Tempat berbagi
informasi, pemikiran,
kisah, artikel, tips, pengalaman, dan ilmu
berkaitan dengan
dunia medis, intelektual, dakwah, perempuan,

pendidikan anak,
remaja, keluarga dan generasi, juga sesekali barang jualan.....

Selamat Berlayar..........

Kamis, 27 Februari 2014

Membantu Anak Menghadapi Bencana

RUBRIK KONSULTASI PARENTING ISLAMI
Bersama dr. Hj. Faizatul Rosyidah


PERTANYAAN:
Assalamua'alaikum Wr. Wb.
Pasca mengalami bencana, seseorang khususnya anak-anak pasti akan mengalami trauma dan harus bisa beradaptasi dengan situasi yang berbeda dengan keadaan sebelumnya. Lalu, bagaimana agar anak-anak tersebut mampu bertahan ditengah bencana dan bagaimana terapi terhadap trauma yang dialami mereka? Terimakasih. (Jamaah Wisata hati)



JAWABAN:

Mengingat Indonesia tergolong negara yang rawan bencana alam, masyarakat sebaiknya membiasakan diri untuk selalu waspada dan bersiap bila sewaktu-waktu terjadi bencana. Tidak cuma gempa, kondisi alam kita juga rawan terhadap ancaman gunung meletus, banjir, longsor, kekeringan, wabah, dsb. Peristiwa-peristiwa tersebut bisa jadi menakutkan dan menjadi trauma bagi orang dewasa, apalagi anak-anak.
Sejumlah faktor mempengaruhi respons anak terhadap bencana alam. Secara naluriah, sebenarnya cara pandang anak dalam memahami sesuatu umumnya berkaca kepada orang tuanya. Oleh karena itu, pemahaman dan reaksi orang tua sendiri terhadap bencana alam menjadi sangat penting dan menentukan bagaimana anak menghadapi bencana tersebut. Memastikan kita sebagai orang tua dan orang dewasa yang ada di sekitar anak-anak kita bersikap dengan tepat adalah hal pertama yang harus dilakukan:

1. Sebagai seorang muslim, kita harus menyadari bahwa berbagai musibah dan bencana yang melanda itu terjadi atas izin dan sesuai kehendak Allah sebagai ketetapan-Nya. Allah berfirman:

﴿قُل لَّن يُصِيبَنَا إِلَّا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَنَا هُوَ مَوْلَانَا وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ﴾
“Katakanlah: ‘Sekali-kali tidak akan menimpa Kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah untuk kami. Dialah pelindung Kami, dan hanya kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakal.’” (TQS. at-Tawbah [9]: 51).

2. Bencana yang kita hadapi bisa jadi merupakan peristiwa yang murni tidak ada andil/peran serta manusia dalam terjadinya (seperti gunung meletus, gempa, tsunami dan sejenisnya). Terhadap bencana jenis ini, yang merupakan qadla (ketetapan) Allah swt, maka kewajiban kita adalah meyakini dan menerima (baik dan buruknya dalam pandangan manusia) sebagai sebuah ketetapan dari Allah swt, bukan yang lainnya. Seorang Mukmin dengan ketakwaannya dan keimanannya yang kuat kepada Allâh Ta'âla membuat dia yakin bahwa apapun ketetapan yang Allâh Ta'âla berlakukan untuk dirinya maka itulah yang terbaik baginya. Selanjutnya sebagai sebuah kejadian yang  ketetapan (qadha’) maka musibah itu harus dilakoni dengan lapang dada, perasaan ridha, disertai kesabaran dan tawakkal kepada Allah (QS al-Baqarah: 155-157). Sementara menghadapi bencana yang di sana melibatkan andil perbuatan manusia, seperti banjir tahunan, tanah longsor, merebaknya penyakit menular dan sejenisnya, maka musibah yang terjadi haruslah bisa membangkitkan energi dan menumbuhkan keberanian untuk meluruskan segala hal yang salah dan melakukan perbaikan atas berbagai kerusakan (fasad) dan kemaksiatan yang ada, dan menggantinya dengan kembali kepada aturan, sistem dan ideologi yang benar yang diturunkan oleh Allah SWT. Itulah sesungguhnya hikmah dari musibah yang harus diwujudkan. Allah Ta’ala berfirman:

﴿ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ﴾
“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (TQS ar-Rum [30]: 41)

3. Bahwa apapun kejadian yang menimpa kita (baik atau buruk dalam pandangan kita) sebenarnya akan bernilai kebaikan bagi kita ketika kita tepat mensikapinya. Yakni bersyukur ketika ditimpa/mendapatkan kesenangan dan kenikmatan, dan bersabar ketika menghadapi kesulitan/kesengsasaraan. Keduanya akan menjadi kebaikan bagi kita di sisi Allah swt.

4. Tetap optimis. Bahwa dalam setiap kesulitan yang kita hadapi, oleh Allah swt sudah dijanjikan adanya kemudahan yang selalu menyertainya. "Sesungguhnya bersama dengan kesulitan ada kemudahan" (TQS. Al Insyirah 5-6). Bukankah pasca meletusnya gunung berapi, Allah swt selalu menghadirkan tanah subur yang siap diolah?

