JADILAH PRIBADI
DAMBAAN UMAT !!
Oleh: Faizatul Rosyidah
Sobat, setelah kita faham bagaimanakah potensi kehidupan kita, dan bagaimanakah hakekat dari amal yang kita lakukan, mestinya kita juga mulai bisa sedikit ngira-ngira gimanakah caranya supaya kita bisa memiliki kepribadian Islam yang tinggi sebagaimana yang diperintahkan oleh Islam, berangkat dari modal yang diberikan oleh Allah kepada kita berupa kebutuhan-kebutuhan jasmani, naluri dan akal tadi.
Nah Sobat, berkaitan dengan hal ini, rasanya kita sering dengar masyarakat kita memperbincangkan apa sih kepribadian itu. Mulai dari bahasan kepribadian yang dikaitkan ama tanggal lahir, ‘weton’ atau bintang. Kepribadian yang dikaitkan dengan bentuk fisik tertentu, seperti bentuk wajah, jenis rambut, bentuk hidung, alis, dsb. Kepribadian yang dikaitkan sama warna kesenangan, hobi, dll. Hingga kepribadian yang dikaitkan sama coretan tangan alias tulisan dan tanda tangan. Bahwa kalau si A itu suka pake baju ijo berarti dia punya kepribadian ‘gini., trus kalau si B punya bentuk alis kaya’ ‘udang senam’ berarti dia itu orangnya begitu, lain lagi dengan si C yang janggutnya ’gini’ dan sebagainya. Sering kita dengar bahwa kepribadian seseorang dapat dilihat dari caranya berpakaian, caranya berjalan, caranya berdandan, de el el, sampe-sampe didirikan sebuah sekolah kepribadian khusus untuk melahirkan orang yang konon katanya ‘berkepribadian’. Tapi eh ada lagi sebuah konsep kepribadian yang banyak orang saat ini berlomba-lomba merealisasikannya. Kepribadian yang gimana sich itu? Yap…..mungkin kalian semua juga udah pernah dengar; menjadi orang berkepribadian dalam arti….punya mobil pribadi, sopir pribadi, rumah pribadi, kolam renang pribadi, sekolah pribadi, tempat tidur pribadi…pokoke semua serba pribadi. Semakin banyak yang kita miliki secara pribadi, orang bakal bilang kita adalah orang yang bener-bener berkepribadian. He…he…he… Gimana bener khan kalau gua bilang itulah konsep tentang kepribadian yang sedang berkembang di tengah-tengah masyarakat kita saat ini?!
Tapi eh Sobat…. Kalian jangan langsung maen setuju aja sama pendapat orang-orang itu, sekalipun pengikutnya banyak. Karena kebenaran itu tidak ditentukan oleh banyaknya orang yang berpendapat begitu. Tetapi kebenaran itu adalah segala sesuatu yang memang sesuai dengan tuntunan Islam. Bukankah Islam adalah seperangkat peraturan hidup yang berasal dari Dzat Yang Maha Benar?! Dan bukankah pihak yang paling tahu hakekat sesuatu apapun di dunia ini adalah Yang membuat dunia ini? Jadi yuk sama-sama nyari’in gimana penjelasan Islam tentang masalah ‘kepribadian ini’. Yuk…yuk…yuk….!!!
Kepribadian Dalam Konsepsi Islam
Dalam “frame” Islam, kepribadian seseorang tidaklah ditentukan oleh warna kulitnya, bentuk hidung atau alisnya, juga tidak ditentukan oleh tanggal lahirnya apalagi shio atau bintangnya. Semua hal tersebut tadi bener-bener tidak ada hubungannya sama sekali dengan kepribadian.
Ibarat energi, kepribadian itu adalah sesuatu yang abstrak, tetapi kita dapat memahami dan menginderanya melalui sesuatu yang menjadi penampakan kepribadian tadi pada seseorang. Apakah penampakan tadi? Yang jelas, lagi-lagi bukan bentuk-bentuk fisik seperti yang sudah kita sebutin tadi.
Coba kamu-kamu pikir deh! Kira-kira kamu bakal ngatakan seseorang itu baik, punya kepribadian tinggi, ataukah jahat alias berkepribadian buruk itu apa sekedar dari pakaian apa yang dipakainya? Kalau pake sarung pasti baiknya, kalau pake warna ijo pasti ramahnya, kalau pake warna merah pasti beraninya, kalau coraknya garis-garis berarti orang tegas, dan lain-lainnya…. Apa emang begitu kalian menilai kepribadian seseorang itu baik ataukah buruk? Saya kira jawaban kalian sama dengan jawabanku: “tentu tidak…!!” Lha kalau begitu dari apanya hayo…? (Haah yang kerasan…gak denger nich…) Yap seratus persen sepakat… (dengan jawabanmu)…kita melihat dari bagaimana gambaran tingkah lakunya.
Jadi nilai (kepribadian) seseorang itu sebenarnya akan ditentukan oleh bagaimanakah tingkah laku seseorang tadi.
Sekarang pertanyaan berikutnya; apa sih yang dimaksud dengan tingkah laku itu? Gini Sobat, dalam kitab Asy-Syakhsiyah Islamiyah karangan Syeikh Taqiyuddin An Nabahani dikatakan bahwa tingkah laku adalah kumpulan dari amal perbuatan kita, jadi bukan salah satu saja dari keseluruhan amal yang kita lakukan. Konkritnya gini; kita tidak boleh dan tidak bisa memvonis bahwa si Encep itu seorang pemalas hanya karena pernah sekali kita melihat dia bangun paginya kesiangan, tapi kita bisa bilang Encep emang pemalas kalau kita emang tahu udah pola amalnya (kebiasaan) Encep tiap harinya emang tidak pernah tidak kesiangan. Demikian pula kita tidak bisa men-judge bahwa seseorang itu kepribadian Islamnya tinggi hanya berdasarkan penglihatan kita ketika ketemu dengannya di masjid, sholatnya sepertinya khusyu’ banget, tanpa kita pernah tahu gimana akhlaknya sehari-hari, apakah kewajiban-kewajiban Islam yang lain juga udah dia lakonin, dsb.
Jadi penampakan kepribadian seseorang adalah gimana tingkah lakunya, artinya gimanakah gambaran/pola keseluruhan amal perbuatannya. Itulah yang akan menunjukkan apakah seseorang punya kepribadian yang tinggi ataukah sebaliknya. Hal ini sejalan dengan apa yang dikatakan Rasul SAW.:
“Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada gambaran wajah (fisikmu) dan hartamu, akan tetapi sesungguhnya Dia hanya akan melihat kepada hati dan amal perbuatanmu. (HR. Muslim dan Ibnu Majah dari Abu Hurairah)”
Sobat sekalian, kalau emang kalian udah ngerti bahwa kepribadian itu diliat dari gambaran tingkah laku kita, lalu pertanyaan berikutnya: apa sih yang akan menentukan tingkah laku kita itu? Nah untuk ngejawabnya kalian musti nerusin mikirnye. Gini…kalian pernah jalan-jalan ato lewat di jalan khan? Pasti pernah dong…! Ketemu sama siapa hayo…? Banyak orang khan…ada cowok ada cewek, ada besar ada kecil, ada yang tua, ada yang muda dan yang jelas mungkin ada yang kita kenal ’en tidak kita kenal. Nah tingkah laku apa yang bakal kita lakukan akan sangat ditentukan oleh pemahaman seperti apa yang ada dalam benak kita; pemahaman apakah kita kenal seseorang yang kita temui di jalan tadi ataukah tidak. Berbedanya pemahaman tadi akan membuat berbedanya pula perbuatan yang akan kita lakukan. Kalau ketemu orang yang tidak kenal…mungkin kita akan berlalu saja di depannya tanpa say hello ataupun pay attention sedikitpun. Terhadap orang yang kita kenal dia itu ayah kita mungkin kita segera nyamperin, cium tangan lalu minta uang (hayo kebetulan cocok….ya). Demikian pula kepada orang yang kita kenal sebagai temen kita, mungkin kita bakalan say hello, nyapa dia, nanya’-nanya’ kabar ’en akhirnya jalan bareng nerusin perjalanan. Sementara kepada orang yang kita kenal sebagai musuh kita, perbuatan begitu tadi tidak bakalan mungkin kita lakukan, ya khan? Jangankan salaman trus nanya’ kabar…lah wong ketemu aja males, mungkin kita segera balik muter ambil jalan lain yang tidak ada dia atau tindakan lainnya yang pasti jelas beda dengan apa yang kita lakukan terhadap ayah atau teman kita tadi. ’Tul khan??
Jadi Sobatku sekalian, ternyata jelaslah bahwa yang menentukan perbuatan seseorang adalah pemahaman yang dia miliki.
Lalu dari mana pemahaman ini dimiliki seseorang? Yap….dari proses berfikir yang dia lakukan terhadap fakta yang dia indera. Bukankah manusia diberi potensi/kemampuan berfikir dengan adanya akal padanya? (masih inget dengan bahasan sebelumnya khan?). Nah proses berfikir inilah yang bakal nentu’in model pemahaman seperti apa yang bakal dimiliki seseorang, ketika dalam berfikirnya itu dia pake’ sebuah pola pikir tertentu. Adanya pola pikir inilah yang sebenernya akan membuat kesimpulan berfikir seseorang itu berbeda sesuai dengan apa yang dia jadikan sebagai pijakan dalam berfikirnya, karena pola pikir ini akan membuat seseorang tadi hanya akan memakai informasi-informasi tertentu yang sesuai dengan landasan berfikirnya untuk dia gunakan dalam memahami segala sesuatu/fakta. Pola pikir inilah yang kita kenal dengan istilah aqliyah.
Sementara, kalau kita juga berusaha mencermati lebih dalam lagi fakta perbuatan manusia, maka akan kita dapatkan bahwa hakekatnya seluruh perbuatan seorang manusia itu adalah suatu aktivitas yang dia lakukan dalam rangka memenuhi kebutuhan-kebutuhannya, apakah itu kebutuhan jasmani (semacam butuh makan, minum, tidur, ingin ke belakang, dsb) ataukah kebutuhan naluri/kecenderungan-kecenderungan (macam: ingin diakui kehebatannya, ingin diakui eksistensinya, ingin kaya, takut kelaparan, dsb). Bukankah kalian udah pada tahu bahwa adanya potensi kehidupan itulah yang senantiasa membuat manusia bergerak melakukan aktivitas tertentu untuk memenuhinya?! (seperti penjelasan sebelumnya itu lho). Nah, pada waktu dorongan/kecenderungan yang lahir karena adanya kebutuhan-kebutuhan pada diri manusia ini ditundukkan dengan pemahaman yang lahir dari proses berfikirnya yang punya pola tertentu tadi itulah, seseorang akan memiliki pola sikap yang tertentu sebagaimana pemahaman yang dipake untuk menundukkan dan mengatur kecenderungannya tadi.
Jadi dari sini kita bisa dapetin bahwa sebenarnya komponen pembentuk kepribadian (syakhsiyah) seseorang itu ada dua. Yang pertama adalah pola pikirnya (aqliyah-nya), dan yang kedua adalah pola sikapnya (nafsiyah-nya), sejalan dengan karakteristik seorang manusia yang senantiasa akan memiliki kebutuhan-kebutuhan jasmani/naluri (potensi kehidupan) dan akal.
Dikatakan sebuah kepribadian itu adalah kepribadian Islam, ketika pola pikir (aqliyah) yang dimiliki oleh seseorang itu adalah pola pikir yang islami, dan pola sikapnya (nafsiyah) adalah pola sikap yang islami.
Pola pikir yang islami bisa kita dapatkan kalau dalam setiap melakukan proses berfikir kita senantiasa menyandarkan proses tadi kepada bagaimana Islam memandang hal itu. Misalnya kita hendak menilai apakah mojok berdua sama temen lawan jenis kita di tempat yang sepi hanya untuk bercengkrama itu perbuatan yang baik atau buruk, harus kita lakukan ataukah kita tinggalkan atau boleh saja kita lakukan, maka dikatakan memiliki pola pikir islami kalau kita selalu menjadikan bagaimana Islam memandang hal itu, sebagai titik tolok pandangan kita. Contoh lain, misalnya kita hendak mencari model baju yang bagus itu bagaimana ya? Maka seseorang yang punya pola pikir islami akan memandang bahwa pakaian yang baik bagi seorang muslimah adalah menutup aurat dan berjilbab karena itulah pakaian yang dikatakan baik oleh Islam dan bukannya pakaian terbuka a la artis yang kalo bagian bawahnya ditutup, atasnya jadi ikutan melorot kebuka, sebaliknya kalau bagian atasnya ditutup, bagian bawahnya ikutan tertarik ke atas sampai keliatan ’area pribadinya’.
Dan yang perlu digarisbawahi adalah: bahwa pemahaman yang dimiliki seseorang akan sangat bergantung kepada apa yang menjadi landasan/kaidah berfikir seseorang itu. Dalam hal ini adalah apakah aqidah yang dipakainya untuk menjadi landasan berfikirnya, apakah aqidah kapitalis, sosialis ataukah Islam. Jadi ketika yang dipakai sebagai landasan berfikir seseorang itu adalah aqidah kapitalis, maka aqliyah yang dihasilkan adalah aqliyah kapitalis, dan pemahaman yang dihasilkan pun adalah pemahaman kapitalis. Demikian juga dengan Sosialis dan Islam, maka aqliyah dan pemahaman yang dihasilkan pun akan menjadi sosialis atau Islam tergantung aqidah mana yang dijadikannya landasan berfikir. Maka untuk bisa mendapatkan pemahaman yang Islami, maka proses berfikir yang kita lakukan mustilah disandarkan kepada aqidah Islam saja, sehingga kita hanya akan menjadikan aturan-aturan Islam sebagai penentu apakah sesuatu itu baik ataukah buruk; sesuatu itu halal ataukah haram; ataupun suatu perbuatan itu harus dilakukan (wajib), boleh dilakukan (mubah), lebih baik dilakukan (sunnah), lebih baik ditinggalkan (makruh) ataukah harus ditinggalkan (haram).
Sedangkan pola sikap islami bisa kita miliki kalau setiap kita hendak melakukan sesuatu untuk memenuhi kebutuhan jasmani atau naluri kita, selalu kita sandarkan/dikaitkan ama aqidah kita yaitu Islam. Misalnya pada saat kita mau berpakaian, maka kita disebut sebagai seseorang yang memiliki pola sikap yang Islami kalau kemudian kita memilih pakaian sebagaimana yang diajarkan oleh Islam, jadi ‘ndhak sebatas pemikiran aja…misalnya ketika kita ditanya pakaian yang seharusnya dipakai seorang Muslim itu yang bagaimana, kita bisa jawab dengan enteng: “yang menutup aurat”, tapi ternyata ketika kita main badminton pakaian kita ’nggak cocok dengan apa yang kita fahami. Contoh lain, misalnya kita lagi laper buanget tapi yang ada dihadapan kita babi panggang, mau makan ndak ya…?, nah…kaitkan donk ama hukum syara’! Nah, ternyata setelah kita fikirkan kita ketahui bahwa babi itu haram, so lewat ah..cari makanan yang lainnya aja, bukankah masih banyak jenis makanan lain tetapi halal?! Itu yang namanya berpola sikap yang Islami. Bukannya di luar berkoar-koar babi itu haram, tapi ngumpet-ngumpet nyikat babi panggang.
Nah, ketika seseorang itu sudah punya dua unsur kepribadian inilah (pola pikir dan pola sikap islami), dikatakan seseorang tadi memiliki kepribadian Islam. Ingat dua unsur tadi harus terpenuhi ! Dan kalau kita lihat, ternyata hanya aqidah Islam-lah yang menjadi landasan/dasar pembentukan dua unsur kepribadian Islam tadi. Sehingga seseorang yang telah mengaku beraqidah Islam – yang tentunya melalui suatu proses pemahaman, bukan sekedar kebetulan atau ikut-ikutan – selanjutnya ia harus memfungsikan aqidahnya dalam pembentukan pola pikir dan pola sikapnya sehingga dia pun kemudian memiliki kepribadian Islam.
