Tempat berbagi
informasi, pemikiran,
kisah, artikel, tips, pengalaman, dan ilmu
berkaitan dengan
dunia medis, intelektual, dakwah, perempuan,

pendidikan anak,
remaja, keluarga dan generasi, juga sesekali barang jualan.....

Selamat Berlayar..........

Senin, 11 Agustus 2014

MELINDUNGI ANAK DARI KEJAHATAN SEKSUAL

Bersama dr. Hj. Faizatul Rosyidah
--------------------------------------------------------------------------------------------

PERTANYAAN:

Assalamua'alaikum Wr. Wb.
Akhir-akhir ini banyak sekali terjadi kejahatan seksual yang dilakukan terhadap anak-anak kita. Bahkan pelakunya diantaranya adalah para guru dan orang lain yang seharusnya melindungi mereka. Bagaimana sistem pendidikan yang baik untuk melindungi anak-anak kita dari kejahatan seksual ini? Betulkah memberikan pendidikan seksual pada anak kita adalah solusinya? Terimakasih. (Tim Media Wisata Hati Jatim)

JAWABAN:
Persoalan kejahatan seksual pada anak ini merupakan persoalan yang memiliki akar masalah sistemik. Bukan hanya masalah dalam sistem pendidikan kita. Lebih lanjut, maraknya problematika pelecehan maupun kejahatan seksual ini adalah sebuah keniscayaan pada sebuah tatanan kehidupan yang dibangun atas azas sekulerisme yang berusaha menihilkan peran agama untuk mengatur kehidupan, dan sebaliknya menganut liberalisme yang mengagung-agungkan kebebasan individual.
Dimulai dari lingkup keluarga dimana orang tua sudah tidak lagi menjadi sekolah pertama bagi anak-anak mereka untuk memberi dasar kepribadian, struktur sosial masyarakat yang rusak karena nilai-nilai sekulerisme dan libelarisme yang mulai mendominasi, maraknya pornografi pornoaksi, tontonan televisi yang mengajarkan kebebasan bergaul dan permisivisme, hingga ranah penegakan hukum yang lemah untuk menindak para pelaku kejahatan seksual merupakan faktor penyebab semakin maraknya kasus kejahatan seksual hari ini.
Jadi bagaimana pendidikan yang baik untuk menanggulangi maraknya kejahatan seksual? Adalah yang terintegrasi antara pendidikan yang diberikan oleh orang tua di rumah sebagai peletak dasar kepribadian, pendidikan di sekolah dengan desain kurikulum dan perangkat lain yang dimilikinya utnuk mencetak anak-anak dan generasi ber-syakhsiyah Islamiyah (berkepribadian Islam), masyarakat yang peduli dengan tatanan kehidupan yang mulia dengan melaksanakan tugas mereka melakukan amar ma’ruf nahyi munkar dan kontrol sosial, dan pendidikan kepada anggota masyarakat melalui penerapan system Islam oleh Negara dalam seluruh aspeknya, termasuk penerapan sistem pendidikan hingga sistem hukum dan persanksian atas pelanggaran/kriminalitas yang terjadi di tengah masyarakat.
Apakah diperlukan pemberian pendidikan seksual pada anak? Memberikan pendidikan tentang seksualitas pada anak bukan diarahkan pada pemberian informasi bagaimana teknik-teknik melakukan aktivitas seksual sebagaimana yang saat ini banyak dilakukan oleh media (seperti bagaimana berpacaran, bagaimana melakukan pendekatan pada lawan jenis, bahkan hingga bagaimana melakukan hubungan seksual). Namun pendidikan yang dimaksudkan di sini adalah bagaimana kita mengajarkan kepada anak kita sedini mungkin tentang identitas seksual mereka, konsekuensi dan tanggung jawab yang melekat padanya. Mulai dari pengenalan dirinya sebagai laki-laki atau perempuan, bagaimana mereka harus bersikap dan bertanggung jawab sesuai dengan identitas mereka tersebut –termasuk di dalamnya bagaimana orientasi seksual yang benar-, memahami batasan aurat, mengenalkan organ reproduksinya, bagaimana menjaga kebersihan organ reproduksinya dan hal-hal terkait lainnya.
Cara menyampaikan pendidikan seksual itu pun tidak boleh terlalu vulgar dan harus memperhatikan  faktor usia anak yang menjadi obyek pendidikan. Islam mengajarkan, diantara yang harus kita sampaikan dalam memberikan pendidikan seksualitas kepada anak adalah:

1. Kenalkan bahwa Allah menciptakan manusia dengan jenis laki-laki dan perempuan yang memiliki karakter yang berbeda.
"Wa laisa dzakaro kal untsaa“ (QS 3:36), bahwa tidaklah laki-laki itu sama dengan perempuan. Islam pun memberikan penjelasan lengkap tentang tugasnya masing-masing. Dari perbedaan tugas ini dapat ditanamkan pada anak tentang maskulinitas dan feminimitas. Jelaskan pula bahwa Allah melarang Laki-laki menyerupai perempuan, pun sebaliknya. Dengan demikian akan mencegah sedini mungkin mereka terjatuh dalam orientasi seksual yang menyimpang, baik sebagai obyek maupun pelaku.

2. Memisahkan tempat tidur mereka.
Jelaskan pada anak bahwa Rosulullah saw menyuruh kita untuk memisahkan tempat tidur laki-laki dan perempuan pada usia 7 tahun, tidak membolehkan mereka tidur dalam satu ranjang dan satu selimut. Anak pasti akan bertanya tentang alasannya. Selain menerangkan tentang perbedaan laki-laki dan perempuan, penjagaan kehormatan dan aurat, kita juga bisa menekankan nilai-nilai positif dari pemisahan tempat tidur tersebut seperti kemandirian dan kebebasan untuk berkreasi di kamar sendiri.

3. Meminta ijin pada 3 waktu
Tiga ketentuan waktu yang tidak diperbolehkan anak-anak untuk memasuki ruangan (kamar) orang dewasa kecuali meminta izin terlebih dulu adalah: sebelum solat subuh, tengah hari, dan setelah solat isya. Aturan ini ditetapkan mengingat di antara ketiga waktu tersebut merupakan waktu aurat, yakni waktu ketika badan atau aurat orang dewasa banyak terbuka (Lihat: QS al-Ahzab [33]: 13). Jika pendidikan semacam ini ditanamkan pada anak sejak dini maka ia akan menjadi anak yang memiliki rasa sopan-santun dan etika yang luhur. Mereka menjadi anak-anak yang terbiasa untuk tidak melihat aurat orang lain, dan merasa tidak nyaman melihat aurat orang lain sekalipun dipaksa ataupun dibujuk rayu.

4. Menjaga aurat
Jelaskan pada anak di depan siapa saja aurat boleh terlihat, dengan merujuk kepada QS 24 : 30-31. Lengkapi juga dengan hadits dan riwayat tentang perintah Rosulullah saw untuk menjaga pandangan. Dari penjelasan ini diharapkan akan tertanam rasa “iffah” pada diri anak. Rasa malu yang benar diharapkan akan terbentuk pada diri anak sehingga mereka menjadi seseorang yang ‘waspada’ dan sensitif akan keberadaan orang-orang maupun tindakan yang merusak ‘iffah’/kehormatan mereka, termasuk tindakan pelecehan seksual yang dilakukan oleh orang lain pada mereka, sekalipun mereka adalah saudara, guru maupun orang ‘dekat’ lainnya.

