Tempat berbagi
informasi, pemikiran,
kisah, artikel, tips, pengalaman, dan ilmu
berkaitan dengan
dunia medis, intelektual, dakwah, perempuan,

pendidikan anak,
remaja, keluarga dan generasi, juga sesekali barang jualan.....

Selamat Berlayar..........

Selasa, 04 November 2014

MENYELESAIKAN PERSELISIHAN ORTU-ANAK

Bersama dr. Hj. Faizatul Rosyidah
--------------------------------------------------------------------------------------------

PERTANYAAN:

Assalaamu'alaikum Wr. Wb.

Di jaman sekarang ini banyak anak yang pola pikirnya berbeda dengan orang tuanya. Keinginan orang tua untuk menjadikan anaknya lebih baik terkadang menurut anak terlalu protektif. Alhasil sering terjadi perselisihan orang tua dan anak.
1. Apakah faktor yang menyebabkan tejadinya perselisihan anak dengan orang tuanya?
2. Apa yang harus dilakukan orang tua dalam hal ini menurut pandangan Islam?
Terimakasih. Wassalam (TIM MEDIA WH)


JAWABAN:
Manusia bertingkah laku dan menjalani kehidupan ini sesuai dengan pemahaman yang dimilikinya. Pemahaman yang berbeda akan menentukan tingkah laku yang berbeda pula. Seorang muslim yang memahami standard perbuatan adalah halal-haram, akan melakukan pernikahan karena itu halal, dan akan menjauhi zina karena itu haram. Demikian pula seorang muslim tadi akan berusaha menutup auratnya karena hukumnya adalah wajib (halal), dan tidak mau menampakkan auratnya di depan publik karena itu keharaman. Berbeda halnya dengan seseorang yang berprinsip standard perbuatan adalah kemanfaatan semata dan bukan halal-haram. Maka jika sekiranya dalam pandangannya minum khamr bisa bermanfaat menghangatkan badannya, daging babi bisa mengenyangkannya, memakai pakaian yang terbuka lebih nyaman untuk dipakai di daerah tropis, dia pun akan melakukan perbuatan minum khamr, makan daging babi ataupun berpakaian minim dan membuka aurat di depan publik sebagaimana pemahaman yang dimilikinya tersebut.

Pemahaman yang berbeda ini dihasilkan oleh pola pikir yang berbeda diantara keduanya. Pola pikir (aqliyah) adalah cara yang digunakan untuk memikirkan sesuatu; yakni cara mengeluarkan keputusan hukum tentang sesuatu, berdasarkan kaidah tertentu yang diimani dan diyakini seseorang. Ketika seseorang memikirkan sesuatu untuk mengeluarkan keputusan hukum terhadapnya, dengan menyandarkannya kepada akidah Islam, maka aqliyah-nya merupakan aqliyah Islamiyah (pola pikir Islami). Jika tidak seperti itu, maka aqliyah-nya merupakan aqliyah yang lain. Sama-sama hendak menghukumi aktivitas makan babi, bisa menghasilkan dua kesimpulan yang berbeda jika disandarkan kepada aqidah/keyakinan/standard yang berbeda. Agar pola pikir Islami seseorang semakin baik, maka dibutuhkan penguasaan terhadap tsaqofah Islam (ilmu yang disandarkan pada aqidah Islam), seperti pemahaman yang dia miliki terkait penjelasan-penjelasan syariat tentang segala hal dalam kehidupan ini.

Perbedaan pemahaman yang dihasilkan dari pola pikir yang berbeda inilah diantara sebab tersering terjadinya perselisihan dalam keluarga, baik antara suami istri, maupun antara orang tua dan anak. Karena itu, kita harus membangun keluarga kita di atas pondasi komitmen kita untuk senantiasa menjadikan halal-haram dan syariah Islam sebagai rujukan dalam menyelesaikan permasalahan apapun yang kita hadapi. Kita harus menanamkan pemahaman bahwa setiap orang harus mau dikoreksi dan tunduk kepada tuntunan-Nya. Dalam hal ini, orang tua harus menjadi teladan terbaik bagi anak dalam berusaha berjalan dalam kebenaran dan ketaatan dalam Islam tersebut. Kalau ternyata ada kesalahan yang kita lakukan karena khilaf, maka kita pun harus bisa memberi contoh kepada anak bagaimana mengakui kesalahan yang kita lakukan dan segera tunduk kepada kebenaran yang ditunjukkan kepada kita tersebut.

Sebab tersering lain terjadinya konflik/perselisihan orangtua dan anak yang berujung pada ‘pembangkangan’ yang dilakukan anak adalah tidak adanya keakraban antara orangtua dengan anak. Secara alamiah, dalam situasi normal, kita akan lebih ‘mendengar’ perkataan orang yang kita kenal dibandingkan orang tidak kita kenal bukan? Lalu kita pun akan lebih ‘mendengar’ perkataan orang yang akrab dengan kita, dibandingkan dengan perkataan orang yang hanya ‘dikenal’ kita. Ketidakakraban orangtua-anak dapat menyebabkan orangtua kurang ‘mendengar’ anak dan akhirnya anak pun kurang ‘menerima’ pesan orangtua.

Hari ini, banyak anak 'terlantar' meski orangtuanya lengkap. Mereka terlantar secara emosional. Sebagian anak jadi 'yatim piatu' pada saat orangtuanya lengkap. Orang tua sangat jarang bicara dengan anak. Kalaupun bicara, hanyalah dalam bentuk perintah atau marah. Jarang mendengar curhat anak, namun terlalu sering mengkritik dan menasihati anak. Alasan ketiadaan waktu karena sudah sangat tersita dengan pekerjaan, telah membuat anak menjadi ‘jauh’ secara emosional dengan orangtuanya. Karena itu, untuk mencegah dan meminimalisir perselisihan karena sebab ini bisa kita lakukan dengan senantiasa menjalin kedekatan dengan anak-anak kita.

Sebab terjadinya perselisihan orang tua-anak yang lain adalah karena upaya pengendalian orang tua yang bersifat dogmatis, saklek dan terlalu berlebihan terhadap anak, dengan tanpa berupaya menjalin kedekatan untuk memenangkan hatinya, maupun tanpa membangun pemahaman sang anak, terutama kepada mereka yang sudah aqil baligh (beranjak dewasa). Seringkali, orangtua terlalu cepat mengambil keputusan dan menganggap anak bersalah, tanpa berusaha memahami mengapa perselisihan terjadi antara kita dengan anak kita. Oleh karena itu penting bagi orangtua untuk belajar mendengar lebih banyak agar bisa menangkap apa yang menjadi kebutuhan anak. Demikian pula, penting bagi orang tua untuk memberikan ruang dan kepercayaan kepada anak untuk belajar mengambil keputusannya sendiri, sesuai tahapan tumbuh kembangnya, setelah kita pastikan telah memberikan kepada mereka modal ilmu pengetahuan dan pemahaman yang mereka butuhkan.

Yang terakhir, perselisihan adakalanya bisa terjadi karena perbedaan karakter pribadi yang bersifat sangat individual satu sama lain. Sebagai orangtua kita harus memahami hal ini, dan tidak memaksakan ‘karakter’ pribadi kita agar mereka tiru/duplikasi secara persis. Setiap anak kita adalah pribadi tersendiri yang unik, berbeda dengan orang lain termasuk kita. Maka menghargai anak kita sebagai pribadi yang utuh dan berbeda dengan kita, selama mereka berjalan dalam koridor kebenaran adalah sebuah keniscayaan. Dengannya, kelak anak kita tersebut akan belajar untuk menghargai sesamanya. Semoga bermanfaat []

Minggu, 21 September 2014

AGAR ANAK ‘MENURUT’

Bersama dr. Hj. Faizatul Rosyidah
--------------------------------------------------------------------------------------------


PERTANYAAN:

Assalaamu'alaikum Wr. Wb.

Ada pepatah mengatakan daun jatuh tidak jauh dari pohonnya. Mendengar pepatah itu mungkin bisa mewakili hubungan antara perilaku orang tua dan anak. Apakah faktor yang menyebabkan anak tidak menurut pada orang tuanya? Bagaimana agar anak 'menurut' kepada orang tuanya menurut pandangan islam? Kami mohon Ustadzah untuk memberikan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan tersebut. Terimakasih. Wassalam (TIM MEDIA WH)


JAWABAN:


Memiliki anak yang menurut pada orang tua tentu saja menjadi dambaan setiap orang tua, namun tak jarang justru yang terjadi adalah sebaliknya; anak susah sekali menurut apa kata orang tua bahkan sebagian anak malah berani membangkang perintah orang tua. Bagaimana Islam mengajarkan kita mendidik anak agar mereka menurut pada kita?

1. Yang harus disadari dan dipahami oleh orang tua, bahwa ‘menurut’ atau taat dalam konsep Islam hanyalah ada dalam konteks kebenaran, yaitu sebuah ketaatan yang berpangkal pada ketaatan kita sebagai makhluk, kepada Allah swt sebagai al Khaliq. Tidak ada ketaatan kalau itu dalam rangka bermaksiat kepada Allah swt. Sebuah qaidah syara’ mengatakan: “Laa tha’ata li makhluq fii ma’shiyatil khaaliq” (Tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam rangka bermaksiat kepada Al Khaliq (Allah swt)). Sehingga sebagai orang tua kita harus paham bahwa konsep ketaatan yang hendak kita bangun pada diri anak, bukanlah sebuah ketaatan yang bersifat mutlak, yang mengharuskan mereka menurut apa pun kata orang tua, tanpa melihat benar atau salahnya. Akan tetapi ketaatan yang kita bangun adalah ketaatan yang berpangkal pada ketaatan mereka kepada pencipta-Nya. Dimana ketaatan mereka pada kita, adalah salah satu bentuk ketaatan mereka kepada Allah swt. Kejelasan standard kapan harus taat dan kapan tidak boleh taat, menjadi salah satu faktor yang akan memudahkan anak untuk menjadi anak yang menurut dalam konteks yang benar.

2. Oleh karena itu, sebelum bisa mengajarkan kepada anak, orang tua harus menjadi pihak yang mengenali dan memahami terlebih dahulu apa yang dimaksud dengan kebenaran dan kebaikan itu. Yaitu segala sesuatu yang diperintahkan oleh Islam, atau dipuji oleh Islam, atau dijanjikan imbalan oleh Islam, atau yang dibolehkan oleh Islam. Sementara kesalahan/kemaksiatan adalah ketika melanggar apa yang diperintahkan dan dilarang oleh Islam, atau melakukan apa yang dicela atau dibenci dan diancam dengan sanksi oleh Islam. 

3. Berikutnya, orang tua harus menjadi teladan terbaik bagi anak dalam berusaha berjalan dalam kebenaran dan ketaatan dalam Islam tsb, hingga anak bisa melihat bahwa orangtuanya hanya melakukan, mengatakan dan mengajarkan sesuatu yang benar. Kalau ternyata ada kesalahan yang kita lakukan karena khilaf, maka kita pun harus bisa memberi contoh kepada anak bagaimana mengakui kesalahan yang kita lakukan dan segera tunduk kepada kebenaran yang ditunjukkan kepada kita tersebut. Keteladanan adalah diantara cara yang paling efektif untuk membuat anak patuh. Beri contoh langsung pada mereka apa yang harus mereka perbuat. Jangan sampai mereka justru melihat kita melakukan hal yang kita larang mereka melakukannya. Karena diantara faktor yang membuat anak sulit patuh pada orang tuanya adalah karena tidak adanya keteladanan ini.

4. Agar anak mudah untuk taat, bantulah mereka dengan menggunakan pendekatan metode pendidikan yang sesuai dengan tumbuh kembang mereka. Mulai dari pembiasaan, pendisiplinan hingga pada saat mereka sudah memiliki kemampuan memahami sesuatu, maka kita pun harus memberikan penjelasan yang memuaskan akal dan hati mereka, hingga terbangun kesadaran pada diri mereka mengapa harus menurut untuk melakukan ini dan itu, apa maksud dan tujuan kita menetapkan aturan yang begini dan begitu pada mereka, sehingga mereka mengerti dan tidak salah paham dengan perintah yang kita buat tersebut. Ada kalanya anak-anak sulit untuk patuh pada perintah orang tuanya karena mereka belum paham atau salah paham dengan perintah orang tuanya.

5. Istiqomahlah atau konsistenlah dengan kebenaran yang kita ajarkan atau perintah yang kita berikan. Misalnya, kita menyuruh anak kita melakukan sholat wajib. Maka berilah penjelasan hingga membentuk pemahaman dan kesadaran pada diri mereka mengapa mereka harus sholat. Jadilah teladan terbaik bagi anak dalam ketaatan dan kedisplinan kita melakukan sholat wajib tersebut, bahkan ketika kita sedang sakit, mereka tetap melihat kita melakukan shalat wajib tersebut sekalipun dengan mengambil rukhshah (keringanan) seperti sholat sambil duduk, dsb. Lalu konsistenlah dengan perintah atau aturan yang kita buat tersebut. Kalo hari ini kita memintanya melakukan sholat wajib tersebut, maka sampai kapan pun kita tidak akan mentolerir pelalaian terhadap kewajiban tersebut. Ketidakkonsistenan adalah salah satu hal yang sering membuat anak merasa tidak perlu taat/patuh pada orang tuanya, karena toh mereka pernah melakukannya dan tidak menjadi masalah bagi orang tua mereka (?!)

6. Lakukan semua upaya pendidikan tersebut dengan penuh kasih sayang, ketegasan, namun penuh dengan kelembutan. Tegas bukan berarti bersikap keras, kaku ataupun kasar. Selalu buka diri kita untuk memahami kondisi yang sedang dihadapi anak. Jangan memaksakan perintah atau aturan ketika keadaan anak memang tidak memungkinkan melakukannya. Misalnya, jangan memaksa anak harus menurut perintah kita untuk belajar selama 2 jam di malam hari, kalau anak kita tersebut dalam keadaan kurang sehat atau terlalu lelah karena aktivitas-aktivitas yang sebelumnya dia lakukan. Sebaliknya, carilah cara untuk membantu dia agar menjadi lebih mudah melakukan perintah kita tersebut. Misalnya membantunya mengatur jadwal, kapan sebaiknya istirahat, bermain dan belajar, sehingga pada saat jadwalnya untuk belajar dia dengan mudah mentaatinya. Seringkali karena 'kondisi yang tidak memungkinkan' inilah anak terlihat seperti tidak mau menurut pada perintah orang tuanya, padahal sebenarnya mereka bukannya tidak mau, tapi 'tidak mampu' untuk menuruti perintah orang tuanya.

7. Sekalipun kita senantiasa mengajarkan anak kita agar menurut/taat kepada kita dengan ikhlas semata karena Allah swt, namun jangan ragu untuk memberikan pujian, penghargaan/reward dan membesarkan hati mereka ketika mereka melakukan hal yang kita perintahkan. Dengan begitu mereka akan merasa diperhatikan, usahanya lebih dihargai, dan hal itu akan menjadi salah satu yang memudahkan mereka untuk melakukan ketaatan lainnya. Merasa usahanya kurang diperhatikan dan dihargai adalah juga salah satu faktor tidak patuhnya anak pada orang tuanya yang seringkali hanya bisa mengkritik dan mencela anak, namun pelit dengan perhatian dan pujian ketika mereka sudah melakukan kebaikan.

