Tempat berbagi
informasi, pemikiran,
kisah, artikel, tips, pengalaman, dan ilmu
berkaitan dengan
dunia medis, intelektual, dakwah, perempuan,

pendidikan anak,
remaja, keluarga dan generasi, juga sesekali barang jualan.....

Selamat Berlayar..........

Senin, 21 April 2014

MENANAMKAN JIWA KEPEMIMPINAN PADA ANAK

Bersama dr. Hj. Faizatul Rosyidah
--------------------------------------------------------------------------------------------

PERTANYAAN:

Assalamua'alaikum Wr. Wb.
Ustadzah bagaimana caranya menanamkan jiwa kepemimpinan kepada anak? Terimakasih. (Hamba Allah)


JAWABAN:

Kepemimpinan merupakan salah satu hal yang mutlak diperlukan bagi seorang anak untuk terus tumbuh berkembang menjadi pribadi dewasa. Baik sebagai pemimpin dalam konteks luas yaitu ketika anak terjun ke lingkungan sosial dan mulai tumbuh untuk berinteraksi secara dewasa di tengah masyarakat. Atau menjadi pemimpin dalam lingkup kecil yaitu pemimpin untuk dirinya sendiri agar dapat mengatur diri dan menyelesaikan masalah jika menghadapi konflik serta dapat membawa pengaruh positif terhadap lingkungan di sekitar.

Membentuk karakter kepemimpinan dapat dilakukan sejak usia dini. Hal yang harus ditanamkan dalam proses tersebut adalah prinsip-prinsip, pemahaman, hingga keterampilan yang dapat digunakan anak ketika ia sudah besar dan menjadi pemimpin di tengah masyarakat. Namun sebelum merealisir hal tersebut, pondasi terpenting untuk dibentuk adalah mengajarkan anak untuk menjadi pemimpin bagi dirinya sendiri dan bertanggung jawab kepada Al khaliq yang telah memberikan amanah kehidupan ini kepadanya. 

Untuk menghasilkan jiwa dan kemampuan kepemimpinan tersebut dibutuhkan beberapa aspek yang saling berkesinambungan seperti pemahaman terhadap jati dirinya (sebagai hamba Allah SWT), pemahaman akan tanggung jawab yang melekat pada setiap identitas yang diembannya sesuai tumbuh kembangnya (sebagai anak, saudara, siswa, teman, dan identitas lainnya) yang bersandar dari identitas utamanya sebagai hamba Allah, hingga kemampuan dan keterampilan berkomunikasi, berinteraksi, dan bersosialisasi dengan lingkungan serta orang lain.

Kepemimpinan dalam Islam melekat kepada karakter Islam itu sendiri sebagai sebuah ajaran yang tinggi yang layak dan memiliki kemampuan memimpin apa dan siapa saja. "Islam itu tinggi dan tidak ada yang lebih tinggi darinya" (Al hadits). Maka kepemimpinan dalam Islam meniscayakan adanya keyakinan terhadap Islam dan berpegang teguh padanya. Karakter kepemimpinan yang diwujudkannya bahkan bersifat universal, melintas batas wilayah hingga menjangkau seluruh alam. Sebagaimana karakter Islam yang diturunkan untuk menjadi Rahmat bagi seluruh alam (dunia), maka pemimpin yang dilahirkannya akan bisa mengemban tugasnya sebagai Kholifah Allah di bumi.

Karena itu, memastikan mengenal siapa Allah swt, al Khaliq al Mudabbir, Sang Pencipta dan Pengatur dunia seisinya termasuk diri dan kehidupannya, meyakini-Nya adalah pondasi dari pemahaman apapun yang harus kita bangun pada anak kita. Kesadarannya bahwa dirinya adalah hamba bagi penciptanya yang memiliki misi penciptaan untuk taat dan menjalani semua episode hidupnya sesuai tuntunan yang diberikan Allah swt seharusnya menjadi sumber motivasi apapun yang dilakukannya, seperti hormat dan taat pada orang tuanya, rajin beribadah, sekolah, rajin belajar, menolong teman, tidak mudah emosi, senang bekerjasama, disiplin, bersikap adil, jujur, memiliki empati kepada orang lain dan lain sebagainya. 

Keyakinannya yang kuat akan kebenaran dan ketinggian Islam akan menjadikannya memiliki visi untuk mewujudkan kepemimpinan Islam bagi seluruh dunia dan membina dirinya  untuk bisa menjadi pemimpin (orang-orang) yang bertaqwa, di manapun anak kita berada.

Selanjutnya, tanamkan, biasakan dan asah rasa tanggung jawab anak-anak kita mulai dari hal kecil dan sesuai dengan usianya secara bertahap. Contohnya, pada usia 1-3 tahun anak mulai diajarkan tanggung jawab menjaga kebersihan diri dan lingkungan, seperti membuang bungkus permen yang dimakannya, membiasakan anak untuk membereskan mainannya sendiri, dan sejenisnya. Ketika anak sudah lebih besar maka tanggung jawab yang diberikan pun ditingkatkan satu demi satu sesuai dengan posisi dan peran yang diembannya. Misal tanggung jawab menyelesaikan PR sekolahnya, membereskan kamarnya, menjaga adiknya, memelihara tanamannya, dll. Pemberian tanggung jawab atau target yang terlalu tinggi sebaiknya diukur kembali dan disesuaikan dengan usia serta kemampuan anak agar tidak membuat mereka putus asa dan merasa tidak mampu menyelesaikannya.

