Tempat berbagi
informasi, pemikiran,
kisah, artikel, tips, pengalaman, dan ilmu
berkaitan dengan
dunia medis, intelektual, dakwah, perempuan,

pendidikan anak,
remaja, keluarga dan generasi, juga sesekali barang jualan.....

Selamat Berlayar..........

Selasa, 10 Desember 2013

AGAR ANAK LEBIH BERPRESTASI

RUBRIK KONSULTASI PARENTING ISLAMI
Bersama dr. Hj. Faizatul Rosyidah


PERTANYAAN:
Assalamua'alaikum Wr. Wb.
Ustadzah bagaimana cara memotivasi anak agar lebih berprestasi? Mohon Ustadzah berkenan memberikan penjelasan atas pertanyaan di atas. Terimakasih

JAWABAN:
Memiliki anak berprestasi (secara akademis) memang seringkali membanggakan orangtua. Namun tidak jarang kita mendapati anak-anak kita justru menunjukkan hal yang sebaliknya (kurang/tidak berprestasi). Lalu apa yang harus kita (para pendidik, termasuk orang tua) lakukan?

1. Yang harus dipahami orang tua/para pendidik terlebih dahulu dalam menilai seorang anak ‘berprestasi’ atau tidak adalah apa definisi prestasi tersebut. Tidaklah disebut berprestasi itu jika hanya bermakna diraihnya nilai bagus dalam raport studi mereka. Atau terbatas pada nilai akademis mereka. Karena yang pertama, adalah sunnatullah, Allah menciptakan manusia itu tidak seragam dalam hal kemampuan penginderaan, kemampuan mengingat, kemampuan menalar dan memahami sesuatu. Mengukur dan menilai mereka yang secara sunnatullah berbeda-beda dengan ukuran yang sama dengan menafikan perbedaan yang mereka miliki adalah sesuatu yang tidak pada tempatnya (dlolim). Oleh karena itu kita mendapati adakalanya seorang anak lemah dalam kemampuan matematika, namun menonjol dalam kemampuan berbahasa. Adakalanya seorang anak kesulitan dalam berbahasa verbal, namun sangat jago menulis dan membuat karangan. Adakalanya seorang anak tidak istimewa dalam olah raga, namun sangat istimewa dalam menghapal, dan seterusnya. Yang kedua, Islam mengajarkan kita untuk tidak menilai hal-hal yang termasuk dalam wilayah qadha Allah yang tidak ada campur tangan manusia di sana. Termasuk dalam hal ini adalah melakukan penilaian ataupun kompetisi dalam hal tersebut. Misalnya, menilai manakah yang lebih dianggap ‘cantik’ seseorang berkulit hitam atau putih, berambut lurus atau kriwil, bermata sipit atau lebar, berhidung mancung atau pesek, dan sebagainya, karena bahkan Allah swt pun tidak akan melakukan hisab dalam hal tersebut. Jadi dalam hal ini kita sebagai orang tua tidak seharusnya merasa bangga ketika anak kita dianggap ‘berprestasi’ dalam hal yang sebenarnya tidak ada andil manusia di dalamnya. Seharusnya orang tua mengajarkan kepada anak untuk bersyukur kepada Allah swt atas segala kelebihan yang diberikan-Nya tersebut, dan bersabar jika sekiranya ada hal-hal yang kita kira merupakan kekurangan, dan hendaknya kita meyakini bahwa kelebihan ataupun kekurangan tersebut adalah keputusan terbaik yang diberikan Allah swt kepada kita. Yang ketiga, Islam mengajarkan kepada kita prestasi terbaik adalah menjadi hamba yang bertaqwa di sisi Allah swt. Allah berfirman: “Sesungguhnya sebaik-baik manusia diantara kalian di sisi Allah swt adalah yang paling bertaqwa.” Jadi berprestasi yang diajarkan oleh Islam adalah berdimensi tidak hanya di dunia ini, namun berimplikasi hingga di akhirat. Dikatakan berprestasi kalau kita berhasil menjadi seseorang yang selalu berusaha berjalan dalam ketaatan kepada Allah swt. Jadi dalam hal ini, yang dinilai adalah proses/usaha yang kita lakukan, dan bukan hasil akhirnya. Jadi seorang anak yang di raport nya bagus, namun ternyata nilai-nilainya didapat dengan cara yang curang bukanlah sebuah ‘prestasi’ yang selayaknya membuat kita bangga.

