Tempat berbagi
informasi, pemikiran,
kisah, artikel, tips, pengalaman, dan ilmu
berkaitan dengan
dunia medis, intelektual, dakwah, perempuan,

pendidikan anak,
remaja, keluarga dan generasi, juga sesekali barang jualan.....

Selamat Berlayar..........

Minggu, 22 Maret 2009

JADILAH PRIBADI DAMBAAN UMAT..!!

JADILAH PRIBADI
DAMBAAN UMAT !!

Oleh: Faizatul Rosyidah


Sobat, setelah kita faham bagaimanakah potensi kehidupan kita, dan bagaimanakah hakekat dari amal yang kita lakukan, mestinya kita juga mulai bisa sedikit ngira-ngira gimanakah caranya supaya kita bisa memiliki kepribadian Islam yang tinggi sebagaimana yang diperintahkan oleh Islam, berangkat dari modal yang diberikan oleh Allah kepada kita berupa kebutuhan-kebutuhan jasmani, naluri dan akal tadi.
Nah Sobat, berkaitan dengan hal ini, rasanya kita sering dengar masyarakat kita memperbincangkan apa sih kepribadian itu. Mulai dari bahasan kepribadian yang dikaitkan ama tanggal lahir, ‘weton’ atau bintang. Kepribadian yang dikaitkan dengan bentuk fisik tertentu, seperti bentuk wajah, jenis rambut, bentuk hidung, alis, dsb. Kepribadian yang dikaitkan sama warna kesenangan, hobi, dll. Hingga kepribadian yang dikaitkan sama coretan tangan alias tulisan dan tanda tangan. Bahwa kalau si A itu suka pake baju ijo berarti dia punya kepribadian ‘gini., trus kalau si B punya bentuk alis kaya’ ‘udang senam’ berarti dia itu orangnya begitu, lain lagi dengan si C yang janggutnya ’gini’ dan sebagainya. Sering kita dengar bahwa kepribadian seseorang dapat dilihat dari caranya berpakaian, caranya berjalan, caranya berdandan, de el el, sampe-sampe didirikan sebuah sekolah kepribadian khusus untuk melahirkan orang yang konon katanya ‘berkepribadian’. Tapi eh ada lagi sebuah konsep kepribadian yang banyak orang saat ini berlomba-lomba merealisasikannya. Kepribadian yang gimana sich itu? Yap…..mungkin kalian semua juga udah pernah dengar; menjadi orang berkepribadian dalam arti….punya mobil pribadi, sopir pribadi, rumah pribadi, kolam renang pribadi, sekolah pribadi, tempat tidur pribadi…pokoke semua serba pribadi. Semakin banyak yang kita miliki secara pribadi, orang bakal bilang kita adalah orang yang bener-bener berkepribadian. He…he…he… Gimana bener khan kalau gua bilang itulah konsep tentang kepribadian yang sedang berkembang di tengah-tengah masyarakat kita saat ini?!
Tapi eh Sobat…. Kalian jangan langsung maen setuju aja sama pendapat orang-orang itu, sekalipun pengikutnya banyak. Karena kebenaran itu tidak ditentukan oleh banyaknya orang yang berpendapat begitu. Tetapi kebenaran itu adalah segala sesuatu yang memang sesuai dengan tuntunan Islam. Bukankah Islam adalah seperangkat peraturan hidup yang berasal dari Dzat Yang Maha Benar?! Dan bukankah pihak yang paling tahu hakekat sesuatu apapun di dunia ini adalah Yang membuat dunia ini? Jadi yuk sama-sama nyari’in gimana penjelasan Islam tentang masalah ‘kepribadian ini’. Yuk…yuk…yuk….!!!

Kepribadian Dalam Konsepsi Islam
Dalam “frame” Islam, kepribadian seseorang tidaklah ditentukan oleh warna kulitnya, bentuk hidung atau alisnya, juga tidak ditentukan oleh tanggal lahirnya apalagi shio atau bintangnya. Semua hal tersebut tadi bener-bener tidak ada hubungannya sama sekali dengan kepribadian.
Ibarat energi, kepribadian itu adalah sesuatu yang abstrak, tetapi kita dapat memahami dan menginderanya melalui sesuatu yang menjadi penampakan kepribadian tadi pada seseorang. Apakah penampakan tadi? Yang jelas, lagi-lagi bukan bentuk-bentuk fisik seperti yang sudah kita sebutin tadi.
Coba kamu-kamu pikir deh! Kira-kira kamu bakal ngatakan seseorang itu baik, punya kepribadian tinggi, ataukah jahat alias berkepribadian buruk itu apa sekedar dari pakaian apa yang dipakainya? Kalau pake sarung pasti baiknya, kalau pake warna ijo pasti ramahnya, kalau pake warna merah pasti beraninya, kalau coraknya garis-garis berarti orang tegas, dan lain-lainnya…. Apa emang begitu kalian menilai kepribadian seseorang itu baik ataukah buruk? Saya kira jawaban kalian sama dengan jawabanku: “tentu tidak…!!” Lha kalau begitu dari apanya hayo…? (Haah yang kerasan…gak denger nich…) Yap seratus persen sepakat… (dengan jawabanmu)…kita melihat dari bagaimana gambaran tingkah lakunya.