5. Mengenalkan batas-batas pergaulan antara laki-laki dan perempuan
Jelaskan tentang apa yang boleh dalam interaksi mereka dengan lawan jenis, yaitu interaksi yang bersifat umum dalam rangka taawun (bekerjasama) dalam kebaikan dan kemaslahatan, serta apa yang tidak boleh yaitu interaksi-interaksi yang bersifat private/pribadi seperti khalwat (berdua-duaan saja di tempat yang tidak mungkin orang lain masuk dalam interaksi mereka) dan ikhtilat (bercampur baur dengan lawan jenis). Jelaskan juga macam-macam bentuk pergaulan yang rusak antara laki laki dan perempuan, maupun pergaulan sesama jenis yang keliru, berikut dampak yang ditimbulkannya, sehingga mereka kelak juga tidak akan mudah terjerumus dalam pergaulan bebas yang rusak dan merusak tersebut.

6. Mengenalkan ciri-ciri Pubertas
Pengenalan ciri-ciri pubertas ini diberikan kepada anak sesuai dengan masanya dan dengan cara maupun bahasa yang memudahkan mereka memahaminya. Yaitu pada anak perempuan ketika –atau menjelang- usia 9 tahun sedangkan laki-laki pada usia 11-14 tahun. Hanya saja perkembangan zaman telah memacu anak sehingga mengalami pubertas dini. Menurut pengalaman, anak menjelang usia 10-11 tahun sudah mulai bertanya tentang perubahan dan perbedaan fisik yang terjadi baik pada laki-laki maupun perempuan.  Dalam Islam, pubertas merupakan tanda sudah ‘baligh’ nya seorang anak. Yang seharusnya berjalan beriringan dengan ‘aqil’ (kemampuan berfikir) sang anak tersebut. Dimana ketika seorang anak sudah aqil-baligh itulah mereka tidak lagi berstatus anak-anak yang dalam pandangan syariat belum terbebani hukum, namun sudah menjadi seorang mukallaf. Maka menjadi kewajiban utama orang tua adalah membantu anak bersiap mengemban taklif syar’iy (beban hukum) sebelum mereka menjadi seorang mukallaf (seseorang yang terbebani hukum/mulai diminta pertanggungjawaban oleh Allah swt atas apa yang mereka lakukan).

7. Kenalkan pada anak bagaimana cara merawat organ vital.
Tanamkan pula bahwa organ vital merupakan salah satu nilai kehormatan yang harus dijaga (QS 23:5). Mengajari anak untuk membersihkan alat genitalnya dengan benar setelah buang air kecil (BAK) maupun buang air besar (BAB) selain agar anak dapat mandiri dan tidak bergantung pada orang lain, pendidikan ini pun secara tidak langsung dapat mengajari anak untuk tidak sembarangan mengizinkan orang lain membersihkan ataupun menyentuh alat kelaminnya.

8. Secara teknis, perlu juga diberikan tips maupun disimulasikan kepada anak-anak yang masih kecil, bagaimana mereka harus segera melaporkan kepada bapak atau ibunya apabila ada orang yang menyentuh alat kelamin atau tubuh mereka dengan cara yang tidak mereka sukai maupun tidak seharusnya sebagaimana yang kita ajarkan pada item-item di atas, atau agar anak berteriak atau kabur jika merasa terancam oleh orang yang tak dikenal yang mencoba menyingkap auratnya, dan sebagainya. Semoga bermanfaat. []

Sabtu, 09 Agustus 2014

MENGENALKAN SILSILAH KELUARGA PADA ANAK

Bersama dr. Hj. Faizatul Rosyidah
--------------------------------------------------------------------------------------------


PERTANYAAN:


Assalamua'alaikum Wr. Wb.