8. Jadilah orang tua yang selalu memiliki harapan terbaik bagi anak-anak kita, dan jangan lupa untuk selalu mendoakan kebaikan mereka. Jangan pernah berputus asa dan merasa bahwa anak kita tidak akan bisa berubah, ketika saat ini kita masih mendapati mereka masih belum seperti harapan kita. Jangan-jangan 'putus asanya' kita dan 'dugaan buruk' kita kepada anak kita menjadi salah satu 'doa' yang membuat mereka lebih sulit berubah menjadi anak yang lebih baik dan menurut sebagaimana harapan kita.

Semoga kita senantiasa dimudahkan Allah swt menyiapkan anak-anak kita menjadi persembahan terbaik kita bagi kehidupan ini dan semoga mereka bisa menjadi salah satu jalan kemuliaan kita di sisi-Nya. Amiin. []

Senin, 11 Agustus 2014

MELINDUNGI ANAK DARI KEJAHATAN SEKSUAL

Bersama dr. Hj. Faizatul Rosyidah
--------------------------------------------------------------------------------------------

PERTANYAAN:

Assalamua'alaikum Wr. Wb.
Akhir-akhir ini banyak sekali terjadi kejahatan seksual yang dilakukan terhadap anak-anak kita. Bahkan pelakunya diantaranya adalah para guru dan orang lain yang seharusnya melindungi mereka. Bagaimana sistem pendidikan yang baik untuk melindungi anak-anak kita dari kejahatan seksual ini? Betulkah memberikan pendidikan seksual pada anak kita adalah solusinya? Terimakasih. (Tim Media Wisata Hati Jatim)

JAWABAN:
Persoalan kejahatan seksual pada anak ini merupakan persoalan yang memiliki akar masalah sistemik. Bukan hanya masalah dalam sistem pendidikan kita. Lebih lanjut, maraknya problematika pelecehan maupun kejahatan seksual ini adalah sebuah keniscayaan pada sebuah tatanan kehidupan yang dibangun atas azas sekulerisme yang berusaha menihilkan peran agama untuk mengatur kehidupan, dan sebaliknya menganut liberalisme yang mengagung-agungkan kebebasan individual.
Dimulai dari lingkup keluarga dimana orang tua sudah tidak lagi menjadi sekolah pertama bagi anak-anak mereka untuk memberi dasar kepribadian, struktur sosial masyarakat yang rusak karena nilai-nilai sekulerisme dan libelarisme yang mulai mendominasi, maraknya pornografi pornoaksi, tontonan televisi yang mengajarkan kebebasan bergaul dan permisivisme, hingga ranah penegakan hukum yang lemah untuk menindak para pelaku kejahatan seksual merupakan faktor penyebab semakin maraknya kasus kejahatan seksual hari ini.
Jadi bagaimana pendidikan yang baik untuk menanggulangi maraknya kejahatan seksual? Adalah yang terintegrasi antara pendidikan yang diberikan oleh orang tua di rumah sebagai peletak dasar kepribadian, pendidikan di sekolah dengan desain kurikulum dan perangkat lain yang dimilikinya utnuk mencetak anak-anak dan generasi ber-syakhsiyah Islamiyah (berkepribadian Islam), masyarakat yang peduli dengan tatanan kehidupan yang mulia dengan melaksanakan tugas mereka melakukan amar ma’ruf nahyi munkar dan kontrol sosial, dan pendidikan kepada anggota masyarakat melalui penerapan system Islam oleh Negara dalam seluruh aspeknya, termasuk penerapan sistem pendidikan hingga sistem hukum dan persanksian atas pelanggaran/kriminalitas yang terjadi di tengah masyarakat.
Apakah diperlukan pemberian pendidikan seksual pada anak? Memberikan pendidikan tentang seksualitas pada anak bukan diarahkan pada pemberian informasi bagaimana teknik-teknik melakukan aktivitas seksual sebagaimana yang saat ini banyak dilakukan oleh media (seperti bagaimana berpacaran, bagaimana melakukan pendekatan pada lawan jenis, bahkan hingga bagaimana melakukan hubungan seksual). Namun pendidikan yang dimaksudkan di sini adalah bagaimana kita mengajarkan kepada anak kita sedini mungkin tentang identitas seksual mereka, konsekuensi dan tanggung jawab yang melekat padanya. Mulai dari pengenalan dirinya sebagai laki-laki atau perempuan, bagaimana mereka harus bersikap dan bertanggung jawab sesuai dengan identitas mereka tersebut –termasuk di dalamnya bagaimana orientasi seksual yang benar-, memahami batasan aurat, mengenalkan organ reproduksinya, bagaimana menjaga kebersihan organ reproduksinya dan hal-hal terkait lainnya.
Cara menyampaikan pendidikan seksual itu pun tidak boleh terlalu vulgar dan harus memperhatikan  faktor usia anak yang menjadi obyek pendidikan. Islam mengajarkan, diantara yang harus kita sampaikan dalam memberikan pendidikan seksualitas kepada anak adalah:

1. Kenalkan bahwa Allah menciptakan manusia dengan jenis laki-laki dan perempuan yang memiliki karakter yang berbeda.
"Wa laisa dzakaro kal untsaa“ (QS 3:36), bahwa tidaklah laki-laki itu sama dengan perempuan. Islam pun memberikan penjelasan lengkap tentang tugasnya masing-masing. Dari perbedaan tugas ini dapat ditanamkan pada anak tentang maskulinitas dan feminimitas. Jelaskan pula bahwa Allah melarang Laki-laki menyerupai perempuan, pun sebaliknya. Dengan demikian akan mencegah sedini mungkin mereka terjatuh dalam orientasi seksual yang menyimpang, baik sebagai obyek maupun pelaku.

2. Memisahkan tempat tidur mereka.
Jelaskan pada anak bahwa Rosulullah saw menyuruh kita untuk memisahkan tempat tidur laki-laki dan perempuan pada usia 7 tahun, tidak membolehkan mereka tidur dalam satu ranjang dan satu selimut. Anak pasti akan bertanya tentang alasannya. Selain menerangkan tentang perbedaan laki-laki dan perempuan, penjagaan kehormatan dan aurat, kita juga bisa menekankan nilai-nilai positif dari pemisahan tempat tidur tersebut seperti kemandirian dan kebebasan untuk berkreasi di kamar sendiri.

3. Meminta ijin pada 3 waktu
Tiga ketentuan waktu yang tidak diperbolehkan anak-anak untuk memasuki ruangan (kamar) orang dewasa kecuali meminta izin terlebih dulu adalah: sebelum solat subuh, tengah hari, dan setelah solat isya. Aturan ini ditetapkan mengingat di antara ketiga waktu tersebut merupakan waktu aurat, yakni waktu ketika badan atau aurat orang dewasa banyak terbuka (Lihat: QS al-Ahzab [33]: 13). Jika pendidikan semacam ini ditanamkan pada anak sejak dini maka ia akan menjadi anak yang memiliki rasa sopan-santun dan etika yang luhur. Mereka menjadi anak-anak yang terbiasa untuk tidak melihat aurat orang lain, dan merasa tidak nyaman melihat aurat orang lain sekalipun dipaksa ataupun dibujuk rayu.

4. Menjaga aurat
Jelaskan pada anak di depan siapa saja aurat boleh terlihat, dengan merujuk kepada QS 24 : 30-31. Lengkapi juga dengan hadits dan riwayat tentang perintah Rosulullah saw untuk menjaga pandangan. Dari penjelasan ini diharapkan akan tertanam rasa “iffah” pada diri anak. Rasa malu yang benar diharapkan akan terbentuk pada diri anak sehingga mereka menjadi seseorang yang ‘waspada’ dan sensitif akan keberadaan orang-orang maupun tindakan yang merusak ‘iffah’/kehormatan mereka, termasuk tindakan pelecehan seksual yang dilakukan oleh orang lain pada mereka, sekalipun mereka adalah saudara, guru maupun orang ‘dekat’ lainnya.