So Sobat, sampe’ di sini kamu-kamu pasti udah ngerti kalau kepribadian itu tidak ada hubungannya ama gaya berjalan, penampilan, wajah, tahi lalat, dan sebagainya. Dan kepribadian Islam juga tak ada hubungannya dengan watak/karakter seseorang. Utsman bin Affan yang terkenal lemah lembut dan pemalu tidaklah berarti memiliki kepribadian Islam yang berbeda atau lebih tinggi daripada Umar yang terkenal keras dan tegas. Namun keduanya memiliki kepribadian yang sama, yakni kepribadian/syakhsiyah Islam yang tinggi. Sebagaimana dipuji oleh Allah:
“Kalian semua adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, mencegah dari yang mungkar dan beriman kepada Allah.” (Terj. QS. Ali Imran 110)
Dari ayat diatas kamu bisa melihat bahwa pujian yang diberikan oleh Allah dan Rasul-Nya adalah bersifat umum bagi seluruh sahabat Rasul. Bukankah tidak dikatakan: bahwa semua sahabat itu berkepribadian Islam yang tinggi (”umat terbaik yang pernah dilahirkan untuk manusia”) kecuali Umar karena sikapnya yang keras dan tegas, misalnya.
Jadi seandainya kamu adalah orang Madura atau Batak yang ngomongnya keras (suka teriak-teriak karena memang gaya ngomongnya begitu) belum tentu memiliki kepribadian yang lebih rendah daripada orang Solo yang gaya ngomongnya lemah lembut dan bisa membuat orang ketiduran ‘ngedengerinnya’. Seseorang yang berwajah ke-Arab-araban tidak juga menunjukkan kepribadiannya lebih tinggi daripada seseorang yang berwajah kecina-cinaan atau kebarat-baratan. Karena memang bukan dari hal-hal tersebutlah syakhsiyah/kepribadian seseorang dapat dilihat dan dinilai. Sehingga keduanya bisa jadi sama-sama memiliki kepribadian Islam, cukup hanya dengan menjadikan Aqidah Islam sebagai landasan bagi pola pikirnya dan juga pola sikapnya.
Demikian juga, berkepribadian Islam tidaklah berarti berkepribadian seperti malaikat, yang tidak pernah melakukan kesalahan dan selalu harus sempurna. Anggapan begini adalah salah besar dan hal yang sangat membahayakan jika menyamakan kepribadian manusia dengan malaikat. Karena hal itu hanya akan menjadikan kita beranggapan bahwa mempunyai kepribadian Islam adalah satu hal yang mustahil dan hanya hayalan belaka. Banyak orang yang kemudian pasti akan kecewa karena tidak menemukan sosok seperti yang mereka harapkan tengah-tengah masyarakat (manusia). Padahal sesungguhnya tidak demikian! Merupakan fitrah (karakteristik asli) nya manusia dan juga merupakan hal yang wajar manusia itu melakukan kesalahan, sebagaimana sabda Rasul bahwa “Manusia itu tempatnya salah dan lupa”. Jadi setiap manusia manapun pasti deh pernah melakukan dosa dan kesalahan kecuali para Nabi dan Rasul yang emang dijaga oleh Allah alias ma’shum. Namun pernahnya seseorang itu bersalah atau berbuat dosa tidak berarti hal itu telah membuat dia tidak bisa menjadi orang yang berkepribadian Islam. Bukankah para sahabat dulu juga pernah melakukan kesalahan dan dosa, padahal telah jelas pujian bagi kepribadian mereka yang disampaikan oleh Allah dan Rasul-nya.
Jadi sekali lagi, siapa saja bisa memiliki syakhsiyah Islam ini, cukup dengan hanya menjadikan Aqidah Islam sebagai landasan bagi pola pikirnya dan juga pola sikapnya. Entah dia seorang kiyai, tukang becak, tukang sapu, sahabat Rasul, kita, aktivis rohis/keislaman, aktivis senat/OSIS, mantan penjahat atau pejabat, atau siapa saja. Begicuuu….!
Tingkatan Kepribadian Islam
Jadi sekali lagi, seorang yang dilabel ‘ikhwan’ belum tentu kepribadian Islamnya lebih tinggi dari seorang mahasiswa/siswi Muslim yang tidak di label ‘ikhwan’. Demikian juga kerudung lebar yang dipakai seorang akhwat / cewek bukanlah indikator kepribadiannya itu lebih tinggi dari akhwat yang berkerudung lebih kecil, jika memang keduanya sudah sama-sama faham dan sudah menutup aurat serta berjilbab seperti yang disyariatkan Islam dengan sempurna. Namun indikasinya adalah: apakah aqidah Islam yang menjadi parameter dia dalam berfikir dan bersikap.
Cuman emang benar, bahwa yang namanya kepribadian itu ada yang tinggi dan ada yang rendah, dia bisa naik dan bisa juga turun. Hal ini sangat terkait dengan dua unsur pembentuk syakhsiyah itu sendiri.
Pertama, seseorang akan mempunyai aqliyah Islam yang tinggi jika seseorang itu memiliki pengetahuan tentang hukum-hukum Islam yang lengkap dan kemudian menjadikannya sebagai landasan bagi pola pikirnya. Manalah mungkin seseorang itu bisa menjadikan Islam sebagai landasan pola pikirnya, kalau dia sendiri nggak ‘ngerti apakah hukum Islam atas aktivitas “A”, bagaimana pandangan Islam tentang “B”, halalkah, haramkah, wajibkah, sunnahkah dan sebagainya. Sebab kalau demikian, maka nantinya dia akan memahami dan menyikapi sesuatu itu tidak lagi dengan hukum Islam sebagai landasannya, tapi bisa nafsu, perasaan, adat, kebiasaan, dan sebagainya. Maka pengetahuan yang lengkap tentang syariat Islam adalah syarat bagi terciptanya aqliyah islamiyah yang tinggi. Jadi, semakin lengkap pengetahuan kita tentang hukum-hukum Islam, maka akan semakin mudah kita memiliki pola pikir islami yang tinggi.
Yang kedua, ketinggian nafsiyah seseorang itu tergantung pada sejauh mana seseorang tadi bisa menundukkan/melandaskan pola sikapnya dengan hukum Islam atau pemahaman Islam yang dia miliki. Jika pada setiap aktivitasnya, seseorang itu telah melandaskan pada pemahaman Islam yang dia miliki, maka bisa dikatakan seseorang tersebut memiliki nafsiyah (pola sikap/jiwa) yang tinggi. Begitu juga kalau seseorang itu tahu hukum Islam akan suatu hal, namun adakalanya dia pake untuk nundukkan hawa nafsunya, tapi kadangkala tidak, maka itu artinya seseorang itu memiliki nafsiyah yang rendah. Dan satu hal yang pasti, bahwa untuk bisa memiliki nafsiyah yang tinggi, dalam arti bisa menundukkan jiwa kita kepada pemahaman yang kita miliki, maka dibutuhkan satu kecintaan dan kedekatan kita kepada Allah yang kemudian membuat kita rela dan tunduk untuk menerima dan menjalankan semua syariat-Nya. Dari sinilah, usaha kita untuk ber-taqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah akan sangat besar artinya bagi pembentukan nafsiyah (pola sikap) kita tadi. Usaha untuk bertaqarrub ini bisa kita lakukan dengan cara menghidupkan pagi kita dengan sholat dluha, misalnya. Atau menghidupkan malam kita dengan tahajjud, memperbanyak tilawah Qur’an, beristighfar dan melakukan amalan-amalan nafilah (sunnah) lainnya. Namun satu hal yang harus kita ingat, adalah bahwa sebaik-baiknya taqarrub kepada Allah adalah dengan cara menyempurnakan semua yang wajib dahulu baru kemudian yang sunnah. Sebagaimana firman Allah dalam sebuah hadits qudsi: “…dan tidaklah bertaqarrub (beramal) seorang hamba-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku sukai seperti bila ia melakukan amalan fardlu yang Ku-perintahkan atasnya, kemudian hamba-Ku senantiasa bertaqarrub (mendekatkan diri) kepada-Ku dengan amalan-amalan sunnah, sehingga Aku mencintainya…..” (HR. Bukhari dari Abu Hurairah)
Jadi Sobat….jangan salah! Gara-gara ngejar sholat tahajjud Isya’nya jadi mepet Subuh dan Subuhnya jadi ilang karena ketiduran. Atau karena terlalu sibuk membuat karya tulis, trus ngajinya lupa. Atau karena sibuk ngurusin senat, dakwahnya jadi keteteran, dsb. Jangan kebalik!! Sempurnakan yang wajib dulu, baru ambil aktivitas dengan prioritas di bawahnya!! Begitu…!
Nah..demikian juga halnya dengan kemaksiatan. Maka seseorang yang sering bermaksiat kepada Allah, lambat laun kemaksiatan yang ia lakukan tersebut akan menggerogoti syakhsiyah (kepribadian) yang ia miliki. Sehingga tingkatan syakhsiyah-nya tentu saja akan berbeda dengan mereka yang selalu berusaha untuk tidak bermaksiat kepada Allah. Karena iman seseorang itu akan dapat naik dengan ketaatan, dan akan turun dengan bermaksiat kepada Allah.
Dan satu lagi ’Friend, lingkungan pergaulan kita (teman) juga akan sangat menentukan gimana usaha kita untuk membentuk diri kita memiliki kepribadian Islam ini, karena adakalanya ketika kekuatan aqidah dan keimanan kita masih sangat labil, gampang kepengaruh…, maka suasana yang mendukung kita menjadi orang yang baik akan sangat mempengaruhi. Sebagaimana dinyatakan dalam sebuah hadits: “Seseorang itu mengikut ‘agama’ kawannya, maka hendaklah salah seorang diantara kamu berhati-hati dalam memilih kawan pendamping” (HR. Ahmad)
Jadi bisa kita lihat bahwa untuk memiliki pola pikir Islami yang tinggi, kita emang perlu banyak tahu gimanakah aturan Islam itu mengatur seluruh perbuatan dan kehidupan kita. Cuman, sekalipun kita udah menjadi anak yang keluaran pondokan (pesantren), punya segudang ilmu agama, tapi kalau ilmu tersebut cuman ngendon aja di otak kita, tidak pernah di pake’ untuk menundukkan hawa nafsu kita…ya sama aja!! Kita tidak bakalan bisa punya pola sikap/jiwa yang islami, sehingga kita juga nggak bakalan punya kepribadian Islam.
Jadi yang mustinya kita lakukan itu…bukannya berlomba-lomba ngapalin hukum-hukum Islam thok…lalu berhenti, tapi harus kita lanjutin dengan menggunakan pemahaman Islam tadi untuk mengatur bagaimana seharusnya kita bersikap. Begituuu Sobat…
Itulah beberapa faktor yang dapat mempengaruhi tingkatan syakhsiyah seseorang. Yang perlu dicatat di sini, bahwa Islam tidak pernah menganjurkan umatnya untuk punya kepribadian yang lemah dan tidak tahan banting. Yang sedang diburu adalah pribadi Muslim yang tangguh, kuat aqidahnya, tinggi taraf berfikirnya dan taat mengamalkan ajaran Islam. (Hayo….kaliankah itu??)
Satu hal yang pasti Sobat, kalau kita udah bisa punya kepribadian Islam, dijamin keren abis dech…! Karena seseorang yang bener-bener memiliki kepribadian Islam itu akan tampil sebagai sosok yang punya sifat-sifat khas dan unik (tidak nyentrik/nyeleneh/nganeh-nganehi), lebih lanjut ia bakal muncul dengan sifat yang menonjol, jadi titik perhatian karena ketinggian ilmu dan kekuatan jiwanya. Allah SWT menggambarkan sosok-sosok pribadi Muslim itu dalam berbagai ayat Al-Qur'an. Diantaranya:
“Muhammad itu Rasul Allah, orang-orang yang bersama dengan dia (sahabat) bersikap keras terhadap orang-orang kafir, tetapi saling berbelas kasih sesama mereka, engkau melihat mereka ruku’ dan sujud mengharap karunia Allah dan keridlaan-Nya. Tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud.” (Q.S. Al Fath: 29)
“Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu’ dalam shalatnya, dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna, dan orang-orang yang menunaikan zakat, dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. Barangsiapa mencari yang dibalik itu maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas. Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya, dan orang-orang yang memelihara sembahyangnya. Mereka itulah orang-orang yang akan mewarisi, (ya’ni) yang akan mewarisi surga Firdaus. Mereka kekal di dalamnya.” (Q.S. Al Mu’minuun: 1-11)
Nah yang harus kita fahami Sobat, tentu saja, memiliki kepribadian Islam seperti itu bukanlah suatu kebetulan atau bakat yang sudah kita bawa sejak lahir, namun kembali lagi bahwa untuk meraih semua itu haruslah ada usaha dan kesabaran dari diri kita sendiri untuk mewujudkannya. Ingatlah firman Allah SWT.: “Sesungguhnya Allah tidak akan merubah kondisi suatu kaum hingga mereka berusaha merubahnya sendiri.” (QS A Ra’du: 11). Jadi, yo ‘ndhak simsalabim wus..wus…lalu jadilah.
Sekedar ngingetin, sebenernya kamu –wahai generasi muda Islam- adalah pewaris umat termulia yang pernah ada. Kamu adalah umat yang tertinggi, selama kamu memegang Islam yang tinggi. Rasul bilang: “Islam itu tinggi, dan tidak ada yang lebih tinggi dari Islam.” (Al hadits)
Allah juga berfirman:
“Janganlah kalian merasa lemah dan jangan kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi jika kamu orang beriman” (Terj. QS. Ali Imran 139)
Belajar dari Generasi Pendahulu kita
Sobatku, para pendahulu kita dulu adalah generasi yang meski baru berusia seumur jagung udah memiliki kekuatan pola pikir dan pola sikap islami yang tinggi. Mereka itulah dan bersama beribu pemuda lainnya yang karena dorongan Iman telah memperjuangkan dan mendakwahkan Islam ini, yang telah menyisihkan siang dan malam mereka demi kepentingan Islam, membawa panji-panji Islam hingga tersebar ke seluruh penjuru dunia, hingga kemudian sampai kepada kita. Mulai dari Ali bin Abi Thalib, yang meski masih muda sanggup mengorbankan dirinya demi melindungi Rasul dari kejaran kaum kafir Quraisy. Ada juga Usamah bin Zaid, yang diangkat oleh Nabi sebagai komandan untuk memimpin pasukan kaum muslimin membebaskan wilayah Syam, yang saat itu merupakan bagian dari Kerajaan Romawi, meski baru delapan belas tahun. Bayangkan…delapan belas tahun udah dikasih amanat yang kira-kira semacam jadi panglima TNI-lah. Begitu juga dengan Sahabat Abdullah ibnu Umar yang tak kalah hebat jiwa dan semangat perjuangannya, padahal usia beliau baru 13 tahun. Kemudian Muadz bin Afra, sekitar 9 tahunan yang dengan penuh semangat akhirnya bisa membunuh Abu Jahal –orang yang suka banget musuhin Nabi- dalam perang Badar. Juga Imam Syafi’i yang pada usia 6 tahun-ada yang bilang 9 tahun- udah hapal Qur’an, dan Imam Malik yang sejak kecil hari-harinya dihabiskan untuk mempelajari Islam dan mengkajinya hingga pada umur 17 tahun beliau udah bisa ngajar mereka-mereka yang bahkan lebih tua umurnya.