Inilah pemahaman dan sikap yang harus kita miliki dan transfer kepada anak-anak kita. Setelah kita sebagai orang tua bisa bersikap dengan tepat dalam menghadapi bencana, maka usaha-usaha berikutnya secara teknis yang bisa kita lakukan untuk membantu anak menghadapi musibah/bencana dengan benar, diantaranya adalah sebagai berikut :

1. Pada saat terjadi bencana, jangan panik, tetaplah tenang dan bersikap yang bisa diindera oleh anak-anak kita bahwa kita tahu apa dan bagaimana kita akan menghadapi situasi tersebut.
2. Sediakan waktu meski sebentar untuk memberikan perhatian pada anak-anak kita saat kondisi yang bisa jadi mengagetkan anak-anak kita terjadi. Jangan sibuk sendiri dan melupakan mereka. Peluk mereka dan katakan hal-hal yang bisa menenangkan  mereka pada saat-saat awal terjadinya goncangan tersebut agar merasa lebih siap menghadapi situasi emosional saat itu.
3. Jujurlah bicara tentang situasi yang ada, cobalah terangkan dengan bahasa sederhana yang bisa mereka pahami akan kondisi yang sedang menimpa keluarga kita, penyebab bencana maupun kemungkinan apa saja yang akan terjadi selanjutnya. Jelaskan juga apa yang kita harapkan pada anak-anak kita untuk mereka lakukan. Misalnya: "Anak-anak, karena rumah kita kemungkinan sudah hancur terkena hujan batu dari gunung kelud yang meletus, jadi malam ini dan mungkin beberapa hari ke depan kita sekeluarga akan tidur di tempat pengungsian. Tidak usah khawatir, tetaplah jadi anak yang pintar dan nurut apa yang dikatakan ayah dan ibu"
4.  Upayakan keluarga tetap berkumpul bersama. Meski orang tua juga mengalami ketegangan, namun upayakan agar seluruh keluarga tetap berkumpul bersama. Dengan selalu bersama saat bencana maupun setelah bencana, membuat anak merasa yakin mereka tidak akan ditinggal sendirian. Jangan pernah menitipkan anak-anak pada orang lain yang belum dikenal baik oleh anak kita, meski sementara kita mencari pertolongan. Hal ini akan menambah kekhawatiran anak karena mereka cemas jangan-jangan orang tua mereka tidak akan pernah kembali lagi. Sebisa mungkin bawalah anak bersama kita atau bersama keluarga dan orang-orang yang mereka sudah kenal baik.
5. Pertahankan Rutinitas. Kalau biasanya di rumah sehabis sholat maghrib adalah jadwal anak-anak mengaji, maka tetap lakukan itu di pengungsian. Demikian pula dengan rutinitas lainnya seperti makan malam bersama, mendongeng sebelum tidur, jadwal bermain, berdoa, dll yang biasa dilakukan. Dengan adanya rutinitas yang terjaga, anak dapat lebih tenang karena mereka menganggap masih ada hal yang tidak berubah. 
6. Beri kesempatan anak untuk bicara menyampaikan isi hati, kekhawatiran, ketakutan ataupun perasaannya yang lain terkait dengan bencana yang mereka hadapi. Jangan sampai mereka menyimpan perasaan negatif (sedih, putus asa, marah, dll) yang belum berhasil mereka atasi, sementara kita tidak mengetahuinya. Dengan mengajaknya bicara, dan membantu mereka menghadapinya, akan mengurangi rasa khawatir dan ketakutan anak kita.
7. Berikan Kegiatan Produktif agar bisa mengalihkan perhatian dan kesibukan mereka. Seperti mengikutkan anak pada program ‘mental recovery’ yang dilakukan para relawan dengan cara mengajak bermain bersama dengan memberi pelajaran untuk bisa lebih kuat menghadapi bencana, dll.
8. Ikut sertakan anak untuk membantu. Jika bencana telah usai, banyak kegiatan yang harus dilakukan, seperti membersihkan rumah atau memperbaiki rumah yang rusak. Penting untuk melibatkan anak-anak dalam kegiatan ini dengan memberi mereka tugas sesuai kemampuannya, agar anak mengetahui bahwa kerusakan apapun akibat bencana bisa diperbaiki. Misalnya, dengan membantu memperbaiki dan membersihkan rumah, anak-anak akan sadar bahwa rumah mereka yang nyaman bisa kembali lagi. Semoga bermanfaat.[]

Selasa, 14 Januari 2014

MENCEGAH PENGARUH NEGATIF TELEVISI

RUBRIK KONSULTASI PARENTING ISLAMI
Bersama dr. Hj. Faizatul Rosyidah

PERTANYAAN:

Assalamua'alaikum Wr. Wb.
Anak saya suka menonton acara TV yang banyak menampilkan joget, lawakan-lawakan yang tidak sehat dan nyanyian-nyanyian yang berbau jorok. Dan Anak saya suka menirukannya. Bagaimana solusinya Ustadzah? Terimakasih. (Ibu Sri Wahyuni, Sidoarjo)

JAWABAN:

Televisi saat ini sudah bukan merupakan barang mahal dan relatif mudah untuk didapat, sehingga jarang ditemukan sebuah rumah dengan anggota keluarga di dalamnya yang tidak memiliki televisi. Bukan hanya sebagai media informasi, TV juga dapat dijadikan sebagai media hiburan. Namun dibalik keunggulan atau kebaikan tersebut, tanpa disadari televisi juga memberikan berbagai dampak buruk bagi masyarakat, termasuk anak-anak kita.

Tidak dipungkiri hari ini TV sudah menjadi guru ‘efektif’ bagi anak-anak kita. Bahkan di dalam rumah-rumah kita sendiri, anak-anak kita malah mendapatkan lebih banyak ‘pelajaran’ dari televisi ketimbang dari orang tuanya. Banyak informasi positif yang bisa didapatkan oleh anak melalui televisi, namun tidak sedikit juga informasi dan teladan buruk bisa didapatkan anak karena kebiasaannya menonton televisi.

Adapun pengaruh negatif televisi bagi anak bisa karena konten atau materi yang ditayangkan, namun bisa juga karena pola menonton televisi anak. Pengaruh negatif televisi tersebut bisa mengakibatkan gangguan fisik, goyahnya keyakinan/aqidah, munculnya problematika perilaku hingga gangguan psikologis.

Secara fisik, pola menonton televisi yang tidak benar (seperti terlalu lama dengan posisi tubuh yang tidak tepat, terlalu dekat jarak pandangnya, terlalu keras volumenya dan terlalu sering frekwensinya) bisa mengakibatkan gangguan kesehatan mata, pendengaran, nyeri tulang belakang hingga terjadinya kelebihan berat badan/obesitas.