Jadi nilai (kepribadian) seseorang itu sebenarnya akan ditentukan oleh bagaimanakah tingkah laku seseorang tadi.
Sekarang pertanyaan berikutnya; apa sih yang dimaksud dengan tingkah laku itu? Gini Sobat, dalam kitab Asy-Syakhsiyah Islamiyah karangan Syeikh Taqiyuddin An Nabahani dikatakan bahwa tingkah laku adalah kumpulan dari amal perbuatan kita, jadi bukan salah satu saja dari keseluruhan amal yang kita lakukan. Konkritnya gini; kita tidak boleh dan tidak bisa memvonis bahwa si Encep itu seorang pemalas hanya karena pernah sekali kita melihat dia bangun paginya kesiangan, tapi kita bisa bilang Encep emang pemalas kalau kita emang tahu udah pola amalnya (kebiasaan) Encep tiap harinya emang tidak pernah tidak kesiangan. Demikian pula kita tidak bisa men-judge bahwa seseorang itu kepribadian Islamnya tinggi hanya berdasarkan penglihatan kita ketika ketemu dengannya di masjid, sholatnya sepertinya khusyu’ banget, tanpa kita pernah tahu gimana akhlaknya sehari-hari, apakah kewajiban-kewajiban Islam yang lain juga udah dia lakonin, dsb.
Jadi penampakan kepribadian seseorang adalah gimana tingkah lakunya, artinya gimanakah gambaran/pola keseluruhan amal perbuatannya. Itulah yang akan menunjukkan apakah seseorang punya kepribadian yang tinggi ataukah sebaliknya. Hal ini sejalan dengan apa yang dikatakan Rasul SAW.:
“Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada gambaran wajah (fisikmu) dan hartamu, akan tetapi sesungguhnya Dia hanya akan melihat kepada hati dan amal perbuatanmu. (HR. Muslim dan Ibnu Majah dari Abu Hurairah)”
Sobat sekalian, kalau emang kalian udah ngerti bahwa kepribadian itu diliat dari gambaran tingkah laku kita, lalu pertanyaan berikutnya: apa sih yang akan menentukan tingkah laku kita itu? Nah untuk ngejawabnya kalian musti nerusin mikirnye. Gini…kalian pernah jalan-jalan ato lewat di jalan khan? Pasti pernah dong…! Ketemu sama siapa hayo…? Banyak orang khan…ada cowok ada cewek, ada besar ada kecil, ada yang tua, ada yang muda dan yang jelas mungkin ada yang kita kenal ’en tidak kita kenal. Nah tingkah laku apa yang bakal kita lakukan akan sangat ditentukan oleh pemahaman seperti apa yang ada dalam benak kita; pemahaman apakah kita kenal seseorang yang kita temui di jalan tadi ataukah tidak. Berbedanya pemahaman tadi akan membuat berbedanya pula perbuatan yang akan kita lakukan. Kalau ketemu orang yang tidak kenal…mungkin kita akan berlalu saja di depannya tanpa say hello ataupun pay attention sedikitpun. Terhadap orang yang kita kenal dia itu ayah kita mungkin kita segera nyamperin, cium tangan lalu minta uang (hayo kebetulan cocok….ya). Demikian pula kepada orang yang kita kenal sebagai temen kita, mungkin kita bakalan say hello, nyapa dia, nanya’-nanya’ kabar ’en akhirnya jalan bareng nerusin perjalanan. Sementara kepada orang yang kita kenal sebagai musuh kita, perbuatan begitu tadi tidak bakalan mungkin kita lakukan, ya khan? Jangankan salaman trus nanya’ kabar…lah wong ketemu aja males, mungkin kita segera balik muter ambil jalan lain yang tidak ada dia atau tindakan lainnya yang pasti jelas beda dengan apa yang kita lakukan terhadap ayah atau teman kita tadi. ’Tul khan??
Jadi Sobatku sekalian, ternyata jelaslah bahwa yang menentukan perbuatan seseorang adalah pemahaman yang dia miliki.
Lalu dari mana pemahaman ini dimiliki seseorang? Yap….dari proses berfikir yang dia lakukan terhadap fakta yang dia indera. Bukankah manusia diberi potensi/kemampuan berfikir dengan adanya akal padanya? (masih inget dengan bahasan sebelumnya khan?). Nah proses berfikir inilah yang bakal nentu’in model pemahaman seperti apa yang bakal dimiliki seseorang, ketika dalam berfikirnya itu dia pake’ sebuah pola pikir tertentu. Adanya pola pikir inilah yang sebenernya akan membuat kesimpulan berfikir seseorang itu berbeda sesuai dengan apa yang dia jadikan sebagai pijakan dalam berfikirnya, karena pola pikir ini akan membuat seseorang tadi hanya akan memakai informasi-informasi tertentu yang sesuai dengan landasan berfikirnya untuk dia gunakan dalam memahami segala sesuatu/fakta. Pola pikir inilah yang kita kenal dengan istilah aqliyah.
Sementara, kalau kita juga berusaha mencermati lebih dalam lagi fakta perbuatan manusia, maka akan kita dapatkan bahwa hakekatnya seluruh perbuatan seorang manusia itu adalah suatu aktivitas yang dia lakukan dalam rangka memenuhi kebutuhan-kebutuhannya, apakah itu kebutuhan jasmani (semacam butuh makan, minum, tidur, ingin ke belakang, dsb) ataukah kebutuhan naluri/kecenderungan-kecenderungan (macam: ingin diakui kehebatannya, ingin diakui eksistensinya, ingin kaya, takut kelaparan, dsb). Bukankah kalian udah pada tahu bahwa adanya potensi kehidupan itulah yang senantiasa membuat manusia bergerak melakukan aktivitas tertentu untuk memenuhinya?! (seperti penjelasan sebelumnya itu lho). Nah, pada waktu dorongan/kecenderungan yang lahir karena adanya kebutuhan-kebutuhan pada diri manusia ini ditundukkan dengan pemahaman yang lahir dari proses berfikirnya yang punya pola tertentu tadi itulah, seseorang akan memiliki pola sikap yang tertentu sebagaimana pemahaman yang dipake untuk menundukkan dan mengatur kecenderungannya tadi.
Jadi dari sini kita bisa dapetin bahwa sebenarnya komponen pembentuk kepribadian (syakhsiyah) seseorang itu ada dua. Yang pertama adalah pola pikirnya (aqliyah-nya), dan yang kedua adalah pola sikapnya (nafsiyah-nya), sejalan dengan karakteristik seorang manusia yang senantiasa akan memiliki kebutuhan-kebutuhan jasmani/naluri (potensi kehidupan) dan akal.
Dikatakan sebuah kepribadian itu adalah kepribadian Islam, ketika pola pikir (aqliyah) yang dimiliki oleh seseorang itu adalah pola pikir yang islami, dan pola sikapnya (nafsiyah) adalah pola sikap yang islami.
Pola pikir yang islami bisa kita dapatkan kalau dalam setiap melakukan proses berfikir kita senantiasa menyandarkan proses tadi kepada bagaimana Islam memandang hal itu. Misalnya kita hendak menilai apakah mojok berdua sama temen lawan jenis kita di tempat yang sepi hanya untuk bercengkrama itu perbuatan yang baik atau buruk, harus kita lakukan ataukah kita tinggalkan atau boleh saja kita lakukan, maka dikatakan memiliki pola pikir islami kalau kita selalu menjadikan bagaimana Islam memandang hal itu, sebagai titik tolok pandangan kita. Contoh lain, misalnya kita hendak mencari model baju yang bagus itu bagaimana ya? Maka seseorang yang punya pola pikir islami akan memandang bahwa pakaian yang baik bagi seorang muslimah adalah menutup aurat dan berjilbab karena itulah pakaian yang dikatakan baik oleh Islam dan bukannya pakaian terbuka a la artis yang kalo bagian bawahnya ditutup, atasnya jadi ikutan melorot kebuka, sebaliknya kalau bagian atasnya ditutup, bagian bawahnya ikutan tertarik ke atas sampai keliatan ’area pribadinya’.
Dan yang perlu digarisbawahi adalah: bahwa pemahaman yang dimiliki seseorang akan sangat bergantung kepada apa yang menjadi landasan/kaidah berfikir seseorang itu. Dalam hal ini adalah apakah aqidah yang dipakainya untuk menjadi landasan berfikirnya, apakah aqidah kapitalis, sosialis ataukah Islam. Jadi ketika yang dipakai sebagai landasan berfikir seseorang itu adalah aqidah kapitalis, maka aqliyah yang dihasilkan adalah aqliyah kapitalis, dan pemahaman yang dihasilkan pun adalah pemahaman kapitalis. Demikian juga dengan Sosialis dan Islam, maka aqliyah dan pemahaman yang dihasilkan pun akan menjadi sosialis atau Islam tergantung aqidah mana yang dijadikannya landasan berfikir. Maka untuk bisa mendapatkan pemahaman yang Islami, maka proses berfikir yang kita lakukan mustilah disandarkan kepada aqidah Islam saja, sehingga kita hanya akan menjadikan aturan-aturan Islam sebagai penentu apakah sesuatu itu baik ataukah buruk; sesuatu itu halal ataukah haram; ataupun suatu perbuatan itu harus dilakukan (wajib), boleh dilakukan (mubah), lebih baik dilakukan (sunnah), lebih baik ditinggalkan (makruh) ataukah harus ditinggalkan (haram).
Sedangkan pola sikap islami bisa kita miliki kalau setiap kita hendak melakukan sesuatu untuk memenuhi kebutuhan jasmani atau naluri kita, selalu kita sandarkan/dikaitkan ama aqidah kita yaitu Islam. Misalnya pada saat kita mau berpakaian, maka kita disebut sebagai seseorang yang memiliki pola sikap yang Islami kalau kemudian kita memilih pakaian sebagaimana yang diajarkan oleh Islam, jadi ‘ndhak sebatas pemikiran aja…misalnya ketika kita ditanya pakaian yang seharusnya dipakai seorang Muslim itu yang bagaimana, kita bisa jawab dengan enteng: “yang menutup aurat”, tapi ternyata ketika kita main badminton pakaian kita ’nggak cocok dengan apa yang kita fahami. Contoh lain, misalnya kita lagi laper buanget tapi yang ada dihadapan kita babi panggang, mau makan ndak ya…?, nah…kaitkan donk ama hukum syara’! Nah, ternyata setelah kita fikirkan kita ketahui bahwa babi itu haram, so lewat ah..cari makanan yang lainnya aja, bukankah masih banyak jenis makanan lain tetapi halal?! Itu yang namanya berpola sikap yang Islami. Bukannya di luar berkoar-koar babi itu haram, tapi ngumpet-ngumpet nyikat babi panggang.
Nah, ketika seseorang itu sudah punya dua unsur kepribadian inilah (pola pikir dan pola sikap islami), dikatakan seseorang tadi memiliki kepribadian Islam. Ingat dua unsur tadi harus terpenuhi ! Dan kalau kita lihat, ternyata hanya aqidah Islam-lah yang menjadi landasan/dasar pembentukan dua unsur kepribadian Islam tadi. Sehingga seseorang yang telah mengaku beraqidah Islam – yang tentunya melalui suatu proses pemahaman, bukan sekedar kebetulan atau ikut-ikutan – selanjutnya ia harus memfungsikan aqidahnya dalam pembentukan pola pikir dan pola sikapnya sehingga dia pun kemudian memiliki kepribadian Islam.
So Sobat, sampe’ di sini kamu-kamu pasti udah ngerti kalau kepribadian itu tidak ada hubungannya ama gaya berjalan, penampilan, wajah, tahi lalat, dan sebagainya. Dan kepribadian Islam juga tak ada hubungannya dengan watak/karakter seseorang. Utsman bin Affan yang terkenal lemah lembut dan pemalu tidaklah berarti memiliki kepribadian Islam yang berbeda atau lebih tinggi daripada Umar yang terkenal keras dan tegas. Namun keduanya memiliki kepribadian yang sama, yakni kepribadian/syakhsiyah Islam yang tinggi. Sebagaimana dipuji oleh Allah:
“Kalian semua adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, mencegah dari yang mungkar dan beriman kepada Allah.” (Terj. QS. Ali Imran 110)
Dari ayat diatas kamu bisa melihat bahwa pujian yang diberikan oleh Allah dan Rasul-Nya adalah bersifat umum bagi seluruh sahabat Rasul. Bukankah tidak dikatakan: bahwa semua sahabat itu berkepribadian Islam yang tinggi (”umat terbaik yang pernah dilahirkan untuk manusia”) kecuali Umar karena sikapnya yang keras dan tegas, misalnya.
Jadi seandainya kamu adalah orang Madura atau Batak yang ngomongnya keras (suka teriak-teriak karena memang gaya ngomongnya begitu) belum tentu memiliki kepribadian yang lebih rendah daripada orang Solo yang gaya ngomongnya lemah lembut dan bisa membuat orang ketiduran ‘ngedengerinnya’. Seseorang yang berwajah ke-Arab-araban tidak juga menunjukkan kepribadiannya lebih tinggi daripada seseorang yang berwajah kecina-cinaan atau kebarat-baratan. Karena memang bukan dari hal-hal tersebutlah syakhsiyah/kepribadian seseorang dapat dilihat dan dinilai. Sehingga keduanya bisa jadi sama-sama memiliki kepribadian Islam, cukup hanya dengan menjadikan Aqidah Islam sebagai landasan bagi pola pikirnya dan juga pola sikapnya.
Demikian juga, berkepribadian Islam tidaklah berarti berkepribadian seperti malaikat, yang tidak pernah melakukan kesalahan dan selalu harus sempurna. Anggapan begini adalah salah besar dan hal yang sangat membahayakan jika menyamakan kepribadian manusia dengan malaikat. Karena hal itu hanya akan menjadikan kita beranggapan bahwa mempunyai kepribadian Islam adalah satu hal yang mustahil dan hanya hayalan belaka. Banyak orang yang kemudian pasti akan kecewa karena tidak menemukan sosok seperti yang mereka harapkan tengah-tengah masyarakat (manusia). Padahal sesungguhnya tidak demikian! Merupakan fitrah (karakteristik asli) nya manusia dan juga merupakan hal yang wajar manusia itu melakukan kesalahan, sebagaimana sabda Rasul bahwa “Manusia itu tempatnya salah dan lupa”. Jadi setiap manusia manapun pasti deh pernah melakukan dosa dan kesalahan kecuali para Nabi dan Rasul yang emang dijaga oleh Allah alias ma’shum. Namun pernahnya seseorang itu bersalah atau berbuat dosa tidak berarti hal itu telah membuat dia tidak bisa menjadi orang yang berkepribadian Islam. Bukankah para sahabat dulu juga pernah melakukan kesalahan dan dosa, padahal telah jelas pujian bagi kepribadian mereka yang disampaikan oleh Allah dan Rasul-nya.