Cobalah kita simak kisah lebih detil dari seorang sahabat Mus’ab bin Umair. Beliau adalah seorang remaja Quraisy yang terkemuka, pemuda yang rupawan. Ia lahir dan dibesarkan dalam kesenangan dan kemewahan. Namun pemuda yang menjadi buah bibir gadis-gadis Makkah dan bintang di tempat-tempat pertemuan ini, menjadi sosok yang sangat berbeda ketika disepuh Nur Ilahi. Sosok yang penuh wibawa dan disegani karena didikan Rasulullah S.A.W. Mungkin masih lekat dalam Ingatan kita bagaimana teguhnya Mus’ab sekalipun dikurung oleh ibunya ketika mengetahui bahwa Mus’ab telah memeluk Islam, bagaimana kondisi beliau setelah melarikan diri dari penjara tersebut dan hijrah ke Habsyi. Pada saat itu, di majelisnya Rasulullah, semua mata menundukkan kepala karena terharu melihat Mus’ab yang dulunya –sebelum memeluk Islam selalu memakai pakaian yang harum, mentereng, berwarna-warni- namun sekarang hanya sebuah jubah usang yang sudah bertambal. Namun bukannya beliau menangis karena kehilangan semua hal tersebut, justru sebaliknya, beliau merasa puas bahwa kehidupannya telah dipersembahkan bagi pengorbanan terhadap Penciptanya Yang Maha Tinggi.
Waktu itu, di Perang Uhud, Mus’ab bin Umair adalah pembawa bendera kaum muslimin. Saat barisan kaum muslimin pecah, beliau bertahan di posisinya. Kemudian datanglah seorang musuh menebas tangan kanan beliau hingga putus, sementara Mus’ab mengucapkan, “Muhammad itu tiada lain hanyalah seorang Rasul, yang sebelumnya telah didahului oleh beberapa Rasul”. Bendera itu kemudian beliau pegang dengan tangan kirinya, musuh kembali menebasnya hingga terputus, lalu beliau meraih bendera tersebut ke dada dengan kedua pangkal lengan seraya mengucap, “Muhammad itu tiada lain hanyalah seorang Rasul, yang sebelumnya telah didahului oleh beberapa Rasul”. Musuh tersebut kemudian menyerang untuk ketiga kalinya dan menusuk beliau hingga tombak itupun patah. Dan mahkota para syuhada itupun menghadap Rabb-Nya.
Pribadi-pribadi seperti itulah para pendahulu kita. Dan hanya di tangan pribadi-pribadi Muslim seperti itulah umat ini, kita semua, akan mencapai kejayaan.
Sobat, sekarang cobalah bandingkan para pendahulu kita yang luar biasa tersebut dengan kualitas kepribadian kita, para generasi muda sekarang. Mulai dari kebiasaan bangun yang selalu didahului ama ayam tetangga, hingga –believe it or not- kita-kita bener-bener jago untuk urusan yang namanya pacaran. Coba aja lihat datanya; Sekitar 15 persen remaja usia 10 tahun hingga 24 tahun di Indonesia, yang jumlahnya mencapai 62 juta, telah melakukan hubungan seksual di luar dan pra-nikah, demikian hasil penelitian Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI). Hasil penelitian yang dilakukan PKBI di kota Palembang, Kupang, Tasikmalaya, Cirebon dan Singkawang pada 2005 itu juga menunjukkan bahwa jumlah remaja yang melakukan hubungan seks di luar nikah cukup tinggi.
Hasil penelitian itu, menurut dia, menunjukkan bahwa 9,1 persen remaja telah melakukan hubungan seks dan 85 persennya melakukan hubungan seks pertama mereka pada usia 13 hingga 15 tahun dengan pacarnya di rumah mereka. Bayangkan!!
Belum yang ditunjukkan oleh surveynya Deteksi Jawa Pos tahun 2001 lalu ngebukti’in kalo 97,1% dari para remaja kita --semoga kita tidak termasuk di dalamnya-- yang berpacaran pernah pegangan tangan, 81,2% pernah berpelukan, 71,7% melakukan ciuman, 36,2% ngeraba bagian-bagian yang sensitif...bahkan 17,4% diantaranya pernah ngincipin seks. Na’udzubillah.
Nggak cukup hanya disitu untuk ngebuktiin betapa ’gombal’-nya remaja sekarang. Survey Deteksi Jawa Pos lagi-lagi ngejeberin kalau mereka juga punya hobi yang kurang baik; mau tahu? Yap…ngutil sodara-sodara. 64,5% remaja Surabaya pernah nggutilin duit ortunya. Ada yang 5000, 10000, bahkan 15,4% ngutil 50.000 ribu. Ngerti kenapa mereka ngutil?…alasan paling dominan karena butuh duit. Ck…ck…ck…butuh duit ngutil…malu-maluin ya. Itu belum yang hobi tawuran, suka teler sambil ndugem, atau yang punya kebiasaan pesta narkoba sama temen-temen se-gank. Well…well…well, gimana? Sudah punya gambaran gimana remaja-remaja kita? Generation next-nya bangsa ini? Miris bukan? Mereka adalah cerminan asli wajah buram generasi ini. Tumpuan harapan umat. Namun fakta justru bicara sebaliknya. Ibarat bom waktu, mereka (mungkin termasuk di dalamnya kita) akan merusak masa depan umat ini, masa depan kita sendiri!!
Tapi Sobat…saya yakin. Dan saya yakin kalian pun yakin. Bahwa diantara yang jelek pasti ada yang baik. Diantara yang ngeselin pasti ada yang nggak. Diantara yang ’gombal’ pasti selalu ada yang bisa diandalkan. Walaupun kita remaja juga -bagian dari mereka- tapi kita nggak boleh jadi pengikut mereka. Nggak boleh ikut-ikutan gaya mereka. Apalagi sampai menjadikan hal tersebut sebagai identitas kita. Yang kata orang sih..fase untuk nyari jati diri. Ahhh….itu sih nggak bener guys. Kita semua…kalau udah baligh kayak gini, udah bukan jamannya lagi masi nyari’-nyari’. Tapi masa kita sekarang ini adalah justru masa memberikan kontribusi.
Kalau para pahlawan Islam, pendahulu kita begitu tangguh menggenggam Islam, begitu bersemangat menggapai Nur Ilahi hingga kemuliaan pun mereka raih, maka bagaimana dengan kita para generasi penerus mereka, mungkinkah bisa seperti mereka?
Sobat tersayang, sebenarnya kita bisa kok menjadi seperti mereka, kita pun bisa mengikuti jejak mereka. Kalau mau dipikir, sebenarnya kita udah punya modal beberapa persamaan dengan mereka. Usia kita tidak jauh berbeda dengan mereka, antara belasan hingga dua puluhan tahun, keyakinan kita pun yang sama, yaitu Islam. Tauladan kita juga sama; Rasulullah Muhammad S.A.W. So sebenarnya kalau dapat kita ibaratkan hal tersebut sebagai input atau bahan baku…kita mah nggak beda dengan mereka, sama-sama generasi muda, sama-sama kaum muslimin, sama-sama pengin ngejadi’in diri kita sebagai sosok penggenggam Islam. Dengan kata lain, untuk bisa menjadi seperti mereka kita sudah ada modal, tinggal bagaimana cara kita nyetir agar dapat menuju ke arah yang sama dengan mereka, dan untuk mempertahankan agar tetap fokus ke arah tersebut bukanlah hal yang remeh. Yang jelas harus all out deh. Satu hal yang pasti, Insya Allah kita pasti bisa. Kita pasti mampu. We can make it guys…pertanyaannya adalah: “Sobatku…. Do you wanna come ??!!***
Konsultan Pendidikan Anak, Remaja dan Keluarga. Mitra Mewujudkan Profil Muslimah Mulia: Istri Sholihah, Ibu Pencetak Generasi Berkualitas dan Pejuang Islam
Tempat berbagi
informasi, pemikiran, kisah, artikel, tips, pengalaman, dan ilmu
berkaitan dengan dunia medis, intelektual, dakwah, perempuan,
pendidikan anak, remaja, keluarga dan generasi, juga sesekali barang jualan.....
Selamat Berlayar..........
informasi, pemikiran, kisah, artikel, tips, pengalaman, dan ilmu
berkaitan dengan dunia medis, intelektual, dakwah, perempuan,
pendidikan anak, remaja, keluarga dan generasi, juga sesekali barang jualan.....
Selamat Berlayar..........
Tampilkan postingan dengan label remaja. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label remaja. Tampilkan semua postingan
Minggu, 22 Maret 2009
Sabtu, 21 Maret 2009
Jangan Lagi Buang Umurmu !!
JANGAN LAGI BUANG UMURMU…!
Oleh: faizatul Rosyidah
Sobatku, satu hal lagi yang sering membuat kita menunda-nunda melakukan kebaikan adalah perasaan kita bahwa kita masih memiliki banyak kesempatan. Kita ngerasa…kita-kita khan masih muda, jauh deh dari gambaran bakal mengalami kematian dalam waktu dekat. Karena ngerasa masih bakal memiliki umur yang panjang, maka ringan aja deh kita kemudian menunda-nunda sesuatu yang semestinya bisa segera kita selesaikan dan emang seharusnya kita selesaikan. Banyak dari kita yang sampe’ sekarang belum genap sholatnya…berencana ‘ntar kalau udah tua bakal kita benerin deh sholat kita. Demikian pula dengan yang doyan ‘ndugem’ dan tripping….berpikiran mumpung masih muda dipake’ aja kesempatan ini buat seneng-seneng….. ‘ntar khan kalau udah tua udah masanya buat tobat. Ada juga yang nunda rencana nutup aurat dan berjilbabnya ‘ntar aja kalau udah kuliah atau kalau udah nikah atau kalau udah kerja…soalnya kalau sekarang khawatir tidak ’laku’ lah, susah nyari’ kerja-lah, sudah terlanjur lingkungan sekarang melihat kita nggak pake jilbablah daan masih beragam alasan lain yang kita pasti punya untuk meyakinkan… pokoknya kita berubahnya ‘ntar-ntar aja deh….khan masih banyak kesempatan, lah wong kitanya masih muda je!
Tapi apa emang bener kita masih punya banyak kesempatan? Apa emang bener karena masih muda kita tidak bakalan mati duluan? Nah…Sobat, coba deh kalian inget kejadian meninggalnya beberapa remaja, temen-temen kita beberapa waktu yang lalu saat nonton konsernya Sheila on Seven, Peterpan atau band Ungu di beberapa kota kemarin. Masih inget khan? Belum lagi berita-berita di koran, majalah, atau di tipi yang nyerita’in banyak kejadian nggak kalah tragis yang juga menimpa remaja kita selain kejadian diatas yang membawa mereka pada kematian. Berapa banyak remaja kita yang dijemput ajal pas lagi “make” (make’ narkoba, red), karena OD (over dosis), atau karena udah kena AIDS. Berapa banyak juga yang mati pas lagi asyiknya nge-drag race di jalanan, lagi tawuran, lagi berenang, lagi aborsi, lagi ‘ndugem’, lagi naik kapal, naik kereta, atau mungkin kebanjiran pas lagi tidur di rumah. Begitu maut datang…ternyata mereka sama sekali tidak bisa menolaknya atau mungkin sekedar menundanya. Dan….berakhirlah seluruh kesempatan yang kita kira masih panjang itu.
Nah…karena itulah Sobat, kalau sampe’ sekarang kita masih juga tidak sadar kalau kematian bisa menjemput kita kapan aja…rasanya perlu deh kita revisi pemahaman kita terhadap umur tadi dengan pemahaman yang benar. Gimana, mau ikutan?? Dengerin baik-baik ya…!
Umur….Sebuah Nikmat Yang Tak Ternilai
Imam Hasan Al Basri, salah seorang ulama' salaf yang patut menjadi teladan dalam menggunakan waktunya secara efektif, berkata: “Aku sangat terpukul oleh satu kalimat yang pernah kudengar dari Hajjaj, ketika ia berkhutbah di atas mimbar ini. Sesungguhnya ‘satu saat’ dari umur seseorang yang telah hilang atau sirna untuk sesuatu di luar hakikat manusia diciptakan maka pantas jika ‘sesaat’ itu menjadi penyesalan seumur hidupnya hingga hari kiamat tiba.” (Ibnu Katsir, Al Bidayah wa Nihaya, jilid IX, hlm.123)
Ungkapan diatas bukanlah sebuah khayalan yang tidak memiliki fakta ataupun makna. Namun ungkapan tersebut adalah sebuah kebenaran, sebagaimana sabda Rasulullah SAW: Tidak ada sesuatu yang paling disesali oleh para penghuni surga, kecuali atas satu saat yang pernah mereka lalui di dunia, yang tidak meraka gunakan untuk mengingat Allah di dalamnya.” (HR. Thabrani, dalam Shahih al-Jaami’ as-Shaghiir, no.5322)
Nah, cuman yang mengherankan…dalam hadits ini kok yang menyesal itu justru dari para penghuni surga, dan bukannya penghuni neraka, padahal sebagaimana kita ketahui, para penghuni surga adalah mereka yang semasa hidupnya bukanlah mereka yang suka menyia-nyiakan waktu, namun mereka adalah orang-orang yang gemar mengisi waktunya dengan hal-hal yang bermanfaat, walau memang tidak menutup kemungkinan bahwa sebagai manusia biasa mereka pun kadang-kadang lalai dan lengah, dan inilah rupanya yang kemudian mereka sesalkan. Jika demikian kenyataannya, itu artinya… udah pasti penyesalan mereka (penghuni neraka) akan lebih pahit dan mendalam ketika menyadari kesia-siaan waktu mereka ketika hidup di dunia.
“Dan mereka berteriak di dalam neraka itu: “Ya Tuhan kami, keluarkan kami niscaya kami akan mengerjakan amal yang saleh berlainan dengan yang telah kami kerjakan.” Dan apakah kami tidak memanjangkan umurmu dalam masa yang cukup untuk berfikir bagi orang yang mau berfikir; dan (apakah tidak) datang kepada kamu pemberi peringatan? Maka rasakanlah (adzab Kami) dan tidak ada bagi orang-orang yang zalim seorang penolong pun.” (Terj. QS. Al Faathir 37)
Jelas khan betapa mereka sampe’ memohon-mohon untuk diberi kesempatan hidup lagi walaupun cuman sesaat, yang mereka bilang bakal mereka pake seluruh kesempatan kedua itu untuk beribadah dan beramal sholeh. Tapi sayang, kalau ujian atau ulangan…emang masih ada harapan ‘tuk dapet kesempatan UP (Ujian Perbaikan) atau ‘her’ alias ngulang, tapi kalau masalah umur Maan…tidak ada yang namanya bonus ataupun ekstra. Sekali ajal datang menjemput kita, maka tak bisa kita majukan or undurkan meski cuman sedetik aja.
“Maka apabila telah tiba ajal mereka, mereka tidak dapat meminta ditunda, meskipun sesaat dan tidak pula dapat meminta diajukan.” (Terj. QS. An Nahl 49)
Sesungguhnya umur adalah waktu dan kesempatan. Dan waktu adalah hidup itu sendiri. Orang yang sudah mati, tentulah ia tidak lagi memiliki waktu ini. Dan karenanya, tahu dan sadar akan pentingnya waktu berarti memahami nilai hidup dan kehidupan. Sebaliknya orang yang tidak mengenal pentingnya waktu maka ia seakan-akan hidup dalam keadaan mati, meskipun dia bernafas dimuka bumi.
Maka alangkah malang dan patut dikasihani, kalau ada diantara kita yang hidupnya cuman diisi dengan aktivitas JJS dari satu mall ke mall yang lain, ngeceng dari satu night club ke night club yang lain, tripping dari satu diskotek ke diskotek yang lain, lari dari satu konser ke konser yang lain hanya demi melihat wajah artis idola kita, atau hanya demi ngedengerin suara penyanyi favorit kita, yang bahkan seringkali membuat kita semakin lupa akan hakekat hidup dan musti kita apain hidup kita ini. Jadilah kita akhirnya menjadi seorang remaja yang ngejalani hidup tanpa tujuan yang jelas, yang akhirnya membuat kita juga tidak akan ngerti gimana musti kita isi umur dan hidup kita ini. Maka beragam aktivitas yang ‘tidak jelas’ akhirnya habis-habisan kita geber, seolah-olah padat mengisi hidup kita, dari pagi hingga pagi lagi kita sudah punya seabreg aktivitas yang udah ’membunuh’ waktu kosong kita, mulai dari pacaranlah, latihan nge-band-lah, ngeceng seharianlah, cangkruklah, ngerumpi-lah, trek-trekan lah, cobain narkobalah, nonton bioskop-lah, rame-rame nonton konserlah daaan beragam aktivitas lain yang kita bilang adalah dalam rangka membunuh waktu kosong kita dan manfaatin waktu hidup kita. Padahal tanpa kita sadari, pelan tapi pasti…apa yang kita lakukan itu sebenarnya adalah membunuh diri kita sendiri, karena pada hakikatnya waktu adalah hidup kita. Kita udah dengan begitu sukses membunuh hidup kita tadi dengan membunuh dan membuang kesempatan yang mustinya kita jaga dari segala hal yang akan membuatnya terbuang secara sia-sia.
Sementara pada waktu yang bersamaan kita juga melihat, betapa orang rela ngorbanin apa aja ‘hanya’ buat bertahan hidup satuuu hari aja lebih lama. Mereka rela nguras kocek jutaan, puluhan, ratusan juta, bahkan milyaran rupiah buat mempertahankan hidup mereka. Tapi terbukti, ternyata tidak ada satu hal pun yang dapat kita pake’ buat ngebeli umur kita. Tidak juga dengan harta sedunia. Kalau ternyata giliran kita tiba, tidak sedetik pun kita bisa nawar malaikat pencabut nyawa untuk menunda giliran kita.
Nah, sekarang nyadar kan kalau hidup kita begitu berharga, ngga’ bisa kita perpanjang sedetik pun, dan ngga’ bisa kita beli dengan apapun.
Umur, Musti Kita Apakan??
Kalau kita udah nyadar betapa berharganya hidup kita tentunya kita sekarang bakal serius menautkan dua alis kita buat mikirin: “Mau diapain sih hidup kita yang begitu berharga ini?” Tentunya kita menginginkan yang terbaik dalam hidup kita, Iya kan? Nah masalahnya sekarang adalah apa sih yang terbaik dalam hidup?
Sebentar-sebentar…. Disamping kamu ada kaca? Kalau ada, berdiri sebentar dan ambil kaca itu. Udah? Sekarang ngaca’o! (maksudnya: berkacalah, pen) …Siapa sih kamu? Kamu pasti tau kalau kamu adalah seorang Muslim. Yang itu berarti kudunya kamu punya jawaban yang tepat untuk pertanyaan-pertanyaan diatas karena Islam adalah agama yang begitu lengkap. Termasuk dalam hal umur ini.
Sebelum kita bahas, ada baiknya kita merenung sejenak. Ketika seseorang, “Boy” misalnya, itu telah menetapkan satu tujuan yang hendak diraihnya, yakni nyampe’ ke Jakarta misalnya. Maka tentu dia akan berusaha menempuh jalan-jalan yang akan membawanya menuju kepada tujuan yang hendak diraihnya, dan bukannya melakukan aktivitas-aktivitas yang itu malah memelencengkan dirinya dari tujuan yang hendak diraihnya. Apakah itu aktivitas-aktivitas yang nggak ada kaitannya dengan langkah yang harus dia tempuh, atau aktivitas yang membuatnya semakin sulit dan lama untuk mencapai tujuannya atau bahkan aktivitas-aktivitas yang membuatnya malah semakin menjauhi tujuan yang ingin diraihnya. Dalam kasus Boy ini, maka ketika dia memahami bahwa untuk bisa nyampe’ ke Jakarta itu dia harus naik kereta yang jurusannya emang ke Jakarta, trus sebelumnya dia harus pesen tiket, lalu pergi ke stasiun kereta, maka tentu Boy ini akan meniti jalan yang harus ditempuhnya itu. Dan bukannya cuman bengong di rumah aja, tidur-tiduran ‘nungguin umur bertambah sambil berharap pada waktunya nanti, dia akan tiba di Jakarta. Jelas nggak akan bisa! Dia harus penuhi syaratnya dulu sebelum berharap pada hasilnya. Sesuatu yang sangat logis bukan?!
Nah, analog dengan “Boy” tadi, kita yang ngakunya manusia dan hamba Allah SWT harus menyadari dulu apa sebenarnya tujuan hidup kita. Dengan kata lain, apa sebenarnya tujuan kita diciptakan di dunia ini?
Maka dalam hal ini, Allah sebagai Pihak yang memberi kita kesempatan ‘hidup’ ini telah menyatakan dalam firman-Nya di Surat Adz-Dzariyaat: 56, yang artinya:
“Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia itu, kecuali untuk beribadah kepada-Ku”.
Jadi cukup jelas, untuk beribadah kepada Allah-lah tujuan kita diciptakan di dunia ini. Dan kembali kepada Allah untuk mempertanggungjawabkan ‘hidup’ kita itulah muara dari aktivitas yang kita lakukan di dunia ini. Apakah nanti kita termasuk ke dalam golongan mereka yang berhasil meraih surga dan ridhanya Allah, ataukah termasuk mereka yang gagal dan mendapatkan neraka serta murka Allah.
Nah, sekarang yang menjadi pertanyaan adalah: jalan mana yang harus kita tempuh agar kita bisa mencapai tujuan kita dan mendapatkan keberhasilan (yakni surga dan ridhanya Allah). Apa yang musti kita lakukan?
Maka, dalam hal ini sebenarnya Allah telah memberikan tuntunan kepada kita langkah-langkah apa yang mustinya kita tempuh. Islam mengatakan bahwa setiap Muslim yang sudah aqil baligh (menjadi mukallaf: terbebani hukum), haruslah mengikatkan seluruh perbuatannya kepada hukum syara’, dan tidak boleh melakukan satu perbuatan pun –dalam kedudukannya sebagai hamba Allah yang tidak didasarkan pada seruan hukum syara’. Sebab Allah berfirman:
“Maka demi Tuhanmu, mereka pada hakekatnya tidak beriman hingga menjadikan kamu (Muhammad) hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan…” (Terj. QS. An Nisa’ 65)
“Dan apa-apa yang diperintahkan/diberikan oleh Rasul, ambillah. Dan apa-apa yang dilarangnya, maka tinggalkanlah!” (Terj. QS. Al Hasyr 7). Juga berdasarkan sabda Rasulullah SAW:
“Siapa saja yang melakukan perbuatan tidak sesuai dengan tuntunanku, maka perbuatan itu akan tertolak.”
Antara lain dari nash-nash inilah, kemudian lahir kaidah syara’ yang mengatakan “Bahwa hukum asal suatu perbuatan itu terikat dengan hukum syara’.” Bahwa segala aktivitas perbuatan kita itu ada hukum syara’ yang mengaturnya, apakah itu wajib, sunnah, mubah, makruh, atau haram. Jadi ketika kita ingin mendapatkan ridha Allah sehingga bisa masuk surga dan mendapat pahala yang sebanyak-banyaknya maka yang bisa kita lakukan adalah dengan menjalani semua yang diperintahkan Allah dan menjauhi semua yang dilarang oleh-Nya.
Kalau begitu banyak dong! Wah…kayaknya kurang deh waktu 24 jam buat itu. Tapi apa bener sih? Coba deh kita tengok diri kita sendiri selama 24 jam mulai dari bangun tidur, kita bangun, trus mandi, sholat, makan, sekolah atau kuliah, belajar, ngrumpi, ngobrol ngalor ngidul sama temen, main basket, ngelamun, nonton TV, bahkan kita sempet juga jalan-jalan ke Mall, nonton film, ngeceng, ‘cangkruk, ke diskotik mungkin, atau….eh….ternyata banyaak yaaa yang bisa kita kerjakan dalam 1 hari saja.
Tapi…tunggu dulu! Apakah beragam aktivitas yang udah kita lakukan itu memang merupakan aktivitas yang harus dan emang sebaiknya kita lakukan? Atau semua aktivitas tersebut justru beragam aktivitas yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan tujuan hidup kita!! Lalu bagaimana mungkin kita bisa nyampe’ ke tujuan kita kalau jalan yang kita ambil saja sudah keliru. Padahal aktivitas macam yang terakhir-terakhir itu kan yang saat ini lebih mendominasi waktu kita, para generasi muda Islam??!
Sobat tersayang, kalau saja kita mau menengok para generasi pendahulu kita. Akan kita dapatkan gambaran pemanfaatan umur yang luar biasa optimalnya oleh mereka. Tengok saja Ali bin Thalib, Thalhah bin Ubaidillah, Sa’ad bin Abi Waqas, Abdullah bin Mas’ud hingga Usamah bin Zaid. Kamu-kamu kenal siapa mereka? Yap, mereka adalah para ABG yang berusia 8 hingga belasan tahun, namun memiliki kekuatan pola pikir dan pola sikap islami yang tinggi. Mereka itulah dan bersama beribu pemuda lainnya yang telah memperjuangkan dan mendakwahkan Islam ini, yang telah menyisihkan siang dan malam mereka demi kepentingan Islam, membawa panji-panji Islam hingga tersebar ke seluruh penjuru dunia, hingga meliputi 2/3 bagian dunia ini dan kemudian sampai kepada kita. Bayangkan, betapa hebat kepribadian mereka, dan betapa optimal mereka menggunakan umur yang mereka punya.
Masih banyak yang lain, salah satunya adalah seorang pemuda belia, yang demi mendengarkan anjuran gurunya, Ishaq Ibnu Rahawaihi: “Alangkah baiknya kamu menghimpun suatu buku yang khusus untuk sunnah (hadits) Rasulullah yang sahih belaka”, dan menyadari betapa pentingnya penghimpunan dan penjagaan tersebut, pemuda Muhammad bin Ismail itu rela berkelana dari kota ke kota di daerah Syam, Mesir, Hejaz dan lainnya, menempuh 8000 km dengan berjalan kaki. Menyerahkan hidup dan masa mudanya untuk menjaga salah satu warisan terbesar Rasulullah SAW: As Sunnah. Pemuda itu kemudian dikenal oleh sejarah sebagai Al Bukhori yang untuk menulis sebuah kitab hadits Al Jami’us Shahih, pemuda itu mengorbankan 16 tahun hidupnya. Begitu pula yang rata-rata dilakukan oleh para pendahulu kita macam Imam Syafi’i, Imam Malik, Imam Ahmad, dan Imam Hanafi yang kelak kita kenal menjadi empat imam dengan hasil-hasil ijtihad mereka yang begitu bermanfaat bagi umat ini hingga di masa kita saat ini.
Mungkin kamu sekarang lagi geleng-geleng kepala…Baru ‘ngeh’ dengan kondisi remaja sekarang yang begitu mengenaskan, ‘membuang-buang’ umur yang mereka miliki dengan aktivitas yang ngga’ ada bagus-bagusnya….((haa…? Iyaa taa…?) ini ngomongnya dengan nada terbengong-bengong lho!!) dan baru ‘ngeh’ dengan kondisi para shahabat dan para generasi pendahulu kita yang begitu hebat. Ada perbedaan yang tajam antara keduanya dalam memanfaatkan umur mereka.
So...Jangan Lagi Buang Umurmu !!!
Yap, kalau kamu udah kumplit baca semua tulisan diatas bisa jadi kamu sekarang tambah yakin untuk tidak lagi berlelet-lelet. Tidak lagi melakukan hal-hal yang tidak sesuai dengan apa yang diatur sama Islam. Dan bukan cuman itu, sekarang…karena kita baru nyadar betapa berharganya umur ini ketika kita udah berusia “tuwir” gini….mestinya kita berlomba-lomba dengan waktu, untuk segera mengejar ketertinggalan kita dalam mencari tahu tentang semua aturan Islam, berusaha nerapinnya. Bangun…bangun euy..!!! Sekarang waktunya kita merubah diri kita dan segala aktivitas kita dalam hidup ini hingga kelak kita akan menjadi generasi unggulan umat ini yang senantiasa menegakkan dan memperjuangkan Islam ini. Gimana…? Setuju khan…!!
“Dan katakanlah: “Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang beriman akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakannya kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” (Terj. QS. At Taubah 105).***
Oleh: faizatul Rosyidah
Sobatku, satu hal lagi yang sering membuat kita menunda-nunda melakukan kebaikan adalah perasaan kita bahwa kita masih memiliki banyak kesempatan. Kita ngerasa…kita-kita khan masih muda, jauh deh dari gambaran bakal mengalami kematian dalam waktu dekat. Karena ngerasa masih bakal memiliki umur yang panjang, maka ringan aja deh kita kemudian menunda-nunda sesuatu yang semestinya bisa segera kita selesaikan dan emang seharusnya kita selesaikan. Banyak dari kita yang sampe’ sekarang belum genap sholatnya…berencana ‘ntar kalau udah tua bakal kita benerin deh sholat kita. Demikian pula dengan yang doyan ‘ndugem’ dan tripping….berpikiran mumpung masih muda dipake’ aja kesempatan ini buat seneng-seneng….. ‘ntar khan kalau udah tua udah masanya buat tobat. Ada juga yang nunda rencana nutup aurat dan berjilbabnya ‘ntar aja kalau udah kuliah atau kalau udah nikah atau kalau udah kerja…soalnya kalau sekarang khawatir tidak ’laku’ lah, susah nyari’ kerja-lah, sudah terlanjur lingkungan sekarang melihat kita nggak pake jilbablah daan masih beragam alasan lain yang kita pasti punya untuk meyakinkan… pokoknya kita berubahnya ‘ntar-ntar aja deh….khan masih banyak kesempatan, lah wong kitanya masih muda je!
Tapi apa emang bener kita masih punya banyak kesempatan? Apa emang bener karena masih muda kita tidak bakalan mati duluan? Nah…Sobat, coba deh kalian inget kejadian meninggalnya beberapa remaja, temen-temen kita beberapa waktu yang lalu saat nonton konsernya Sheila on Seven, Peterpan atau band Ungu di beberapa kota kemarin. Masih inget khan? Belum lagi berita-berita di koran, majalah, atau di tipi yang nyerita’in banyak kejadian nggak kalah tragis yang juga menimpa remaja kita selain kejadian diatas yang membawa mereka pada kematian. Berapa banyak remaja kita yang dijemput ajal pas lagi “make” (make’ narkoba, red), karena OD (over dosis), atau karena udah kena AIDS. Berapa banyak juga yang mati pas lagi asyiknya nge-drag race di jalanan, lagi tawuran, lagi berenang, lagi aborsi, lagi ‘ndugem’, lagi naik kapal, naik kereta, atau mungkin kebanjiran pas lagi tidur di rumah. Begitu maut datang…ternyata mereka sama sekali tidak bisa menolaknya atau mungkin sekedar menundanya. Dan….berakhirlah seluruh kesempatan yang kita kira masih panjang itu.
Nah…karena itulah Sobat, kalau sampe’ sekarang kita masih juga tidak sadar kalau kematian bisa menjemput kita kapan aja…rasanya perlu deh kita revisi pemahaman kita terhadap umur tadi dengan pemahaman yang benar. Gimana, mau ikutan?? Dengerin baik-baik ya…!
Umur….Sebuah Nikmat Yang Tak Ternilai
Imam Hasan Al Basri, salah seorang ulama' salaf yang patut menjadi teladan dalam menggunakan waktunya secara efektif, berkata: “Aku sangat terpukul oleh satu kalimat yang pernah kudengar dari Hajjaj, ketika ia berkhutbah di atas mimbar ini. Sesungguhnya ‘satu saat’ dari umur seseorang yang telah hilang atau sirna untuk sesuatu di luar hakikat manusia diciptakan maka pantas jika ‘sesaat’ itu menjadi penyesalan seumur hidupnya hingga hari kiamat tiba.” (Ibnu Katsir, Al Bidayah wa Nihaya, jilid IX, hlm.123)
Ungkapan diatas bukanlah sebuah khayalan yang tidak memiliki fakta ataupun makna. Namun ungkapan tersebut adalah sebuah kebenaran, sebagaimana sabda Rasulullah SAW: Tidak ada sesuatu yang paling disesali oleh para penghuni surga, kecuali atas satu saat yang pernah mereka lalui di dunia, yang tidak meraka gunakan untuk mengingat Allah di dalamnya.” (HR. Thabrani, dalam Shahih al-Jaami’ as-Shaghiir, no.5322)
Nah, cuman yang mengherankan…dalam hadits ini kok yang menyesal itu justru dari para penghuni surga, dan bukannya penghuni neraka, padahal sebagaimana kita ketahui, para penghuni surga adalah mereka yang semasa hidupnya bukanlah mereka yang suka menyia-nyiakan waktu, namun mereka adalah orang-orang yang gemar mengisi waktunya dengan hal-hal yang bermanfaat, walau memang tidak menutup kemungkinan bahwa sebagai manusia biasa mereka pun kadang-kadang lalai dan lengah, dan inilah rupanya yang kemudian mereka sesalkan. Jika demikian kenyataannya, itu artinya… udah pasti penyesalan mereka (penghuni neraka) akan lebih pahit dan mendalam ketika menyadari kesia-siaan waktu mereka ketika hidup di dunia.
