kami dengar ada seorang pemuda yang mencela berhala-berhala ini yang bernama Ibrahim”. Diceritakan dalam ayat tersebut betapa Ibrahim menentang keras kebiasaan kaumnya. Ia mencela patung-patung sesembahan mereka yang sama sekali tidak memberi manfaat dan mendatangkan mudharat. Dalam Surah Asy-Syu’ara ayat 72 diceritakan bagaimana seorang pemuda Ibrahim mendebat cara berpikir mereka.
“Berkata Ibrahim, ‘Apakah berhala-berhala itu mendengarmu sewaktu kamu berdo’a kepadanya? Atau (dapatkan) mereka memberi manfaat kepadamu atau memberi mudharat?’ mereka menjawab, ‘Sebenarnya kami mendapati nenek moyang kami berbuat demikian.’
“Jelaslah bahwa mereka menyembah berhala-berhala itu karena taklid buta semata, tanpa ilmu. Ibrahim lantas menjelaskan siapa yang sesungguhnya pantas disembah. Berkata Ibrahim, (mulai ayat 77),
“Karena sesungguhnya apa yang kamu sembah itu adalah musuhku, kecuali Tuhan semesta alam, Yang telah menciptakan aku, maka Dialah yang menunjuki aku, dan Tuhanku, Yang Dia memberi makan dan minum kepadaku, dan apabila aku sakit, Dialah yang menyembuhkanku.”
Bukan hanya mendebat, Ibrahim juga mengambil tindakan. Ayat 58 dari Surah Al-Anbiya’ menceritakan,
“Maka Ibrahim membuat berhala-berhala itu hancur terpotong-potong, kecuali yang terbesar dari patung-patung yang lain, agar mereka (kaum itu) kembali bertanya kepadanya.” Ketika mereka menangkap Ibrahim dan menuduhnya merusak berhala itu, Ibrahim meminta mereka untuk bertanya kepada berhala besar yang masih utuh. Tentu saja mereka tak mau melakukan itu karena tahu berhala itu tidak dapat berbicara.
“Kemudian mereka jadi tertunduk (lalu berkata), ‘Sesungguhnya kamu Ibrahim telah mengetahui bahwa berhala-berhala itu tidak dapat berbicara’” (ayat 65).
Bila demikian, mengapa masih saja disembah? “Ibrahim berkata, Maka mengapakah kamu menyembah selain Allah sesuatu yang tidak dapat memberi manfaat sedikitpun dan tidak (pula) memberi mudharat kepadamu? (ayat 66)”
Sobatku, coba bayangkan betapa hebat keberanian dan kecemerlangan pikiran seorang pemuda Ibrahim dalam kisah tersebut?!
Pemuda di Awal Dakwah Islam
Sobat, ternyata kalau kita mau menelusuri sejarah perjalanan hidup Rasul dan pengembangan dakwah Islam yang beliau lakukan, hingga memungkinkan kita mengenal Islam seperti sekarang, juga senantiasa ditopang oleh peran dan kekuatan pemuda.
Rasulullah Muhammad SAW sendiri, ketika diangkat menjadi Rasul adalah seorang pemuda, beliau berusia empat puluh tahun pada waktu itu. Pengikut beliau, yang merupakan generasi pertama, kebanyakan juga dari kalangan pemuda, bahkan ada yang masih anak-anak. Mereka dibina Rasulullah SAW. setiap hari di Daarul Arqam. Diantaranya adalah Ali bin Abi Thalib dan Zubair bin Awwam, yang paling muda keduanya ketika itu berusia 8 tahun, Abdullah bin Mas’ud (14 thn) yang kelak menjadi salah satu ahli tafsir terkemuka, Sa’ad bin Abi Waqqash (17), yang kelak menjadi panglima perang yang menundukkan Persia, Ja’far bin Abi Thalib (18), Zaid bin Haritsah (20), Utsman bin Khattab (26), Abu Ubaidah Ibnul Jarah (27), Bilal bin Rabbah (30), Abu Salamah (30), Abu Bakar Ash Shiddiq (37), Hamzah bin Abdil Muthalib (42), dan Ubaidah bin Al Harits, yang paling tua diantara semua sahabat berusia 50 tahun.
Sobat, masih terdapat puluhan ribu pemuda lain yang terlibat aktif dalam dakwah menegakkan panji-panji Islam di masa hidup Rasulullah SAW. Umumnya mereka adalah pemuda, bahkan remaja yang baru berangkat dewasa. Adalah Usamah bin Zaid, ketika berusia 18 tahun, yang diangkat oleh Nabi sebagai komandan pasukan Islam ketika menyerbu Syam. Padahal diantara pasukan Islam terdapat sahabat seperti Abu Bakar, Umar bin Khattab yang lebih tua darinya. Begitu juga Abdullah bin Umar. Jiwa perjuangan Islam telah memanasi jiwanya sejak berusia 13 tahun.