Hari raya idul fitri identik dengan acara unjung-unjung (silaturrahim) ke keluarga dekat atau jauh. Salah satu tujuan orang tua mengajak anak bersilaturrahim adalah mengenalkan kepada anak siapa saja yang menjadi bagian dari keluarganya. Yang kami tanyakan adalah, apa pentingnya mengenalkan silsilah keluarga kepada anak-anak? Terimakasih. (Tim Media Wisata Hati Jatim)




JAWABAN:
Islam adalah agama yang indah dan paripurna yang mengajarkan seluruh aspek kehidupan manusia. Islam mengajarkan adab dan akhlak yang tinggi, menghormati yang tua dan menyayangi yang muda, menjaga keharmonisan hubungan keluarga dan menghilangkan hal-hal yang dapat merusak hubungan persaudaraan.
Diantara ajaran Islam terkait hal ini adalah bahwa Islam sangat menganjurkan silaturahmi. Bahkan, silaturahmi merupakan inti dari ajaran Islam, sebagaimana diriwayatkan dari Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, “Amr bin ‘Abasah as-Sulami berkata,“Aku berkata, “Dengan apa Allah mengutusmu? Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Allah mengutusku dengan silaturrahim,  menghancurkan berhala dan agar Allah ditauhidkan, Dia tidak disekutukan dengan sesuatupun.” (HR. Muslim no. 1927)
Silaturahim berasal dari Bahasa Arab, yaitu dari kata shilah dan ar-rahim. Kata shilah adalah bentuk mashdar dari kata washola-yashilu yang berarti ‘sampai, menyambung’. ar-Raghib al-Asfahani berkata, “yaitu menyatunya beberapa hal, sebagian dengan yang lain.” (al-Mufradat fi Gharibil Qur-an, hal. 525). Adapun kata ar-rahim, Ibnu Manzhur rahimahullah berkata, “adalah hubungan kekerabatan, yang asalnya adalah tempat tumbuhnya janin di dalam perut.” (Lisanul ‘Arab). Jadi, silaturrahim artinya adalah ‘menyambung tali persaudaraan kepada kerabat yang memiliki hubungan nasab’.
Allah SWT menganjurkan hamba-Nya untuk saling menyambung silaturahmi dalam kitab-Nya, begitu juga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam banyak hadits, diantaranya ialah firman Allah, “Dan bertakwalah kepada Allah, yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain dan peliharalah hubungan silaturrahim” (QS. an-Nisa': 1)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Wahai manusia! Ucapkanlah salam, sambunglah silaturrahim, berikanlah makan dan shalatlah di malam hari tatkala manusia sedang tidur, maka kalian akan masuk Surga dengan selamat.” (HR. at-Tirmidzi No. 2485 dan dishahihkan oleh al-Albani dalam Shahih Ibnu Majah III/155).
Sebenarnya silaturahmi adalah ibadah yang tidak ada kaitannya dengan waktu tertentu untuk melakukannya (Ramadhan, Hari Raya, atau yang lainnya), tidak ada dalil dari al-Qur’an dan as-Sunnah yang menjelaskan tentang anjuran untuk ber-silaturahmi khusus pada hari-hari tertentu tersebut. Akan tetapi, perintah untuk bersilaturahmi bersifat umum, yang bisa dilakukan kapan saja sesuai dengan kondisi dan kebutuhan. Namun demikian, misalnya, karena memang tidak ada lagi kesempatan lain untuk bisa bertemu, kecuali pada saat Hari Raya, maka yang demikian ini tidak mengapa. Namun, jika hal ini dianggap suatu kemestian dan diyakini sebagai adat-istiadat yang berkaitan dengan ajaran islam, atau merupakan rangkaian ibadah yang harus dilakukan pada Hari Raya, atau menyakini, bahwa hal tersebut lebih utama apabila dilakukan pada Hari Raya, maka sebenarnya Islam tidak mensyariatkan hal tersebut.
Diantara tujuan dan hikmah silaturahmi adalah kita bisa mengenalkan siapa saja anggota keluarga besar/kerabat kita kepada anak-anak kita, selain bisa menjalin kedekatan satu sama lain sebagai bagian dari keluarga besar. Secara tidak langsung kita mengenalkan silsilah keluarga kepada anak kita.
Silsilah adalah sebuah catatan yang menjelaskan asal-usul, keturunan, serta hubungan kekerabatan suatu keluarga yang ditulis berdasarkan riwayat secara turun menurun atau berdasarkan hasil cacah jiwa (sensus). Silsilah dapat ditulis dalam bentuk diagram pohon, tulisan sejarah, atau dalam bentuk daftar nama. Sederhananya, silsilah keluarga adalah bagan yang menunjukan suatu hubungan keluarga antara individu, serta garis keturunan seseorang. Mengetahui tentang silsilah keluarga memang tidak bisa dianggap remeh, mengingat silsilah keluarga ini juga memberikan suatu tanggung jawab kepada seseorang, atas nama besar keluarga.