“Dan mereka berteriak di dalam neraka itu: “Ya Tuhan kami, keluarkan kami niscaya kami akan mengerjakan amal yang saleh berlainan dengan yang telah kami kerjakan.” Dan apakah kami tidak memanjangkan umurmu dalam masa yang cukup untuk berfikir bagi orang yang mau berfikir; dan (apakah tidak) datang kepada kamu pemberi peringatan? Maka rasakanlah (adzab Kami) dan tidak ada bagi orang-orang yang zalim seorang penolong pun.” (Terj. QS. Al Faathir 37)
Jelas khan betapa mereka sampe’ memohon-mohon untuk diberi kesempatan hidup lagi walaupun cuman sesaat, yang mereka bilang bakal mereka pake seluruh kesempatan kedua itu untuk beribadah dan beramal sholeh. Tapi sayang, kalau ujian atau ulangan…emang masih ada harapan ‘tuk dapet kesempatan UP (Ujian Perbaikan) atau ‘her’ alias ngulang, tapi kalau masalah umur Maan…tidak ada yang namanya bonus ataupun ekstra. Sekali ajal datang menjemput kita, maka tak bisa kita majukan or undurkan meski cuman sedetik aja.
“Maka apabila telah tiba ajal mereka, mereka tidak dapat meminta ditunda, meskipun sesaat dan tidak pula dapat meminta diajukan.” (Terj. QS. An Nahl 49)
Sesungguhnya umur adalah waktu dan kesempatan. Dan waktu adalah hidup itu sendiri. Orang yang sudah mati, tentulah ia tidak lagi memiliki waktu ini. Dan karenanya, tahu dan sadar akan pentingnya waktu berarti memahami nilai hidup dan kehidupan. Sebaliknya orang yang tidak mengenal pentingnya waktu maka ia seakan-akan hidup dalam keadaan mati, meskipun dia bernafas dimuka bumi.
Maka alangkah malang dan patut dikasihani, kalau ada diantara kita yang hidupnya cuman diisi dengan aktivitas JJS dari satu mall ke mall yang lain, ngeceng dari satu night club ke night club yang lain, tripping dari satu diskotek ke diskotek yang lain, lari dari satu konser ke konser yang lain hanya demi melihat wajah artis idola kita, atau hanya demi ngedengerin suara penyanyi favorit kita, yang bahkan seringkali membuat kita semakin lupa akan hakekat hidup dan musti kita apain hidup kita ini. Jadilah kita akhirnya menjadi seorang remaja yang ngejalani hidup tanpa tujuan yang jelas, yang akhirnya membuat kita juga tidak akan ngerti gimana musti kita isi umur dan hidup kita ini. Maka beragam aktivitas yang ‘tidak jelas’ akhirnya habis-habisan kita geber, seolah-olah padat mengisi hidup kita, dari pagi hingga pagi lagi kita sudah punya seabreg aktivitas yang udah ’membunuh’ waktu kosong kita, mulai dari pacaranlah, latihan nge-band-lah, ngeceng seharianlah, cangkruklah, ngerumpi-lah, trek-trekan lah, cobain narkobalah, nonton bioskop-lah, rame-rame nonton konserlah daaan beragam aktivitas lain yang kita bilang adalah dalam rangka membunuh waktu kosong kita dan manfaatin waktu hidup kita. Padahal tanpa kita sadari, pelan tapi pasti…apa yang kita lakukan itu sebenarnya adalah membunuh diri kita sendiri, karena pada hakikatnya waktu adalah hidup kita. Kita udah dengan begitu sukses membunuh hidup kita tadi dengan membunuh dan membuang kesempatan yang mustinya kita jaga dari segala hal yang akan membuatnya terbuang secara sia-sia.
Sementara pada waktu yang bersamaan kita juga melihat, betapa orang rela ngorbanin apa aja ‘hanya’ buat bertahan hidup satuuu hari aja lebih lama. Mereka rela nguras kocek jutaan, puluhan, ratusan juta, bahkan milyaran rupiah buat mempertahankan hidup mereka. Tapi terbukti, ternyata tidak ada satu hal pun yang dapat kita pake’ buat ngebeli umur kita. Tidak juga dengan harta sedunia. Kalau ternyata giliran kita tiba, tidak sedetik pun kita bisa nawar malaikat pencabut nyawa untuk menunda giliran kita.
Nah, sekarang nyadar kan kalau hidup kita begitu berharga, ngga’ bisa kita perpanjang sedetik pun, dan ngga’ bisa kita beli dengan apapun.
Umur, Musti Kita Apakan??
Kalau kita udah nyadar betapa berharganya hidup kita tentunya kita sekarang bakal serius menautkan dua alis kita buat mikirin: “Mau diapain sih hidup kita yang begitu berharga ini?” Tentunya kita menginginkan yang terbaik dalam hidup kita, Iya kan? Nah masalahnya sekarang adalah apa sih yang terbaik dalam hidup?
Sebentar-sebentar…. Disamping kamu ada kaca? Kalau ada, berdiri sebentar dan ambil kaca itu. Udah? Sekarang ngaca’o! (maksudnya: berkacalah, pen) …Siapa sih kamu? Kamu pasti tau kalau kamu adalah seorang Muslim. Yang itu berarti kudunya kamu punya jawaban yang tepat untuk pertanyaan-pertanyaan diatas karena Islam adalah agama yang begitu lengkap. Termasuk dalam hal umur ini.
Sebelum kita bahas, ada baiknya kita merenung sejenak. Ketika seseorang, “Boy” misalnya, itu telah menetapkan satu tujuan yang hendak diraihnya, yakni nyampe’ ke Jakarta misalnya. Maka tentu dia akan berusaha menempuh jalan-jalan yang akan membawanya menuju kepada tujuan yang hendak diraihnya, dan bukannya melakukan aktivitas-aktivitas yang itu malah memelencengkan dirinya dari tujuan yang hendak diraihnya. Apakah itu aktivitas-aktivitas yang nggak ada kaitannya dengan langkah yang harus dia tempuh, atau aktivitas yang membuatnya semakin sulit dan lama untuk mencapai tujuannya atau bahkan aktivitas-aktivitas yang membuatnya malah semakin menjauhi tujuan yang ingin diraihnya. Dalam kasus Boy ini, maka ketika dia memahami bahwa untuk bisa nyampe’ ke Jakarta itu dia harus naik kereta yang jurusannya emang ke Jakarta, trus sebelumnya dia harus pesen tiket, lalu pergi ke stasiun kereta, maka tentu Boy ini akan meniti jalan yang harus ditempuhnya itu. Dan bukannya cuman bengong di rumah aja, tidur-tiduran ‘nungguin umur bertambah sambil berharap pada waktunya nanti, dia akan tiba di Jakarta. Jelas nggak akan bisa! Dia harus penuhi syaratnya dulu sebelum berharap pada hasilnya. Sesuatu yang sangat logis bukan?!
Nah, analog dengan “Boy” tadi, kita yang ngakunya manusia dan hamba Allah SWT harus menyadari dulu apa sebenarnya tujuan hidup kita. Dengan kata lain, apa sebenarnya tujuan kita diciptakan di dunia ini?
Maka dalam hal ini, Allah sebagai Pihak yang memberi kita kesempatan ‘hidup’ ini telah menyatakan dalam firman-Nya di Surat Adz-Dzariyaat: 56, yang artinya:
“Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia itu, kecuali untuk beribadah kepada-Ku”.
Jadi cukup jelas, untuk beribadah kepada Allah-lah tujuan kita diciptakan di dunia ini. Dan kembali kepada Allah untuk mempertanggungjawabkan ‘hidup’ kita itulah muara dari aktivitas yang kita lakukan di dunia ini. Apakah nanti kita termasuk ke dalam golongan mereka yang berhasil meraih surga dan ridhanya Allah, ataukah termasuk mereka yang gagal dan mendapatkan neraka serta murka Allah.
Nah, sekarang yang menjadi pertanyaan adalah: jalan mana yang harus kita tempuh agar kita bisa mencapai tujuan kita dan mendapatkan keberhasilan (yakni surga dan ridhanya Allah). Apa yang musti kita lakukan?
Maka, dalam hal ini sebenarnya Allah telah memberikan tuntunan kepada kita langkah-langkah apa yang mustinya kita tempuh. Islam mengatakan bahwa setiap Muslim yang sudah aqil baligh (menjadi mukallaf: terbebani hukum), haruslah mengikatkan seluruh perbuatannya kepada hukum syara’, dan tidak boleh melakukan satu perbuatan pun –dalam kedudukannya sebagai hamba Allah yang tidak didasarkan pada seruan hukum syara’. Sebab Allah berfirman:
“Maka demi Tuhanmu, mereka pada hakekatnya tidak beriman hingga menjadikan kamu (Muhammad) hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan…” (Terj. QS. An Nisa’ 65)
“Dan apa-apa yang diperintahkan/diberikan oleh Rasul, ambillah. Dan apa-apa yang dilarangnya, maka tinggalkanlah!” (Terj. QS. Al Hasyr 7). Juga berdasarkan sabda Rasulullah SAW:
“Siapa saja yang melakukan perbuatan tidak sesuai dengan tuntunanku, maka perbuatan itu akan tertolak.”
Antara lain dari nash-nash inilah, kemudian lahir kaidah syara’ yang mengatakan “Bahwa hukum asal suatu perbuatan itu terikat dengan hukum syara’.” Bahwa segala aktivitas perbuatan kita itu ada hukum syara’ yang mengaturnya, apakah itu wajib, sunnah, mubah, makruh, atau haram. Jadi ketika kita ingin mendapatkan ridha Allah sehingga bisa masuk surga dan mendapat pahala yang sebanyak-banyaknya maka yang bisa kita lakukan adalah dengan menjalani semua yang diperintahkan Allah dan menjauhi semua yang dilarang oleh-Nya.
Kalau begitu banyak dong! Wah…kayaknya kurang deh waktu 24 jam buat itu. Tapi apa bener sih? Coba deh kita tengok diri kita sendiri selama 24 jam mulai dari bangun tidur, kita bangun, trus mandi, sholat, makan, sekolah atau kuliah, belajar, ngrumpi, ngobrol ngalor ngidul sama temen, main basket, ngelamun, nonton TV, bahkan kita sempet juga jalan-jalan ke Mall, nonton film, ngeceng, ‘cangkruk, ke diskotik mungkin, atau….eh….ternyata banyaak yaaa yang bisa kita kerjakan dalam 1 hari saja.
Tapi…tunggu dulu! Apakah beragam aktivitas yang udah kita lakukan itu memang merupakan aktivitas yang harus dan emang sebaiknya kita lakukan? Atau semua aktivitas tersebut justru beragam aktivitas yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan tujuan hidup kita!! Lalu bagaimana mungkin kita bisa nyampe’ ke tujuan kita kalau jalan yang kita ambil saja sudah keliru. Padahal aktivitas macam yang terakhir-terakhir itu kan yang saat ini lebih mendominasi waktu kita, para generasi muda Islam??!
Sobat tersayang, kalau saja kita mau menengok para generasi pendahulu kita. Akan kita dapatkan gambaran pemanfaatan umur yang luar biasa optimalnya oleh mereka. Tengok saja Ali bin Thalib, Thalhah bin Ubaidillah, Sa’ad bin Abi Waqas, Abdullah bin Mas’ud hingga Usamah bin Zaid. Kamu-kamu kenal siapa mereka? Yap, mereka adalah para ABG yang berusia 8 hingga belasan tahun, namun memiliki kekuatan pola pikir dan pola sikap islami yang tinggi. Mereka itulah dan bersama beribu pemuda lainnya yang telah memperjuangkan dan mendakwahkan Islam ini, yang telah menyisihkan siang dan malam mereka demi kepentingan Islam, membawa panji-panji Islam hingga tersebar ke seluruh penjuru dunia, hingga meliputi 2/3 bagian dunia ini dan kemudian sampai kepada kita. Bayangkan, betapa hebat kepribadian mereka, dan betapa optimal mereka menggunakan umur yang mereka punya.
Masih banyak yang lain, salah satunya adalah seorang pemuda belia, yang demi mendengarkan anjuran gurunya, Ishaq Ibnu Rahawaihi: “Alangkah baiknya kamu menghimpun suatu buku yang khusus untuk sunnah (hadits) Rasulullah yang sahih belaka”, dan menyadari betapa pentingnya penghimpunan dan penjagaan tersebut, pemuda Muhammad bin Ismail itu rela berkelana dari kota ke kota di daerah Syam, Mesir, Hejaz dan lainnya, menempuh 8000 km dengan berjalan kaki. Menyerahkan hidup dan masa mudanya untuk menjaga salah satu warisan terbesar Rasulullah SAW: As Sunnah. Pemuda itu kemudian dikenal oleh sejarah sebagai Al Bukhori yang untuk menulis sebuah kitab hadits Al Jami’us Shahih, pemuda itu mengorbankan 16 tahun hidupnya. Begitu pula yang rata-rata dilakukan oleh para pendahulu kita macam Imam Syafi’i, Imam Malik, Imam Ahmad, dan Imam Hanafi yang kelak kita kenal menjadi empat imam dengan hasil-hasil ijtihad mereka yang begitu bermanfaat bagi umat ini hingga di masa kita saat ini.
Mungkin kamu sekarang lagi geleng-geleng kepala…Baru ‘ngeh’ dengan kondisi remaja sekarang yang begitu mengenaskan, ‘membuang-buang’ umur yang mereka miliki dengan aktivitas yang ngga’ ada bagus-bagusnya….((haa…? Iyaa taa…?) ini ngomongnya dengan nada terbengong-bengong lho!!) dan baru ‘ngeh’ dengan kondisi para shahabat dan para generasi pendahulu kita yang begitu hebat. Ada perbedaan yang tajam antara keduanya dalam memanfaatkan umur mereka.
So...Jangan Lagi Buang Umurmu !!!
Yap, kalau kamu udah kumplit baca semua tulisan diatas bisa jadi kamu sekarang tambah yakin untuk tidak lagi berlelet-lelet. Tidak lagi melakukan hal-hal yang tidak sesuai dengan apa yang diatur sama Islam. Dan bukan cuman itu, sekarang…karena kita baru nyadar betapa berharganya umur ini ketika kita udah berusia “tuwir” gini….mestinya kita berlomba-lomba dengan waktu, untuk segera mengejar ketertinggalan kita dalam mencari tahu tentang semua aturan Islam, berusaha nerapinnya. Bangun…bangun euy..!!! Sekarang waktunya kita merubah diri kita dan segala aktivitas kita dalam hidup ini hingga kelak kita akan menjadi generasi unggulan umat ini yang senantiasa menegakkan dan memperjuangkan Islam ini. Gimana…? Setuju khan…!!
“Dan katakanlah: “Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang beriman akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakannya kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” (Terj. QS. At Taubah 105).***
Temukan Jati Dirimu !!
:
JADIKAN HIDUPMU …
LEBIH HIDUP..!!
(Dengan Temukan Jati Diri Sejati)
Oleh: Faizatul Rosyidah
Sobat , pernah nggak kamu-kamu melihat sungai? Eitts…jangan sewot dulu! Percaya deh kalau kalian semua pasti udah padha sering melihat sungai, tapi pernah nggak kamu-kamu dapat pelajaran dari tindakanmu merhati’in sungai tadi? Nah ngaku deh…ada yang belum pernah dapat pelajaran khan? Makanya kamu-kamu mesthi dengerin nih cerita gue ! Yang sabar ya….!