Alkisah, suatu ketika Rasulullah SAW. tengah menyiapkan pasukan untuk perang Badar, datang kepada Rasulullah SAW. dua remaja Islam, Abdullah Ibnu Umar dan Al Barra’, meminta agar diterima sebagai anggota pasukan Islam. Tapi Rasulullah SaW. menolak karena mereka masih terlampau kecil. Tahun berikutnya, menjelang perang Uhud, mereka datang lagi kepada Rasulullah SAW. untuk maksud yang sama. Yang diterima hanya Al-Barra’. Pada perang Ahzab barulah Ibnu Umar diterima sebagai anggota pasukan Islam (Shahih Bukhari VII/hal.226 dan 302)
Sobat, ada satu riwayat menarik yang sangat berharga untuk direnungkan bagi para pemuda Islam masa kini. Sebuah kisah yang diceritakan oleh sahabat Abdurrahman bin Auf. Katanya: “Selagi aku berdiri dalam barisan pasukan pada perang Badar, aku melihat ke kanan dan kiriku. Saat itu tampaklah olehku dua orang Anshar yang masih muda belia. Aku berharap semoga aku lebih kuat daripadanya. Tiap-tiap salah seorang diantaranya menekanku seraya berkata: “Hai paman, apakah engkau mengenal Abu Jahal (tokoh kafir Quraiys – Pen.)” Aku jawab: “Ya, apa keperluanmu padanya, hai anak saudaraku?”. Dia menjawab: “Ada seseorang yang memberitahuku bahwa Abu Jahal sering mencela Rasulullah SAW. Demi Allah yang jiwaku ada ditangannya, jika aku menjumpainya tentu aku tak akan lepaskan: “Aku merasa heran ketika mendengar ucapan pemuda itu”. Kemudian anak yang satunya lagi juga menekanku dan berkata st ucapan temannya tadi. Tidak lama berselang, aku melihat Abu Jahal mondar-mandir di dalam barisannya. Segera aku katakan (kepada dua anak muda itu): “Inilah orang yang sedang kalian cari”. Tanpa mengulur-ulur waktu, keduanya seketika menyerang Abu Jahal, menikamnya dengan pedang sampai tewas. Setelah itu mereka mendatangi Rasulullah SAW. (dengan rasa bangga) menceritakan kejadian itu. Rasulullah SAW. bertanya: “Siapa diantara kalian yang menewaskannya?” Masing-masing menjawab: “Sayalah yang membunuhnya”. Lalu Rasulullah SAW bertanya lagi: “Apakah kalian sudah membersihkan mata pedang kalian?” “Belum”, jawab keduanya serentak, Rasulullah SAW. kemudian melihat pedang mereka, seraya bersabda: “Kamu berdua telah membunuhnya. Akan tetapi segala pakaian dan senjata yang dipakai Abu Jahal (boleh) dimiliki Muadz bin Al Jamuh. (Berkata perawi hadits ini): Bahwa kedua pemuda itu adalah Muadz bin Afra dan Muadz bin Amru bin al Jamuh. (Musnab Imam Ahmad jilid II hal.193 dan Shahih Bukhori hadits no.3141 dan Shahih Muslim hadits no. 1752)
Pemuda-pemuda gagah berani, yang hidupnya didedikasikan hanya bagi kejayaan dan kemuliaan Islam, seperti itulah yang telah sanggup memikul beban dakwah dan bersedia berkorban serta menghadapi berbagai siksaan dengan penuh kesabaran. Mereka itulah para pejuang sejati yang telah memuliakan diri mereka dengan perjuangan yang mereka lakukan. Mereka akan menjadi orang yang senantiasa mendapat kebaikan, ampunan dari Allah dan surga yang tak terkirakan kenikmatannya. Mereka itulah yang disebut orang yang muflihiin (beruntung), sebagaimana firman Allah SWT:
“Tetapi Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya, mereka berjihad dengan harta dan diri mereka. Dan mereka itulah orang-orang yang memperoleh bermacam-macam kebaikan dan mereka itulah orang-orang yang beruntung” (Terj. QS. At Taubah: 88)
“...Maka orang-orang yang berhijrah, yang diusir dari kampung halamannya, yang disakiti pada jalanku (karena mengemban dakwah Islam) yang berperang dan yang dibunuh, pasti akan Aku hapuskan kesalahan-kesalahan mereka dan pasti Aku masukkan mereka ke dalam surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya. Sebagai pahala di sisi Allah. Dan disisi Allahlah terdapat pahala yang baik” (Ali Imran: 195)
Masa Depan di Tangan Islam
Sobat, setelah kejayaan dan kemuliaan itu pernah kita raih dan rasakan, dan setelah masa penuh kehinaan yang menyesakkan dada siapapun juga saat ini, maka Allah SWT melalui berbagai macam dalil menunjukkan dan menjanjikan bahwa masa depan dunia ini ada di tangan Islam. Diantaranya:
“Dialah yang mengutus RasulNya (dengan membawa petunjuk yang benar dan agama yang haq untuk dimenangkanNya atas seluruh agama, walaupun orang-orang musyrik membencinya” (At Taubah: 33)
“Perkara ini (agama Islam) akan merebak ke segenap penjuru yang ditembus malam dan siang. Allah tidak akan membiarkan satu rumah pun, baik gedung maupun gubuk melainkan Islam akan memasukinya sehingga dapat memuliakan agama yang mulia dan yang dihinakan adalah kekufuran” (HR. Ibnu Hibban No. 1631-1632).