Dalam aspek kemampuan berkomunikasi, anak sebaiknya dibimbing untuk berbicara dan menyampaikan  kebenaran dengan  fasih, bahasa yang jelas dan tepat sejak awal. Dalam hal ini keluarga dan lingkungan rumah, terutama Ibu adalah guru terbaik anak. Maka seorang ibu harus menjadi teladan bagi anak untuk senantiasa berbicara dengan benar, jelas, fasih dan lancar, serta memperhatikan dengan siapa pembicaraan itu dilakukan. Bagaimana ibu berkomunikasi dengan anak maupun dengan orang lain yang disaksikan anak adalah contoh langsung pembelajaran komunikasi yang dia lakukan. Tentu saja harus tetap memperhatikan tahap tumbuh kembang anak. Misalnya, mengucapkan kata pertama menjelang usia satu tahun, mengucapkan kalimat sekitar usia dua tahun, dan di usia 5-6 tahun anak sudah mulai bercakap-cakap dengan menyampaikan isi pikirannya secara bergantian dengan orang lain. Saat anak mulai belajar bercakap-cakap, orangtua sebaiknya mendengarkan dan saling berinteraksi agar nantinya anak terbiasa untuk menjalin komunikasi dengan lingkungan. Berikan kesempatan pada anak untuk tampil dan memberikan pendapatnya. Dengarkan pendapatnya dan berikan kepercayaan kepada anak untuk memilih pilihannya.

Untuk memiliki kemampuan mempengaruhi orang lain agar melakukan sesuatu yang benar  dan positif demi kemajuan bersama tentu saja mengharuskan anak memiliki kepribadian Islam yang tinggi/kuat terlebih dahulu sebelum membinanya untuk memiliki kemampuan dan keterampilan bersosialisasi. Kemampuan berkomunikasi yang baik hanya bisa dimiliki kalau didukung dengan banyaknya pengalaman bersosialisasi. Maka biasakanlah sejak kecil anak-anak kita memiliki teman-teman bermain maupun belajar bersama dari berbagai kalangan. Pengalaman bekerjasama dan sesekali mengalami masalah dengan teman-temannya menjadi kesempatan anak untuk belajar mengatasi masalah tersebut. Biarkan anak untuk berusaha menyelesaikan masalahnya tersebut. Orangtua sebaiknya tidak terlalu melindungi atau membela anak karena akan membuat anak menjadi tidak belajar dan kurang memiliki pengalaman dalam mengatasi konflik yang terjadi yang akibatnya anak kelak menjadi tidak mandiri dan senantiasa bergantung kepada orang tuanya. Berikan contoh dan kesempatan pada anak untuk menyelesaikan masalahnya sendiri. Orangtua dapat memberikan masukan atau saran, tetapi biarkanlah anak yang sebaiknya memutuskan. Walaupun keputusannya masih belum tepat, jadikan konsekuensi hal tersebut bagian dari pengalamannya.

Selain itu, ada beberapa hal lain yang bisa kita lakukan untuk memaksimalkan proses pembelajaran dalam hal kepemimpinan ini, di antaranya:
-   Bantu dan latih anak untuk memiliki gaya hidup disiplin. Usia tujuh tahun kedua adalah masa dimana pendidikan akan kedisplinan harus kita selesaikan. Sebagaimana tuntunan Imam Ali RA bahwa usia tujuh tahun pertama perlakukan anak seperti raja, tujuh tahun kedua seperti tawanan, dan tujuh tahun ketiga seperti wazir/asisten/teman dekat/orang kepercayaan.
-   Puji perilaku kepemimpinan mereka sekecil apapun itu. Misalnya keberhasilan mereka mengatur giliran bermain dengan mainan yang terbatas bersama teman-temannya.
-    Kenalkan profil para pemimpin Islam yang bisa menjadi teladan bagi anak, seperti Rasulullah SAW, Khulafaaur rosyidiin, Muhammad al Fatih, Shalahuddin al ayyubi dan pemimpin lain. Kita bisa menggunakan buku cerita, acara di TV, VCD, edugame, dll untuk anak atau dengan langsung menjadikan orang-orang yang ada di lingkungan anak yang bisa menjadi sumber ilmu tentang pemimpin yang hebat.
-    Fasilitasi mereka dengan kegiatan yang membantu mereka menunjukkan dan mengasah kemampuan memimpin mereka. Misalnya melakukan perkemahan bersama, mengikutkan anak pada kegiatan ekstra kurikuler yang mengajarkan berorganisasi semacam pramuka, kepanduan, hizbul wathan, PMR (Palang Merah Remaja), UKS, dan sejenisnya.
-    Selain itu, orangtua sebaiknya menghindari pola pengasuhan yang negatif dan menjatuhkan ataupun mengerdilkan jiwa mereka. Misalnya memberikan kritik yang berlebihan dan tidak proporsional dengan kesalahan yang dilakukan, pemberian hukuman yang terlalu banyak tanpa memberikan penjelasan, memberikan hukuman yang merendahkan kehormatan mereka, dll.

Semoga bermanfaat.[]