Kalau kita perhati’in dengan seksama, ada banyak hal yang bakal kita jumpai ketika kita lagi merhati’in sungai. Mulai dari besar sungainya, warna airnya, kedalamannya, isinya, arus airnya, apa yang ada di permukaan airnya, apa yang sedang melayang di dalamnya, dan apa yang ada di dasar sungainya alias yang lagi tenggelam.
Ada beda penampakan sesuatu yang hidup dengan sesuatu yang tidak hidup di dalam sungai tadi. Sepotong kayu yang terapung di atas sungai atau ikan yang sudah mati misalnya, maka kita akan bisa melihat kalau dia pasti bergerak ngiikut aja ke mana aliran sungai tadi membawanya, tidak terlihat adanya gerakan mandiri yang dilakukannya, yang punya arah dan gerakan tersendiri. Bahkan dianya hanya bisa diam ketika tidak ada aliran sungai yang menggerakkannya. Demikian pula dengan batu di dasar sungai tersebut. Dari hari ke hari dia tetep aja pada posisinya semula, diem, statis, tidak bergerak kalau tidak ada yang menggerakkannya. Itulah penampakan sepotong kayu, ikan mati dan sebuah batu; sesuatu yang mati alias ‘tidak hidup’.
Tapi coba kita tengok ikan-ikan yang hidup di sungai tadi. Sekalipun ikan tersebut kecil, sebesar ikan teri mungkin, tapi senantiasa kita akan bisa melihat gerakan tertentu yang dia lakukan secara mandiri, sesekali dia terbawa arus sungai yang cukup deras, tapi pada waktu yang bersamaan kita juga saksikan betapa ada upaya yang dia lakukan untuk mempertahankan posisinya, atau bahkan sekali waktu terlihat dia bergerak berenang melawan arus yang ada. Singkatnya ikan yang ‘hidup’ pasti akan terlihat bergerak secara mandiri dan punya arah tersendiri dalam geraknya tersebut, sekalipun arus sungai begitu deras membawanya ke arah yang berbeda.
Pelajarannya….bagaimanakah penampilan kita menjalani kehidupan ini? Apakah memang udah penampilan seseorang yang ‘hidup’ ataukah sebenernya kita hidup cuman tidak ada bedanya dengan sesuatu yang ‘mati’ tadi. Konkritnya? Apakah selama ini kita udah ngejalani hidup ini dengan senantiasa melakukan gerakan secara mandiri yang punya arah tertentu, punya tujuan tertentu sehingga gerak kita pun jadi tertentu; ataukah selama ini kita cuman bisa ngejalani hidup ini dengan cara ngikuut aja ama orang lain…tidak ngerti apa yang jadi tujuan hidup kita, tidak ngerti di dunia ini mau cari apa and ngapain. Kalau orang lain padha sekolah ya ikutan dong sekolah tanpa tahu sebenernya mau cari apa dengan sekolah, akhirnya kita menjalani masa-masa sekolah dengan rutinitas yang sama sekali tidak bermakna. Yang sekolah penampilannya sama aja dengan yang tidak sekolah; sama-sama seneng tawurannya, sama-sama suka ngompasin orang, sama-sama doyan narkobanya, dan lain sebagainya. Atau penampilan hidup kita itu statis, tidak ada progresifitas sama sekali, orang lain bahkan tidak bisa ngerasain bedanya antara adanya kita dan tidak adanya. Karena itu kita musti melakukan suatu perubahan dalam diri kita, supaya hidup yang kita jalani bisa ‘lebih hidup’. Bukan dengan cara ngisep rokok ‘Losta Masta’ tapi dengan cara memahami terlebih dulu siapa sich sebenernya jati diri kita ini? Yuk cari sama-sama…!!!
Jati Diri…Bukanlah Perkara Yang Remeh!
Ketidaktahuan atau ketidakjelasan tentang jati diri, masalah ini kayaknya emang tidak pernah lepas dari kehidupan kita, para remaja dan ABG. Berbagai berita dan kabar sekitar remaja seringkali menunjukkan kepada kita betapa ternyata kita -para remaja- itu masih banyak yang bingung dengan jati diri kita sendiri. Mulai dari maraknya tawuran antar pelajar tuk ngebukti’in siapa siswa yang ’paling jago’, kebiasaan ngeceng di pinggir-pinggir jalan demi mendapatkan gebetan, terjerat narkoba demi ‘kesetiakawanan’, ABG Komersial yang menjamur demi beberapa keping uang ‘tuk beli makanan ‘prestise’ macam McD, KFC, de el el… hingga banyaknya angka ‘kecelakaan’ di luar nikah atas nama cinta plus aborsi yang banyak dilakukan remaja, adalah sederet kasus yang menunjukkan betapa mayoritas kita itu belum atau tidak ngerti dengan jati diri kita itu sesungguhnya siapa, apa tujuan hidup kita, gimana cara meraih/mencapai tujuan tersebut, dan apa yang mesti kita lakukan. Maka jangan heran…begitu lagu “BERMIMPI” –nya Base Jam beberapa tahun yang lalu keluar (baca: dirilis), kita para remaja dan ABG seolah menemukan sosok yang bisa menyuarakan ‘suara hati’ kita yang lagi kebingungan mau cari apa di muka bumi ini, pokoknya kita maunya happy…tapi nggak tahu gimana cara ngedapetinnya, hingga akhirnya rasanya yang bisa kita lakukan ya cuman bermimpi dan bernyanyi….(“Aku hanya bisa bermimpi dan bernyanyi dalam hati…ku hanya ingin hidup bahagia….aku tak tahu apa yang kucari di muka bumi……”)
Jadi emang, kalau kita ingin bicara tentang jati diri, maka itu berarti kita harus ngebahas tentang diri kita sendiri dan kehidupan yang kita jalani. Menjalani kehidupan itu sendiri, Ibaratnya adalah melakukan sebuah perjalanan. Seseorang yang mau bepergian/berperjalanan haruslah tergambar dalam benaknya terlebih dahulu kenapa harus bepergian, untuk apa, hendak menuju kemana, dan gimana caranya supaya dapat sampe’ ke tujuan tadi; harus lewat mana, naik apa, dan berangkat dari mana. Demikian pula dengan kita, selama kita belum bisa merumuskan hal-hal di atas tadi, maka jangan harap kita bakal bisa sukses dalam perjalanan kita. Bisa jadi kita udah capek-capek habisin waktu, uang dan tenaga…eh ternyata kitanya ‘nggak nyampe’-nyampe’.... ya tentu aja, lah wong tujuannya kemana aja masih belum kita putuskan, ya mana mungkin kita bisa mutuskan mau naik kendaraan apa, berangkat dari mana, lewat jalan mana, dan apa yang musti kita lakukan agar bisa nyampe’ ke tujuan kita tadi. Jadinya mungkin kita ya cuman muter-muter aja tanpa ada arah yang jelas sampe’ kitanya jadi judheg dan capek dengan perjalanan tadi.
Begitu pula gambaran orang menjalani hidup. Kalau dia belum ngerti siapa sich dirinya itu, apa tujuan dia hidup, dan nggak tahu juga gimana caranya sampai ke tujuan hidupnya tadi, maka dia akan tampil sebagai orang-orang yang ‘mbulet’ aja, ke sana ke mari tapi tidak jelas mau kemana, hidupnya ngambang dan gampang banget kebawa arus orang-orang di sekitarnya. Kalau orang-orang di sekitarnya seharian pergi ‘ndhugem karena katanya itu adalah cara menunjukkan identitas diri…ikut dech orang ini ‘ndhugem, begitu sekitarnya tripping….karena lagi trend….ikut dech orang ini tripping, yang lain rambutnya dicat ngejreng….ikut dech dia ngecat rambutnya ngejreng, yang lain padha ‘nyabu….ikut dech dia ‘nyabu, yang lain padha demo….ikut-ikutan dech demo dia lakukan meski tidak ngerti untuk apa dan kenapa dia melakukan itu. Begituu seterusnya… Sehingga jadilah dia sebagai orang yang hidup tanpa ada landasan yang pasti.
Oleh karena itu, menjawab pencarian jati diri kita adalah suatu keniscayaan yang harus kita lakukan kalau ingin sukses dalam menjalani kehidupan ini. Karena dia adalah satu langkah awal yang harus kita lakukan sebelum kita menentukan kapan kita harus melangkah, kenapa kita harus melangkah dan ke arah mana kita harus melangkah. Dengan kata lain, kejelasan jati diri adalah langkah awal bagi kejelasan masa depan hidup kita.
Berfikir dan Berfikir … Adalah Sebuah Awal
Sebenarnya pertanyaan seputar jati diri kita: bahwa kita itu siapa sich? Di dunia ini mau ngapain sich? Habis itu mau kemana sich?... Secara alami mesthi akan muncul dalam benak kita kalau kita mau melihat dan memikirkan diri kita, alam sekitar dan kehidupan yang di sekeliling kita. Karena ketika manusia itu udah mencapai kondisi aqil baligh, yakni ketika kemampuan mengakalnya (berfikirnya) telah sempurna, maka dengan kemampuan mengakal (berfikir) yang dia punya tersebut, dia akan terangsang dan mampu memikirkan berbagai macam fakta di depannya. Ketika dia lihat laut yang begitu luas dengan beragam makhluk besar kecil di dalamnya, ketika dia melihat matahari yang cuman satu tidak sembilan kaya’ di ceritanya “Sun Go Kong” …sehingga manusia tidak kepanasan, ketika dia melihat rambut di wajah tubuhnya….yang berbeda-beda tingkat pertumbuhannya….ada yang bisa panjang kayak rambut kepala, tapi ada yang tidak….kayak alis, bulu mata, de el el padahal dia tidak ikutan ngatur, menunjukkan betapa semua itu begitu teraturnya, yang ‘ndhak mungkin dech itu semua ada karena kebetulan tanpa ada Yang menciptakannya dan mengaturnya, tanpa ada Sesuatu di balik semua itu, Sesuatu yang pada-Nya-lah kita bisa menyandarkan segala sesuatu yang bersifat serba terbatas tadi, hingga sampailah kita pada suatu pertanyaan: “darimana sich asal dari semua ini, asal dari manusia, alam semesta dan kehidupan ini? Untuk apa ya semua ini ada?
Begitu juga, ketika kita meneruskan pengamatan kita, maka kita akan melihat bahwa meskipun kita ingin hidup selamanya….tapi toh ternyata kita tidak bisa menolak bahwa kita pasti akan semakin tua dan kemudian secara pasti maut itu pun datang. Tidak pandang siapa pun, orang kayakah, miskinkah, tuakah, anak-anakkah, atau remaja seumuran dengan kamukah…ternyata begitu maut menjemput…maka manusia tidak pernah bisa menolak. Kemanakah mereka setelah mati? Apakah ber-reinkarnasi kaya’ di film-film Cina itu? Atau menjadi hantu gentayangan kayak ‘si Manis Jembatan Ancol’? Atau ya habis sudah riwayat orang yang mati tadi, atau bagaimana?
Kalau kita mau mengikuti dengan cermat proses pencarian jawaban ini, maka sebenarnya jawaban yang ditemukan oleh seseorang tadi terhadap tiga pertanyaan besar itulah yang akan menentukan apakah seseorang itu menjadi orang yang beriman, dan menganut aqidah Islam ataukah tidak. Demikian pula atas dasar jawaban tiga pertanyaan mendasar itulah seseorang itu akan menjalani dan membangun kehidupannya dengan model kehidupan yang bagaimana. Karena tiga pertanyaan di atas adalah kunci bagi terurainya pertanyaan-pertanyaan atau masalah-masalah cabang yang dihasilkannya.
Saatnya Mengerti, Siapa sich Aku ini?
Nah…. Kalau kita mau menggunakan akal yang udah dikaruniakan Allah ini kepada kita tadi, yang dengannya kita menjadi makhluk Allah yang berbeda dari makhluk Allah yang lain, maka kita akan sampai pada satu kesimpulan ketika kita mengamati fakta manusia, alam semesta dan kehidupannya, bahwa mesthiiii…ada Sesuatu yang ada di balik tiga hal tadi. Sesuatu yang telah menciptakan semua hal tadi, dari tidak ada menjadi ada, karena tidak mungkin manusia itu mengadakan dirinya sendiri, demikian pula gunung, kucing, laut dan seterusnya. Karena mereka semua bersifat terbatas, tentu harus ada dong Dzat yang telah menciptakan mereka, dimana Dzat tersebut harus berbeda dengan makhluk buatan-Nya, dia tidak boleh bersifat terbatas. Dia adalah Tuhan yang Maha Pencipta dan juga Maha Pengatur atas segala sesuatu, sehingga kita bisa melihat betapa teraturnya makhluk-makhluk ciptaan Tuhan ini berjalan. Nggak pernah dech kita liat matahari tabrakan sama bulan, burung tabrakan sama bintang, layangan tabrakan sama pesawat…meski semuanya berada di langit yang sama. Teratur banget khan?! Sehingga sangatlah logis, kalau kita pun setelah diciptakan oleh-Nya nggak akan pernah dibiarin aja….mau hidup dengan model gimana, mau makan apa, mau pake baju apa, mau tetep hidup apa endhak, dan sebagainya. Pendek kata, ketika kita diciptakan, telah juga disertakan Allah SWT, Sang Pencipta kita Yang Maha Pengatur tadi, aturan-aturan yang harus kita pake’ dalam menjalani kehidupan ini. Agar kita bisa hidup sebagaimana tujuan kita diciptakan oleh-Nya, karena sebagai pencipta kita, tentulah Allah Mata Tahu juga atas segala detil dan hakekat kita, apa yang bisa membahayakan kita dan apa yang bisa membahagiakan kita. Bukankah pencipta mobil adalah pihak yang paling tahu tentang seluk-beluk mobil ciptaannya itu? Lebih jauh lagi, mobil ciptaannya tadi akan bisa rusak dan tidak berdaya guna sebagaimana tujuan dia dibikin kalau cara penggunaan, bahan bakar, dan cara pemeliharaannya tidak sesuai dengan tata cara/aturan yang dikeluarkan pencipta mobil tersebut. Demikian pula manusia, kehidupannya akan kacau dan tidak akan berjalan sebagaimana tujuan dia diciptakan kalau selama menjalani kehidupan ini manusia tidak diatur dengan aturan-aturan buatan Penciptanya.
Oleh karena itulah kenapa kita butuh seseorang yang bisa menyampaikan aturan-Nya dan menunjukkan kepada kita bagaimana menyelesaikan masalah kehidupan kita menggunakan aturan-aturan hidup tadi. Seseorang yang telah diutus-Nya untuk membawa firman-firman-Nya (Al-Qur'an), yang berisi perintah dan larangan-Nya, juga ancaman dan kabar gembira-Nya. Seorang Rasul yang membacakan kepada kita kitab yang tidak mungkin diciptakan oleh manusia manapun, baik bangsa Arab atau bahkan oleh Rasul itu sendiri. Kitab yang memiliki gaya bahasa yang tinggi, yang mengkabarkan tidak hanya kejadian-kejadian di masa sekarang, namun juga di masa lampau dan yang akan datang. Yang terjamin kebenaran dan keasliannya sepanjang zaman. Yang terbukti tidak pernah bisa disamai oleh para penyair manapun yang telah berupaya mencoba membuat satu ayat saja yang semisal dengannya. Kitab yang terbukti tidak pernah bisa dirubah dan disusupi oleh satu kata pun selain dari firman-Nya, karena Allah sendirilah yang akan menjaganya.