Bila kejayaan Islam masa lalu muncul akibat dakwah Islam yang banyak ditopang oleh pemuda Islam yang memiliki sifat dan sikap perjuangan gigih, yang sanggup menyisihkan siang dan malamnya demi kepentingan Islam, maka demikian juga masa depan Islam. Sunnatullah tidak pernah berubah. Siapa yang unggul dialah yang memimpin. Umat Islam di masa lalu, terutama para pemudanya, unggul karena mereka benar-benar memeluk Islam secara kaffaah, lurus aqidahnya dan penuh ketaatannya pada syariat.
Jelas, dan sangatlah jelas, diperlukan kebangkitan umat, khususnya dari kaum mudanya, bila menginginkan kejayaan Islam kembali. Diperlukan pemuda Islam sekualitas para sahabat, yang memiliki komitmen tauhid yang lurus, keberanian menegakkan kebenaran sebagaimana ditunjukkan para sahabat, Rasulullah SAW atau kisah Ibrahim muda, serta memiliki ketaatan pada aturan Islam tanpa reserve. Dengan dorongan peran pemuda, perjuangan Islam akan berlangsung lebih giat sehingga Islam niscaya akan kembali tegak.
Masa Depan Umat ini Ada Di Tangan Kamu!
Sesungguhnya kehidupan model gimana yang mau kamu lakoni, adalah terserah pada pilihan kamu. Kamu mau jadi orang yang masih bingung, linglung dan cuman ngekor aja ama orang-orang di sekitar kamu, atau kamu mau jadi ‘bebeknya’ peradaban kafir Barat, ataukah mau menjadi generasi muda yang kuat dan mengulang kesuksesan generasi terbaik sebelum kamu, adalah juga pilihan kamu sendiri! Di tangan kamu sendirilah masa depanmu itu mau kamu buat bagaimana. Allah berfirman:
“...Sesungguhnya Allah tidak akan merubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka (sendiri)”. (Terj. QS. Ar Ra’du 11)
Wahai para pemuda yang dinamis dan penuh semangat, ingatlah janji Allah kepada kalian:
“Apabila kamu menolong (agama) Allah, maka Dia akan menolongmu dan mengukuhkan kedudukanmu.” (Terj. QS. Muhammad: 7)
Dan ingatlah juga janji Allah pada Surah An Nuur ayat 55.
“(Dan) Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman diantara kamu dan yang mengerjakan amal-amal shahih banwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi ini sebagaimana telah Dia jadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang paling diridlaiNya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan mereka) sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembahku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apa pun dengan Aku.....”
Pilihan tinggal pada kita sendiri, apakah kita mau menukar keadaan sekarang ini dengan yang sudah dijanjikan Allah kepada kita tersebut. Kalau ya, maka tunggu apa lagi?! Segera bina diri kita menjadi para pemuda berkepribadian Islam, yang punya pola pikir Islam dan punya pola sikap Islam. Berikan apa yang terbaik yang bisa kita lakukan untuk umat ini. Kita harus jadi seorang pemuda faqih fid-diin (faham agama) sekaligus pemuka dalam bidang kita masing-masing. Silakan kita jadi dokter, insinyur, ahli komputer, konglomerat, guru, direktur atau mau jadi apa saja, tapi ingat kita adalah seorang Muslim yang harus ngelakonin hidup ini dengan Islam, sehingga kita mesthi harus ngerti juga bagaimana hukum-hukum Islam itu. Kalau saat ini penerapan Islam tidak akan terwujud tanpa adanya perjuangan menegakkannya, maka bergabung dengan barisan pejuang dan pembela penerapan Islam kaffaah adalah sesuatu yang harus juga kita lakukan. Begitulah para generasi pendahulu kita yang tercatat dalam sejarah sebagai generasi terbaik yang pernah ada di bumi ini.