Sementara fantasi tidak benar tentang asal usul kehidupan, manusia dan alam semesta ini, kekuatan apa yang mengendalikan kejadian-kejadian di dunia (misalnya dikendalikan oleh kekuatan monster, sihir, ataupun teknologi canggih yang digambarkan sebagai sumber dari segala kehebatan/kekuatan, dalam film atau sinetron misalnya), penggambaran kehidupan sesudah kematian yang tidak benar (seperti roh bergentayangan, dsb) jika tidak disertai dengan pemberian informasi yang benar oleh orang tua, akan bisa merusak keyakinan/aqidah Islam yang sudah kita tanamkan pada anak.

Pengaruh buruk pada perilaku bisa dalam bentuk munculnya rasa malas melakukan aktivitas lain karena terlalu asyik menonton televisi, banyak membuang waktu sia-sia hingga melalaikan pekerjaan yang seharusnya menjadi kewajiban, budaya konsumtif karena bujuk rayu iklan yang diputar berulang-ulang dengan gaya persuasi yang meyakinkan, ditirunya secara total gaya berdandan hingga kebiasaan-kebiasaan para artis-artis yang belum tentu benar, lirik lagu yang cenderung vulgar dan porno, gaya bercanda berlebihan yang tidak jarang diselingi omongan-omongan jorok ataupun hinaan kepada lawan main, kekerasan, gaya joget beragam yang kadang mengandung gerakan tidak pantas, hingga perilaku seksual yang cenderung bebas dan contoh-contoh perilaku salah lainnya, harus diakui hari ini banyak ditiru anak anak kita dari televisi.

Sementara pengaruh kepada psikologis, mental dan kejiwaan anak bisa berupa berubahnya anak kita menjadi penakut karena terlalu seringnya menonton film-film horror. Banyaknya adegan kekerasan yang ditonton anak yang kemudian mempengaruhi kejiwaannya menjadi anak yang kasar, nakal dan emosional. Selain itu, terlalu banyak menonton televisi akan menjadikan seorang anak menjadi lebih individualis dan kurang melakukan sosialisasi dengan lingkungan sekitar. Mental pribadi instant, yang selalu ingin mendapatkan kesenangan segera tanpa usaha, ataupun gaya hidup hedonis dan materialistis, malas berusaha namun mudah menyerah hingga inspirasi melakukan tindak kriminalitas tertentu, hari ini kita saksikan seringkali diperoleh anak-anak kita dari tayangan televisi.

Sebagai media informasi dan juga hiburan, bisa jadi tidak mungkin bagi kita untuk menyingkirkan televisi dari kehidupan sehari-hari, namun beberapa tips berikut ini bisa kita gunakan untuk meminimalisir pengaruh negatif televisi pada anak kita:

1. Buat dan tentukanlah jadwal menonton televisi bagi anak, libatkan mereka dalam penetapan jadwal tersebut, sampaikan argumentasi kita mengapa jadwalnya seperti itu agar anak lebih mudah paham dan memberikan komitmennya untuk mentaati jadwal yang sudah disepakati tersebut. Jangan pernah membiarkan seluruh acara televisi memenuhi seluruh waktu yang dimiliki oleh anak-anak kita.

2. Pilihlah acara televisi yang bisa menjadi sarana dan kesempatan bagi kita mengajarkan kebenaran dan kebaikan kepada anak-anak kita. Carilah program yang sesuai dengan umur dan perkembangan mereka.

3. Agar anak memiliki variasi pilihan kegiatan, berikanlah kepada anak kegiatan-kegiatan yang bisa menjadi hiburan pengganti –namun bermanfaat- baik dalam bentuk kegiatan di dalam ataupun di luar rumah. Seperti bermain bersama, membaca buku cerita bersama, berolahraga, dan lain sebagainya.

4. Berikanlah contoh riil kepada anak dengan cara orang tua tidak menonton program acara televisi yang tidak bermanfaat dan bertentangan dengan agama. Bukankah sangat susah bagi anak untuk membenci acara joget-joget porno kalau setiap hari anak melihat orang tuanya sangat senang menikmati tontonan tersebut?! Jadi berilah teladan yang baik.

5. Janganlah menjadikan televisi sebagai alat untuk menenangkan anak ketika mereka rewel misalnya (sebagaimana yang sering dilakukan oleh para pembantu kita yang tidak terlalu peduli dengan kualitas anak kita), atau untuk memberikan ganjaran atau hukuman.

6. Tanamkanlah pada diri anak untuk benar-benar memiliki manajemen waktu yang bagus (kapan waktunya belajar, bermain, istirahat, nonton TV, dsb), melalui ucapan dan tindakan kita, agar anak tidak hanya menghabiskan waktunya di depan televisi.

7. Sesekali, bolehlah kita berikan hadiah bagi anggota keluarga yang paling jarang menonton televisi dalam seminggu, atau kepada anak yang sudah disiplin menetapi jadwal menonton TV nya sebagai penghargaan.

8. Hendaknya memperhatikan syarat-syarat kesehatan dalam menonton televisi, seperti minimal jarak antara televisi dan penonton adalah 5 x diagonal TV, layar TV sejajar dengan pandangan mata atau di bawahnya, dan ruang tempat menonton harus terang untuk menetralisasi cahaya yang memancar dari layar televisi, tidak terlalu lama, dan dalam posisi tubuh yang baik.

Yang harus disadari oleh kita para orang tua dan pendidik, di usianya saat ini, anak-anak kita adalah para pembelajar yang sedang belajar untuk mengenali dan memahami nilai-nilai dan perilaku yang benar. Sampai perilaku dan nilai ini terinternalisasi, wajar jika mereka harus berkali-kali kita ingatkan. Sebagaimana kita yang sudah dewasa, tidak jarang kita juga melakukan kesalahan dan butuh diingatkan. Anak-anak kita pun tak jarang seperti menguji kekuatan kita dalam menerapkan batasan dan menanamkan kedisiplinan. Karena itu sikap istiqomah, kesabaran dan keikhlasan dalam proses mendidik mereka adalah suatu keniscayaan. Semoga bermanfaat.[]

Selasa, 10 Desember 2013

AGAR ANAK LEBIH BERPRESTASI

RUBRIK KONSULTASI PARENTING ISLAMI
Bersama dr. Hj. Faizatul Rosyidah


PERTANYAAN:
Assalamua'alaikum Wr. Wb.
Ustadzah bagaimana cara memotivasi anak agar lebih berprestasi? Mohon Ustadzah berkenan memberikan penjelasan atas pertanyaan di atas. Terimakasih

JAWABAN:
Memiliki anak berprestasi (secara akademis) memang seringkali membanggakan orangtua. Namun tidak jarang kita mendapati anak-anak kita justru menunjukkan hal yang sebaliknya (kurang/tidak berprestasi). Lalu apa yang harus kita (para pendidik, termasuk orang tua) lakukan?

