Tempat berbagi
informasi, pemikiran,
kisah, artikel, tips, pengalaman, dan ilmu
berkaitan dengan
dunia medis, intelektual, dakwah, perempuan,

pendidikan anak,
remaja, keluarga dan generasi, juga sesekali barang jualan.....

Selamat Berlayar..........

Minggu, 21 Januari 2018

Mencegah Kecanduan Gadget pada Anak



Bagaimana Mencegah/Mengatasi Kecanduan Anak pada Gadget? 

Ini adalah pertanyaan yang akhir-akhir ini selalu saya dapatkan ketika sedang berbagi dalam forum-forum parenting/sejenis ketika sesi tanya jawab/interaktif, meski tema forum hari itu bukan secara langsung membahas hal tsb. Pun demikian dengan 2 forum yang saya hadiri akhir minggu ini, satunya forum yang mempertemukan para wali murid dan guru sebuah TK/KB di Surabaya Selatan yang meminta saya berbicara tentang "Pilih Pintar atau Karakter?" dan forum lainnya adalah pengajian umum keluarga besar karyawan sebuah pabrik beton di Pasuruan yang meminta saya melakukan sharing seputar "Mendidik Anak Bertanggung jawab". Beda peserta, beda rerata usia ortu dan juga usia anak yg sedang dikonsultasikan. Tapi sedang dalam masalah yang sama. Gadget telah mengendalikan anak saya! Begitulah kira-kira singkatnya.

Ya. Hari ini, di tengah era dan dunia digital yang menawarkan beragam paket kemudahan, kecanggihan, kreativitas, koneksi dan lainnya untuk kita melakukan banyak hal bermanfaat, di sisi lain, tidak kita pungkiri menyeruak banyak rasa sesak, galau, sedih, khawatir, ketakutan hingga kemarahan tertumpah, melihat pelan tapi pasti gawai-gawai canggih tersebut telah mengambil alih kendali anak-anak kita.

Lalu apa yang harus kita lakukan? Sebelum bicara bagaimana solusi untuk anak-anak kita atau bahkan mungkin kita sebagai ortu yang sudah terlanjur kecanduan gadget, saya ingin memfokuskan tulisan kali ini pada bagaimana kita mencegah hal ini. Karena mengobati kecanduan selain membutuhkan effort yang lebih berat dan seringkali juga membutuhkan bantuan ahli/profesional tertentu, mencegah anak-anak ataupun kita sendiri terjatuh pada kecanduan gadget tentu saja lebih baik dan lebih mudah untuk dilakukan. Ibarat proses terjadinya sakit, maka kecanduan gadget bisa dianggap sebagai keadaan patologis/sakit, tentu saja mencegahnya adalah lebih baik.


Jadi bagaimana mencegah anak-anak kita agar tidak terjatuh pada keadaan kecanduan gadget?

1. Membangun kepribadian Islam yang kokoh pada anak kita adalah kuncinya. Gadget/gawai sejatinya hanyalah benda/alat, secanggih dan sehebat apapun dia, tidak akan bisa memaksa manusia menggunakannya dengan cara yang salah ataupun memaksanya untuk melakukan kesalahan, kemaksiatan atau keburukan dengannya. Dia hanyalah sebuah madaniyah 'aam (benda hasil teknologi yang bersifat umum) yang memiliki potensi untuk dimanfaatkan melakukan kebaikan ataupun sebaliknya. Penentunya adalah siapa yang memegang dan menggunakannya. Maka memastikan anak kita terbangun pola pikir dan pola sikap Islamnya sehingga dia memiliki kemampuan berpikir dan bersikap dengan tepat, termasuk kapan,dimana dan untuk apa dia menggunakan gadget adalah modal dasar usaha kita ini.


2. Jangan pernah memberikan kepada anak usia dini (0-7 tahun) gadget sebagai sarana bermain ataupun belajar tanpa pendampingan orang tua. Jangan pernah pula menjadikan gadget sebagai alat untuk mendudukmaniskan anak-anak kita, semata agar kita tidak terganggu ketika melakukan aktivitas/kesibukan kita sendiri. Apalagi usia 0-4 tahun, dimana perkembangan otak anak sedang dalam kecepatan tertingginya. Membiarkan mereka tenggelam dalam gadget dengan alasan apapun, bukanlah melejitkan kemampuan mereka, justru sebaliknya. Speech delay, egois, tantrum dan kesulitan mengendalikan diri adalah diantara akibat yang sangat mudah kita temui ketika anak-anak kita tersebut mulai ‘dikendalikan’ gadget yang kita berikan kepada mereka.