Ayo bangun…bangun!!! Kita mesti tinggalkan gambaran pribadi-pribadi cengeng, amoral dan tidak tahan bantingan yang melekat pada generasi kita saat ini. Pribadi-pribadi yang disibukkan dengan diskotik, ekstasi, putauw, dan bioskop-bioskop. Atau pribadi-pribadi yang masih bingung bagaimana mengatur waktu dan meninggalkan daya tarik TV. Bukan pula pribadi-pribadi yang cuman bisa bermimpi dan bernyanyi untuk meraih kebahagiaan, pribadi yang masih bingung dengan apa yang mereka cari di muka bumi ini, mereka yang begitu mudahnya meninggalkan kewajiban mengkaji tsaqofah Islam hanya karena menghadapi ujian sekolah atau kuliah, dan bukan pula pemuda-pemuda yang hanya punya semangat untuk meneriakkan perubahan tanpa tahu kemana sebenarnya perubahan yang harus diteriakkan.
Kita mesti berubah kepada jati diri kita yang sesungguhnya!! Dan setelah itu kita mesti jadi Agen Perubahan itu di tengah-tengah masyarakat kita!!
So….Sobatku, apa lagi yang kalian tunggu….!!!***
Wallahu A’lam Bish-Showaab
Konsultan Pendidikan Anak, Remaja dan Keluarga. Mitra Mewujudkan Profil Muslimah Mulia: Istri Sholihah, Ibu Pencetak Generasi Berkualitas dan Pejuang Islam
Tempat berbagi
informasi, pemikiran, kisah, artikel, tips, pengalaman, dan ilmu
berkaitan dengan dunia medis, intelektual, dakwah, perempuan,
pendidikan anak, remaja, keluarga dan generasi, juga sesekali barang jualan.....
Selamat Berlayar..........
informasi, pemikiran, kisah, artikel, tips, pengalaman, dan ilmu
berkaitan dengan dunia medis, intelektual, dakwah, perempuan,
pendidikan anak, remaja, keluarga dan generasi, juga sesekali barang jualan.....
Selamat Berlayar..........
Tampilkan postingan dengan label pemuda dan sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pemuda dan sejarah. Tampilkan semua postingan
Rabu, 25 Maret 2009
UMAT MENANTI PERJUANGANMU..!!
UMAT MENANTI PERJUANGANMU..!!
Oleh: Faizatul Rosyidah
Sobatku, mungkin sampe pada halaman ini, kamu udah ngerasa teryakinkan terhadap beberapa hal, tapi mungkin juga ada beberapa pertanyaan yang kemudian malah menggelitik kamu setelah faham beberapa hal di atas.
It’s OK Guys….itu mah emang wajar…..lah wong proses berfikir dan pencarian yang sedang kita lakukan emang belum kelar kok… So tetep sabar bacanya sampe buku ini habis ya!!
Nah Sobat, sampe di sini kita udah faham bahwa sebagai seorang Muslim ada konsekuensi yang musti kita sempurnakan; yakni mengambil dan terikat kepada hukum/syariat Islam secara keseluruhan, dan mengambilnya dalam keadaan yang penuh penerimaan sepenuh hati terhadap segala (hukum) apa yang diturunkan. Sayangnya untuk bisa nerapin Islam secara sempurna dalam seluruh aspek kehidupan itu kita masih punya kendala, terutama buat nerapin Islam yang menyangkut kehidupan sosial bermasyarakat kita, karena sampe sekarang kita belum memiliki lagi -sejak kekhilafahan terakhir runtuh pada 1924- sebuah negara yang mau dan berkomitmen untuk menerapkan hukum-hukum Islam dan menjaganya. Padahal fakta sejarah jelas membuktikan bahwa ketika syariat Islam -seperangkat peraturan yang dibuat oleh Pencipta dan Pengatur kita- tadi digunakan maka gambaran kehidupan yang begitu luar biasa mulia peradabannya, dapat kita semua rasakan, termasuk orang-orang non Muslim. Dan fakta pula yang sekarang membuktikan kepada kita; bahwa sejak kita mencampakkan aturan Islam tadi dan mengambil aturan selain Islam (yang nota bene buatan manusia) maka bertubi-tubi masalah demi masalah, kehinaan demi kehinaan menimpa kita (kaum muslimin), bahkan seluruh dunia. Siapa pun bisa merasakan kerusakan peradaban yang dimunculkan.
Karena alasan inilah, sebagai konsekuensi keimanan kita kepada Allah dan keinginan untuk mewujudkan kembali kejayaan dan kemuliaan peradaban umat manusia, maka satu langkah yang mustinya segera kita lakukan, yakni mengupayakan terwujudnya negara/sistem yang mau nerapin Islam secara kaaffah tadi. Sampe’ di sini masih setuju khan?