1. Yang harus dipahami orang tua/para pendidik terlebih dahulu dalam menilai seorang anak ‘berprestasi’ atau tidak adalah apa definisi prestasi tersebut. Tidaklah disebut berprestasi itu jika hanya bermakna diraihnya nilai bagus dalam raport studi mereka. Atau terbatas pada nilai akademis mereka. Karena yang pertama, adalah sunnatullah, Allah menciptakan manusia itu tidak seragam dalam hal kemampuan penginderaan, kemampuan mengingat, kemampuan menalar dan memahami sesuatu. Mengukur dan menilai mereka yang secara sunnatullah berbeda-beda dengan ukuran yang sama dengan menafikan perbedaan yang mereka miliki adalah sesuatu yang tidak pada tempatnya (dlolim). Oleh karena itu kita mendapati adakalanya seorang anak lemah dalam kemampuan matematika, namun menonjol dalam kemampuan berbahasa. Adakalanya seorang anak kesulitan dalam berbahasa verbal, namun sangat jago menulis dan membuat karangan. Adakalanya seorang anak tidak istimewa dalam olah raga, namun sangat istimewa dalam menghapal, dan seterusnya. Yang kedua, Islam mengajarkan kita untuk tidak menilai hal-hal yang termasuk dalam wilayah qadha Allah yang tidak ada campur tangan manusia di sana. Termasuk dalam hal ini adalah melakukan penilaian ataupun kompetisi dalam hal tersebut. Misalnya, menilai manakah yang lebih dianggap ‘cantik’ seseorang berkulit hitam atau putih, berambut lurus atau kriwil, bermata sipit atau lebar, berhidung mancung atau pesek, dan sebagainya, karena bahkan Allah swt pun tidak akan melakukan hisab dalam hal tersebut. Jadi dalam hal ini kita sebagai orang tua tidak seharusnya merasa bangga ketika anak kita dianggap ‘berprestasi’ dalam hal yang sebenarnya tidak ada andil manusia di dalamnya. Seharusnya orang tua mengajarkan kepada anak untuk bersyukur kepada Allah swt atas segala kelebihan yang diberikan-Nya tersebut, dan bersabar jika sekiranya ada hal-hal yang kita kira merupakan kekurangan, dan hendaknya kita meyakini bahwa kelebihan ataupun kekurangan tersebut adalah keputusan terbaik yang diberikan Allah swt kepada kita. Yang ketiga, Islam mengajarkan kepada kita prestasi terbaik adalah menjadi hamba yang bertaqwa di sisi Allah swt. Allah berfirman: “Sesungguhnya sebaik-baik manusia diantara kalian di sisi Allah swt adalah yang paling bertaqwa.” Jadi berprestasi yang diajarkan oleh Islam adalah berdimensi tidak hanya di dunia ini, namun berimplikasi hingga di akhirat. Dikatakan berprestasi kalau kita berhasil menjadi seseorang yang selalu berusaha berjalan dalam ketaatan kepada Allah swt. Jadi dalam hal ini, yang dinilai adalah proses/usaha yang kita lakukan, dan bukan hasil akhirnya. Jadi seorang anak yang di raport nya bagus, namun ternyata nilai-nilainya didapat dengan cara yang curang bukanlah sebuah ‘prestasi’ yang selayaknya membuat kita bangga.

2. Dengan memperhatikan tiga hal di atas, maka kita mestinya menilai (prestasi) anak kita pada bagaimana usaha dan proses yang mereka lakukan agar berhasil menjalankan dan menyelesaikan kewajiban mereka sebaik-baiknya, dengan memperhatikan karakter, kelebihan dan kekurangan mereka dengan adil.

3. Berikutnya, merupakan tugas pendidik (termasuk orang tua) untuk membantu anak mengembangkan kelebihan mereka agar melejit hingga meraih hasil tertinggi yang bisa mereka upayakan, dan membantu anak mengatasi kekurangan mereka.

Setelah memahami prinsip-prinsip di atas, maka berikutnya kita bisa mengaplikasikannya kepada bagaimana upaya yang bisa kita lakukan agar anak kita bisa lebih berprestasi (secara akademis), adalah:

1. Bangun motivasi anak untuk berprestasi di sekolah
Bangunlah motivasi ini bersandarkan pada kesadaran bahwa mereka diciptakan Allah swt untuk beribadah kepada-Nya, dengan cara melaksanakan apa saja yang diperintahkan-Nya dan meninggalkan semua yang dilarang-Nya. Termasuk yang diperintahkan Allah Swt adalah kita harus menuntut ilmu. Dengan ilmu tersebut Allah swt akan memuliakan kita beberapa derajat lebih tinggi daripada mereka yang tidak memilikinya. Ilmu tersebut juga yang akan mereka butuhkan untuk bisa membangun masa depan mereka kelak. Inilah langkah awal yang perlu kita pahamkan kepada anak sehingga mereka mengerti mengapa harus sekolah, mengapa harus rajin sekolah, mengapa harus mengerjakan PR pada waktunya, mengapa harus mengulang pelajaran, dan sebagainya.