“Diturunkan kitab ini dari Allah Yang Maha Penguasa lagi Maha Bijaksana”. (Terj. QS. Al-Ahqaaf 2)
“Sesungguhnya kami telah menurunkan peringatan dan kami-Lah yang akan menjaganya”. (Terj. QS. Al Hijr 9)
Dan berdasarkan pengkabaran dari Al-Qur'an -yang bisa kita buktikan kebenarannya bahwa ia adalah benar-benar kitab yang berisi kalam Allah yang telah terjamin kebenarannya secara mutlak karena berasal dari Dzat yang Maha Benar--, akan kita dapatkan informasi tentang kejadian manusia, kehidupan dan alam semesta ini. Sebagaimana yang tercantum dalam ayat di bawah ini:
“Hai manusia, jika kamu dalam keraguan tentang kebangkitan (dari kubur), maka (ketahuilah) sesungguhnya kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar kami jelaskan kepada kamu dan kami tetapkan dalam rahim, apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan, kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi, kemudian (dengan berangsur-angsur) kamu sampailah kepada kedewasaan, dan diantara umurnya sampai pikun, supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatu pun yang dahulu telah diketahuinya….” (Terj. QS. Al Hajj 5)
Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu, dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezeki untukmu; karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui. (Terj. QS. Al Baqarah 22)
Jadi jelas sudah, bahwa kita, alam semesta dan kehidupan ini adalah semuanya dari Allah SWT, dan bukan karena ada dengan sendirinya ataukah pula diadakan oleh sesuatu selain Allah. Ini adalah hal prinsip yang harus kita yakini karena terkait dengan pengakuan kita secara pasti bahwa Allah adalah Pencipta kita. Karena dengan pengakuan yang kuat, yakin 100 % tanpa ada keraguan akan hal inilah berarti kita baru disebut beriman kepada adanya Allah, bahwa Muhammad adalah utusan Allah, yang datang dengan membawa Al-Qur'an yang semata-mata merupakan kalam (perkataan) Allah. Termasuk ayat di atas tadi.
Dan ternyata, Allah yang telah menciptakan kita itu bersumpah:
“Maka demi Rabb-mu, mereka itu (pada hakekatnya) tidak beriman sebelum mereka menjadikan engkau (Muhammad) sebagai hakim (pemutus) atas segala permasalahan yang timbul di antara mereka, kemudian tidak ada rasa keberatan di hati mereka terhadap putusan yang engkau berikan, dan mereka menerima (pasrah) dengan sepenuhnya.” (QS. An Nisa’ 65)
Ayat di atas menunjukkan bahwa kalau kita itu mengaku beriman, maka konsekuensinya kita harus mau mengambil seluruh aturan yang telah diturunkan Allah melalui Rasul-Nya untuk mengatur segala aspek kehidupan kita, dan kita mengambil aturan tadi dengan penerimaan sepenuh hati tanpa ada rasa keberatan sedikitpun. Hal ini dipertegas lagi oleh Allah:
“Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali hanya untuk beribadah kepada-Ku” (Terj. QS. Adz Dzariyaat 56)
Maka untuk beribadah kepada Allah-lah, kita dihidupkan di dunia ini. Dengan cara bagaimana? Dengan cara melaksanakan segala apa yang diperintahkan oleh Allah, dan meninggalkan segala apa yang dilarang-Nya, dan inget !!….itu adalah konsekuensi dari keimanan kita kepada-Nya.
Jadi, kalau kamu mau ngapain-ngapain…inget-inget kamu mesti mengikatkannya pada hukum syara’: apakah perbuatan yang mau kamu lakukan itu diperintahkan, dilarang dan dibolehin sama hukum syara’. Dan itu harus kamu lakukan dalam segala aspek perbuatan kamu. Mulai dari bangun tidur, mandi, sholat, sarapan, sekolah, ikut les bimbel, ngaji, ngelarin ujian akhir sampe’ mau milih jurusan kuliah pun kamu harus sandarkan pada hukum syara’. Kalau diperintahkan ya cepetan ambil…laksanakan! Tapi kalau ternyata dilarang….yo tidak ada tapi-tapian, segera tinggalkan! Inget Man amalan itu supaya tidak sia-sia, harus menuhin dua syarat, yakni ikhlas dan bener alias sesuai ’ama hukum syara’.
Dan terakhir, satu hal yang pasti, bahwa segala sesuatu di dunia tidak ada yang bersifat abadi, mereka mesthi akan berakhir, karena mereka adalah makhluk yang penuh keterbatasan….yang tidak bisa menolak ketika maut atau hari akhir itu tiba. Kita pun demikian, sebagai manusia yang telah diciptakan oleh Allah, pada masanya nanti akan dimatikan-Nya dan akan dikembalikan lagi kepada-Nya. Karena Dialah asal dari segala sesuatu dan kepada-Nyalah akhir dari segala sesuatu itu dikembalikan. “Mengapa kamu kafir terhadap Allah, padahal kamu tadinya mati, lalu Allah menghidupkan kamu, kemudian kamu dimatikan dan dihidupkan-Nya kembali, kemudian kepada-Nyalah kamu dikembalikan.” (Terj. QS. Al Baqarah 28)
“Dan Allah menciptakan langit dan bumi dengan tujuan yang benar dan agar dibalasi tiap-tiap diri terhadap apa yang dikerjakannya”. (Terj. QS. Al Jaatsiyah 22)
“Katakanlah : ‘Allah - lah yang menghidupkan kamu kemudian mematikan kamu, setelah itu mengumpulkan kamu pada hari kiamat yang tidak ada keraguan padanya; akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”. (Terj. QS. Al Jaatsiyah 26)
Kembali kepada Allah, Sang pencipta kita, itulah akhir dari perjalanan hidup kita. Setelah sekian lama kita diberi kenikmatan hidup beserta segenap perangkat untuk menikmatinya, maka kita akan kembali menemui-Nya untuk mempertanggung jawabkan apa yang udah kita lakukan dan perbuat dengan segala kenikmatan itu. Apakah kita gunakan untuk mengkufuri-Nya ataukah kita pergunakan untuk mentaati-Nya. Semuanya akan diminta pertanggungjawabannya secara detail dan rinci, tidak bakalan ada yang lolos dari pengadilan-Nya. Sebagaimana firman-Nya:
“Dan barang siapa yang mengerjakan kebajikan seberat dzarrah, niscaya dia akan melihat (balasan) nya. Dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya pula.” (Terj. QS. Al Zalzalah 7-8)
Jadi, kalau kita itu ngerti and sadar bahwa kita bakalan ditanya tentang segala apa yang kita lakukan di dunia ini, tentu kita tidak akan pernah main-main ngejalani hidup ini. Kita tidak akan pernah memandang bahwa tujuan akhir dari hidup kita adalah pada kehidupan dunia ini thok, tapi lebih lanjut, karena kita ngerti bahwa akan ada kehidupan setelah kehidupan dunia ini, yang itu lebih kekal dan abadi, yang di sanalah ditentukan nasib kita apakah ngedapetin ridlo Allah dan surga-Nya ataukah ngedapetin murka dan Neraka-Nya, maka kita mestinya akan senantiasa ngejadi’in Ridlo Allah sebagai tujuan akhir dari segala tujuan amal perbuatan kita di dunia ini.
Sehingga kalau selama belasan umur yang kita punya kemaren itu lebih banyak kita pake’ hura-huranya ketimbang ibadahnya, atau lebih banyak maksiatnya ketimbang taatnya, dan juga lebih banyak lupa sama aturan Allah ketimbang ingatnya, maka sejak sekarang juga kita mesti menancapkan dalam pikiran kita, bahwa: ‘saya harus berubah’. Karena sekarang saya sudah menyadari bahwa saya adalah hamba Allah. Saya adalah seorang Muslim yang dihidupkan untuk melakukan ketaatan kepada Allah, dengan cara melaksanakan seluruh apa yang Allah perintahkan dalam hidup ini kepada saya sebagai hamba-Nya. Karena saya menyadari hanya dengan cara itulah saya akan bisa meraih dan sampai pada tujuan akhir saya, mendapatkan ridlo Allah, satu-satunya Dzat yang bisa memberikan kebahagiaan hakiki kepada saya.***
JADIKAN HIDUPMU …
LEBIH HIDUP..!!
(Dengan Temukan Jati Diri Sejati)
Oleh: Faizatul Rosyidah
Sobat , pernah nggak kamu-kamu melihat sungai? Eitts…jangan sewot dulu! Percaya deh kalau kalian semua pasti udah padha sering melihat sungai, tapi pernah nggak kamu-kamu dapat pelajaran dari tindakanmu merhati’in sungai tadi? Nah ngaku deh…ada yang belum pernah dapat pelajaran khan? Makanya kamu-kamu mesthi dengerin nih cerita gue ! Yang sabar ya….!
Kalau kita perhati’in dengan seksama, ada banyak hal yang bakal kita jumpai ketika kita lagi merhati’in sungai. Mulai dari besar sungainya, warna airnya, kedalamannya, isinya, arus airnya, apa yang ada di permukaan airnya, apa yang sedang melayang di dalamnya, dan apa yang ada di dasar sungainya alias yang lagi tenggelam.
Ada beda penampakan sesuatu yang hidup dengan sesuatu yang tidak hidup di dalam sungai tadi. Sepotong kayu yang terapung di atas sungai atau ikan yang sudah mati misalnya, maka kita akan bisa melihat kalau dia pasti bergerak ngiikut aja ke mana aliran sungai tadi membawanya, tidak terlihat adanya gerakan mandiri yang dilakukannya, yang punya arah dan gerakan tersendiri. Bahkan dianya hanya bisa diam ketika tidak ada aliran sungai yang menggerakkannya. Demikian pula dengan batu di dasar sungai tersebut. Dari hari ke hari dia tetep aja pada posisinya semula, diem, statis, tidak bergerak kalau tidak ada yang menggerakkannya. Itulah penampakan sepotong kayu, ikan mati dan sebuah batu; sesuatu yang mati alias ‘tidak hidup’.
Tapi coba kita tengok ikan-ikan yang hidup di sungai tadi. Sekalipun ikan tersebut kecil, sebesar ikan teri mungkin, tapi senantiasa kita akan bisa melihat gerakan tertentu yang dia lakukan secara mandiri, sesekali dia terbawa arus sungai yang cukup deras, tapi pada waktu yang bersamaan kita juga saksikan betapa ada upaya yang dia lakukan untuk mempertahankan posisinya, atau bahkan sekali waktu terlihat dia bergerak berenang melawan arus yang ada. Singkatnya ikan yang ‘hidup’ pasti akan terlihat bergerak secara mandiri dan punya arah tersendiri dalam geraknya tersebut, sekalipun arus sungai begitu deras membawanya ke arah yang berbeda.
Pelajarannya….bagaimanakah penampilan kita menjalani kehidupan ini? Apakah memang udah penampilan seseorang yang ‘hidup’ ataukah sebenernya kita hidup cuman tidak ada bedanya dengan sesuatu yang ‘mati’ tadi. Konkritnya? Apakah selama ini kita udah ngejalani hidup ini dengan senantiasa melakukan gerakan secara mandiri yang punya arah tertentu, punya tujuan tertentu sehingga gerak kita pun jadi tertentu; ataukah selama ini kita cuman bisa ngejalani hidup ini dengan cara ngikuut aja ama orang lain…tidak ngerti apa yang jadi tujuan hidup kita, tidak ngerti di dunia ini mau cari apa and ngapain. Kalau orang lain padha sekolah ya ikutan dong sekolah tanpa tahu sebenernya mau cari apa dengan sekolah, akhirnya kita menjalani masa-masa sekolah dengan rutinitas yang sama sekali tidak bermakna. Yang sekolah penampilannya sama aja dengan yang tidak sekolah; sama-sama seneng tawurannya, sama-sama suka ngompasin orang, sama-sama doyan narkobanya, dan lain sebagainya. Atau penampilan hidup kita itu statis, tidak ada progresifitas sama sekali, orang lain bahkan tidak bisa ngerasain bedanya antara adanya kita dan tidak adanya. Karena itu kita musti melakukan suatu perubahan dalam diri kita, supaya hidup yang kita jalani bisa ‘lebih hidup’. Bukan dengan cara ngisep rokok ‘Losta Masta’ tapi dengan cara memahami terlebih dulu siapa sich sebenernya jati diri kita ini? Yuk cari sama-sama…!!!
Jati Diri…Bukanlah Perkara Yang Remeh!
Ketidaktahuan atau ketidakjelasan tentang jati diri, masalah ini kayaknya emang tidak pernah lepas dari kehidupan kita, para remaja dan ABG. Berbagai berita dan kabar sekitar remaja seringkali menunjukkan kepada kita betapa ternyata kita -para remaja- itu masih banyak yang bingung dengan jati diri kita sendiri. Mulai dari maraknya tawuran antar pelajar tuk ngebukti’in siapa siswa yang ’paling jago’, kebiasaan ngeceng di pinggir-pinggir jalan demi mendapatkan gebetan, terjerat narkoba demi ‘kesetiakawanan’, ABG Komersial yang menjamur demi beberapa keping uang ‘tuk beli makanan ‘prestise’ macam McD, KFC, de el el… hingga banyaknya angka ‘kecelakaan’ di luar nikah atas nama cinta plus aborsi yang banyak dilakukan remaja, adalah sederet kasus yang menunjukkan betapa mayoritas kita itu belum atau tidak ngerti dengan jati diri kita itu sesungguhnya siapa, apa tujuan hidup kita, gimana cara meraih/mencapai tujuan tersebut, dan apa yang mesti kita lakukan. Maka jangan heran…begitu lagu “BERMIMPI” –nya Base Jam beberapa tahun yang lalu keluar (baca: dirilis), kita para remaja dan ABG seolah menemukan sosok yang bisa menyuarakan ‘suara hati’ kita yang lagi kebingungan mau cari apa di muka bumi ini, pokoknya kita maunya happy…tapi nggak tahu gimana cara ngedapetinnya, hingga akhirnya rasanya yang bisa kita lakukan ya cuman bermimpi dan bernyanyi….(“Aku hanya bisa bermimpi dan bernyanyi dalam hati…ku hanya ingin hidup bahagia….aku tak tahu apa yang kucari di muka bumi……”)
Jadi emang, kalau kita ingin bicara tentang jati diri, maka itu berarti kita harus ngebahas tentang diri kita sendiri dan kehidupan yang kita jalani. Menjalani kehidupan itu sendiri, Ibaratnya adalah melakukan sebuah perjalanan. Seseorang yang mau bepergian/berperjalanan haruslah tergambar dalam benaknya terlebih dahulu kenapa harus bepergian, untuk apa, hendak menuju kemana, dan gimana caranya supaya dapat sampe’ ke tujuan tadi; harus lewat mana, naik apa, dan berangkat dari mana. Demikian pula dengan kita, selama kita belum bisa merumuskan hal-hal di atas tadi, maka jangan harap kita bakal bisa sukses dalam perjalanan kita. Bisa jadi kita udah capek-capek habisin waktu, uang dan tenaga…eh ternyata kitanya ‘nggak nyampe’-nyampe’.... ya tentu aja, lah wong tujuannya kemana aja masih belum kita putuskan, ya mana mungkin kita bisa mutuskan mau naik kendaraan apa, berangkat dari mana, lewat jalan mana, dan apa yang musti kita lakukan agar bisa nyampe’ ke tujuan kita tadi. Jadinya mungkin kita ya cuman muter-muter aja tanpa ada arah yang jelas sampe’ kitanya jadi judheg dan capek dengan perjalanan tadi.
Begitu pula gambaran orang menjalani hidup. Kalau dia belum ngerti siapa sich dirinya itu, apa tujuan dia hidup, dan nggak tahu juga gimana caranya sampai ke tujuan hidupnya tadi, maka dia akan tampil sebagai orang-orang yang ‘mbulet’ aja, ke sana ke mari tapi tidak jelas mau kemana, hidupnya ngambang dan gampang banget kebawa arus orang-orang di sekitarnya. Kalau orang-orang di sekitarnya seharian pergi ‘ndhugem karena katanya itu adalah cara menunjukkan identitas diri…ikut dech orang ini ‘ndhugem, begitu sekitarnya tripping….karena lagi trend….ikut dech orang ini tripping, yang lain rambutnya dicat ngejreng….ikut dech dia ngecat rambutnya ngejreng, yang lain padha ‘nyabu….ikut dech dia ‘nyabu, yang lain padha demo….ikut-ikutan dech demo dia lakukan meski tidak ngerti untuk apa dan kenapa dia melakukan itu. Begituu seterusnya… Sehingga jadilah dia sebagai orang yang hidup tanpa ada landasan yang pasti.