Sebaliknya, perbanyaklah melakukan aktivitas yang memperkuat bonding kita dengan mereka, seperti bermain bersama, belajar bersama, story telling, membaca(kan) buku, dan aktivitas lain sejenis yang tidak hanya memperkuat bonding kita dengan mereka, namun juga bermanfaat dalam melakukan instalasi kepribadian Islam anak kita. Dan ingat, lakukan itu semua sepenuh hati dan perhatian, dengan tentu meninggalkan (godaan) gadget kita ketika sedang membersamai mereka.


3. Jangan memberikan gadget berjaringan internet sebelum anak kita siap. Kapan itu? Yaitu sebelum kita yakin pada diri anak kita sudah terbangun syakhsiyah Islamiyah (kepribadian islam), yang seharusnya sudah kita pastikan terbangun sebelum anak kita menjadi mukallaf (aqil baligh) dengan rerata usia biologis (secara fiqh) sekitar 14 tahun. Sebelum nanti pada kelanjutan usianya sang anak (dengan bantuan/arahan kita) meneruskan perjalanannya dalam membina diri untuk lebih menancapkan, memperkuat dan melejitkan lagi kualitas kepribadian islamnya.

Sebagai tambahan informasi, Bill gate dan steve Jobs sendiri sebagai inventor dan pendiri industri teknologi digital/komputer dunia menegaskan bahwa anak seharusnya TIDAK dibolehkan memiliki ponsel pintar atau sebelum usianya 14 tahun. Sebuah rekomendasi yang hari ini diamini oleh pakar parenting dan ahli teknologi, yang diperkuat oleh hasil penelitian mutakhir yang juga telah membuktikan bahwa membiarkan anak menyentuh teknologi terlalu dini bisa berdampak buruk.


4. Ketika dirasa memang sudah dibutuhkan gadget untuk berkomunikasi dengan anak-anak, berikanlah kepada mereka handphone dengan fitur standar, khusus untuk menelepon dan sms saja, bukan smartphone. Hal itu akan lebih memudahkan anak-anak kita menghindarkan diri dari berlama-lama melihat/menggunakan gadget tanpa ada keperluan.


5. Untuk anak-anak usia sekolah dimana mulai dibutuhkan akses internet untuk proses belajar mereka, maka berikanlah akses tersebut dengan orang tua sebagai pengendali pasokan jaringan internet bagi mereka, dan dampingi mereka dalam mengakses apa yang mereka cari/butuhkan. Kuota akses diberikan dalam bentuk jaringan wifi bersama di rumah, bukan di gadget pribadi mereka, dengan tempat mengaksesnya dilakukan di ruang keluarga (bukan di kamar tidur mereka) sehingga mudah bagi orang tua untuk memantau aktivitas mereka. Meletakkan dan membiarkan televisi, komputer maupun smartphone (diakses) di kamar tidur anak akan menciptakan kondisi ‘bedroom culture’ yang akan menjadi masalah tersendiri bagi kita kelak. (Sementara ini silakan cari sendiri apa itu bedroom culture.)


6. Pastikan konten yang diakses anak-anak kita steril dari pornografi. Karena pornografi itu sendiri memiliki mekanisme tersendiri untuk memunculkan kondisi kecanduan bagi pengaksesnya. Secara teknis, kita bisa menggunakan setting ‘ramah anak’ pada gadget yang mereka gunakan, termasuk melengkapinya dengan berbagai aplikasi (seperti kakatu/sejenis) untuk membantu mencegah anak-anak kita ‘tersesat’ mengakses konten-konten yang ‘berbahaya’ bagi mereka.


7. Tetapkan/beri batasan waktu ketika mereka menggunakan smartphone, dan tegaslah dengan batasan itu.


8. Alihkan perhatian atau kecenderungan anak-anak pada gadget kepada hal-hal lain (baik berupa aktivitas/kegiatan/prasarana) yang tidak hanya menyibukkan mereka hingga teralihkan dari gadget, namun juga sangat mereka butuhkan dalam membangun maupun memperkuat kepribadian islam mereka, seperti kegiatan olahraga yang akan memperkuat fisik mereka, melengkapi kebutuhan mereka akan buku-buku bergizi dan menarik yang hari ini sesungguhnya relatif sangat mudah kita dapatkan.


9. Bagaimanapun, harus kita sadari bahwa sebaik apapun kita sebagai orang tua berusaha melahirkan anak sholeh dan berkepribadian Islam, tidak akan bisa kita sempurnakan tanpa dukungan masyarakat dan sistem yang kondusif, yaitu masyarakat yang juga islami dengan kebijakan negara yang diderivasi dari sistem Ilahi.


Semoga Allah swt karuniakan kepada kita semua anak-anak yang senantiasa menjadi qurrata a’yun (penyejuk mata) dan pemimpin bagi orang-orang yang beriman. Aamiin.


-Faizatul Rosyidah-

Tertarik memiliki buku seperti di gambar2 ini?
Silakan klik: http://bit.ly/FayzaBookGallery







Tidak ada komentar:

Posting Komentar