2. Bantu anak membangun dan memiliki kebiasaan-kebiasaan para pelajar teladan dan berprestasi, diantaranya:
a. Rajin membaca. Buku adalah jendela dunia. Jika ingin kaya wawasan maka bersahabatlah dengan buku. Membaca adalah salah satu faktor yang menyebabkan kenaikan prestasi akademik seorang anak
b. Rajin menulis. Membiasakan menulis sejak dini membuat anak akan kaya terhadap kosakata. Selain itu menulis membantu anak menuangkan daya imajinasi dan kreativitas lewat kata-kata.
c. Mempersiapkan lebih awal. Poin ketiga ini sifatnya luas dan mencakup banyak hal. Misalnya saja menyelesaikan PR segera meskipun belum deadline pengumpulan, datang ke sekolah lebih awal. Selain menanamkan sifat disiplin, si anak nantinya mampu menjalankan kewajibannya dengan baik dan tidak terburu-buru dalam melakukan suatu hal.
d. Terbiasa berdiskusi dengan teman/orang lain. Mengemukakan ide, gagasan, pendapat, belajar menerima saran atau kritik adalah langkah awal agar si anak mempunyai kecakapan berbicara di depan umum. Jika tidak dibiasakan sejak dini, anak akan malu ketika harus menyampaikan idenya dan tidak berkembang.
e. Bertanya pada guru. Jika tidak mengerti soal mata pelajaran atau ada kesulitan, ajarilah anak agar berani bertanya pada guru atau orang tua.

3. Bantu anak untuk menemukan kelebihan mereka, dampingi serta fasilitasilah mereka untuk bisa melejitkannya. Sebaliknya, bantulah mereka juga untuk mengenali kekurangan mereka dan bagaimana cara mengatasinya. Misalnya, ketika kita dapati anak kita menonjol dalam matematika, maka bantulah melejitkannya dengan mengikutkan mereka pada kompetisi-kompetisi matematika yang akan merangsang mereka lebih bagus lagi dalam menguasai matematika tsb. Sebaliknya bagi anak-anak kita yang lemah dalam matematika tersebut, maka bantu dan dampingilah mereka untuk senantiasa rajin berlatih mengerjakan soal-soal matematika agar mereka bisa mengejar ketinggalan mereka.

4. Bangun mental juara pada diri mereka
Dengan membangun kepercayaan diri bahwa mereka mampu berprestasi. Bantu mereka memiliki mental untuk bisa dengan mantap melakukan hal hal yang dianggap susah dengan tenang dan penuh keyakinan. Semoga bermanfaat.[]

Jumat, 18 Oktober 2013

AGAR ANAK MENCINTAI AL QUR’AN

RUBRIK KONSULTASI PARENTING ISLAMI
Bersama dr. Hj. Faizatul Rosyidah


PERTANYAAN:

Assalamua'alaikum Wr. Wb. Bagaimana caranya agar anak mencintai ilmu-ilmu al-Qur'an atau kandungan-kandungan yang terdapat dalam al-Qur'an. Sehingga anak tidak hanya sekedar bisa membaca bacaannya saja, tapi juga mengetahui isi kandungan al-Qur'an. Mohon Ustadzah berkenan memberikan penjelasan atas pertanyaan di atas. Terimakasih

JAWABAN:

Anak-anak adalah amanah, titipan dari Allah SWT, Sang Pemilik anak-anak kita. Setiap kita pasti menginginkan kebaikan dan kebahagiaan atas anak-anak kita. Semua orang tua pasti berharap anaknya menjadi anak yang saleh dan shalehah; anak yang berbakti kepada Allah, dan Rasul-Nya serta kedua orang tuanya.  Dan salah satu cara terpenting untuk menuntun dan mengajarinya adalah dengan memperkenalkan Al- Qur’an. Dengan mendidiknya membaca dan menulis Al-Qur’an sejak masa anak-anak, baik dirumah maupun disekolah, anak bisa memahami makna dan kadungan Al-Qur’an serta  mengarahkan mereka kepada keyakinan bahwa Allah adalah Rabb mereka dan Al Quran merupakan firmanNya. Hingga mereka akhirnya mencintai Al-Qur’an. Jika anak telah mencintai Al-Qur’an sejak dini, maka kecintaan itu akan mengantarkannya pada  kecintaan untuk membaca, mempelajari, menghafalkan hingga mengamalkannya.
Rosulullah SAW telah menyampaikan kepada kita pentingnya belajar dan mengajarkan Al Qur’an. Dalam hadits yang diriwayatkan dari Mush’ab bin Sa’ad bin Abi Waqqash, beliau SAW bersabda:

خِيَا رُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ اْلقُرْاَنَ وَ عَلَّمَهُ
“Sebaik-baik kalian adalah yang belajar al-Qur’an dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari)
At-tabrani meriwayatkan dari Ali ra bahwa Nabi SAW bersabda, “Didiklah anak-anak kamu pada tiga hal: mencintai Nabimu, mencintai keluarganya, dan membaca Al-quran. Sebab orang-orang yang ahli Al-qur’an itu berada di lindungan singgasana Allah pada hari tiada perlindungan kecuali perlindunganNya beserta para NabiNya dan orang-orang yang suci.”

Menanamkan rasa cinta anak terhadap Al-Qur’an pertama kali harus dilakukan di dalam keluarga. Diantara metode dan prinsip yang bisa kita gunakan adalah:

1. Keteladanan. Jika kita menginginkan anak mencintai Al-Qur’an, maka jadikanlah keluarga kita sebagai suri teladan yang baik dalam cara berinteraksi dengan Al-Qur’an, terbiasa membacanya, terbiasa menjadikannya sebagai rujukan dalam setiap ajaran kita, kecintaan kita kepada Al qur’an yang terlihat dari istiqomahnya kita membaca dan mempelajarinya, hingga keteladanan dalam cara memuliakannya, diharapkan hal tersebut akan merasuk ke dalam alam bawah sadar anak kita bahwa Al-Qur’an (termasuk mushafnya) adalah sesuatu yang agung, suci, mulia, penting untuk dihormati, dimuliakan, dipelajari, dipahami dan diamalkan.