Jadi sekali lagi, siapa saja bisa memiliki syakhsiyah Islam ini, cukup dengan hanya menjadikan Aqidah Islam sebagai landasan bagi pola pikirnya dan juga pola sikapnya. Entah dia seorang kiyai, tukang becak, tukang sapu, sahabat Rasul, kita, aktivis rohis/keislaman, aktivis senat/OSIS, mantan penjahat atau pejabat, atau siapa saja. Begicuuu….!

Tingkatan Kepribadian Islam
Jadi sekali lagi, seorang yang dilabel ‘ikhwan’ belum tentu kepribadian Islamnya lebih tinggi dari seorang mahasiswa/siswi Muslim yang tidak di label ‘ikhwan’. Demikian juga kerudung lebar yang dipakai seorang akhwat / cewek bukanlah indikator kepribadiannya itu lebih tinggi dari akhwat yang berkerudung lebih kecil, jika memang keduanya sudah sama-sama faham dan sudah menutup aurat serta berjilbab seperti yang disyariatkan Islam dengan sempurna. Namun indikasinya adalah: apakah aqidah Islam yang menjadi parameter dia dalam berfikir dan bersikap.
Cuman emang benar, bahwa yang namanya kepribadian itu ada yang tinggi dan ada yang rendah, dia bisa naik dan bisa juga turun. Hal ini sangat terkait dengan dua unsur pembentuk syakhsiyah itu sendiri.
Pertama, seseorang akan mempunyai aqliyah Islam yang tinggi jika seseorang itu memiliki pengetahuan tentang hukum-hukum Islam yang lengkap dan kemudian menjadikannya sebagai landasan bagi pola pikirnya. Manalah mungkin seseorang itu bisa menjadikan Islam sebagai landasan pola pikirnya, kalau dia sendiri nggak ‘ngerti apakah hukum Islam atas aktivitas “A”, bagaimana pandangan Islam tentang “B”, halalkah, haramkah, wajibkah, sunnahkah dan sebagainya. Sebab kalau demikian, maka nantinya dia akan memahami dan menyikapi sesuatu itu tidak lagi dengan hukum Islam sebagai landasannya, tapi bisa nafsu, perasaan, adat, kebiasaan, dan sebagainya. Maka pengetahuan yang lengkap tentang syariat Islam adalah syarat bagi terciptanya aqliyah islamiyah yang tinggi. Jadi, semakin lengkap pengetahuan kita tentang hukum-hukum Islam, maka akan semakin mudah kita memiliki pola pikir islami yang tinggi.
Yang kedua, ketinggian nafsiyah seseorang itu tergantung pada sejauh mana seseorang tadi bisa menundukkan/melandaskan pola sikapnya dengan hukum Islam atau pemahaman Islam yang dia miliki. Jika pada setiap aktivitasnya, seseorang itu telah melandaskan pada pemahaman Islam yang dia miliki, maka bisa dikatakan seseorang tersebut memiliki nafsiyah (pola sikap/jiwa) yang tinggi. Begitu juga kalau seseorang itu tahu hukum Islam akan suatu hal, namun adakalanya dia pake untuk nundukkan hawa nafsunya, tapi kadangkala tidak, maka itu artinya seseorang itu memiliki nafsiyah yang rendah. Dan satu hal yang pasti, bahwa untuk bisa memiliki nafsiyah yang tinggi, dalam arti bisa menundukkan jiwa kita kepada pemahaman yang kita miliki, maka dibutuhkan satu kecintaan dan kedekatan kita kepada Allah yang kemudian membuat kita rela dan tunduk untuk menerima dan menjalankan semua syariat-Nya. Dari sinilah, usaha kita untuk ber-taqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah akan sangat besar artinya bagi pembentukan nafsiyah (pola sikap) kita tadi. Usaha untuk bertaqarrub ini bisa kita lakukan dengan cara menghidupkan pagi kita dengan sholat dluha, misalnya. Atau menghidupkan malam kita dengan tahajjud, memperbanyak tilawah Qur’an, beristighfar dan melakukan amalan-amalan nafilah (sunnah) lainnya. Namun satu hal yang harus kita ingat, adalah bahwa sebaik-baiknya taqarrub kepada Allah adalah dengan cara menyempurnakan semua yang wajib dahulu baru kemudian yang sunnah. Sebagaimana firman Allah dalam sebuah hadits qudsi: “…dan tidaklah bertaqarrub (beramal) seorang hamba-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku sukai seperti bila ia melakukan amalan fardlu yang Ku-perintahkan atasnya, kemudian hamba-Ku senantiasa bertaqarrub (mendekatkan diri) kepada-Ku dengan amalan-amalan sunnah, sehingga Aku mencintainya…..” (HR. Bukhari dari Abu Hurairah)
Jadi Sobat….jangan salah! Gara-gara ngejar sholat tahajjud Isya’nya jadi mepet Subuh dan Subuhnya jadi ilang karena ketiduran. Atau karena terlalu sibuk membuat karya tulis, trus ngajinya lupa. Atau karena sibuk ngurusin senat, dakwahnya jadi keteteran, dsb. Jangan kebalik!! Sempurnakan yang wajib dulu, baru ambil aktivitas dengan prioritas di bawahnya!! Begitu…!
