Tempat berbagi
informasi, pemikiran,
kisah, artikel, tips, pengalaman, dan ilmu
berkaitan dengan
dunia medis, intelektual, dakwah, perempuan,

pendidikan anak,
remaja, keluarga dan generasi, juga sesekali barang jualan.....

Selamat Berlayar..........

Selasa, 04 November 2014

MENYELESAIKAN PERSELISIHAN ORTU-ANAK

Bersama dr. Hj. Faizatul Rosyidah
--------------------------------------------------------------------------------------------

PERTANYAAN:

Assalaamu'alaikum Wr. Wb.

Di jaman sekarang ini banyak anak yang pola pikirnya berbeda dengan orang tuanya. Keinginan orang tua untuk menjadikan anaknya lebih baik terkadang menurut anak terlalu protektif. Alhasil sering terjadi perselisihan orang tua dan anak.
1. Apakah faktor yang menyebabkan tejadinya perselisihan anak dengan orang tuanya?
2. Apa yang harus dilakukan orang tua dalam hal ini menurut pandangan Islam?
Terimakasih. Wassalam (TIM MEDIA WH)


JAWABAN:
Manusia bertingkah laku dan menjalani kehidupan ini sesuai dengan pemahaman yang dimilikinya. Pemahaman yang berbeda akan menentukan tingkah laku yang berbeda pula. Seorang muslim yang memahami standard perbuatan adalah halal-haram, akan melakukan pernikahan karena itu halal, dan akan menjauhi zina karena itu haram. Demikian pula seorang muslim tadi akan berusaha menutup auratnya karena hukumnya adalah wajib (halal), dan tidak mau menampakkan auratnya di depan publik karena itu keharaman. Berbeda halnya dengan seseorang yang berprinsip standard perbuatan adalah kemanfaatan semata dan bukan halal-haram. Maka jika sekiranya dalam pandangannya minum khamr bisa bermanfaat menghangatkan badannya, daging babi bisa mengenyangkannya, memakai pakaian yang terbuka lebih nyaman untuk dipakai di daerah tropis, dia pun akan melakukan perbuatan minum khamr, makan daging babi ataupun berpakaian minim dan membuka aurat di depan publik sebagaimana pemahaman yang dimilikinya tersebut.

Pemahaman yang berbeda ini dihasilkan oleh pola pikir yang berbeda diantara keduanya. Pola pikir (aqliyah) adalah cara yang digunakan untuk memikirkan sesuatu; yakni cara mengeluarkan keputusan hukum tentang sesuatu, berdasarkan kaidah tertentu yang diimani dan diyakini seseorang. Ketika seseorang memikirkan sesuatu untuk mengeluarkan keputusan hukum terhadapnya, dengan menyandarkannya kepada akidah Islam, maka aqliyah-nya merupakan aqliyah Islamiyah (pola pikir Islami). Jika tidak seperti itu, maka aqliyah-nya merupakan aqliyah yang lain. Sama-sama hendak menghukumi aktivitas makan babi, bisa menghasilkan dua kesimpulan yang berbeda jika disandarkan kepada aqidah/keyakinan/standard yang berbeda. Agar pola pikir Islami seseorang semakin baik, maka dibutuhkan penguasaan terhadap tsaqofah Islam (ilmu yang disandarkan pada aqidah Islam), seperti pemahaman yang dia miliki terkait penjelasan-penjelasan syariat tentang segala hal dalam kehidupan ini.

Perbedaan pemahaman yang dihasilkan dari pola pikir yang berbeda inilah diantara sebab tersering terjadinya perselisihan dalam keluarga, baik antara suami istri, maupun antara orang tua dan anak. Karena itu, kita harus membangun keluarga kita di atas pondasi komitmen kita untuk senantiasa menjadikan halal-haram dan syariah Islam sebagai rujukan dalam menyelesaikan permasalahan apapun yang kita hadapi. Kita harus menanamkan pemahaman bahwa setiap orang harus mau dikoreksi dan tunduk kepada tuntunan-Nya. Dalam hal ini, orang tua harus menjadi teladan terbaik bagi anak dalam berusaha berjalan dalam kebenaran dan ketaatan dalam Islam tersebut. Kalau ternyata ada kesalahan yang kita lakukan karena khilaf, maka kita pun harus bisa memberi contoh kepada anak bagaimana mengakui kesalahan yang kita lakukan dan segera tunduk kepada kebenaran yang ditunjukkan kepada kita tersebut.

Sebab tersering lain terjadinya konflik/perselisihan orangtua dan anak yang berujung pada ‘pembangkangan’ yang dilakukan anak adalah tidak adanya keakraban antara orangtua dengan anak. Secara alamiah, dalam situasi normal, kita akan lebih ‘mendengar’ perkataan orang yang kita kenal dibandingkan orang tidak kita kenal bukan? Lalu kita pun akan lebih ‘mendengar’ perkataan orang yang akrab dengan kita, dibandingkan dengan perkataan orang yang hanya ‘dikenal’ kita. Ketidakakraban orangtua-anak dapat menyebabkan orangtua kurang ‘mendengar’ anak dan akhirnya anak pun kurang ‘menerima’ pesan orangtua.

Hari ini, banyak anak 'terlantar' meski orangtuanya lengkap. Mereka terlantar secara emosional. Sebagian anak jadi 'yatim piatu' pada saat orangtuanya lengkap. Orang tua sangat jarang bicara dengan anak. Kalaupun bicara, hanyalah dalam bentuk perintah atau marah. Jarang mendengar curhat anak, namun terlalu sering mengkritik dan menasihati anak. Alasan ketiadaan waktu karena sudah sangat tersita dengan pekerjaan, telah membuat anak menjadi ‘jauh’ secara emosional dengan orangtuanya. Karena itu, untuk mencegah dan meminimalisir perselisihan karena sebab ini bisa kita lakukan dengan senantiasa menjalin kedekatan dengan anak-anak kita.

Sebab terjadinya perselisihan orang tua-anak yang lain adalah karena upaya pengendalian orang tua yang bersifat dogmatis, saklek dan terlalu berlebihan terhadap anak, dengan tanpa berupaya menjalin kedekatan untuk memenangkan hatinya, maupun tanpa membangun pemahaman sang anak, terutama kepada mereka yang sudah aqil baligh (beranjak dewasa). Seringkali, orangtua terlalu cepat mengambil keputusan dan menganggap anak bersalah, tanpa berusaha memahami mengapa perselisihan terjadi antara kita dengan anak kita. Oleh karena itu penting bagi orangtua untuk belajar mendengar lebih banyak agar bisa menangkap apa yang menjadi kebutuhan anak. Demikian pula, penting bagi orang tua untuk memberikan ruang dan kepercayaan kepada anak untuk belajar mengambil keputusannya sendiri, sesuai tahapan tumbuh kembangnya, setelah kita pastikan telah memberikan kepada mereka modal ilmu pengetahuan dan pemahaman yang mereka butuhkan.

Yang terakhir, perselisihan adakalanya bisa terjadi karena perbedaan karakter pribadi yang bersifat sangat individual satu sama lain. Sebagai orangtua kita harus memahami hal ini, dan tidak memaksakan ‘karakter’ pribadi kita agar mereka tiru/duplikasi secara persis. Setiap anak kita adalah pribadi tersendiri yang unik, berbeda dengan orang lain termasuk kita. Maka menghargai anak kita sebagai pribadi yang utuh dan berbeda dengan kita, selama mereka berjalan dalam koridor kebenaran adalah sebuah keniscayaan. Dengannya, kelak anak kita tersebut akan belajar untuk menghargai sesamanya. Semoga bermanfaat []

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar