Tempat berbagi
informasi, pemikiran,
kisah, artikel, tips, pengalaman, dan ilmu
berkaitan dengan
dunia medis, intelektual, dakwah, perempuan,

pendidikan anak,
remaja, keluarga dan generasi, juga sesekali barang jualan.....

Selamat Berlayar..........

Kamis, 14 Oktober 2010

REVITALISASI PERAN INTELEKTUAL MERESPON TANTANGAN GLOBAL

Geliat para intelektual di seluruh lini field of interest pada dekade terakhir menunjukkan gejala pergeseran dari fitrahnya. Fitrah sebagai manusia, fitrah sebagai mahluk ciptaan Allah SWT yang paling mulia di antara segala mahluk ciptaan Nya, dan fitrah sebagai mahluk ciptaan Nya yang paling tinggi derajatnya di antara mahluk yang tidak dikaruniai ilmu. Pergeseran tersebut melahirkan dampak yang luar biasa, baik dari aspek perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, maupun dari sisi munculnya “orde jahiliyah” yang meresahkan kehidupan di dunia ini.

Zaman jahiliyah yang pernah hadir di era Rasulullah SAW sangat berbeda dengan zaman sekarang. Di era global, semua petunjuk untuk mengatur kehidupan manusia telah diturunkan oleh Allah SWT melalui malaikat dan rasul Nya. Petunjuk yang telah dikemas dalam ayat-ayat Al Qur’an dan tidak diragukan kebenarannya, telah di breakdown secara sempurna melalui tuntunan Rasullah dalam haditsnya. Manusia tinggal mengakses untuk diimplementasikan dan dengan perkembangan teknologi dewasa ini, sarana-prasarana yang memfasilitasi manusia dalam menapaki kehidupan untuk mewujudkan rahmatan lil’alamin bukanlah hal yang sulit, namun manusia terkecoh untuk meraih kebahagiaan dunia semata. Kebahagiaan yang dianggap sebagai tujuan hidup, sehingga sangat didambakan dan diperebutkan dengan berbagai cara.

Hakikat kehidupan dunia merupakan lahan bagi manusia untuk merefleksikan kapasitas ibadahnya kepada Allah SWT (hubungan vertikal), yang dimanivestasikan dalam bentuk aktivitas hubungan horizontalnya dengan sesama mahluk, sebagai cabang ibadah muamalah. Kehidupan dunia juga merupakan bagian integral yang tidak terpisahkan dari seluruh proses penciptaan manusia sampai dengan saatnya dia harus kembali menghadap ke hadirat Nya. Untuk dapat mengintegrasikan kedua bentuk interaksi tersebut, manusia harus paham benar hakekat dan prosesi penciptaannya dan untuk apa dia diciptakan, sehingga terukir kepribadiaan Islam yang kokoh di dalam dirinya. Pengkristalan kepribadian yang dibentuk dari pemahaman melalui proses berpikir tentang Sang Pencipta yang sudah ada sebelum manusia diciptakan dan tetap ada ketika seluruh mahluk ciptaan Nya musnah dari muka bumi ini, akan melahirkan aqidah yang sangat kuat. Nah! Aqidah inilah yang akan selalu menjadi rujukan dalam setiap aktivitasnya, mulai dari penetapan kerangka konseptual sampai dengan implementasi kerangka operasionalnya. Apabila semua manusia berproses mengikuti sistematika tersebut, insya Allah produk aktivitasnya akan menentramkan hati dan memuaskan akal semua manusia, karena tidak ada satu aspekpun yang bertentangan dengan fitrah manusia. Seluruh aktivitasnya akan senantiasa disandarkan kepada tujuan untuk beribadah kepada Allah semata, yang memiliki kekuasaan dan kekuatan mutlak, tidak terbatas dan tidak tertandingi sampai akhir zaman.

Gejala pergeseran orientasi peran strategis para intelektual terhadap keberlangsungan kehidupan dunia ternyata tidak hanya terjadi di Indonesia, melainkan sudah mendunia. Kenapa hal ini dapat terjadi?. Jawabnya adalah sistem kehidupanlah yang menjadi faktor kunci. Ideologi kapitalis dan liberalis yang masing-masing memposisikan agama sebagai pelengkap bukan sebagai pengatur kehidupan bahkan mengeluarkannya dari siklus kehidupan manusia, sehingga kebebasan meraih kebahagiaan dunia menjadi instrumen atau alat ukur di seluruh lini kehidupan. Kedua ideologi inilah yang mampu menguasai kehidupan para intelektual di era global, sehingga mereka sama sekali tidak diberi kesempatan untuk berproses dan melakukan aktualisasi diri secara fitrah, karena dibelenggu oleh tuntutan berpikir secara pragmatis dan instan. Kenapa kedua ideologi tersebut dapat tumbuh subur?. Karena keduanya menawarkan kemudahan-kemudahan untuk mencapai kebahagiaan semu yang banyak diidam-idamkan oleh manusia. Mereka menghadang semua upaya untuk mengkondisikan para pakar mengenali dirinya sebagai manusia secara hakiki. Ada satu faktor abstrak yang juga harus diperhitungkan adalah peran syaithon yang akan senantiasa mengganggu manusia dari segala penjuru, menjadikan manusia memiliki kecenderungan berbuat fasik, kecuali mereka yang berpegang teguh kepada syariat Islam.