Oleh karena itu, menjawab pencarian jati diri kita adalah suatu keniscayaan yang harus kita lakukan kalau ingin sukses dalam menjalani kehidupan ini. Karena dia adalah satu langkah awal yang harus kita lakukan sebelum kita menentukan kapan kita harus melangkah, kenapa kita harus melangkah dan ke arah mana kita harus melangkah. Dengan kata lain, kejelasan jati diri adalah langkah awal bagi kejelasan masa depan hidup kita.
Berfikir dan Berfikir … Adalah Sebuah Awal
Sebenarnya pertanyaan seputar jati diri kita: bahwa kita itu siapa sich? Di dunia ini mau ngapain sich? Habis itu mau kemana sich?... Secara alami mesthi akan muncul dalam benak kita kalau kita mau melihat dan memikirkan diri kita, alam sekitar dan kehidupan yang di sekeliling kita. Karena ketika manusia itu udah mencapai kondisi aqil baligh, yakni ketika kemampuan mengakalnya (berfikirnya) telah sempurna, maka dengan kemampuan mengakal (berfikir) yang dia punya tersebut, dia akan terangsang dan mampu memikirkan berbagai macam fakta di depannya. Ketika dia lihat laut yang begitu luas dengan beragam makhluk besar kecil di dalamnya, ketika dia melihat matahari yang cuman satu tidak sembilan kaya’ di ceritanya “Sun Go Kong” …sehingga manusia tidak kepanasan, ketika dia melihat rambut di wajah tubuhnya….yang berbeda-beda tingkat pertumbuhannya….ada yang bisa panjang kayak rambut kepala, tapi ada yang tidak….kayak alis, bulu mata, de el el padahal dia tidak ikutan ngatur, menunjukkan betapa semua itu begitu teraturnya, yang ‘ndhak mungkin dech itu semua ada karena kebetulan tanpa ada Yang menciptakannya dan mengaturnya, tanpa ada Sesuatu di balik semua itu, Sesuatu yang pada-Nya-lah kita bisa menyandarkan segala sesuatu yang bersifat serba terbatas tadi, hingga sampailah kita pada suatu pertanyaan: “darimana sich asal dari semua ini, asal dari manusia, alam semesta dan kehidupan ini? Untuk apa ya semua ini ada?
Begitu juga, ketika kita meneruskan pengamatan kita, maka kita akan melihat bahwa meskipun kita ingin hidup selamanya….tapi toh ternyata kita tidak bisa menolak bahwa kita pasti akan semakin tua dan kemudian secara pasti maut itu pun datang. Tidak pandang siapa pun, orang kayakah, miskinkah, tuakah, anak-anakkah, atau remaja seumuran dengan kamukah…ternyata begitu maut menjemput…maka manusia tidak pernah bisa menolak. Kemanakah mereka setelah mati? Apakah ber-reinkarnasi kaya’ di film-film Cina itu? Atau menjadi hantu gentayangan kayak ‘si Manis Jembatan Ancol’? Atau ya habis sudah riwayat orang yang mati tadi, atau bagaimana?
Kalau kita mau mengikuti dengan cermat proses pencarian jawaban ini, maka sebenarnya jawaban yang ditemukan oleh seseorang tadi terhadap tiga pertanyaan besar itulah yang akan menentukan apakah seseorang itu menjadi orang yang beriman, dan menganut aqidah Islam ataukah tidak. Demikian pula atas dasar jawaban tiga pertanyaan mendasar itulah seseorang itu akan menjalani dan membangun kehidupannya dengan model kehidupan yang bagaimana. Karena tiga pertanyaan di atas adalah kunci bagi terurainya pertanyaan-pertanyaan atau masalah-masalah cabang yang dihasilkannya.
Saatnya Mengerti, Siapa sich Aku ini?
Nah…. Kalau kita mau menggunakan akal yang udah dikaruniakan Allah ini kepada kita tadi, yang dengannya kita menjadi makhluk Allah yang berbeda dari makhluk Allah yang lain, maka kita akan sampai pada satu kesimpulan ketika kita mengamati fakta manusia, alam semesta dan kehidupannya, bahwa mesthiiii…ada Sesuatu yang ada di balik tiga hal tadi. Sesuatu yang telah menciptakan semua hal tadi, dari tidak ada menjadi ada, karena tidak mungkin manusia itu mengadakan dirinya sendiri, demikian pula gunung, kucing, laut dan seterusnya. Karena mereka semua bersifat terbatas, tentu harus ada dong Dzat yang telah menciptakan mereka, dimana Dzat tersebut harus berbeda dengan makhluk buatan-Nya, dia tidak boleh bersifat terbatas. Dia adalah Tuhan yang Maha Pencipta dan juga Maha Pengatur atas segala sesuatu, sehingga kita bisa melihat betapa teraturnya makhluk-makhluk ciptaan Tuhan ini berjalan. Nggak pernah dech kita liat matahari tabrakan sama bulan, burung tabrakan sama bintang, layangan tabrakan sama pesawat…meski semuanya berada di langit yang sama. Teratur banget khan?! Sehingga sangatlah logis, kalau kita pun setelah diciptakan oleh-Nya nggak akan pernah dibiarin aja….mau hidup dengan model gimana, mau makan apa, mau pake baju apa, mau tetep hidup apa endhak, dan sebagainya. Pendek kata, ketika kita diciptakan, telah juga disertakan Allah SWT, Sang Pencipta kita Yang Maha Pengatur tadi, aturan-aturan yang harus kita pake’ dalam menjalani kehidupan ini. Agar kita bisa hidup sebagaimana tujuan kita diciptakan oleh-Nya, karena sebagai pencipta kita, tentulah Allah Mata Tahu juga atas segala detil dan hakekat kita, apa yang bisa membahayakan kita dan apa yang bisa membahagiakan kita. Bukankah pencipta mobil adalah pihak yang paling tahu tentang seluk-beluk mobil ciptaannya itu? Lebih jauh lagi, mobil ciptaannya tadi akan bisa rusak dan tidak berdaya guna sebagaimana tujuan dia dibikin kalau cara penggunaan, bahan bakar, dan cara pemeliharaannya tidak sesuai dengan tata cara/aturan yang dikeluarkan pencipta mobil tersebut. Demikian pula manusia, kehidupannya akan kacau dan tidak akan berjalan sebagaimana tujuan dia diciptakan kalau selama menjalani kehidupan ini manusia tidak diatur dengan aturan-aturan buatan Penciptanya.
Oleh karena itulah kenapa kita butuh seseorang yang bisa menyampaikan aturan-Nya dan menunjukkan kepada kita bagaimana menyelesaikan masalah kehidupan kita menggunakan aturan-aturan hidup tadi. Seseorang yang telah diutus-Nya untuk membawa firman-firman-Nya (Al-Qur'an), yang berisi perintah dan larangan-Nya, juga ancaman dan kabar gembira-Nya. Seorang Rasul yang membacakan kepada kita kitab yang tidak mungkin diciptakan oleh manusia manapun, baik bangsa Arab atau bahkan oleh Rasul itu sendiri. Kitab yang memiliki gaya bahasa yang tinggi, yang mengkabarkan tidak hanya kejadian-kejadian di masa sekarang, namun juga di masa lampau dan yang akan datang. Yang terjamin kebenaran dan keasliannya sepanjang zaman. Yang terbukti tidak pernah bisa disamai oleh para penyair manapun yang telah berupaya mencoba membuat satu ayat saja yang semisal dengannya. Kitab yang terbukti tidak pernah bisa dirubah dan disusupi oleh satu kata pun selain dari firman-Nya, karena Allah sendirilah yang akan menjaganya.
“Diturunkan kitab ini dari Allah Yang Maha Penguasa lagi Maha Bijaksana”. (Terj. QS. Al-Ahqaaf 2)
“Sesungguhnya kami telah menurunkan peringatan dan kami-Lah yang akan menjaganya”. (Terj. QS. Al Hijr 9)
Dan berdasarkan pengkabaran dari Al-Qur'an -yang bisa kita buktikan kebenarannya bahwa ia adalah benar-benar kitab yang berisi kalam Allah yang telah terjamin kebenarannya secara mutlak karena berasal dari Dzat yang Maha Benar--, akan kita dapatkan informasi tentang kejadian manusia, kehidupan dan alam semesta ini. Sebagaimana yang tercantum dalam ayat di bawah ini:
“Hai manusia, jika kamu dalam keraguan tentang kebangkitan (dari kubur), maka (ketahuilah) sesungguhnya kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar kami jelaskan kepada kamu dan kami tetapkan dalam rahim, apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan, kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi, kemudian (dengan berangsur-angsur) kamu sampailah kepada kedewasaan, dan diantara umurnya sampai pikun, supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatu pun yang dahulu telah diketahuinya….” (Terj. QS. Al Hajj 5)
Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu, dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezeki untukmu; karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui. (Terj. QS. Al Baqarah 22)
Jadi jelas sudah, bahwa kita, alam semesta dan kehidupan ini adalah semuanya dari Allah SWT, dan bukan karena ada dengan sendirinya ataukah pula diadakan oleh sesuatu selain Allah. Ini adalah hal prinsip yang harus kita yakini karena terkait dengan pengakuan kita secara pasti bahwa Allah adalah Pencipta kita. Karena dengan pengakuan yang kuat, yakin 100 % tanpa ada keraguan akan hal inilah berarti kita baru disebut beriman kepada adanya Allah, bahwa Muhammad adalah utusan Allah, yang datang dengan membawa Al-Qur'an yang semata-mata merupakan kalam (perkataan) Allah. Termasuk ayat di atas tadi.
Dan ternyata, Allah yang telah menciptakan kita itu bersumpah:
“Maka demi Rabb-mu, mereka itu (pada hakekatnya) tidak beriman sebelum mereka menjadikan engkau (Muhammad) sebagai hakim (pemutus) atas segala permasalahan yang timbul di antara mereka, kemudian tidak ada rasa keberatan di hati mereka terhadap putusan yang engkau berikan, dan mereka menerima (pasrah) dengan sepenuhnya.” (QS. An Nisa’ 65)
Ayat di atas menunjukkan bahwa kalau kita itu mengaku beriman, maka konsekuensinya kita harus mau mengambil seluruh aturan yang telah diturunkan Allah melalui Rasul-Nya untuk mengatur segala aspek kehidupan kita, dan kita mengambil aturan tadi dengan penerimaan sepenuh hati tanpa ada rasa keberatan sedikitpun. Hal ini dipertegas lagi oleh Allah:
“Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali hanya untuk beribadah kepada-Ku” (Terj. QS. Adz Dzariyaat 56)
Maka untuk beribadah kepada Allah-lah, kita dihidupkan di dunia ini. Dengan cara bagaimana? Dengan cara melaksanakan segala apa yang diperintahkan oleh Allah, dan meninggalkan segala apa yang dilarang-Nya, dan inget !!….itu adalah konsekuensi dari keimanan kita kepada-Nya.
Jadi, kalau kamu mau ngapain-ngapain…inget-inget kamu mesti mengikatkannya pada hukum syara’: apakah perbuatan yang mau kamu lakukan itu diperintahkan, dilarang dan dibolehin sama hukum syara’. Dan itu harus kamu lakukan dalam segala aspek perbuatan kamu. Mulai dari bangun tidur, mandi, sholat, sarapan, sekolah, ikut les bimbel, ngaji, ngelarin ujian akhir sampe’ mau milih jurusan kuliah pun kamu harus sandarkan pada hukum syara’. Kalau diperintahkan ya cepetan ambil…laksanakan! Tapi kalau ternyata dilarang….yo tidak ada tapi-tapian, segera tinggalkan! Inget Man amalan itu supaya tidak sia-sia, harus menuhin dua syarat, yakni ikhlas dan bener alias sesuai ’ama hukum syara’.
Dan terakhir, satu hal yang pasti, bahwa segala sesuatu di dunia tidak ada yang bersifat abadi, mereka mesthi akan berakhir, karena mereka adalah makhluk yang penuh keterbatasan….yang tidak bisa menolak ketika maut atau hari akhir itu tiba. Kita pun demikian, sebagai manusia yang telah diciptakan oleh Allah, pada masanya nanti akan dimatikan-Nya dan akan dikembalikan lagi kepada-Nya. Karena Dialah asal dari segala sesuatu dan kepada-Nyalah akhir dari segala sesuatu itu dikembalikan. “Mengapa kamu kafir terhadap Allah, padahal kamu tadinya mati, lalu Allah menghidupkan kamu, kemudian kamu dimatikan dan dihidupkan-Nya kembali, kemudian kepada-Nyalah kamu dikembalikan.” (Terj. QS. Al Baqarah 28)
“Dan Allah menciptakan langit dan bumi dengan tujuan yang benar dan agar dibalasi tiap-tiap diri terhadap apa yang dikerjakannya”. (Terj. QS. Al Jaatsiyah 22)
“Katakanlah : ‘Allah - lah yang menghidupkan kamu kemudian mematikan kamu, setelah itu mengumpulkan kamu pada hari kiamat yang tidak ada keraguan padanya; akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”. (Terj. QS. Al Jaatsiyah 26)
Kembali kepada Allah, Sang pencipta kita, itulah akhir dari perjalanan hidup kita. Setelah sekian lama kita diberi kenikmatan hidup beserta segenap perangkat untuk menikmatinya, maka kita akan kembali menemui-Nya untuk mempertanggung jawabkan apa yang udah kita lakukan dan perbuat dengan segala kenikmatan itu. Apakah kita gunakan untuk mengkufuri-Nya ataukah kita pergunakan untuk mentaati-Nya. Semuanya akan diminta pertanggungjawabannya secara detail dan rinci, tidak bakalan ada yang lolos dari pengadilan-Nya. Sebagaimana firman-Nya:
“Dan barang siapa yang mengerjakan kebajikan seberat dzarrah, niscaya dia akan melihat (balasan) nya. Dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya pula.” (Terj. QS. Al Zalzalah 7-8)
Jadi, kalau kita itu ngerti and sadar bahwa kita bakalan ditanya tentang segala apa yang kita lakukan di dunia ini, tentu kita tidak akan pernah main-main ngejalani hidup ini. Kita tidak akan pernah memandang bahwa tujuan akhir dari hidup kita adalah pada kehidupan dunia ini thok, tapi lebih lanjut, karena kita ngerti bahwa akan ada kehidupan setelah kehidupan dunia ini, yang itu lebih kekal dan abadi, yang di sanalah ditentukan nasib kita apakah ngedapetin ridlo Allah dan surga-Nya ataukah ngedapetin murka dan Neraka-Nya, maka kita mestinya akan senantiasa ngejadi’in Ridlo Allah sebagai tujuan akhir dari segala tujuan amal perbuatan kita di dunia ini.
Sehingga kalau selama belasan umur yang kita punya kemaren itu lebih banyak kita pake’ hura-huranya ketimbang ibadahnya, atau lebih banyak maksiatnya ketimbang taatnya, dan juga lebih banyak lupa sama aturan Allah ketimbang ingatnya, maka sejak sekarang juga kita mesti menancapkan dalam pikiran kita, bahwa: ‘saya harus berubah’. Karena sekarang saya sudah menyadari bahwa saya adalah hamba Allah. Saya adalah seorang Muslim yang dihidupkan untuk melakukan ketaatan kepada Allah, dengan cara melaksanakan seluruh apa yang Allah perintahkan dalam hidup ini kepada saya sebagai hamba-Nya. Karena saya menyadari hanya dengan cara itulah saya akan bisa meraih dan sampai pada tujuan akhir saya, mendapatkan ridlo Allah, satu-satunya Dzat yang bisa memberikan kebahagiaan hakiki kepada saya.***
Langganan:
Postingan (Atom)