Cuman emang bukan berarti trus semuanya bisa berjalan secara sim salabim…lalu semua berubah dan semua jadi beres. Tapi sunnatullah, perubahan apapun itu pasti harus diawali dengan adanya upaya untuk melakukan perubahan tadi. Dan satu hal yang udah jelas juga, bahwa setiap perubahan pasti mengharuskan adanya pihak yang menjadi agen perubahan itu, yang bisa menjadi penggerak lokomotif perubahan tadi di tengah-tengah masyarakat. Bukankah Allah sudah menyatakan:
“...Sesungguhnya Allah tidak akan merubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka (sendiri)...” (Terj. QS. Ar Ra’du 11)
Tapi siapakah agen perubahan itu? Sobat, coba kita cermati bareng-bareng, di masa manakah seseorang itu ada pada masa keemasannya? Sebuah masa dimana dia memiliki penampilan fisik yang paling sempurna, kekuatan/stamina yang paling prima, kekuatan pikir yang paling cemerlang, semangat yang paling luar biasa dan idealisme yang begitu kental dan murninya. Apakah masa yang seperti itu adalah masa ketika kita masih balita, TK atau ketika kita masih kanak-kanak? Saya kira Sobat sekalian pasti sepakat kalau jawabannya adalah “tidak!”. Apakah masa keemasan itu adalah masa ketika nanti kita tua? Yap, jawabannya tentu juga “Tidak!” Karena faktanya malah dengan jelas menunjukkan bahwa pada kedua masa itu kita justru akan berada pada sebuah masa yang penuh kelemahan dan keterbatasan. Apakah keterbatasan itu karena memang potensi kita belum berkembang dan tumbuh secara sempurna (masa kanak-kanak) ataukah keterbatasan itu karena memang semua potensi yang kita punya sudah mengalami penurunan atau bahkan hilang (masa tua). Masa keemasan itu adalah masa muda, yang saat ini kita -para remaja/generasi muda- memilikinya.
Sehingga kalau pertanyaannya tadi adalah “Siapakah subyek dan pelaku perubahan itu?” Maka jawabannya adalah “orang-orang yang paling berpotensi untuk mengemban tugas mulia tersebut.” Dan siapakah mereka itu? Yap Sobat, tiada lain dan tiada bukan, kitalah….beserta generasi-generasi seusia kitalah generasi masa depan yang akan menjadi the agent of changes yang akan merubah keadaan terpuruk sekarang ini kepada keadaan yang terbangkitkan di tengah masyarakat kita. Di pundak-pundak kitalah terletak arah dan masa depan umat ini. Ibaratnya seorang sopir; maka kitalah yang memegang kemudi dan menentukan arah perjalanan setiap penumpang yang ada di kendaraan.”
Dalam hal ini Allah telah berfirman bahwa:
“Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal shalih diantara kalian, bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa. Sungguh, Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan Aku dengan sesuatu pun. Siapa pun yang (tetap kafir) sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.” (Terj. QS. An Nuur 55)
Pilihan tinggal pada kita, apakah kita mau menukar keadaan sekarang ini dengan yang sudah dijanjikan Allah kepada kita tersebut. Kalau ya, maka kita musti segera mengupayakan terealisirnya penerapan Islam secara kaffaah sebagai konsekuensi keimanan yang kita ikrarkan. Inilah sebenernya yang menjadi Pe-Er buat kita semua. Nggak mungkin khan kita bisa nerapin Islam kalau kita tidak kenal dan ngerti ama Islam. Tidak mungkin juga khan kita semua mau make’ solusinya Islam kalau ama syariat Islam itu sendiri aja kita tuakutnya bukan maen! Jadi……ini dulu yang musti kita upayakan. Kita musti kenali bagaimana sich sebenernya Islam itu, bagaimana syariat-syariatnya,baik menyangkut urusan pribadi kita, masyarakat maupun bernegara kita musti ngerti bagaimana Islam mengaturnya. Dengan mengenalnya, Insya Allah kita tidak akan pernah takut apalagi benci ama Islam. Sebaliknya, kita justru akan rindu Islam untuk kita terapkan.
Gimana caranya kenal? Yo….ngaji dong!! Jangan maenan PS atau SEGA aja! Bangun Brur…masa’ generasi harapan umat hari-harinya cuman sibuk ama tivi, bola dan pacaran doang….Kalau macem gitu, kapan berubahnya kondisi umat ini. !!