Ada beberapa alasan mengapa mengetahui silsilah keluarga menjadi sesuatu yang penting. Diantaranya adalah:
1) Kita bisa menjaga hubungan baik dan silaturrahim sesama anggota keluarga agar mereka selalu berada dijalan yang benar sesuai dengan yang diajarkan dan diperintahkan Islam.

2) Kita bisa mengetahui kejelasan nasab seseorang yang dengannya pelaksanaan beberapa hukum terkait, bisa disempurnakan dengan benar (misal kewajiban nafkah, pengasuhan anak, berbakti pada orang tua, waris, hukum tentang mahram/perempuan yang haram dinikahi, wali, dsb).

3) Adakalanya silsilah keluarga diperlukan untuk keperluan analisa medis, agar bisa segera diketahui jenis-jenis penyakit bawaan yang ada pada diri seseorang. Terutama terkait dengan beberapa penyakit yang bersifat genetis (diturunkan), seperti thalassemia, buta warna, hemofilia, dsb.

4) Menghindarkan terjadinya kasus – kasus tertentu akibat tidak diketahuinya hubungan kekerabatan antar anggota keluarga, terutama mereka yang terpisah jauh. Misal pernikahan antar saudara yang diharamkan, konflik dalam pembagian warisan, dsb.

5) Dengan mengetahui hubungan kekerabatan dan tali persaudaraan antar anggota keluarga (besar) akan membawa pada kesadaran bahwa kita hidup tidak hanya sendiri, bahwa kita ternyata memiliki banyak orang yang memiliki kaitan dan hubungan dengan keluarga yang bisa diharapkan untuk berbagi kebahagiaan maupun kesulitan. Begitu pun sebaliknya, mereka juga bisa melakukan hal yang sama.

6) Gaya hidup urban yang terjadi saat ini membuat masyarakat bersikap lebih individualistic, tidak hanya di perkotaan namun juga yang hidup di kampung. Namun hal tersebut masih bisa dicegah dengan cara menjaga hubungan dengan sesama kerabat yang kita miliki.

7) Dengan memiliki pengetahuan terhadap hubungan kekerabatan maka hal tersebut mampu menjaga dan melestarikan silsilah keturunan kita. Sehingga tak ada istilahnya kita mengalami telah terputusnya garis keturunan dari sebuah anggota keluarga (istilah jawanya ‘kepaten obor’).

8) Dengan memahamkan silsilah keluarga, maka orang tua bisa mengajarkan unggah ungguh, tanggungjawab, dan ketrampilan menempatkan diri dalam struktur keluarga besar. Orang tua dalam hal ini bertanggungjawab mengenalkan satu persatu setiap anggota keluarga baik dari garis keturunan ibu maupun ayah. Dengan memberikan cerita-cerita dan pemahaman silsilah keluarga kepada anak, tentunya anak akan merasa tahu darimana latar belakang keluarganya. Sehingga anak juga turut bertanggung jawab termasuk untuk menjaga nama baik keluarga, dan bukan malah melakukan hal-hal yang bisa menjatuhkan martabat keluarga.

Dari poin-poin diatas maka kita dapat mengetahui bahwa memiliki pengetahuan dan pemahaman yang baik tentang keturunan dan kekerabatan, termasuk dengan mengenal silsilah keluarga adalah hal yang amat penting. Semoga bermanfaat.[]