5. Mengenalkan batas-batas pergaulan antara laki-laki dan perempuan
Jelaskan tentang apa yang boleh dalam interaksi mereka dengan lawan jenis, yaitu interaksi yang bersifat umum dalam rangka taawun (bekerjasama) dalam kebaikan dan kemaslahatan, serta apa yang tidak boleh yaitu interaksi-interaksi yang bersifat private/pribadi seperti khalwat (berdua-duaan saja di tempat yang tidak mungkin orang lain masuk dalam interaksi mereka) dan ikhtilat (bercampur baur dengan lawan jenis). Jelaskan juga macam-macam bentuk pergaulan yang rusak antara laki laki dan perempuan, maupun pergaulan sesama jenis yang keliru, berikut dampak yang ditimbulkannya, sehingga mereka kelak juga tidak akan mudah terjerumus dalam pergaulan bebas yang rusak dan merusak tersebut.

6. Mengenalkan ciri-ciri Pubertas
Pengenalan ciri-ciri pubertas ini diberikan kepada anak sesuai dengan masanya dan dengan cara maupun bahasa yang memudahkan mereka memahaminya. Yaitu pada anak perempuan ketika –atau menjelang- usia 9 tahun sedangkan laki-laki pada usia 11-14 tahun. Hanya saja perkembangan zaman telah memacu anak sehingga mengalami pubertas dini. Menurut pengalaman, anak menjelang usia 10-11 tahun sudah mulai bertanya tentang perubahan dan perbedaan fisik yang terjadi baik pada laki-laki maupun perempuan.  Dalam Islam, pubertas merupakan tanda sudah ‘baligh’ nya seorang anak. Yang seharusnya berjalan beriringan dengan ‘aqil’ (kemampuan berfikir) sang anak tersebut. Dimana ketika seorang anak sudah aqil-baligh itulah mereka tidak lagi berstatus anak-anak yang dalam pandangan syariat belum terbebani hukum, namun sudah menjadi seorang mukallaf. Maka menjadi kewajiban utama orang tua adalah membantu anak bersiap mengemban taklif syar’iy (beban hukum) sebelum mereka menjadi seorang mukallaf (seseorang yang terbebani hukum/mulai diminta pertanggungjawaban oleh Allah swt atas apa yang mereka lakukan).

7. Kenalkan pada anak bagaimana cara merawat organ vital.
Tanamkan pula bahwa organ vital merupakan salah satu nilai kehormatan yang harus dijaga (QS 23:5). Mengajari anak untuk membersihkan alat genitalnya dengan benar setelah buang air kecil (BAK) maupun buang air besar (BAB) selain agar anak dapat mandiri dan tidak bergantung pada orang lain, pendidikan ini pun secara tidak langsung dapat mengajari anak untuk tidak sembarangan mengizinkan orang lain membersihkan ataupun menyentuh alat kelaminnya.

8. Secara teknis, perlu juga diberikan tips maupun disimulasikan kepada anak-anak yang masih kecil, bagaimana mereka harus segera melaporkan kepada bapak atau ibunya apabila ada orang yang menyentuh alat kelamin atau tubuh mereka dengan cara yang tidak mereka sukai maupun tidak seharusnya sebagaimana yang kita ajarkan pada item-item di atas, atau agar anak berteriak atau kabur jika merasa terancam oleh orang yang tak dikenal yang mencoba menyingkap auratnya, dan sebagainya. Semoga bermanfaat. []

Sabtu, 09 Agustus 2014

MENGENALKAN SILSILAH KELUARGA PADA ANAK

Bersama dr. Hj. Faizatul Rosyidah
--------------------------------------------------------------------------------------------


PERTANYAAN:


Assalamua'alaikum Wr. Wb.

Hari raya idul fitri identik dengan acara unjung-unjung (silaturrahim) ke keluarga dekat atau jauh. Salah satu tujuan orang tua mengajak anak bersilaturrahim adalah mengenalkan kepada anak siapa saja yang menjadi bagian dari keluarganya. Yang kami tanyakan adalah, apa pentingnya mengenalkan silsilah keluarga kepada anak-anak? Terimakasih. (Tim Media Wisata Hati Jatim)




JAWABAN:
Islam adalah agama yang indah dan paripurna yang mengajarkan seluruh aspek kehidupan manusia. Islam mengajarkan adab dan akhlak yang tinggi, menghormati yang tua dan menyayangi yang muda, menjaga keharmonisan hubungan keluarga dan menghilangkan hal-hal yang dapat merusak hubungan persaudaraan.
Diantara ajaran Islam terkait hal ini adalah bahwa Islam sangat menganjurkan silaturahmi. Bahkan, silaturahmi merupakan inti dari ajaran Islam, sebagaimana diriwayatkan dari Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, “Amr bin ‘Abasah as-Sulami berkata,“Aku berkata, “Dengan apa Allah mengutusmu? Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Allah mengutusku dengan silaturrahim,  menghancurkan berhala dan agar Allah ditauhidkan, Dia tidak disekutukan dengan sesuatupun.” (HR. Muslim no. 1927)
Silaturahim berasal dari Bahasa Arab, yaitu dari kata shilah dan ar-rahim. Kata shilah adalah bentuk mashdar dari kata washola-yashilu yang berarti ‘sampai, menyambung’. ar-Raghib al-Asfahani berkata, “yaitu menyatunya beberapa hal, sebagian dengan yang lain.” (al-Mufradat fi Gharibil Qur-an, hal. 525). Adapun kata ar-rahim, Ibnu Manzhur rahimahullah berkata, “adalah hubungan kekerabatan, yang asalnya adalah tempat tumbuhnya janin di dalam perut.” (Lisanul ‘Arab). Jadi, silaturrahim artinya adalah ‘menyambung tali persaudaraan kepada kerabat yang memiliki hubungan nasab’.
Allah SWT menganjurkan hamba-Nya untuk saling menyambung silaturahmi dalam kitab-Nya, begitu juga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam banyak hadits, diantaranya ialah firman Allah, “Dan bertakwalah kepada Allah, yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain dan peliharalah hubungan silaturrahim” (QS. an-Nisa': 1)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Wahai manusia! Ucapkanlah salam, sambunglah silaturrahim, berikanlah makan dan shalatlah di malam hari tatkala manusia sedang tidur, maka kalian akan masuk Surga dengan selamat.” (HR. at-Tirmidzi No. 2485 dan dishahihkan oleh al-Albani dalam Shahih Ibnu Majah III/155).
Sebenarnya silaturahmi adalah ibadah yang tidak ada kaitannya dengan waktu tertentu untuk melakukannya (Ramadhan, Hari Raya, atau yang lainnya), tidak ada dalil dari al-Qur’an dan as-Sunnah yang menjelaskan tentang anjuran untuk ber-silaturahmi khusus pada hari-hari tertentu tersebut. Akan tetapi, perintah untuk bersilaturahmi bersifat umum, yang bisa dilakukan kapan saja sesuai dengan kondisi dan kebutuhan. Namun demikian, misalnya, karena memang tidak ada lagi kesempatan lain untuk bisa bertemu, kecuali pada saat Hari Raya, maka yang demikian ini tidak mengapa. Namun, jika hal ini dianggap suatu kemestian dan diyakini sebagai adat-istiadat yang berkaitan dengan ajaran islam, atau merupakan rangkaian ibadah yang harus dilakukan pada Hari Raya, atau menyakini, bahwa hal tersebut lebih utama apabila dilakukan pada Hari Raya, maka sebenarnya Islam tidak mensyariatkan hal tersebut.
Diantara tujuan dan hikmah silaturahmi adalah kita bisa mengenalkan siapa saja anggota keluarga besar/kerabat kita kepada anak-anak kita, selain bisa menjalin kedekatan satu sama lain sebagai bagian dari keluarga besar. Secara tidak langsung kita mengenalkan silsilah keluarga kepada anak kita.
Silsilah adalah sebuah catatan yang menjelaskan asal-usul, keturunan, serta hubungan kekerabatan suatu keluarga yang ditulis berdasarkan riwayat secara turun menurun atau berdasarkan hasil cacah jiwa (sensus). Silsilah dapat ditulis dalam bentuk diagram pohon, tulisan sejarah, atau dalam bentuk daftar nama. Sederhananya, silsilah keluarga adalah bagan yang menunjukan suatu hubungan keluarga antara individu, serta garis keturunan seseorang. Mengetahui tentang silsilah keluarga memang tidak bisa dianggap remeh, mengingat silsilah keluarga ini juga memberikan suatu tanggung jawab kepada seseorang, atas nama besar keluarga.