Selain itu, segera gabungkanlah dirimu dengan barisan peluang Islam yang berusaha mewujudkan tegaknya kehidupan Islam dengan dilaksanakannya seluruh syariat Islam di bumi ini. Karena kitalah (para pemuda) generasi yang semestinya menjadi barisan terdepan dalam perjuangan menuju kehidupan Islam yang kita semua dambakan. Masa’ adik-adik kita yang masih imut yang tidak ngerti apa-apa yang mestinya jadi aktor utama perjuangan ini! Atau kamu masih ngerasa bapak/ibu dan kakek/neneklah yang seharusnya jadi pioneer dalam perjuangan ini? Kalau emang masih ada pikiran kaya’ gitu Man, itu mah namanya bener-bener tidak rasional and mengada-ada. Udah jelas yang punya semua modal itu kita, kok nunjuk ke idungnya orang lain.
Eh inget Sobat, harus kita sadari….bahwa sebenernya yang butuh untuk memperjuangkan Islam itu adalah kita, dan bukannya Islam yang butuh ama perjuangan kita agar dia menang. Karena kita mau ikut bergabung jadi pejuang Islam atau nggak, Allah SWT sudah menjamin bahwa kelak Islam pasti akan menang dan terterapkan secara sempurna. Kalau bukan karena keterlibatan kita maka Allah akan senantiasa mengadakan orang-orang yang senantiasa siap untuk menjadi pejuang Islam ini. Sementara kita? Tinggallah kita gigit jari karena kemudian untuk menjadi pejuang Islam itu pun tidak kita raih.
Allah mengabarkan dalam beberapa firman-Nya:
“Hai orang-orang yang beriman, siapa saja diantara kalian murtad dari agamanya, maka kelak Allah mendatangkan suatu kaum yang Allah cintai dan mereka pun mencintai-Nya; yang bersikap lemah lembut terhadap orang mukmin dan keras terhadap orang kafir; yang berjihad di jalan Allah; dan yang tidak takut terhadap celaan orang-orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah yang diberikan kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya. Allah Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha Tahu.” (Terj. QS. Al Maidah 54)
Ibnu Katsir menafsirkan ayat ini sebagai berikut:
Allah SWT mengabarkan kekuasaan-Nya yang besar. Siapa saja yang tidak mau menolong agama Allah dan menjalankan syariat-Nya, maka Allah akan menggantikan mereka dengan orang yang lebih baik, lebih kuat, dan lebih lurus pendiriannya daripada mereka. firman-Nya:
“...Jika kalian berpaling, niscaya Dia akan mengganti kalian dengan kaum yang lain, dan mereka tidak akan seperti kalian. (Terj. QS. Muhammad 38),
“Jika Allah menghendaki, niscaya Dia memusnahkan kalian, wahai manusia, dan Dia mendatangkan umat lain (sebagai pengganti kalian). (Terj. QS. An Nisa’ 133)
So….Sobat, tunggu apa lagi, mau jadi kaum yang akan dimuliakan oleh Allah karena terlibat dalam perjuangan menegakkan Islam kaffaah, atau mau jadi orang yang tidak bernilai apa-apa, dihinakan dan kelak digantikan oleh Allah dengan datangnya generasi baru yang lebih kuat dan lebih bersemangat dari kita dalam memperjuangkan Islam ini, yang ketaatan dan kecintaan mereka kepada Allah lebih dari apapun yang ada di dunia ini?
Rasanya, siapapun dari kita pasti setuju, bahwa hidup mulia itu lebih baik ketimbang hidup terhina, bahwa menjadi generasi yang kuat itu lebih baik ketimbang jadi generasi yang lemah, dan bahwa menjadi pelopor itu jelas lebih baik ketimbang jadi pengekor. So Sobat…tunggu apa lagi, umat sedang menanti perjuanganmu!!!***
Oleh: Faizatul Rosyidah
Sobatku, mungkin sampe pada halaman ini, kamu udah ngerasa teryakinkan terhadap beberapa hal, tapi mungkin juga ada beberapa pertanyaan yang kemudian malah menggelitik kamu setelah faham beberapa hal di atas.
It’s OK Guys….itu mah emang wajar…..lah wong proses berfikir dan pencarian yang sedang kita lakukan emang belum kelar kok… So tetep sabar bacanya sampe buku ini habis ya!!