2. Sering memperdengarkan Al-Qur’an di rumah dengan suara merdu dan syahdu, yang menyenangkan bagi pendengaran anak.

3. Bercerita kepada anak dengan kisah-kisah yang diambil dari Al-Qur’an. Seperti kisah tentara gajah yang menghancurkan Ka’bah, kisah perjalanan nabi Musa dan nabi Khidir, kisah Qarun, kisah nabi Sulaiman bersama ratu Bilqis dan burung Hud-hud, kisah Ashabul Kahfi,dan lain-lain dengan menunjukkan bahwa kisah-kisah tersebut adalah kisah yang terdapat di dalam Al Qur’an. Sehingga rasa cinta anak terhadap cerita-cerita itu dengan sendirinya akan terikat dengan rasa cintanya pada Al-Qur’an.

4. Sabar dalam menghadapi anak ketika mengajarkan anak tentang Al Qur’an. Misalnya ketika anak belum bersedia menghafal pada usia ini, maka kita harus menangguhkannya sampai anak benar-benar siap. Namun kita harus selalu mencoba mendekatkannya dengan Al Qur’an, misal dengan senantiasa memperdengarkan bacaan Al-Qur’an kepadanya.

5. Menggunakan metode pemberian penghargaan untuk memotivasi anak. Misalnya jika anak telah menyelesaikan satu surat kita ajak ia untuk jalan-jalan/rekreasi, atau dengan menggunakan lembaran prestasi/piagam penghargaan, sehingga anak akan semakin terdorong untuk mempelajari dan menghafal Al-Qur’an.

6. Menyampaikan keutamaan-keutamaan mempelajari, memahami, menghafalkan dan mengamalkan Al qur’an. Misalkan sebelum menyuruh anak memulai menghafal Al-Quran, kita katakan kepada mereka, “Al-Qur’an adalah kitab Allah yang mulia, orang yang mau menjaganya, maka Allah akan menjaga orang itu. Orang yang mau berpegang teguh kepadanya, maka akan mendapat pertolongan dari Allah. Kitab ini akan menjadikan hati seseorang baik dan berperilaku mulia.”

7. Menggunakan sarana belajar yang inovatif. Hal ini disesuaikan dengan kecenderungan cara belajar dan tipe si anak. Misalnya bagi anak yang dapat berkonsentrasi dengan baik melalui pendengarannya, dapat menggunakan sarana berupa kaset, atau program penghafal Al-Qur’an digital, agar anak bisa mempergunakannya kapan saja, serta sering memperdengarkan kepadanya bacaan Al-Qur’an dengan lantunan yang merdu dan indah. Bagi anak yang peka terhadap sentuhan, memberikannya Al-Qur’an yang cantik dan terlihat indah saat di bawanya, sehingga ia akan suka membacanya. Bagi anak yang cenderung visual, maka bisa mengajarkannya melalui video, komputer, layar proyektor, melalui papan tulis, dan lain-lain yang menarik perhatiannya.

8. Memilih waktu yang tepat untuk belajar ataupun menghafal Al-Qur’an. Hal ini sangat penting, karena kita tak boleh menganggap anak seperti alat yang dapat dimainkan kapan saja, serta melupakan kebutuhan anak itu sendiri. Karena ketika kita terlalu memaksa anak dan sering menekannya dapat menimbulkan kebencian di hati anak. Oleh karena itu, jika kita ingin menanamkan rasa cinta terhadap Al-Qur’an di hati anak, maka kita harus memilih waktu yang tepat untuk mengajarkan anak berinteraksi dengan Al-Qur’an. Diantara waktu yang tidak tepat adalah: Setelah lama begadang/kurang tidur, setelah melakukan aktivitas fisik yang cukup berat, kekenyangan setelah makan, jadwal yang direncanakan anak untuk bermain, atau ketika anak dalam kondisi psikologi yang kurang nyaman misalnya ketika anak marah terhadap orang tua, hal ini agar anak tak membenci Al-Qur’an disebabkan perselisihan dengan orangtuanya. Semoga bermanfaat.[]

TERMASUK INTELEKTUAL (MUSLIM) YANG MANAKAH ANDA?

Renungan untuk Intelektual 3 (lanjutan)

Sebagai bagian dari masyarakat, Kaum intelektual sangat berperan dalam menciptakan baik dan buruknya masyarakat. Kiprahnya tidak dibatasi oleh kotak kepakaran/keahliannya saja. Dengan kelebihan daya nalar, pemahaman, ilmu pengetahuan dan keahlian yang dimilikinya, Kaum intelektual yang 'lurus' akan melibatkan dirinya dalam pengaturan urusan masyarakat; baik dengan memberikan konsep-konsep pemecahan problematika masyarakat yang dia temukan, maupun dengan kekritisan & koreksinya terhadap kebijakan penguasa yang tidak tepat. Dan bukan malah sebaliknya, menjual diri dan keilmuannya untuk menjadi penjaga dan pemberi stempel ilmiah bagi kebijakan-kebijakan penguasa yang merusak dan merugikan masyarakat, hanya demi keuntungan dan kesejahteraan diri dan keluarganya. Ingatlah nasehat dari Imam Ghazali berikut ini:

“Dulu TRADISI orang-orang berilmu adalah MENGOREKSI dan MENJAGA penguasa untuk menerapkan hukum Allah SWT. Mereka mengikhlaskan niat. Pernyataannya pun membekas dihati. Namun, sekarang terdapat penguasa yang zhalim namun ORANG-ORANG BERILMU hanya DIAM. Andaikan mereka bicara, pernyataannya BERBEDA dengan perbuatannya sehingga tidak mencapai keberhasilan. Kerusakan masyarakat itu akibat kerusakan penguasa, dan kerusakan penguasa akibat kerusakan orang-orang berilmu. Adapun kerusakan orang-orang berilmu akibat DIGENGGAM CINTA HARTA & JABATAN. Siapapun yang digenggam cinta dunia niscaya tidak akan mampu menguasai kerikilnya, apalagi untuk mengingatkan para penguasa dan para pembesar”
(Imam Ghazali)

CIRI INTELEKTUAL MUSLIM SEJATI

RENUNGAN UNTUK INTELEKTUAL 2 (lanjutan status sebelumnya)

Dari penjelasan yang diberikan Al Qur'an tentang Ulul Albab yang sudah kita bahas sebelumnya, bisa kita pahami CIRI INTELEKTUAL MUSLIM SEJATI:


1. Memiliki kepakaran/keahlian tertentu sesuai dengan bidang ilmu yang dikuasainya, Namun TIDAK membatasi pemikirannya pada satu kebidangan/kepakaran tertentu saja. karena sebagai intelektual, dia akan senantiasa membuka diri untuk 'membaca', berfikir & mengkaji apapun realita di hadapannya.

2. Dengan ketinggian penginderaan, kemampuan berfikir & analisisnya --> dia akan Menjadi org yang lebih dulu paham realita kehidupan yang ada di tengah-tengah masyarakat (apa saja kompleksitas problematika yang dihadapi, berikut akar persoalannya) --> itulah mengapa seorang intelektual sejati TIDAK MUNGKIN berprofil 'autis' (baca: hidup di dunianya sendiri, atau dalam kotak kebidangan/keilmuannya saja), tidak pula a-politis (baca: tidak mau tahu/terlibat dalam pengelolaan urusan masyarakat). Bahkan sebaliknya, dia akan menjadi pioneer & leader bagi upaya mewujudkan solusi problematika masyarakat yang sudah dia pahami apa akar masalah & solusinya.

3. Memahami ideologi Islam sebagai sumber solusi, sekaligus senantiasa menjadi sumber mata air tsaqofahnya untuk menyelesaikan semua jenis problematika masyarakat. --> inilah ciri khas dari seorang INTELEKTUAL MUSLIM yang membedakannya dari intelektual yang lain. Solusi yang ditawarkannya tidak akan bersifat praktis dan pragmatis saja, namun senantiasa ideologis. Tidak mungkin dia mencampakkan Ideologi yang sudah dia temukan dan dia yakini (melalui sebuah proses 'sadar' & BUKAN KEBETULAN) bahwa ideologi itulah jalan hidup terbaik yang dipilihnya.

Menuju #JICMI2013 (Jakarta International Conference of Muslim Intellectuals) —

Rabu, 28 Agustus 2013

RENUNGAN UNTUK INTELEKTUAL (1)


MERASA SUDAH MENJADI INTELEKTUAL KARENA MEMILIKI KEAHLIAN/KEILMUAN/GELAR TERTENTU?




Seseorang yang berkompeten/menguasai suatu bidang ilmu tertentu dan memiliki gelar akademik tertentu TIDAKLAH selalu tergolong sebagai INTELEKTUAL (mufakkir). Mufakkir atau intelektual (sejati) yang oleh Al Qur'an disebut juga dengan julukan ULUL ALBAB adalah mereka yang memiliki karakter & ciri-ciri sebagai berikut:

1) Senantiasa bersungguh-sungguh mencari ilmu (QS 3:7) dan memikirkan ciptaan Allah (QS 3:190).

2) Mampu memisahkan yang buruk (salah) dari yang baik (benar), kemudian mereka memilih yang baik, walaupun dirinya harus sendirian mempertahankan kebaikan itu dan walaupun kejelekan itu dipertahankan oleh banyak orang (QS 5:100)

3) Kritis dalam mendengarkan pembicaraan, pandai menimbang-nimbang ucapan, teori, preposisi atau dalil yang dikemukan oleh orang lain, lalu hanya mengikuti apa yang paling baik diantaranya (QS 39:18)

4) Menyampaikan ilmunya untuk memperbaiki masyarakatnya, memberikan peringatan kepada masyarakat (QS 14:52).

5) Tidak takut kepada siapapun, kecuali kepada Allah (QS 5:100 dan 65:10)

Sabtu, 20 Juli 2013

MENGAJARI ANAK MAKNA HARI RAYA

RUBRIK KONSULTASI PARENTING ISLAMI 

Bersama dr. Hj. Faizatul Rosyidah


PERTANYAAN:

Ustadzah, apa makna yang bisa diambil dan diajarkan kepada anak tentang hari raya? (Ibu Sri Wahyuni, Sidoarjo)

JAWABAN:
Bagi anak-anak, hari raya memang seringkali dikaitkan dengan momentum sukaria dan kegembiraan. Banyak makanan, kue enak, baju baru, jalan-jalan, dan mendapat salam tempel, adalah gambaran tentang lebaran atau hari raya di pikiran polos bocah-bocah tersebut. Bagaimana mengajarkan anak-anak kita makna Lebaran sesungguhnya? Apa saja pelajaran yang bisa kita berikan kepada anak-anak kita melalui momentum hari raya?

Tradisi 1: Suasana penuh kegembiraan. Bergembira di hari raya adalah suatu hal yang wajar dan memang seharusnya. Sebagaimana yang disampaikan Rasul SAW bahwa bagi orang berpuasa akan mendapatkan 2 kegembiraan; yang pertama adalah ketika dia berbuka (termasuk berhari raya setelah selama Ramadhan berpuasa), dan yang kedua adalah ketika dia menemui tuhannya (karena mendapatkan keridloan dan balasan kenikmatan dari Allah SWT). Jadi menciptakan hal-hal yang bisa membuat suasana gembira bisa dirasakan oleh semua, adalah hal yang diperbolehkan dan tidak masalah. Hanya saja pelajaran yang bisa kita berikan kepada anak-anak kita adalah pada apa yang sebenarnya membuat kita gembira. Kita bergembira karena telah berhasil melakukan ketaatan kepada Allah SWT (menyempurnakan puasa Ramadhan) dengan segenap usaha kita dalam menghadapi tantangan ataupun kesulitan apapun ketika menjalankan ketaatan tersebut.Kita juga bergembira karena kelak kita akan mendapatkan kenikmatan dan Ridlo dari Allah SWT sebagaimana yang Dia janjikan. Dan sebagai bentuk rasa syukur kita, maka kemudian kita berbagi dengan orang lain agar juga merasakan kegembiraan kita tersebut dengan menyediakan suguhan berupa makanan yang enak, berbagi hadiah, dan sejenisnya, agar orang lain tersebut juga menyebut Allah SWT dengan penuh kesyukuran atas segala nikmat-Nya. Namun kalau selama Ramadhan kita tidak melakukan puasa dan ketaatan pada perintah Allah SWT lainnya, maka sebenarnya kegembiraan tersebut adalah hal yang ‘semu’ atau tampilan luar saja. Bagaimana kita bisa bergembira sementara kita tahu bahwa kita akan menghadapi kemurkaan dan adzab dari Allah SWT karena telah melakukan kemaksiatan kepada Allah SWT?! Jadi tekankan pada anak untuk melakukan ketaatan, maka kita pasti akan merasakan kegembiraan yang sesungguhnya.

Tradisi 2: Baju Baru. Sebuah pepatah mengatakan “Hari raya bukanlah bagi mereka yang memakai baju baru, namun hari raya hakikatnya adalah bagi mereka yang ketaatannya bertambah”. Baju baru bisa menjadi simbol ke 'baru'-an atau bersih. Namun, tak berarti tanpa baju baru kita tidak bisa berhari raya. Harus diakui, terkadang stimulus dari orang tua maupun lingkunganlah yang membentuk anak terbiasa harus berhari raya dengan baju baru. Misal, orangtua selalu membiasakan membeli baju baru, tanpa memberikan pengertian. Atau anak melihat dari lingkungan, dimana tetangga atau masyarakat yang biasa membeli baju baru saat Lebaran. Pembiasaan inilah yang pada akhirnya membentuk pandangan atau persepsi bahwa Lebaran identik dengan baju baru. Agar anak tidak salah memahami, ada baiknya orangtua memberi contoh dengan tidak memakai baju baru saat hari Lebaran. Pakailah baju yang masih pantas dan bersih untuk shalat dan silaturahmi. Dengan keteladanan tersebut, sangat memungkinkan, anak akan bertingkah laku sama seperti orangtua; tidak menjadikan baju baru sebagai hal utama dalam berhari raya.

Tradisi 3: Angpau atau salam tempel. Sebenarnya filosofi pemberian angpau adalah berbagi kebahagiaan dengan menunjukkan atau berbagi kenikmatan yang diberikan Allah SWT kepada kita. Akan lebih baik lagi, jika uang tersebut dibagikan kepada mereka yang tidak mampu, agar dapat merasakan kegembiraan Lebaran. Libatkan si kecil saat kita menyisihkan angpau untuk dibagi-bagikan kepada orang lain yang lebih membutuhkan. Dengan begitu, si kecil akan memaknai Lebaran sebagai momen memberi kebahagiaan kepada orang lain atau berbagi. Bukan malah menganggap bahwa Lebaran adalah saat untuk ‘jajan’ banyak karena mendapat uang berlebih dari sanak saudara. Perlu diingat, berbagi kebahagiaan pada anak sebenarnya tidak harus dilakukan dengan memberikan uang. Bisa dengan memberikan hadiah bermanfaat yang menjadi ‘impian’nya sebagai sebuah reward/penghargaan atas usaha anak untuk melakukan ketaatan selama ramadhan. Artinya, sebenarnya tradisi pemberian angpau atau berbagi boleh-boleh saja asal disesuaikan dengan kemampuan, tidak dipaksakan dan filosofinya dipahami oleh anak-anak kita.

Tradisi 4: Mudik. Pulang kampung untuk merayakan lebaran juga menjadi tradisi. Ada baiknya memberikan pemahaman kepada anak esensi di balik mudik ini. Katakan kepada anak bahwa bertemu sanak saudara bukan tanpa maksud, bukan sekadar berkumpul untuk bersenang-senang. Lebih daripada itu adalah untuk menjalin silaturahmi. Juga merupakan momen tepat untuk memperkenalkan dan menjalin kedekatan dengan sebagian besar anggota keluarga yang selama ini mungkin masih belum dikenal oleh anak. Bagi kita yang kebetulan ”kaum urban”, ini persoalan yang sangat perlu mendapatkan perhatian khusus. Jangan sampai anak kita hanya tahu, tapi tidak memiliki kedekatan emosi dengan keluarga lain karena kita tidak pernah memfasilitasinya. Dengan begitu, perlahan-lahan, anak akan mengerti bahwa hari raya adalah kesempatan yang baik untuk menyambung tali silaturahmi dan saling memaafkan. Kita bisa menambahkan penjelasan Islam mengenai rahasia di balik silaturahmi yang mudah ditangkap oleh anak, misalnya orang yang membiasakan silaturahmi akan dipanjangkan umurnya atau akan dibukakan pintu rejeki yang lebih banyak atau juga akan diberikan berbagai kebaikan dalam hidup.

Tradisi 5: Saling maaf-memaafkan. Pada saat lebaran, anak kita melihat secara langsung betapa semarak dan semangatnya orang-orang di sekelilingnya untuk saling meminta dan memberi maaf. Realita tersebut bisa menjadi kesempatan yang bagus untuk menjelaskan mengenai pentingnya berjiwa besar untuk bisa memaafkan orang lain atau meminta maaf atas segala kesalahan yang kita lakukan.Pada saat anak berlebaran di kampung atau bersama keluarga besar, sangat mungkin di sana terjadi gesekan antara anak kita dengan anak lain. Maka pada saat gesekan tersebut muncul, ini juga momen yang bagus untuk mengajarkan kebiasaan saling memaafkan ini.Yang perlu ditekankan bahwa meminta maaf dan memberi maaf, sebenarnya harus kita lakukan kapanpun dan tidak harus menunggu momen hari raya.

Pelajaran lain yang bisa kita lakukan selama momen hari raya, adalah menanamkan kemandirian pada anak. Jika selama ini ada pembantu di rumah yang mengerjakan pekerjaan rumah, kini saatnya mengajarkan pada anak membagi pekerjaan tersebut dengan seluruh anggota keluarga, agar mereka juga belajar mandiri. Semoga bermanfaat.[]