Nah..demikian juga halnya dengan kemaksiatan. Maka seseorang yang sering bermaksiat kepada Allah, lambat laun kemaksiatan yang ia lakukan tersebut akan menggerogoti syakhsiyah (kepribadian) yang ia miliki. Sehingga tingkatan syakhsiyah-nya tentu saja akan berbeda dengan mereka yang selalu berusaha untuk tidak bermaksiat kepada Allah. Karena iman seseorang itu akan dapat naik dengan ketaatan, dan akan turun dengan bermaksiat kepada Allah.
Dan satu lagi ’Friend, lingkungan pergaulan kita (teman) juga akan sangat menentukan gimana usaha kita untuk membentuk diri kita memiliki kepribadian Islam ini, karena adakalanya ketika kekuatan aqidah dan keimanan kita masih sangat labil, gampang kepengaruh…, maka suasana yang mendukung kita menjadi orang yang baik akan sangat mempengaruhi. Sebagaimana dinyatakan dalam sebuah hadits: “Seseorang itu mengikut ‘agama’ kawannya, maka hendaklah salah seorang diantara kamu berhati-hati dalam memilih kawan pendamping” (HR. Ahmad)
Jadi bisa kita lihat bahwa untuk memiliki pola pikir Islami yang tinggi, kita emang perlu banyak tahu gimanakah aturan Islam itu mengatur seluruh perbuatan dan kehidupan kita. Cuman, sekalipun kita udah menjadi anak yang keluaran pondokan (pesantren), punya segudang ilmu agama, tapi kalau ilmu tersebut cuman ngendon aja di otak kita, tidak pernah di pake’ untuk menundukkan hawa nafsu kita…ya sama aja!! Kita tidak bakalan bisa punya pola sikap/jiwa yang islami, sehingga kita juga nggak bakalan punya kepribadian Islam.
Jadi yang mustinya kita lakukan itu…bukannya berlomba-lomba ngapalin hukum-hukum Islam thok…lalu berhenti, tapi harus kita lanjutin dengan menggunakan pemahaman Islam tadi untuk mengatur bagaimana seharusnya kita bersikap. Begituuu Sobat…
Itulah beberapa faktor yang dapat mempengaruhi tingkatan syakhsiyah seseorang. Yang perlu dicatat di sini, bahwa Islam tidak pernah menganjurkan umatnya untuk punya kepribadian yang lemah dan tidak tahan banting. Yang sedang diburu adalah pribadi Muslim yang tangguh, kuat aqidahnya, tinggi taraf berfikirnya dan taat mengamalkan ajaran Islam. (Hayo….kaliankah itu??)
Satu hal yang pasti Sobat, kalau kita udah bisa punya kepribadian Islam, dijamin keren abis dech…! Karena seseorang yang bener-bener memiliki kepribadian Islam itu akan tampil sebagai sosok yang punya sifat-sifat khas dan unik (tidak nyentrik/nyeleneh/nganeh-nganehi), lebih lanjut ia bakal muncul dengan sifat yang menonjol, jadi titik perhatian karena ketinggian ilmu dan kekuatan jiwanya. Allah SWT menggambarkan sosok-sosok pribadi Muslim itu dalam berbagai ayat Al-Qur'an. Diantaranya:
“Muhammad itu Rasul Allah, orang-orang yang bersama dengan dia (sahabat) bersikap keras terhadap orang-orang kafir, tetapi saling berbelas kasih sesama mereka, engkau melihat mereka ruku’ dan sujud mengharap karunia Allah dan keridlaan-Nya. Tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud.” (Q.S. Al Fath: 29)
“Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu’ dalam shalatnya, dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna, dan orang-orang yang menunaikan zakat, dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. Barangsiapa mencari yang dibalik itu maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas. Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya, dan orang-orang yang memelihara sembahyangnya. Mereka itulah orang-orang yang akan mewarisi, (ya’ni) yang akan mewarisi surga Firdaus. Mereka kekal di dalamnya.” (Q.S. Al Mu’minuun: 1-11)
Nah yang harus kita fahami Sobat, tentu saja, memiliki kepribadian Islam seperti itu bukanlah suatu kebetulan atau bakat yang sudah kita bawa sejak lahir, namun kembali lagi bahwa untuk meraih semua itu haruslah ada usaha dan kesabaran dari diri kita sendiri untuk mewujudkannya. Ingatlah firman Allah SWT.: “Sesungguhnya Allah tidak akan merubah kondisi suatu kaum hingga mereka berusaha merubahnya sendiri.” (QS A Ra’du: 11). Jadi, yo ‘ndhak simsalabim wus..wus…lalu jadilah.