Nah Sobat, sampe di sini kita udah faham bahwa sebagai seorang Muslim ada konsekuensi yang musti kita sempurnakan; yakni mengambil dan terikat kepada hukum/syariat Islam secara keseluruhan, dan mengambilnya dalam keadaan yang penuh penerimaan sepenuh hati terhadap segala (hukum) apa yang diturunkan. Sayangnya untuk bisa nerapin Islam secara sempurna dalam seluruh aspek kehidupan itu kita masih punya kendala, terutama buat nerapin Islam yang menyangkut kehidupan sosial bermasyarakat kita, karena sampe sekarang kita belum memiliki lagi -sejak kekhilafahan terakhir runtuh pada 1924- sebuah negara yang mau dan berkomitmen untuk menerapkan hukum-hukum Islam dan menjaganya. Padahal fakta sejarah jelas membuktikan bahwa ketika syariat Islam -seperangkat peraturan yang dibuat oleh Pencipta dan Pengatur kita- tadi digunakan maka gambaran kehidupan yang begitu luar biasa mulia peradabannya, dapat kita semua rasakan, termasuk orang-orang non Muslim. Dan fakta pula yang sekarang membuktikan kepada kita; bahwa sejak kita mencampakkan aturan Islam tadi dan mengambil aturan selain Islam (yang nota bene buatan manusia) maka bertubi-tubi masalah demi masalah, kehinaan demi kehinaan menimpa kita (kaum muslimin), bahkan seluruh dunia. Siapa pun bisa merasakan kerusakan peradaban yang dimunculkan.
Karena alasan inilah, sebagai konsekuensi keimanan kita kepada Allah dan keinginan untuk mewujudkan kembali kejayaan dan kemuliaan peradaban umat manusia, maka satu langkah yang mustinya segera kita lakukan, yakni mengupayakan terwujudnya negara/sistem yang mau nerapin Islam secara kaaffah tadi. Sampe’ di sini masih setuju khan?
Cuman emang bukan berarti trus semuanya bisa berjalan secara sim salabim…lalu semua berubah dan semua jadi beres. Tapi sunnatullah, perubahan apapun itu pasti harus diawali dengan adanya upaya untuk melakukan perubahan tadi. Dan satu hal yang udah jelas juga, bahwa setiap perubahan pasti mengharuskan adanya pihak yang menjadi agen perubahan itu, yang bisa menjadi penggerak lokomotif perubahan tadi di tengah-tengah masyarakat. Bukankah Allah sudah menyatakan:
“...Sesungguhnya Allah tidak akan merubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka (sendiri)...” (Terj. QS. Ar Ra’du 11)
Tapi siapakah agen perubahan itu? Sobat, coba kita cermati bareng-bareng, di masa manakah seseorang itu ada pada masa keemasannya? Sebuah masa dimana dia memiliki penampilan fisik yang paling sempurna, kekuatan/stamina yang paling prima, kekuatan pikir yang paling cemerlang, semangat yang paling luar biasa dan idealisme yang begitu kental dan murninya. Apakah masa yang seperti itu adalah masa ketika kita masih balita, TK atau ketika kita masih kanak-kanak? Saya kira Sobat sekalian pasti sepakat kalau jawabannya adalah “tidak!”. Apakah masa keemasan itu adalah masa ketika nanti kita tua? Yap, jawabannya tentu juga “Tidak!” Karena faktanya malah dengan jelas menunjukkan bahwa pada kedua masa itu kita justru akan berada pada sebuah masa yang penuh kelemahan dan keterbatasan. Apakah keterbatasan itu karena memang potensi kita belum berkembang dan tumbuh secara sempurna (masa kanak-kanak) ataukah keterbatasan itu karena memang semua potensi yang kita punya sudah mengalami penurunan atau bahkan hilang (masa tua). Masa keemasan itu adalah masa muda, yang saat ini kita -para remaja/generasi muda- memilikinya.
Sehingga kalau pertanyaannya tadi adalah “Siapakah subyek dan pelaku perubahan itu?” Maka jawabannya adalah “orang-orang yang paling berpotensi untuk mengemban tugas mulia tersebut.” Dan siapakah mereka itu? Yap Sobat, tiada lain dan tiada bukan, kitalah….beserta generasi-generasi seusia kitalah generasi masa depan yang akan menjadi the agent of changes yang akan merubah keadaan terpuruk sekarang ini kepada keadaan yang terbangkitkan di tengah masyarakat kita. Di pundak-pundak kitalah terletak arah dan masa depan umat ini. Ibaratnya seorang sopir; maka kitalah yang memegang kemudi dan menentukan arah perjalanan setiap penumpang yang ada di kendaraan.”
Dalam hal ini Allah telah berfirman bahwa:
“Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal shalih diantara kalian, bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa. Sungguh, Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan Aku dengan sesuatu pun. Siapa pun yang (tetap kafir) sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.” (Terj. QS. An Nuur 55)
Pilihan tinggal pada kita, apakah kita mau menukar keadaan sekarang ini dengan yang sudah dijanjikan Allah kepada kita tersebut. Kalau ya, maka kita musti segera mengupayakan terealisirnya penerapan Islam secara kaffaah sebagai konsekuensi keimanan yang kita ikrarkan. Inilah sebenernya yang menjadi Pe-Er buat kita semua. Nggak mungkin khan kita bisa nerapin Islam kalau kita tidak kenal dan ngerti ama Islam. Tidak mungkin juga khan kita semua mau make’ solusinya Islam kalau ama syariat Islam itu sendiri aja kita tuakutnya bukan maen! Jadi……ini dulu yang musti kita upayakan. Kita musti kenali bagaimana sich sebenernya Islam itu, bagaimana syariat-syariatnya,baik menyangkut urusan pribadi kita, masyarakat maupun bernegara kita musti ngerti bagaimana Islam mengaturnya. Dengan mengenalnya, Insya Allah kita tidak akan pernah takut apalagi benci ama Islam. Sebaliknya, kita justru akan rindu Islam untuk kita terapkan.