Ada beberapa alasan mengapa mengetahui silsilah keluarga menjadi sesuatu yang penting. Diantaranya adalah:
1) Kita bisa menjaga hubungan baik dan silaturrahim sesama anggota keluarga agar mereka selalu berada dijalan yang benar sesuai dengan yang diajarkan dan diperintahkan Islam.

2) Kita bisa mengetahui kejelasan nasab seseorang yang dengannya pelaksanaan beberapa hukum terkait, bisa disempurnakan dengan benar (misal kewajiban nafkah, pengasuhan anak, berbakti pada orang tua, waris, hukum tentang mahram/perempuan yang haram dinikahi, wali, dsb).

3) Adakalanya silsilah keluarga diperlukan untuk keperluan analisa medis, agar bisa segera diketahui jenis-jenis penyakit bawaan yang ada pada diri seseorang. Terutama terkait dengan beberapa penyakit yang bersifat genetis (diturunkan), seperti thalassemia, buta warna, hemofilia, dsb.

4) Menghindarkan terjadinya kasus – kasus tertentu akibat tidak diketahuinya hubungan kekerabatan antar anggota keluarga, terutama mereka yang terpisah jauh. Misal pernikahan antar saudara yang diharamkan, konflik dalam pembagian warisan, dsb.

5) Dengan mengetahui hubungan kekerabatan dan tali persaudaraan antar anggota keluarga (besar) akan membawa pada kesadaran bahwa kita hidup tidak hanya sendiri, bahwa kita ternyata memiliki banyak orang yang memiliki kaitan dan hubungan dengan keluarga yang bisa diharapkan untuk berbagi kebahagiaan maupun kesulitan. Begitu pun sebaliknya, mereka juga bisa melakukan hal yang sama.

6) Gaya hidup urban yang terjadi saat ini membuat masyarakat bersikap lebih individualistic, tidak hanya di perkotaan namun juga yang hidup di kampung. Namun hal tersebut masih bisa dicegah dengan cara menjaga hubungan dengan sesama kerabat yang kita miliki.

7) Dengan memiliki pengetahuan terhadap hubungan kekerabatan maka hal tersebut mampu menjaga dan melestarikan silsilah keturunan kita. Sehingga tak ada istilahnya kita mengalami telah terputusnya garis keturunan dari sebuah anggota keluarga (istilah jawanya ‘kepaten obor’).

8) Dengan memahamkan silsilah keluarga, maka orang tua bisa mengajarkan unggah ungguh, tanggungjawab, dan ketrampilan menempatkan diri dalam struktur keluarga besar. Orang tua dalam hal ini bertanggungjawab mengenalkan satu persatu setiap anggota keluarga baik dari garis keturunan ibu maupun ayah. Dengan memberikan cerita-cerita dan pemahaman silsilah keluarga kepada anak, tentunya anak akan merasa tahu darimana latar belakang keluarganya. Sehingga anak juga turut bertanggung jawab termasuk untuk menjaga nama baik keluarga, dan bukan malah melakukan hal-hal yang bisa menjatuhkan martabat keluarga.

Dari poin-poin diatas maka kita dapat mengetahui bahwa memiliki pengetahuan dan pemahaman yang baik tentang keturunan dan kekerabatan, termasuk dengan mengenal silsilah keluarga adalah hal yang amat penting. Semoga bermanfaat.[]

Senin, 21 April 2014

MENANAMKAN JIWA KEPEMIMPINAN PADA ANAK

Bersama dr. Hj. Faizatul Rosyidah
--------------------------------------------------------------------------------------------

PERTANYAAN:

Assalamua'alaikum Wr. Wb.
Ustadzah bagaimana caranya menanamkan jiwa kepemimpinan kepada anak? Terimakasih. (Hamba Allah)


JAWABAN:

Kepemimpinan merupakan salah satu hal yang mutlak diperlukan bagi seorang anak untuk terus tumbuh berkembang menjadi pribadi dewasa. Baik sebagai pemimpin dalam konteks luas yaitu ketika anak terjun ke lingkungan sosial dan mulai tumbuh untuk berinteraksi secara dewasa di tengah masyarakat. Atau menjadi pemimpin dalam lingkup kecil yaitu pemimpin untuk dirinya sendiri agar dapat mengatur diri dan menyelesaikan masalah jika menghadapi konflik serta dapat membawa pengaruh positif terhadap lingkungan di sekitar.

Membentuk karakter kepemimpinan dapat dilakukan sejak usia dini. Hal yang harus ditanamkan dalam proses tersebut adalah prinsip-prinsip, pemahaman, hingga keterampilan yang dapat digunakan anak ketika ia sudah besar dan menjadi pemimpin di tengah masyarakat. Namun sebelum merealisir hal tersebut, pondasi terpenting untuk dibentuk adalah mengajarkan anak untuk menjadi pemimpin bagi dirinya sendiri dan bertanggung jawab kepada Al khaliq yang telah memberikan amanah kehidupan ini kepadanya. 

Untuk menghasilkan jiwa dan kemampuan kepemimpinan tersebut dibutuhkan beberapa aspek yang saling berkesinambungan seperti pemahaman terhadap jati dirinya (sebagai hamba Allah SWT), pemahaman akan tanggung jawab yang melekat pada setiap identitas yang diembannya sesuai tumbuh kembangnya (sebagai anak, saudara, siswa, teman, dan identitas lainnya) yang bersandar dari identitas utamanya sebagai hamba Allah, hingga kemampuan dan keterampilan berkomunikasi, berinteraksi, dan bersosialisasi dengan lingkungan serta orang lain.

Kepemimpinan dalam Islam melekat kepada karakter Islam itu sendiri sebagai sebuah ajaran yang tinggi yang layak dan memiliki kemampuan memimpin apa dan siapa saja. "Islam itu tinggi dan tidak ada yang lebih tinggi darinya" (Al hadits). Maka kepemimpinan dalam Islam meniscayakan adanya keyakinan terhadap Islam dan berpegang teguh padanya. Karakter kepemimpinan yang diwujudkannya bahkan bersifat universal, melintas batas wilayah hingga menjangkau seluruh alam. Sebagaimana karakter Islam yang diturunkan untuk menjadi Rahmat bagi seluruh alam (dunia), maka pemimpin yang dilahirkannya akan bisa mengemban tugasnya sebagai Kholifah Allah di bumi.

Karena itu, memastikan mengenal siapa Allah swt, al Khaliq al Mudabbir, Sang Pencipta dan Pengatur dunia seisinya termasuk diri dan kehidupannya, meyakini-Nya adalah pondasi dari pemahaman apapun yang harus kita bangun pada anak kita. Kesadarannya bahwa dirinya adalah hamba bagi penciptanya yang memiliki misi penciptaan untuk taat dan menjalani semua episode hidupnya sesuai tuntunan yang diberikan Allah swt seharusnya menjadi sumber motivasi apapun yang dilakukannya, seperti hormat dan taat pada orang tuanya, rajin beribadah, sekolah, rajin belajar, menolong teman, tidak mudah emosi, senang bekerjasama, disiplin, bersikap adil, jujur, memiliki empati kepada orang lain dan lain sebagainya. 

Keyakinannya yang kuat akan kebenaran dan ketinggian Islam akan menjadikannya memiliki visi untuk mewujudkan kepemimpinan Islam bagi seluruh dunia dan membina dirinya  untuk bisa menjadi pemimpin (orang-orang) yang bertaqwa, di manapun anak kita berada.

Selanjutnya, tanamkan, biasakan dan asah rasa tanggung jawab anak-anak kita mulai dari hal kecil dan sesuai dengan usianya secara bertahap. Contohnya, pada usia 1-3 tahun anak mulai diajarkan tanggung jawab menjaga kebersihan diri dan lingkungan, seperti membuang bungkus permen yang dimakannya, membiasakan anak untuk membereskan mainannya sendiri, dan sejenisnya. Ketika anak sudah lebih besar maka tanggung jawab yang diberikan pun ditingkatkan satu demi satu sesuai dengan posisi dan peran yang diembannya. Misal tanggung jawab menyelesaikan PR sekolahnya, membereskan kamarnya, menjaga adiknya, memelihara tanamannya, dll. Pemberian tanggung jawab atau target yang terlalu tinggi sebaiknya diukur kembali dan disesuaikan dengan usia serta kemampuan anak agar tidak membuat mereka putus asa dan merasa tidak mampu menyelesaikannya.

Dalam aspek kemampuan berkomunikasi, anak sebaiknya dibimbing untuk berbicara dan menyampaikan  kebenaran dengan  fasih, bahasa yang jelas dan tepat sejak awal. Dalam hal ini keluarga dan lingkungan rumah, terutama Ibu adalah guru terbaik anak. Maka seorang ibu harus menjadi teladan bagi anak untuk senantiasa berbicara dengan benar, jelas, fasih dan lancar, serta memperhatikan dengan siapa pembicaraan itu dilakukan. Bagaimana ibu berkomunikasi dengan anak maupun dengan orang lain yang disaksikan anak adalah contoh langsung pembelajaran komunikasi yang dia lakukan. Tentu saja harus tetap memperhatikan tahap tumbuh kembang anak. Misalnya, mengucapkan kata pertama menjelang usia satu tahun, mengucapkan kalimat sekitar usia dua tahun, dan di usia 5-6 tahun anak sudah mulai bercakap-cakap dengan menyampaikan isi pikirannya secara bergantian dengan orang lain. Saat anak mulai belajar bercakap-cakap, orangtua sebaiknya mendengarkan dan saling berinteraksi agar nantinya anak terbiasa untuk menjalin komunikasi dengan lingkungan. Berikan kesempatan pada anak untuk tampil dan memberikan pendapatnya. Dengarkan pendapatnya dan berikan kepercayaan kepada anak untuk memilih pilihannya.

Untuk memiliki kemampuan mempengaruhi orang lain agar melakukan sesuatu yang benar  dan positif demi kemajuan bersama tentu saja mengharuskan anak memiliki kepribadian Islam yang tinggi/kuat terlebih dahulu sebelum membinanya untuk memiliki kemampuan dan keterampilan bersosialisasi. Kemampuan berkomunikasi yang baik hanya bisa dimiliki kalau didukung dengan banyaknya pengalaman bersosialisasi. Maka biasakanlah sejak kecil anak-anak kita memiliki teman-teman bermain maupun belajar bersama dari berbagai kalangan. Pengalaman bekerjasama dan sesekali mengalami masalah dengan teman-temannya menjadi kesempatan anak untuk belajar mengatasi masalah tersebut. Biarkan anak untuk berusaha menyelesaikan masalahnya tersebut. Orangtua sebaiknya tidak terlalu melindungi atau membela anak karena akan membuat anak menjadi tidak belajar dan kurang memiliki pengalaman dalam mengatasi konflik yang terjadi yang akibatnya anak kelak menjadi tidak mandiri dan senantiasa bergantung kepada orang tuanya. Berikan contoh dan kesempatan pada anak untuk menyelesaikan masalahnya sendiri. Orangtua dapat memberikan masukan atau saran, tetapi biarkanlah anak yang sebaiknya memutuskan. Walaupun keputusannya masih belum tepat, jadikan konsekuensi hal tersebut bagian dari pengalamannya.

Selain itu, ada beberapa hal lain yang bisa kita lakukan untuk memaksimalkan proses pembelajaran dalam hal kepemimpinan ini, di antaranya:
-   Bantu dan latih anak untuk memiliki gaya hidup disiplin. Usia tujuh tahun kedua adalah masa dimana pendidikan akan kedisplinan harus kita selesaikan. Sebagaimana tuntunan Imam Ali RA bahwa usia tujuh tahun pertama perlakukan anak seperti raja, tujuh tahun kedua seperti tawanan, dan tujuh tahun ketiga seperti wazir/asisten/teman dekat/orang kepercayaan.
-   Puji perilaku kepemimpinan mereka sekecil apapun itu. Misalnya keberhasilan mereka mengatur giliran bermain dengan mainan yang terbatas bersama teman-temannya.
-    Kenalkan profil para pemimpin Islam yang bisa menjadi teladan bagi anak, seperti Rasulullah SAW, Khulafaaur rosyidiin, Muhammad al Fatih, Shalahuddin al ayyubi dan pemimpin lain. Kita bisa menggunakan buku cerita, acara di TV, VCD, edugame, dll untuk anak atau dengan langsung menjadikan orang-orang yang ada di lingkungan anak yang bisa menjadi sumber ilmu tentang pemimpin yang hebat.
-    Fasilitasi mereka dengan kegiatan yang membantu mereka menunjukkan dan mengasah kemampuan memimpin mereka. Misalnya melakukan perkemahan bersama, mengikutkan anak pada kegiatan ekstra kurikuler yang mengajarkan berorganisasi semacam pramuka, kepanduan, hizbul wathan, PMR (Palang Merah Remaja), UKS, dan sejenisnya.
-    Selain itu, orangtua sebaiknya menghindari pola pengasuhan yang negatif dan menjatuhkan ataupun mengerdilkan jiwa mereka. Misalnya memberikan kritik yang berlebihan dan tidak proporsional dengan kesalahan yang dilakukan, pemberian hukuman yang terlalu banyak tanpa memberikan penjelasan, memberikan hukuman yang merendahkan kehormatan mereka, dll.

Semoga bermanfaat.[]

Kamis, 27 Februari 2014

Membantu Anak Menghadapi Bencana

RUBRIK KONSULTASI PARENTING ISLAMI
Bersama dr. Hj. Faizatul Rosyidah


PERTANYAAN:
Assalamua'alaikum Wr. Wb.
Pasca mengalami bencana, seseorang khususnya anak-anak pasti akan mengalami trauma dan harus bisa beradaptasi dengan situasi yang berbeda dengan keadaan sebelumnya. Lalu, bagaimana agar anak-anak tersebut mampu bertahan ditengah bencana dan bagaimana terapi terhadap trauma yang dialami mereka? Terimakasih. (Jamaah Wisata hati)



JAWABAN:

Mengingat Indonesia tergolong negara yang rawan bencana alam, masyarakat sebaiknya membiasakan diri untuk selalu waspada dan bersiap bila sewaktu-waktu terjadi bencana. Tidak cuma gempa, kondisi alam kita juga rawan terhadap ancaman gunung meletus, banjir, longsor, kekeringan, wabah, dsb. Peristiwa-peristiwa tersebut bisa jadi menakutkan dan menjadi trauma bagi orang dewasa, apalagi anak-anak.
Sejumlah faktor mempengaruhi respons anak terhadap bencana alam. Secara naluriah, sebenarnya cara pandang anak dalam memahami sesuatu umumnya berkaca kepada orang tuanya. Oleh karena itu, pemahaman dan reaksi orang tua sendiri terhadap bencana alam menjadi sangat penting dan menentukan bagaimana anak menghadapi bencana tersebut. Memastikan kita sebagai orang tua dan orang dewasa yang ada di sekitar anak-anak kita bersikap dengan tepat adalah hal pertama yang harus dilakukan:

1. Sebagai seorang muslim, kita harus menyadari bahwa berbagai musibah dan bencana yang melanda itu terjadi atas izin dan sesuai kehendak Allah sebagai ketetapan-Nya. Allah berfirman:

﴿قُل لَّن يُصِيبَنَا إِلَّا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَنَا هُوَ مَوْلَانَا وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ﴾
“Katakanlah: ‘Sekali-kali tidak akan menimpa Kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah untuk kami. Dialah pelindung Kami, dan hanya kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakal.’” (TQS. at-Tawbah [9]: 51).

2. Bencana yang kita hadapi bisa jadi merupakan peristiwa yang murni tidak ada andil/peran serta manusia dalam terjadinya (seperti gunung meletus, gempa, tsunami dan sejenisnya). Terhadap bencana jenis ini, yang merupakan qadla (ketetapan) Allah swt, maka kewajiban kita adalah meyakini dan menerima (baik dan buruknya dalam pandangan manusia) sebagai sebuah ketetapan dari Allah swt, bukan yang lainnya. Seorang Mukmin dengan ketakwaannya dan keimanannya yang kuat kepada Allâh Ta'âla membuat dia yakin bahwa apapun ketetapan yang Allâh Ta'âla berlakukan untuk dirinya maka itulah yang terbaik baginya. Selanjutnya sebagai sebuah kejadian yang  ketetapan (qadha’) maka musibah itu harus dilakoni dengan lapang dada, perasaan ridha, disertai kesabaran dan tawakkal kepada Allah (QS al-Baqarah: 155-157).

Sementara menghadapi bencana yang di sana melibatkan andil perbuatan manusia, seperti banjir tahunan, tanah longsor, merebaknya penyakit menular dan sejenisnya, maka musibah yang terjadi haruslah bisa membangkitkan energi dan menumbuhkan keberanian untuk meluruskan segala hal yang salah dan melakukan perbaikan atas berbagai kerusakan (fasad) dan kemaksiatan yang ada, dan menggantinya dengan kembali kepada aturan, sistem dan ideologi yang benar yang diturunkan oleh Allah SWT. Itulah sesungguhnya hikmah dari musibah yang harus diwujudkan. Allah Ta’ala berfirman:

﴿ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ﴾
“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (TQS ar-Rum [30]: 41)

3. Bahwa apapun kejadian yang menimpa kita (baik atau buruk dalam pandangan kita) sebenarnya akan bernilai kebaikan bagi kita ketika kita tepat mensikapinya. Yakni bersyukur ketika ditimpa/mendapatkan kesenangan dan kenikmatan, dan bersabar ketika menghadapi kesulitan/kesengsasaraan. Keduanya akan menjadi kebaikan bagi kita di sisi Allah swt.

4. Tetap optimis. Bahwa dalam setiap kesulitan yang kita hadapi, oleh Allah swt sudah dijanjikan adanya kemudahan yang selalu menyertainya. "Sesungguhnya bersama dengan kesulitan ada kemudahan" (TQS. Al Insyirah 5-6). Bukankah pasca meletusnya gunung berapi, Allah swt selalu menghadirkan tanah subur yang siap diolah?

Inilah pemahaman dan sikap yang harus kita miliki dan transfer kepada anak-anak kita. Setelah kita sebagai orang tua bisa bersikap dengan tepat dalam menghadapi bencana, maka usaha-usaha berikutnya secara teknis yang bisa kita lakukan untuk membantu anak menghadapi musibah/bencana dengan benar, diantaranya adalah sebagai berikut :

1. Pada saat terjadi bencana, jangan panik, tetaplah tenang dan bersikap yang bisa diindera oleh anak-anak kita bahwa kita tahu apa dan bagaimana kita akan menghadapi situasi tersebut.
2. Sediakan waktu meski sebentar untuk memberikan perhatian pada anak-anak kita saat kondisi yang bisa jadi mengagetkan anak-anak kita terjadi. Jangan sibuk sendiri dan melupakan mereka. Peluk mereka dan katakan hal-hal yang bisa menenangkan  mereka pada saat-saat awal terjadinya goncangan tersebut agar merasa lebih siap menghadapi situasi emosional saat itu.
3. Jujurlah bicara tentang situasi yang ada, cobalah terangkan dengan bahasa sederhana yang bisa mereka pahami akan kondisi yang sedang menimpa keluarga kita, penyebab bencana maupun kemungkinan apa saja yang akan terjadi selanjutnya. Jelaskan juga apa yang kita harapkan pada anak-anak kita untuk mereka lakukan. Misalnya: "Anak-anak, karena rumah kita kemungkinan sudah hancur terkena hujan batu dari gunung kelud yang meletus, jadi malam ini dan mungkin beberapa hari ke depan kita sekeluarga akan tidur di tempat pengungsian. Tidak usah khawatir, tetaplah jadi anak yang pintar dan nurut apa yang dikatakan ayah dan ibu"
4.  Upayakan keluarga tetap berkumpul bersama. Meski orang tua juga mengalami ketegangan, namun upayakan agar seluruh keluarga tetap berkumpul bersama. Dengan selalu bersama saat bencana maupun setelah bencana, membuat anak merasa yakin mereka tidak akan ditinggal sendirian. Jangan pernah menitipkan anak-anak pada orang lain yang belum dikenal baik oleh anak kita, meski sementara kita mencari pertolongan. Hal ini akan menambah kekhawatiran anak karena mereka cemas jangan-jangan orang tua mereka tidak akan pernah kembali lagi. Sebisa mungkin bawalah anak bersama kita atau bersama keluarga dan orang-orang yang mereka sudah kenal baik.
5. Pertahankan Rutinitas. Kalau biasanya di rumah sehabis sholat maghrib adalah jadwal anak-anak mengaji, maka tetap lakukan itu di pengungsian. Demikian pula dengan rutinitas lainnya seperti makan malam bersama, mendongeng sebelum tidur, jadwal bermain, berdoa, dll yang biasa dilakukan. Dengan adanya rutinitas yang terjaga, anak dapat lebih tenang karena mereka menganggap masih ada hal yang tidak berubah. 
6. Beri kesempatan anak untuk bicara menyampaikan isi hati, kekhawatiran, ketakutan ataupun perasaannya yang lain terkait dengan bencana yang mereka hadapi. Jangan sampai mereka menyimpan perasaan negatif (sedih, putus asa, marah, dll) yang belum berhasil mereka atasi, sementara kita tidak mengetahuinya. Dengan mengajaknya bicara, dan membantu mereka menghadapinya, akan mengurangi rasa khawatir dan ketakutan anak kita.
7. Berikan Kegiatan Produktif agar bisa mengalihkan perhatian dan kesibukan mereka. Seperti mengikutkan anak pada program ‘mental recovery’ yang dilakukan para relawan dengan cara mengajak bermain bersama dengan memberi pelajaran untuk bisa lebih kuat menghadapi bencana, dll.
8. Ikut sertakan anak untuk membantu. Jika bencana telah usai, banyak kegiatan yang harus dilakukan, seperti membersihkan rumah atau memperbaiki rumah yang rusak. Penting untuk melibatkan anak-anak dalam kegiatan ini dengan memberi mereka tugas sesuai kemampuannya, agar anak mengetahui bahwa kerusakan apapun akibat bencana bisa diperbaiki. Misalnya, dengan membantu memperbaiki dan membersihkan rumah, anak-anak akan sadar bahwa rumah mereka yang nyaman bisa kembali lagi. Semoga bermanfaat.[]

Selasa, 14 Januari 2014

MENCEGAH PENGARUH NEGATIF TELEVISI

RUBRIK KONSULTASI PARENTING ISLAMI
Bersama dr. Hj. Faizatul Rosyidah

PERTANYAAN:

Assalamua'alaikum Wr. Wb.
Anak saya suka menonton acara TV yang banyak menampilkan joget, lawakan-lawakan yang tidak sehat dan nyanyian-nyanyian yang berbau jorok. Dan Anak saya suka menirukannya. Bagaimana solusinya Ustadzah? Terimakasih. (Ibu Sri Wahyuni, Sidoarjo)

JAWABAN:

Televisi saat ini sudah bukan merupakan barang mahal dan relatif mudah untuk didapat, sehingga jarang ditemukan sebuah rumah dengan anggota keluarga di dalamnya yang tidak memiliki televisi. Bukan hanya sebagai media informasi, TV juga dapat dijadikan sebagai media hiburan. Namun dibalik keunggulan atau kebaikan tersebut, tanpa disadari televisi juga memberikan berbagai dampak buruk bagi masyarakat, termasuk anak-anak kita.

Tidak dipungkiri hari ini TV sudah menjadi guru ‘efektif’ bagi anak-anak kita. Bahkan di dalam rumah-rumah kita sendiri, anak-anak kita malah mendapatkan lebih banyak ‘pelajaran’ dari televisi ketimbang dari orang tuanya. Banyak informasi positif yang bisa didapatkan oleh anak melalui televisi, namun tidak sedikit juga informasi dan teladan buruk bisa didapatkan anak karena kebiasaannya menonton televisi.

Adapun pengaruh negatif televisi bagi anak bisa karena konten atau materi yang ditayangkan, namun bisa juga karena pola menonton televisi anak. Pengaruh negatif televisi tersebut bisa mengakibatkan gangguan fisik, goyahnya keyakinan/aqidah, munculnya problematika perilaku hingga gangguan psikologis.

Secara fisik, pola menonton televisi yang tidak benar (seperti terlalu lama dengan posisi tubuh yang tidak tepat, terlalu dekat jarak pandangnya, terlalu keras volumenya dan terlalu sering frekwensinya) bisa mengakibatkan gangguan kesehatan mata, pendengaran, nyeri tulang belakang hingga terjadinya kelebihan berat badan/obesitas.

Sementara fantasi tidak benar tentang asal usul kehidupan, manusia dan alam semesta ini, kekuatan apa yang mengendalikan kejadian-kejadian di dunia (misalnya dikendalikan oleh kekuatan monster, sihir, ataupun teknologi canggih yang digambarkan sebagai sumber dari segala kehebatan/kekuatan, dalam film atau sinetron misalnya), penggambaran kehidupan sesudah kematian yang tidak benar (seperti roh bergentayangan, dsb) jika tidak disertai dengan pemberian informasi yang benar oleh orang tua, akan bisa merusak keyakinan/aqidah Islam yang sudah kita tanamkan pada anak.

Pengaruh buruk pada perilaku bisa dalam bentuk munculnya rasa malas melakukan aktivitas lain karena terlalu asyik menonton televisi, banyak membuang waktu sia-sia hingga melalaikan pekerjaan yang seharusnya menjadi kewajiban, budaya konsumtif karena bujuk rayu iklan yang diputar berulang-ulang dengan gaya persuasi yang meyakinkan, ditirunya secara total gaya berdandan hingga kebiasaan-kebiasaan para artis-artis yang belum tentu benar, lirik lagu yang cenderung vulgar dan porno, gaya bercanda berlebihan yang tidak jarang diselingi omongan-omongan jorok ataupun hinaan kepada lawan main, kekerasan, gaya joget beragam yang kadang mengandung gerakan tidak pantas, hingga perilaku seksual yang cenderung bebas dan contoh-contoh perilaku salah lainnya, harus diakui hari ini banyak ditiru anak anak kita dari televisi.

Sementara pengaruh kepada psikologis, mental dan kejiwaan anak bisa berupa berubahnya anak kita menjadi penakut karena terlalu seringnya menonton film-film horror. Banyaknya adegan kekerasan yang ditonton anak yang kemudian mempengaruhi kejiwaannya menjadi anak yang kasar, nakal dan emosional. Selain itu, terlalu banyak menonton televisi akan menjadikan seorang anak menjadi lebih individualis dan kurang melakukan sosialisasi dengan lingkungan sekitar. Mental pribadi instant, yang selalu ingin mendapatkan kesenangan segera tanpa usaha, ataupun gaya hidup hedonis dan materialistis, malas berusaha namun mudah menyerah hingga inspirasi melakukan tindak kriminalitas tertentu, hari ini kita saksikan seringkali diperoleh anak-anak kita dari tayangan televisi.

Sebagai media informasi dan juga hiburan, bisa jadi tidak mungkin bagi kita untuk menyingkirkan televisi dari kehidupan sehari-hari, namun beberapa tips berikut ini bisa kita gunakan untuk meminimalisir pengaruh negatif televisi pada anak kita:

1. Buat dan tentukanlah jadwal menonton televisi bagi anak, libatkan mereka dalam penetapan jadwal tersebut, sampaikan argumentasi kita mengapa jadwalnya seperti itu agar anak lebih mudah paham dan memberikan komitmennya untuk mentaati jadwal yang sudah disepakati tersebut. Jangan pernah membiarkan seluruh acara televisi memenuhi seluruh waktu yang dimiliki oleh anak-anak kita.

2. Pilihlah acara televisi yang bisa menjadi sarana dan kesempatan bagi kita mengajarkan kebenaran dan kebaikan kepada anak-anak kita. Carilah program yang sesuai dengan umur dan perkembangan mereka.

3. Agar anak memiliki variasi pilihan kegiatan, berikanlah kepada anak kegiatan-kegiatan yang bisa menjadi hiburan pengganti –namun bermanfaat- baik dalam bentuk kegiatan di dalam ataupun di luar rumah. Seperti bermain bersama, membaca buku cerita bersama, berolahraga, dan lain sebagainya.

4. Berikanlah contoh riil kepada anak dengan cara orang tua tidak menonton program acara televisi yang tidak bermanfaat dan bertentangan dengan agama. Bukankah sangat susah bagi anak untuk membenci acara joget-joget porno kalau setiap hari anak melihat orang tuanya sangat senang menikmati tontonan tersebut?! Jadi berilah teladan yang baik.

5. Janganlah menjadikan televisi sebagai alat untuk menenangkan anak ketika mereka rewel misalnya (sebagaimana yang sering dilakukan oleh para pembantu kita yang tidak terlalu peduli dengan kualitas anak kita), atau untuk memberikan ganjaran atau hukuman.

6. Tanamkanlah pada diri anak untuk benar-benar memiliki manajemen waktu yang bagus (kapan waktunya belajar, bermain, istirahat, nonton TV, dsb), melalui ucapan dan tindakan kita, agar anak tidak hanya menghabiskan waktunya di depan televisi.

7. Sesekali, bolehlah kita berikan hadiah bagi anggota keluarga yang paling jarang menonton televisi dalam seminggu, atau kepada anak yang sudah disiplin menetapi jadwal menonton TV nya sebagai penghargaan.

8. Hendaknya memperhatikan syarat-syarat kesehatan dalam menonton televisi, seperti minimal jarak antara televisi dan penonton adalah 5 x diagonal TV, layar TV sejajar dengan pandangan mata atau di bawahnya, dan ruang tempat menonton harus terang untuk menetralisasi cahaya yang memancar dari layar televisi, tidak terlalu lama, dan dalam posisi tubuh yang baik.

Yang harus disadari oleh kita para orang tua dan pendidik, di usianya saat ini, anak-anak kita adalah para pembelajar yang sedang belajar untuk mengenali dan memahami nilai-nilai dan perilaku yang benar. Sampai perilaku dan nilai ini terinternalisasi, wajar jika mereka harus berkali-kali kita ingatkan. Sebagaimana kita yang sudah dewasa, tidak jarang kita juga melakukan kesalahan dan butuh diingatkan. Anak-anak kita pun tak jarang seperti menguji kekuatan kita dalam menerapkan batasan dan menanamkan kedisiplinan. Karena itu sikap istiqomah, kesabaran dan keikhlasan dalam proses mendidik mereka adalah suatu keniscayaan. Semoga bermanfaat.[]