2. Dengan memperhatikan tiga hal di atas, maka kita mestinya menilai (prestasi) anak kita pada bagaimana usaha dan proses yang mereka lakukan agar berhasil menjalankan dan menyelesaikan kewajiban mereka sebaik-baiknya, dengan memperhatikan karakter, kelebihan dan kekurangan mereka dengan adil.

3. Berikutnya, merupakan tugas pendidik (termasuk orang tua) untuk membantu anak mengembangkan kelebihan mereka agar melejit hingga meraih hasil tertinggi yang bisa mereka upayakan, dan membantu anak mengatasi kekurangan mereka.

Setelah memahami prinsip-prinsip di atas, maka berikutnya kita bisa mengaplikasikannya kepada bagaimana upaya yang bisa kita lakukan agar anak kita bisa lebih berprestasi (secara akademis), adalah:

1. Bangun motivasi anak untuk berprestasi di sekolah
Bangunlah motivasi ini bersandarkan pada kesadaran bahwa mereka diciptakan Allah swt untuk beribadah kepada-Nya, dengan cara melaksanakan apa saja yang diperintahkan-Nya dan meninggalkan semua yang dilarang-Nya. Termasuk yang diperintahkan Allah Swt adalah kita harus menuntut ilmu. Dengan ilmu tersebut Allah swt akan memuliakan kita beberapa derajat lebih tinggi daripada mereka yang tidak memilikinya. Ilmu tersebut juga yang akan mereka butuhkan untuk bisa membangun masa depan mereka kelak. Inilah langkah awal yang perlu kita pahamkan kepada anak sehingga mereka mengerti mengapa harus sekolah, mengapa harus rajin sekolah, mengapa harus mengerjakan PR pada waktunya, mengapa harus mengulang pelajaran, dan sebagainya.


2. Bantu anak membangun dan memiliki kebiasaan-kebiasaan para pelajar teladan dan berprestasi, diantaranya:
a. Rajin membaca. Buku adalah jendela dunia. Jika ingin kaya wawasan maka bersahabatlah dengan buku. Membaca adalah salah satu faktor yang menyebabkan kenaikan prestasi akademik seorang anak
b. Rajin menulis. Membiasakan menulis sejak dini membuat anak akan kaya terhadap kosakata. Selain itu menulis membantu anak menuangkan daya imajinasi dan kreativitas lewat kata-kata.
c. Mempersiapkan lebih awal. Poin ketiga ini sifatnya luas dan mencakup banyak hal. Misalnya saja menyelesaikan PR segera meskipun belum deadline pengumpulan, datang ke sekolah lebih awal. Selain menanamkan sifat disiplin, si anak nantinya mampu menjalankan kewajibannya dengan baik dan tidak terburu-buru dalam melakukan suatu hal.
d. Terbiasa berdiskusi dengan teman/orang lain. Mengemukakan ide, gagasan, pendapat, belajar menerima saran atau kritik adalah langkah awal agar si anak mempunyai kecakapan berbicara di depan umum. Jika tidak dibiasakan sejak dini, anak akan malu ketika harus menyampaikan idenya dan tidak berkembang.
e. Bertanya pada guru. Jika tidak mengerti soal mata pelajaran atau ada kesulitan, ajarilah anak agar berani bertanya pada guru atau orang tua.

3. Bantu anak untuk menemukan kelebihan mereka, dampingi serta fasilitasilah mereka untuk bisa melejitkannya. Sebaliknya, bantulah mereka juga untuk mengenali kekurangan mereka dan bagaimana cara mengatasinya. Misalnya, ketika kita dapati anak kita menonjol dalam matematika, maka bantulah melejitkannya dengan mengikutkan mereka pada kompetisi-kompetisi matematika yang akan merangsang mereka lebih bagus lagi dalam menguasai matematika tsb. Sebaliknya bagi anak-anak kita yang lemah dalam matematika tersebut, maka bantu dan dampingilah mereka untuk senantiasa rajin berlatih mengerjakan soal-soal matematika agar mereka bisa mengejar ketinggalan mereka.

4. Bangun mental juara pada diri mereka
Dengan membangun kepercayaan diri bahwa mereka mampu berprestasi. Bantu mereka memiliki mental untuk bisa dengan mantap melakukan hal hal yang dianggap susah dengan tenang dan penuh keyakinan. Semoga bermanfaat.[]