Bagaimana menciptakan kondisi yang kondusif bagi para intelektrual untuk menegakkan syariat Islam melalui kepakarannya?. Jawabnya adalah, ketika hal ini sudah menjadi tuntutan semua orang dan gejala tuntutanpun sudah mengglobal, tidak ada jalan lain harus diwujudkan ideologi “tandingan” yang memiliki roh syariat Islam. Bagaimana mungkin para pakar akan berkiprah secara fitrah sesuai tuntutan syariat Islam dalam suatu lingkungan yang tidak islami?. Bagimana mungkin para pakar dapat diberdayakan secara optimal untuk memaksimalkan peran kepakarannya dalam menyelesaikan masalah umat kalau tidak didukung oleh sistem yang kondusif?. Sementara, hanya para pakarlah (yang telah dikaruniai potensi berpikr secara cemerlang) yang memiliki potensi untuk menguak tabir ideologi apapun bentuknya yang menyelimuti ideologi berbasis syariat islam. Di pundak para pakarlah tanggung jawab ini bertengger, karena merekalah yang memiliki kapasitas.

Para intektual seharusnya tumbuh dan berkembang di atas pilar aqidah aqliyah, suatu proses pemahaman terhadap alam semesta, manusia dan kehidupannya melalui pemikiran secara utuh dan terintegrasi. Konsep ini harus ditanamkan sejak manusia mengenal dunia pendidikan baik secara formal maupun nonformal. Secara rinci dapat disebutkan bahwa niat untuk menjadi pakar sudah harus diluruskan sejak awal dan akan secara otomatis terpenuhi, ketika seseorang paham akan posisi dirinya terhadap Sang Pencipta. Kepakaran yang diraih melalui prosesi berbasis aqidah dan syariat Islam pasti akan diperuntukkan sesuai tuntutan kompetensi syariat Islam, yaitu untuk menyelesaikan masalah dan kemaslahatan umat. Inilah alasannya, kenapa kepakaran harus dibangun di atas pilar syariat Islam. Esensi syariat Islam jelas tidak akan melenceng dari mewujudkan umat yang mulia di hadapan Sang Pencipta dan umat yang mulia adalah umat yang bertaqwa. Seseorang yang pakar di bidang sains dan teknologi misalnya, harus paham benar untuk apa alam semesta ini diciptakan, apa yang terkandung di dalam alam semesta ini, bagaimana mengeksplorasinya, mengelolanya dengan benar dan memanfaatkannya dengan amanah untuk kelangsungan hidup manusia.

Dengan bekerjasama secara sinergi, melibatkan para pakar dari berbagai bidang minat, akan terciptalah suatu sistem yang berkembang di atas kehidupan yang rahmatan lil’alamin secara global, bukan hanya di Indonesia. Tidaklah optimal kalau kita hanya menciptakan iklim yang kondusif untuk tegaknya syariat Islam hanya di suatu wilayah, misalnya Indonesia, sementara di wilayah lain masih tetap terjajah oleh ideologi lain. Pasti lama-lama akan tetap ada komunitas yang akan menggilas roda kehidupan di wilayah yang sudah tegak syariat Islamnya. Ini tidak fitrah. Allah menciptakan Islam untuk seluruh umat di dunia, sebagai satu-satunya agama yang telah disempurnakan untuk mengatur kehidupan manusia di dunia. Jadi kepakaran yang dikembangkan berbasis pada syariat Islam merupakan jaminan dapat menyelesaikan permasalahan umat sedunia. Visi ini akan terwujud, apabila dutunjang oleh sistem yang kondusif, yaitu tegaknya sistem kehidupan berbasis syariat Islam.