Sekedar ngingetin, sebenernya kamu –wahai generasi muda Islam- adalah pewaris umat termulia yang pernah ada. Kamu adalah umat yang tertinggi, selama kamu memegang Islam yang tinggi. Rasul bilang: “Islam itu tinggi, dan tidak ada yang lebih tinggi dari Islam.” (Al hadits)
Allah juga berfirman:
“Janganlah kalian merasa lemah dan jangan kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi jika kamu orang beriman” (Terj. QS. Ali Imran 139)

Belajar dari Generasi Pendahulu kita
Sobatku, para pendahulu kita dulu adalah generasi yang meski baru berusia seumur jagung udah memiliki kekuatan pola pikir dan pola sikap islami yang tinggi. Mereka itulah dan bersama beribu pemuda lainnya yang karena dorongan Iman telah memperjuangkan dan mendakwahkan Islam ini, yang telah menyisihkan siang dan malam mereka demi kepentingan Islam, membawa panji-panji Islam hingga tersebar ke seluruh penjuru dunia, hingga kemudian sampai kepada kita. Mulai dari Ali bin Abi Thalib, yang meski masih muda sanggup mengorbankan dirinya demi melindungi Rasul dari kejaran kaum kafir Quraisy. Ada juga Usamah bin Zaid, yang diangkat oleh Nabi sebagai komandan untuk memimpin pasukan kaum muslimin membebaskan wilayah Syam, yang saat itu merupakan bagian dari Kerajaan Romawi, meski baru delapan belas tahun. Bayangkan…delapan belas tahun udah dikasih amanat yang kira-kira semacam jadi panglima TNI-lah. Begitu juga dengan Sahabat Abdullah ibnu Umar yang tak kalah hebat jiwa dan semangat perjuangannya, padahal usia beliau baru 13 tahun. Kemudian Muadz bin Afra, sekitar 9 tahunan yang dengan penuh semangat akhirnya bisa membunuh Abu Jahal –orang yang suka banget musuhin Nabi- dalam perang Badar. Juga Imam Syafi’i yang pada usia 6 tahun-ada yang bilang 9 tahun- udah hapal Qur’an, dan Imam Malik yang sejak kecil hari-harinya dihabiskan untuk mempelajari Islam dan mengkajinya hingga pada umur 17 tahun beliau udah bisa ngajar mereka-mereka yang bahkan lebih tua umurnya.
Cobalah kita simak kisah lebih detil dari seorang sahabat Mus’ab bin Umair. Beliau adalah seorang remaja Quraisy yang terkemuka, pemuda yang rupawan. Ia lahir dan dibesarkan dalam kesenangan dan kemewahan. Namun pemuda yang menjadi buah bibir gadis-gadis Makkah dan bintang di tempat-tempat pertemuan ini, menjadi sosok yang sangat berbeda ketika disepuh Nur Ilahi. Sosok yang penuh wibawa dan disegani karena didikan Rasulullah S.A.W. Mungkin masih lekat dalam Ingatan kita bagaimana teguhnya Mus’ab sekalipun dikurung oleh ibunya ketika mengetahui bahwa Mus’ab telah memeluk Islam, bagaimana kondisi beliau setelah melarikan diri dari penjara tersebut dan hijrah ke Habsyi. Pada saat itu, di majelisnya Rasulullah, semua mata menundukkan kepala karena terharu melihat Mus’ab yang dulunya –sebelum memeluk Islam selalu memakai pakaian yang harum, mentereng, berwarna-warni- namun sekarang hanya sebuah jubah usang yang sudah bertambal. Namun bukannya beliau menangis karena kehilangan semua hal tersebut, justru sebaliknya, beliau merasa puas bahwa kehidupannya telah dipersembahkan bagi pengorbanan terhadap Penciptanya Yang Maha Tinggi.
Waktu itu, di Perang Uhud, Mus’ab bin Umair adalah pembawa bendera kaum muslimin. Saat barisan kaum muslimin pecah, beliau bertahan di posisinya. Kemudian datanglah seorang musuh menebas tangan kanan beliau hingga putus, sementara Mus’ab mengucapkan, “Muhammad itu tiada lain hanyalah seorang Rasul, yang sebelumnya telah didahului oleh beberapa Rasul”. Bendera itu kemudian beliau pegang dengan tangan kirinya, musuh kembali menebasnya hingga terputus, lalu beliau meraih bendera tersebut ke dada dengan kedua pangkal lengan seraya mengucap, “Muhammad itu tiada lain hanyalah seorang Rasul, yang sebelumnya telah didahului oleh beberapa Rasul”. Musuh tersebut kemudian menyerang untuk ketiga kalinya dan menusuk beliau hingga tombak itupun patah. Dan mahkota para syuhada itupun menghadap Rabb-Nya.
Pribadi-pribadi seperti itulah para pendahulu kita. Dan hanya di tangan pribadi-pribadi Muslim seperti itulah umat ini, kita semua, akan mencapai kejayaan.
Sobat, sekarang cobalah bandingkan para pendahulu kita yang luar biasa tersebut dengan kualitas kepribadian kita, para generasi muda sekarang. Mulai dari kebiasaan bangun yang selalu didahului ama ayam tetangga, hingga –believe it or not- kita-kita bener-bener jago untuk urusan yang namanya pacaran. Coba aja lihat datanya; Sekitar 15 persen remaja usia 10 tahun hingga 24 tahun di Indonesia, yang jumlahnya mencapai 62 juta, telah melakukan hubungan seksual di luar dan pra-nikah, demikian hasil penelitian Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI). Hasil penelitian yang dilakukan PKBI di kota Palembang, Kupang, Tasikmalaya, Cirebon dan Singkawang pada 2005 itu juga menunjukkan bahwa jumlah remaja yang melakukan hubungan seks di luar nikah cukup tinggi.
Hasil penelitian itu, menurut dia, menunjukkan bahwa 9,1 persen remaja telah melakukan hubungan seks dan 85 persennya melakukan hubungan seks pertama mereka pada usia 13 hingga 15 tahun dengan pacarnya di rumah mereka. Bayangkan!!
Belum yang ditunjukkan oleh surveynya Deteksi Jawa Pos tahun 2001 lalu ngebukti’in kalo 97,1% dari para remaja kita --semoga kita tidak termasuk di dalamnya-- yang berpacaran pernah pegangan tangan, 81,2% pernah berpelukan, 71,7% melakukan ciuman, 36,2% ngeraba bagian-bagian yang sensitif...bahkan 17,4% diantaranya pernah ngincipin seks. Na’udzubillah.
Nggak cukup hanya disitu untuk ngebuktiin betapa ’gombal’-nya remaja sekarang. Survey Deteksi Jawa Pos lagi-lagi ngejeberin kalau mereka juga punya hobi yang kurang baik; mau tahu? Yap…ngutil sodara-sodara. 64,5% remaja Surabaya pernah nggutilin duit ortunya. Ada yang 5000, 10000, bahkan 15,4% ngutil 50.000 ribu. Ngerti kenapa mereka ngutil?…alasan paling dominan karena butuh duit. Ck…ck…ck…butuh duit ngutil…malu-maluin ya. Itu belum yang hobi tawuran, suka teler sambil ndugem, atau yang punya kebiasaan pesta narkoba sama temen-temen se-gank. Well…well…well, gimana? Sudah punya gambaran gimana remaja-remaja kita? Generation next-nya bangsa ini? Miris bukan? Mereka adalah cerminan asli wajah buram generasi ini. Tumpuan harapan umat. Namun fakta justru bicara sebaliknya. Ibarat bom waktu, mereka (mungkin termasuk di dalamnya kita) akan merusak masa depan umat ini, masa depan kita sendiri!!
Tapi Sobat…saya yakin. Dan saya yakin kalian pun yakin. Bahwa diantara yang jelek pasti ada yang baik. Diantara yang ngeselin pasti ada yang nggak. Diantara yang ’gombal’ pasti selalu ada yang bisa diandalkan. Walaupun kita remaja juga -bagian dari mereka- tapi kita nggak boleh jadi pengikut mereka. Nggak boleh ikut-ikutan gaya mereka. Apalagi sampai menjadikan hal tersebut sebagai identitas kita. Yang kata orang sih..fase untuk nyari jati diri. Ahhh….itu sih nggak bener guys. Kita semua…kalau udah baligh kayak gini, udah bukan jamannya lagi masi nyari’-nyari’. Tapi masa kita sekarang ini adalah justru masa memberikan kontribusi.
Kalau para pahlawan Islam, pendahulu kita begitu tangguh menggenggam Islam, begitu bersemangat menggapai Nur Ilahi hingga kemuliaan pun mereka raih, maka bagaimana dengan kita para generasi penerus mereka, mungkinkah bisa seperti mereka?
Sobat tersayang, sebenarnya kita bisa kok menjadi seperti mereka, kita pun bisa mengikuti jejak mereka. Kalau mau dipikir, sebenarnya kita udah punya modal beberapa persamaan dengan mereka. Usia kita tidak jauh berbeda dengan mereka, antara belasan hingga dua puluhan tahun, keyakinan kita pun yang sama, yaitu Islam. Tauladan kita juga sama; Rasulullah Muhammad S.A.W. So sebenarnya kalau dapat kita ibaratkan hal tersebut sebagai input atau bahan baku…kita mah nggak beda dengan mereka, sama-sama generasi muda, sama-sama kaum muslimin, sama-sama pengin ngejadi’in diri kita sebagai sosok penggenggam Islam. Dengan kata lain, untuk bisa menjadi seperti mereka kita sudah ada modal, tinggal bagaimana cara kita nyetir agar dapat menuju ke arah yang sama dengan mereka, dan untuk mempertahankan agar tetap fokus ke arah tersebut bukanlah hal yang remeh. Yang jelas harus all out deh. Satu hal yang pasti, Insya Allah kita pasti bisa. Kita pasti mampu. We can make it guys…pertanyaannya adalah: “Sobatku…. Do you wanna come ??!!***

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar