Tempat berbagi
informasi, pemikiran,
kisah, artikel, tips, pengalaman, dan ilmu
berkaitan dengan
dunia medis, intelektual, dakwah, perempuan,

pendidikan anak,
remaja, keluarga dan generasi, juga sesekali barang jualan.....

Selamat Berlayar..........

Selasa, 14 Januari 2014

MENCEGAH PENGARUH NEGATIF TELEVISI

RUBRIK KONSULTASI PARENTING ISLAMI
Bersama dr. Hj. Faizatul Rosyidah

PERTANYAAN:

Assalamua'alaikum Wr. Wb.
Anak saya suka menonton acara TV yang banyak menampilkan joget, lawakan-lawakan yang tidak sehat dan nyanyian-nyanyian yang berbau jorok. Dan Anak saya suka menirukannya. Bagaimana solusinya Ustadzah? Terimakasih. (Ibu Sri Wahyuni, Sidoarjo)

JAWABAN:

Televisi saat ini sudah bukan merupakan barang mahal dan relatif mudah untuk didapat, sehingga jarang ditemukan sebuah rumah dengan anggota keluarga di dalamnya yang tidak memiliki televisi. Bukan hanya sebagai media informasi, TV juga dapat dijadikan sebagai media hiburan. Namun dibalik keunggulan atau kebaikan tersebut, tanpa disadari televisi juga memberikan berbagai dampak buruk bagi masyarakat, termasuk anak-anak kita.

Tidak dipungkiri hari ini TV sudah menjadi guru ‘efektif’ bagi anak-anak kita. Bahkan di dalam rumah-rumah kita sendiri, anak-anak kita malah mendapatkan lebih banyak ‘pelajaran’ dari televisi ketimbang dari orang tuanya. Banyak informasi positif yang bisa didapatkan oleh anak melalui televisi, namun tidak sedikit juga informasi dan teladan buruk bisa didapatkan anak karena kebiasaannya menonton televisi.

Adapun pengaruh negatif televisi bagi anak bisa karena konten atau materi yang ditayangkan, namun bisa juga karena pola menonton televisi anak. Pengaruh negatif televisi tersebut bisa mengakibatkan gangguan fisik, goyahnya keyakinan/aqidah, munculnya problematika perilaku hingga gangguan psikologis.

Secara fisik, pola menonton televisi yang tidak benar (seperti terlalu lama dengan posisi tubuh yang tidak tepat, terlalu dekat jarak pandangnya, terlalu keras volumenya dan terlalu sering frekwensinya) bisa mengakibatkan gangguan kesehatan mata, pendengaran, nyeri tulang belakang hingga terjadinya kelebihan berat badan/obesitas.

Sementara fantasi tidak benar tentang asal usul kehidupan, manusia dan alam semesta ini, kekuatan apa yang mengendalikan kejadian-kejadian di dunia (misalnya dikendalikan oleh kekuatan monster, sihir, ataupun teknologi canggih yang digambarkan sebagai sumber dari segala kehebatan/kekuatan, dalam film atau sinetron misalnya), penggambaran kehidupan sesudah kematian yang tidak benar (seperti roh bergentayangan, dsb) jika tidak disertai dengan pemberian informasi yang benar oleh orang tua, akan bisa merusak keyakinan/aqidah Islam yang sudah kita tanamkan pada anak.

Pengaruh buruk pada perilaku bisa dalam bentuk munculnya rasa malas melakukan aktivitas lain karena terlalu asyik menonton televisi, banyak membuang waktu sia-sia hingga melalaikan pekerjaan yang seharusnya menjadi kewajiban, budaya konsumtif karena bujuk rayu iklan yang diputar berulang-ulang dengan gaya persuasi yang meyakinkan, ditirunya secara total gaya berdandan hingga kebiasaan-kebiasaan para artis-artis yang belum tentu benar, lirik lagu yang cenderung vulgar dan porno, gaya bercanda berlebihan yang tidak jarang diselingi omongan-omongan jorok ataupun hinaan kepada lawan main, kekerasan, gaya joget beragam yang kadang mengandung gerakan tidak pantas, hingga perilaku seksual yang cenderung bebas dan contoh-contoh perilaku salah lainnya, harus diakui hari ini banyak ditiru anak anak kita dari televisi.

Sementara pengaruh kepada psikologis, mental dan kejiwaan anak bisa berupa berubahnya anak kita menjadi penakut karena terlalu seringnya menonton film-film horror. Banyaknya adegan kekerasan yang ditonton anak yang kemudian mempengaruhi kejiwaannya menjadi anak yang kasar, nakal dan emosional. Selain itu, terlalu banyak menonton televisi akan menjadikan seorang anak menjadi lebih individualis dan kurang melakukan sosialisasi dengan lingkungan sekitar. Mental pribadi instant, yang selalu ingin mendapatkan kesenangan segera tanpa usaha, ataupun gaya hidup hedonis dan materialistis, malas berusaha namun mudah menyerah hingga inspirasi melakukan tindak kriminalitas tertentu, hari ini kita saksikan seringkali diperoleh anak-anak kita dari tayangan televisi.

Sebagai media informasi dan juga hiburan, bisa jadi tidak mungkin bagi kita untuk menyingkirkan televisi dari kehidupan sehari-hari, namun beberapa tips berikut ini bisa kita gunakan untuk meminimalisir pengaruh negatif televisi pada anak kita:

1. Buat dan tentukanlah jadwal menonton televisi bagi anak, libatkan mereka dalam penetapan jadwal tersebut, sampaikan argumentasi kita mengapa jadwalnya seperti itu agar anak lebih mudah paham dan memberikan komitmennya untuk mentaati jadwal yang sudah disepakati tersebut. Jangan pernah membiarkan seluruh acara televisi memenuhi seluruh waktu yang dimiliki oleh anak-anak kita.

2. Pilihlah acara televisi yang bisa menjadi sarana dan kesempatan bagi kita mengajarkan kebenaran dan kebaikan kepada anak-anak kita. Carilah program yang sesuai dengan umur dan perkembangan mereka.

3. Agar anak memiliki variasi pilihan kegiatan, berikanlah kepada anak kegiatan-kegiatan yang bisa menjadi hiburan pengganti –namun bermanfaat- baik dalam bentuk kegiatan di dalam ataupun di luar rumah. Seperti bermain bersama, membaca buku cerita bersama, berolahraga, dan lain sebagainya.

4. Berikanlah contoh riil kepada anak dengan cara orang tua tidak menonton program acara televisi yang tidak bermanfaat dan bertentangan dengan agama. Bukankah sangat susah bagi anak untuk membenci acara joget-joget porno kalau setiap hari anak melihat orang tuanya sangat senang menikmati tontonan tersebut?! Jadi berilah teladan yang baik.

5. Janganlah menjadikan televisi sebagai alat untuk menenangkan anak ketika mereka rewel misalnya (sebagaimana yang sering dilakukan oleh para pembantu kita yang tidak terlalu peduli dengan kualitas anak kita), atau untuk memberikan ganjaran atau hukuman.

6. Tanamkanlah pada diri anak untuk benar-benar memiliki manajemen waktu yang bagus (kapan waktunya belajar, bermain, istirahat, nonton TV, dsb), melalui ucapan dan tindakan kita, agar anak tidak hanya menghabiskan waktunya di depan televisi.

7. Sesekali, bolehlah kita berikan hadiah bagi anggota keluarga yang paling jarang menonton televisi dalam seminggu, atau kepada anak yang sudah disiplin menetapi jadwal menonton TV nya sebagai penghargaan.

8. Hendaknya memperhatikan syarat-syarat kesehatan dalam menonton televisi, seperti minimal jarak antara televisi dan penonton adalah 5 x diagonal TV, layar TV sejajar dengan pandangan mata atau di bawahnya, dan ruang tempat menonton harus terang untuk menetralisasi cahaya yang memancar dari layar televisi, tidak terlalu lama, dan dalam posisi tubuh yang baik.

Yang harus disadari oleh kita para orang tua dan pendidik, di usianya saat ini, anak-anak kita adalah para pembelajar yang sedang belajar untuk mengenali dan memahami nilai-nilai dan perilaku yang benar. Sampai perilaku dan nilai ini terinternalisasi, wajar jika mereka harus berkali-kali kita ingatkan. Sebagaimana kita yang sudah dewasa, tidak jarang kita juga melakukan kesalahan dan butuh diingatkan. Anak-anak kita pun tak jarang seperti menguji kekuatan kita dalam menerapkan batasan dan menanamkan kedisiplinan. Karena itu sikap istiqomah, kesabaran dan keikhlasan dalam proses mendidik mereka adalah suatu keniscayaan. Semoga bermanfaat.[]