Tempat berbagi
informasi, pemikiran,
kisah, artikel, tips, pengalaman, dan ilmu
berkaitan dengan
dunia medis, intelektual, dakwah, perempuan,

pendidikan anak,
remaja, keluarga dan generasi, juga sesekali barang jualan.....

Selamat Berlayar..........

Rabu, 22 Mei 2013

MENGAJAR ANAK BERPUASA

RUBRIK KONSULTASI PARENTING ISLAMI 

Bersama dr. Hj. Faizatul Rosyidah


PERTANYAAN:

Bagaimana caranya memberikan motivasi kepada anak agar ibadah puasa itu menjadi ibadah yang menyenangkan bagi anak. Tanpa harus menyuruh anak berpuasa dengan cara memaksa? (Jamaah Wisata Hati)


JAWABAN:

Kami sangat senang sekali mendapat pertanyaan seperti ini, karena hal ini menunjukkan adanya perhatian orang tua yang sangat besar kepada anak-anak dan pendidikan untuk taat kepada Allah SWT.

Puasa bagi anak menurut ahli kesehatan, dapat mulai diajarkan/dikenalkan sejak anak berusia 4 tahun. Dimana pada usia tersebut biasanya anak sudah mulai mapan pola makannya, mulai mandiri dan relatif siap dengan proses pembelajaran tertentu. Sebaliknya, sebelum usia 4 tahun sebaiknya kita tidak terburu-buru mengajarkan praktek puasa karena proses tumbuh kembang anak itu sendiri yang memang memiliki percepatan lebih besar dan membutuhkan asupan makanan yang cukup, sementara seringkali pada usia tersebut kita juga masih melakukan proses pengenalan pola makan pada anak.

Harus juga dipahami bahwa anak-anak yang belum aqil baligh bukanlah termasuk mukallaf (terkenan beban kewajiban) menurut syara. Akan tetapi Allah Ta’ala membebani kedua orang tua untuk mendidik anak-anaknya dalam beribadah, termasuk dalam menjalankan puasa ini. Para shahabat yang mulia radhiallahu anhum mengajarkan puasa kepada anak-anaknya sewaktu kecil untuk membiasakan dalam ketaatan yang agung ini. Dari Rabi binti Mu’awwid radhiallahu anha, dia berkata:

أَرْسَلَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم غَدَاةَ عَاشُورَاءَ إِلَى قُرَى الأَنْصَارِ الَّتِى حَوْلَ الْمَدِينَةِ : مَنْ كَانَ أَصْبَحَ صَائِمًا فَلْيُتِمَّ صَوْمَهُ ، وَمَنْ كَانَ أَصْبَحَ مُفْطِرًا فَلْيُتِمَّ بَقِيَّةَ يَوْمِهِ) ، فَكُنَّا بَعْدَ ذَلِكَ نَصُومُهُ ، وَنُصَوِّمُ صِبْيَانَنَا الصِّغَارَ مِنْهُمْ إِنْ شَاءَ اللَّهُ ، وَنَذْهَبُ إِلَى الْمَسْجِدِ ، فَنَجْعَلُ لَهُمُ اللُّعْبَةَ مِنَ الْعِهْنِ ، فَإِذَا بَكَى أَحَدُهُمْ عَلَى الطَّعَامِ أَعْطَيْنَاهَا إِيَّاهُ عِنْدَ الإِفْطَارِ (رواه البخاري، رقم 1960 ومسلم، رقم 1136)

‘Rasulullah SAW mengirim utusannya pada siang hari Asyuro (10 Muharam) ke desa-desa kaum Anshar di sekitar Madinah untuk mengumumkan, ‘Barangsiapa telah berpuasa sejak pagi hari, hendaklah dia menyempurnakan puasanya. Barangsiapa yang pagi harinya berbuka, maka hendaknya puasa pada sisa harinya.’ Maka setelah itu kita berpuasa, dan kami membiasakan anak-anak kecil kami untuk berpuasa insyaallah. Kami pergi ke masjid, lalu kami buatkan untuk mereka (anak-anak) mainan dari kapas yang berwarna. Kalau salah satu diantara mereka menangis karena (kelaparan). Kami berikan kepadanya (mainan tersebut) sampai berbuka puasa." (HR. Bukhori, 1960 dan Muslim, 1136.)

Dalam mengajarkan puasa pada anak, juga harus diingat untuk mengajarkannya secara bertahap dan jangan tiba-tiba. Bertahap disini maksudnya jangan langsung diajak puasa penuh selama kurang lebih 12 jam. Tapi bisa bertahap disesuaikan dengan kemampuan dari si anak. Yang lebih penting selalu dijelaskan bahwa saat itu dia sedang belajar berpuasa sesuai ajaran Islam.

Terkait dengan metode pembiasaan anak-anak untuk berpuasa, beberapa hal-hal berikut ini hendaklah diperhatikan:

1. Menjelaskan keutamaan puasa kepada mereka, bahwa hal itu termasuk amal shalih yang bisa menjadi sebab seseorang mendapatkan keridloan dari Allah SWT dan masuk surga melalui pintu khusus yang dinamakan Ar-Rayyan, dimana hanya orang-orang yang berpuasa saja yang bisa memasukinya.

2. Membiasakan sebelumnya untuk berpuasa seperti puasa beberapa hari di bulan Sya’ban agar tidak kaget dengan puasa di bulan Ramadan.

3. Tetap menjelaskan pada anak bahwa puasa itu seharusnya dari shubuh sampai maghrib, akan tetapi bagi mereka (anak-anak) yang belum mampu, mereka statusnya masih belajar berpuasa. Jadi boleh diberi semacam kesempatan berbuka pada waktu dluhur, ashar dan menambahi waktunya sedikit demi sedikit hingga mampu menyempurnakan hingga maghrib.

4. Mengakhirkan sahur sampai di akhir malam, karena hal itu akan membantu puasa mereka di siang hari.

5. Menawarkan dan menyemangati mereka dengan menu berbuka puasa yang menjadi makanan kesukaan mereka, kue-kue, buah-buahan ataupun minuman tertentu yang mereka inginkan.

6. Menyemangati mereka berpuasa dengan memberi hadiah yang mereka idamkan untuk setiap usaha terbaik mereka menyempurnakan puasa di akhir bulan ramadhan/pada saat Idul fitri.

7. Menyanjung mereka di depan keluarga sewaktu berbuka dan ketika sahur. Hal itu dapat menaikkan semangat spiritualnya.

8. Mendorong semangat berlomba-lomba apabila dia mempunyai banyak anak, tanpa harus mencela yang tertinggal.

9. Melalaikan rasa lapar dengan tidur atau dengan mainan mubah yang tidak memerlukan tenaga. Sebagaimana para shahabat yang mulia melakukan terhadap anak-anaknya. Kita juga bisa mencarikan kegiatan ataupun program belajar dan bermain anak-anak yang tepat, semacam mengerjakan busy book, kelas-kelas berkisah Islami untuk anak, atau mainan dan kegiatan yang dapat menyibukkan mereka.

10. Perlu diperhatikan kalau sekiranya anak-anak merasakan keletihan yang sangat, jangan dipaksa untuk menyempurnakan puasanya. Hal itu agar tidak menjadikan sebab mereka benci beribadah, atau menjadi sebab mereka berbohong atau timbulnya bahaya bagi sang anak. Karena pada dasarnya, mereka belum termasuk mukallaf (terkena beban kewajiban).

Wallahu a’lam bish Showab. Semoga bermanfaat. []