Gimana caranya kenal? Yo….ngaji dong!! Jangan maenan PS atau SEGA aja! Bangun Brur…masa’ generasi harapan umat hari-harinya cuman sibuk ama tivi, bola dan pacaran doang….Kalau macem gitu, kapan berubahnya kondisi umat ini. !!
Selain itu, segera gabungkanlah dirimu dengan barisan peluang Islam yang berusaha mewujudkan tegaknya kehidupan Islam dengan dilaksanakannya seluruh syariat Islam di bumi ini. Karena kitalah (para pemuda) generasi yang semestinya menjadi barisan terdepan dalam perjuangan menuju kehidupan Islam yang kita semua dambakan. Masa’ adik-adik kita yang masih imut yang tidak ngerti apa-apa yang mestinya jadi aktor utama perjuangan ini! Atau kamu masih ngerasa bapak/ibu dan kakek/neneklah yang seharusnya jadi pioneer dalam perjuangan ini? Kalau emang masih ada pikiran kaya’ gitu Man, itu mah namanya bener-bener tidak rasional and mengada-ada. Udah jelas yang punya semua modal itu kita, kok nunjuk ke idungnya orang lain.
Eh inget Sobat, harus kita sadari….bahwa sebenernya yang butuh untuk memperjuangkan Islam itu adalah kita, dan bukannya Islam yang butuh ama perjuangan kita agar dia menang. Karena kita mau ikut bergabung jadi pejuang Islam atau nggak, Allah SWT sudah menjamin bahwa kelak Islam pasti akan menang dan terterapkan secara sempurna. Kalau bukan karena keterlibatan kita maka Allah akan senantiasa mengadakan orang-orang yang senantiasa siap untuk menjadi pejuang Islam ini. Sementara kita? Tinggallah kita gigit jari karena kemudian untuk menjadi pejuang Islam itu pun tidak kita raih.
Allah mengabarkan dalam beberapa firman-Nya:
“Hai orang-orang yang beriman, siapa saja diantara kalian murtad dari agamanya, maka kelak Allah mendatangkan suatu kaum yang Allah cintai dan mereka pun mencintai-Nya; yang bersikap lemah lembut terhadap orang mukmin dan keras terhadap orang kafir; yang berjihad di jalan Allah; dan yang tidak takut terhadap celaan orang-orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah yang diberikan kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya. Allah Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha Tahu.” (Terj. QS. Al Maidah 54)
Ibnu Katsir menafsirkan ayat ini sebagai berikut:
Allah SWT mengabarkan kekuasaan-Nya yang besar. Siapa saja yang tidak mau menolong agama Allah dan menjalankan syariat-Nya, maka Allah akan menggantikan mereka dengan orang yang lebih baik, lebih kuat, dan lebih lurus pendiriannya daripada mereka. firman-Nya:
“...Jika kalian berpaling, niscaya Dia akan mengganti kalian dengan kaum yang lain, dan mereka tidak akan seperti kalian. (Terj. QS. Muhammad 38),
“Jika Allah menghendaki, niscaya Dia memusnahkan kalian, wahai manusia, dan Dia mendatangkan umat lain (sebagai pengganti kalian). (Terj. QS. An Nisa’ 133)
So….Sobat, tunggu apa lagi, mau jadi kaum yang akan dimuliakan oleh Allah karena terlibat dalam perjuangan menegakkan Islam kaffaah, atau mau jadi orang yang tidak bernilai apa-apa, dihinakan dan kelak digantikan oleh Allah dengan datangnya generasi baru yang lebih kuat dan lebih bersemangat dari kita dalam memperjuangkan Islam ini, yang ketaatan dan kecintaan mereka kepada Allah lebih dari apapun yang ada di dunia ini?
Rasanya, siapapun dari kita pasti setuju, bahwa hidup mulia itu lebih baik ketimbang hidup terhina, bahwa menjadi generasi yang kuat itu lebih baik ketimbang jadi generasi yang lemah, dan bahwa menjadi pelopor itu jelas lebih baik ketimbang jadi pengekor. So Sobat…tunggu apa lagi, umat sedang menanti perjuanganmu!!!***
Langganan:
Postingan (Atom)