Bagaimana fakta yang terjadi sampai hari ini?. Para intelektual yang seharusnya mengemban amanah menyelesaikan problematika masyarakat atau umat, mulai dibelokkan dari tujuan mulia ini dengan menggiring aktivitasnya untuk kepentingan yang sifatnya personal atau golongan tertentu, yang ujung-ujungnya untuk kemakmuran pribadi. Fitrah penciptaan alam semesta, manusia dan kehidupan serta hubungan ketiganya dengan Sang Khaliq seperti uraian di atas, sudah banyak dilupakan. Bahwa hakekat penciptaan manusia dan bahkan jin tidak lain hanya untuk beribadah, kemudian salah satu manivestasi ibadah adalah menuntut ilmu, sehingga dapat dijadikan sarana guna mengeksplor kekayaan alam semesta yang telah dihamparkan oleh Allah SWT, selanjutnya hasilnya dapat dimanfaatkan oleh seluruh umat untuk mewujudkan rahmatan lil’alamin, mulai ditinggalkan. Dampak semua ini adalah fakta yang ironi bahwa lahirnya para pakar justru meningkatkan kuantitas problematika umat. Para penguasa yang memiliki wewenang penuh dalam memfasilitasi terciptanya era yang kondusif bagi para pakar untuk berkiprah secara bebas sesuai tuntutan kompetensi syariat Islam demi “kemakmuran” rakyat masih terbelenggu oleh peraturan dan hukum yang diberlakukan dan beberapa bertentangan dengan syarita Islam. Kalau toh tidak bertentangan, implementasi dan/atau produk hukumnya seringkali bertentangan dengan syariat Islam.

Manusia tidak sadar, bahwa ketika kita meninggalkan perintah dan mengerjakan laranagn syariat Islam, yang muncul pasti kesulitan dan kesengsaraan. Sebagai contoh, setting kurikulum berbasis kompetensi untuk mencetak para pakar yang handal, sampai hari inipun masih diperdebatkan mulai dari jenjang pendidikan dasar, menengah, sampai dengan perguruan tinggi. Fenomena ini selalu berakhir dengan pertanyaan, apakah lulusan sudah memenuhi kompetensi?. Biasanya untuk menjawab pertanyaan ini kita merujuk kepada instrument pengukurnya yang berbasis faktor-faktor instansi, misalnya untuk perguruan tinggi: waiting time for getting first job atau waktu tunggu, IPK, masa studi, atau diimbuhi dengan beberapa parameter soft skill dan addition skill dari pelatihan-pelatihan tambahan yang sifatnya temporary. Sementara, fokus perhatian dan relevansi pengembangan perguruan tinggi sebagai wadah yang menggodok para intelektual secara nasional di addressed untuk meng goal kan World Class university yang instrumen atau parameter pengukurnya berkiblat ke Negara barat. Sebagai contoh jumlah publikasi internasional, jumlah kerjasama internasional, jumlah produk yang di patent kan, sementara internal capacity kita masih rapuh atau masih perlu konsolidasi. Ini bukti konkrit bahwa instrumen-instrumen yang digunakan untuk mengukur derajat ketercapaian kompetensi tidak fitrah, tidak sesuai dengan sunatullah, sehingga hasilnyapun selalu tidak acceptable dan tidak pula applicable, walaupun dipaksakan dengan cara apapun. Untuk itu, tidak ada jalan lain, kecuali kembali ke fitrah. Islam sudah memberikan panduan dan tuntunan yang jelas, bagaimana proses pendidikan yang benar, bagaimana prosesi mencetak pakar yang berkepribadian Islam dan bagaimana pula memberdayakan para pakar untuk kemaslahatan umat.

Sebagai penutup dapat disampaikan bahwa sudah saatnya kita kembali ke fitrah, jangan dibiarkan kondisi terpuruk menjauhi kiblat syariat islam ini berlanjut sampai akhir zaman. Hendaknya ada di antara umat segolongan pakar yang peduli untuk berkontribusi merubah wajah kehidupan dunia ini sesuai tuntutan fitrah, bukan mengikuti dan tunduk pada trend tuntutan global yang semakin lama semakin jauh dari arah kiblat menuju kemuliaan umat. Revitalisasi peran para pakar yang hakiki adalah kembali ke fitrah penciptaan para pakar untuk menghadapi tantangan global berbasis syariat Islam. Arus globalisasi sudah begitu deras menerpa kehidupan melalui ideologi para pakar, sehingga hanya syariat Islamlah senjata yang paling ampuh untuk membendung arus tersebut. No Choice!.

Marilah kita bersama-sama saling mengingatkan bahwa Hari kiamat pasti datang, perhitungan amal perbuatan seluruh umat pasti dilaksanakan dengan seadil-adilnya. Semoga Allah SWT tidak hanya meninggikan derajat para ilmuwan, melainkan juga mengangkatnya dari kanca kenistaan ke jalan yang diridhoi Nya. Amien. Wallahu ‘alam.


Penulis:
DR. Isnaeni, M, Si, Apt.
Majelis Wali Amanah Unair
Kaprodi Pasca Sarjana Farmasi Unair

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar