Tempat berbagi
informasi, pemikiran,
kisah, artikel, tips, pengalaman, dan ilmu
berkaitan dengan
dunia medis, intelektual, dakwah, perempuan,

pendidikan anak,
remaja, keluarga dan generasi, juga sesekali barang jualan.....

Selamat Berlayar..........

Minggu, 22 Maret 2009

Kenali Potensi Diri Kita Yuuk !!

KENALI POTENSI DIRI KITA YUUK…!
Oleh: Faizatul Rosyidah

Sobat, pernah nggak sih kalian pada merenung tentang makhluk yang namanya manusia? coba lihat, yang membuat dunia bisa jadi indah seperti ini adalah manusia. Majunya ilmu pengetahuan sampai saat ini adalah berkat manusia, adanya satelit, kemajuan informasi dan telekomunikasi juga karena manusia. Itulah manusia, dia bisa berbuat apa saja yang diinginkan di dunia ini. Nggak cuma soal kemajuan dan yang positif-positif saja, soal ngerusak bumi pun juga manusialah pakarnya. Banyaknya perkosaan, aborsi, kriminalitas, dan tindakan asusila yang lain juga pelakunya manusia. Jadi emang manusia itu bisa berbeda-beda, ada yang buaiiiik sekali tapi ada juga yang jahatnya nggak ketulungan.
Kalian tau nggak Rasulullah SAW? Pasti ngerti banget, ya khan? Beliau itu orang yang paling baik sedunia. Bayangin aja, ngomong sama siapapun termasuk orang-orang yang membencinya, beliau tetap tersenyum dan senantiasa menyenangkan. Bahkan pernah halaman rumah beliau dipenuhi kotoran manusia akibat perbuatan orang Quraisy yang memang sangat membenci beliau. Tapi, justru ketika si Quraisy sakit, beliau malah orang yang pertama menjenguknya. Top banget khan?


Tapi sobat, cerita tentang manusia yang berikut ini berbalik 180 derajat dengan Rasulullah saw. Masih inget ama Slobodan Milosevic? Itu lho pemimpin negara kafir Serbia…. Tuh orang juahat banget, nggak berperikemanusiaan. Bayangin aja para muslimah Bosnia diperkosa, anak kecil dan orang tua semuanya dibunuh dengan cara sangat kejam, para pemudanya dibunuh dengan selanjutnya satu persatu bagian tubuhnya yang menonjol diiris hingga tubuh yang tersisa mirip seonggok kayu, wanita-wanita yang lagi hamil besar dibunuh trus perutnya dibelah dan si jabang bayi dikeluarkan kemudian dicincang. Masya Allah, Manusia atau binatang ya mereka itu?
Dari fakta seperti ini wajar kalau kemudian muncul di benak kita pertanyaan-pertanyaan seputar manusia. Sebenarnya manusia itu siapa sih? Apa emang bener antara manusia yang satu dengan manusia yang lain itu sejak dari ‘sononya’ punya bakat (fitrah) jadi orang jahat atau jadi orang baik? Alias udah fitrahnya setiap manusia itu berbeda-beda? Beda nggak manusia dengan hewan? Kalau beda mengapa ada manusia yang bertingkah laku seperti hewan tapi ada juga manusia yang begitu tinggi akhlaqnya sehingga hampir-hampir kita ngerasa nggak bisa menyamainya. Nah Sobat, tulisan dibawah ini akan mencoba membahasnya.

Potensi kehidupan Manusia
Kita semua pada tahu bahwa Allah SWT telah menciptakan manusia sejak Nabi Adam sampai manusia akhir zaman nanti. Manusia yang banyak itu ada yang tinggi, cebol, mancung, pesek, ndower, memble, hitam, kuning, cantik, manis, berambut lurus bak sapu lidi, berambut ombak pantai Kenjeran, berambut brintik bak mie kriting, bermata sipit, belo, dan sebagainya. Namun, sekalipun berbeda-beda dalam hal-hal diatas, mereka tetap disebut manusia. Yap mereka sama-sama di sebut manusia. Artinya, labelisasi kepada mereka bahwa mereka adalah manusia bukanlah karena bibir mereka yang ndhower atau seksi, juga bukan karena mata mereka yang sipit atau belo; akan tetapi karena sesuatu hal yang mereka semua sama memilikinya sekalipun dalam beberapa hal macam di atas tadi mereka berbeda-beda. Sesuatu yang karenanya mereka semua disebut manusia. Nah sesuatu apaan tuch??
Sobat, di dalam surat Al Mukminun: Allah menceritakan proses kejadian / penciptaan manusia dalam firman-Nya yang artinya:
“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. maka Maha Suci Allah, Pencipta Yang Paling Baik.” (Terj. QS. Al Mukminuun 12-14)
Dalam surat yang lain Allah menjelaskan “Hai manusia jika kamu dalam keraguan tentang kebangkitan (dari kubur), maka (ketahuilah) sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar Kami jelaskan kepada kamu dan Kami tetapkan dalam rahim apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan, kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi, kemudian (dengan berangsur-angsur) kamu sampailah pada kedewasaan, dan diantara kamu ada yang diwafatkan dan (ada pula) diantara kamu yang dipanjangkan umurnya sampai pikun, supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatupun yang dahulunya telah diketahuinya.” (Terj. QS. Al Hajj 5)
Jadi dari dua ayat di atas, jelas dapat kita ketahui bahwa manusia manapun berasal dari sesuatu yang sama, mengalami proses pembentukan/kejadian yang sama (kecuali jika Allah menghendaki tidak menyempurnakannya); yang tidak memiliki kelebihan ataupun kekurangan satu sama lainnya. Yang dari proses kejadian itu diciptakanlah bentuk fisik manusia yang begitu indah dan sempurnanya yang dilahirkan dalam bentuk bayi. Selanjutnya bayi manusia tersebut pun mengalami proses perkembangan dan pertumbuhan yang sama hingga masa yang dikehendaki oleh Allah. Dan akhirnya siapapun nama manusia tadi dia pasti akan berakhir dan dikembalikan lagi kepada sang Penciptanya.
Nah dari sini, kalau kita bicara apa saja sih potensi kehidupan yang dimiliki oleh manusia, maka yang pasti jawabannya haruslah sama antara manusia yang satu dengan manusia yang lain, karena pada hakekatnya sesama manusia: mereka, saya, kamu ataupun siapapun kita adalah sama, yakni sama-sama manusianya, yang sama-sama diberi oleh Allah nyawa sehingga kita menjadi makhluk (manusia) yang hidup, kemudian dilengkapi-Nya kita dengan anugerah fisik / jasmani dengan berbagai kebutuhannya dan beberapa potensi lain yang memungkinkan kita sebagai makhluk hidup untuk bisa tetap hidup dengan kemuliaannya sebagai seorang manusia yang berbeda dengan makhluk Allah yang lain.
Inilah yang dimaksud dengan potensi kehidupan itu. Yakni sebuah potensi yang diberikan oleh Allah kepada makhluk-Nya sehingga memungkinkan makhluk tadi untuk bisa hidup. Potensi kehidupan ini kalau kita cermati pada fakta kehidupan makhluk yang hidup, adalah sama antara seluruh makhluk hidup yang ada, sekalipun penampakannya beda. Yang pertama adalah adanya kebutuhan jasmani dan yang kedua adalah naluri/kecenderungan/perasaan atau instink kalau pada hewan.

Potensi Kehidupan yang Pertama: Kebutuhan Jasmani
Fitrah yang pertama adalah bahwa manusia itu memiliki kebutuhan fisik. Kebutuhan fisik pada hakekatnya adalah segala sesuatu yang dibutuhkan oleh tubuh manusia. Dimana kalau kita mau detili ala pelajaran Biologi, kita fahami bahwa tubuh manusia itu terdiri dari banyak sistem organ, yang mana organ-organ tersebut terdiri dari berbagai jaringan-jaringan, dimana jaringan-jaringan tersebut di susun oleh beragam sel-sel, yang mana sel-sel tersebut pasti memiliki struktur yang sama, yakni ada sitoplasmanya dan inti (nukleus) yang di dalamnya memiliki kandungan kromosom-kromosom yang jumlahnya sama pada tiap manusia (normalnya). Nah sel-sel pembentuk tubuh inilah yang senantiasa butuh O2, butuh air, butuh zat-zat makanan tertentu untuk menghasilkan energi, butuh suhu tertentu dan butuh keadaan tertentu. Kebutuhan-kebutuhan itulah yang kemudian nampak sebagai kebutuhan fisik/jasmani kita.
Contoh dari kebutuhan jasmani itu adalah bahwa kita maupun makhluk hidup manapun pasti butuh makan, sekalipun jenis makanan dan cara makannya beda. Kita butuh istirahat/tidur, butuh minum, ke belakang (BAB/BAK), dsb. Karena kebutuhan jasmani ini lahir dari kerja struktur organ tubuh manusia, maka apabila kebutuhan asasi ini tidak dipenuhi akibatnya adalah struktur organ tubuh tersebut akan mengalami kerusakan. Contohnya, apabila tubuh kita kekurangan air, maka akan terjadi dehidrasi, salah satu akibatnya adalah akan terjadi gagal ginjal yang lebih lanjut gangguan itu bisa membawa kerusakan organ lain, yang selanjutnya bisa mengantarkan pada kematian.
Inilah bentuk kebutuhan jasmani. Jadi, kebutuhan jasmani ini merupakan kebutuhan organ tubuh terhadap hal-hal tertentu dengan kadar tertentu yang telah ditetapkan oleh Allah SWT pada manusia atau hewan. Apabila kurang atau melampaui kadar tersebut, maka tubuh manusia akan mengalami gangguan (penyakit). Dalam hal ini Allah SWT telah memberikan isyarat:
“Dan diantara tanda-tanda-Nya, (Dia ciptakan) tempat untuk tidur kamu di waktu malam dan siang.” (QS. Ar Rum: 23)
“Ini adalah manusia biasa, yang masih memerlukan makan sama dengan apa yang kamu makan, dan minum sama dengan apa yang kamu minum.” (QS. Al Mukminun: 33)
Pada kadar tertentu, kebutuhan jasmani ini wajib dipenuhi. Sebab, apabila tidak dipenuhi akan menimbulkan kerusakan dan kematian. Maka, ia merupakan kebutuhan asasi (al-hajat al-asasiyah) manusia yang wajib dipenuhi. Oleh karena itu, maka sesuatu yang asalnya haram pun dihalalkan oleh Allah SWT bagi orang-orang yang memerlukannya ketika dalam keadaan darurat, yakni sebuah keadaan ketika apa yang menjadi kebutuhan jasmaninya yang asasi tidak terpenuhi sehingga akan mengantarkannya pada kebinasaan. Allah SWT berfirman:
“Maka, siapa saja yang dalam keadaan terpaksa, tanpa unsur kesengajaan dan penentangan, maka tiada dosa baginya.” (QS, Al-Maidah: 3)
Ayat diatas diterangkan oleh Allah SWT ketika mengharamkan bangkai, darah, daging babi dan sebagainya, yang kemudian dibolehkan oleh Allah SWT kepada orang-orang yang dalam keadaan terpaksa, karena untuk mempertahankan hidupnya. Sebab, apabila tidak memakannya, ia akan menemui kematian. Inilah kebutuhan jasmani.

Potensi kehidupan Yang Kedua: Naluri/ Perasaan/Kecenderungan/Instink
Naluri/kecenderungan adalah sesuatu yang juga fitrah pada diri manusia. Siapapun dia, selama dia adalah manusia pasti memilikinya. Hanya saja naluri ibaratnya energi memang tidak bisa kita indera secara langsung bentuknya, akan tetapi kita bisa memahami keberadaannya melalui berbagai macam penampakan dari naluri tadi yang jelas terlihat.
Berbagai macam penampakan tadi kalau kemudian kita runtut akan kita dapatkan tiga kelompok penampakan naluri. Yang pertama adalah naluri/ kecenderungan untuk mempertahankan eksistensi diri (gharizah baqa’), dengan berbagai macam penampakannya. Yang kedua adalah naluri/ kecenderungan untuk beragama (gharizah tadayyun), yang diantara penampakannya yang paling menonjol adalah adanya ibadah atau pensucian yang dilakukan terhadap suatu kekuatan yang luar biasa di luar dirinya (Tuhan). Dan yang ketiga adalah naluri untuk melangsungkan jenis/keturunan (gharizah nau’) masing-masing, juga dengan berbagai macam penampakannya.
Sehingga bisa kita saksikan ada penampakan rasa takut manusia ketika dia ketemu dengan hewan buas yang akan mendorongnya untuk menyelamatkan diri, kecintaannya pada harta dan kekuasaan, keinginannya untuk menjadi orang yang ter… (terpandai, terhebat, tercantik, terkaya, terhormat, dsb) yang semuanya itu merupakan penampakan dari adanya naluri mempertahankan eksistensi diri ini pada manusia. Demikian pula, adanya perasaan lemah, terbatas ketika melihat fakta bahwa kita tidak bisa mencegah datangnya ketuaan ataupun maut, rasa takjub melihat betapa hebat dan luar biasanya susunan tata surya beserta pengaturan alam ini, yang akan membawa manusia untuk senantiasa mensucikan dan mengibadahi sesuatu yang telah begitu hebatnya menciptakan dan mengatur semua hal tadi, merupakan penampakan dari adanya naluri beragama pada manusia. Dan yang terakhir, adanya kasih sayang seorang Ibu kepada bayi/anaknya, kasih sayang kita pada anak-anak kecil sekalipun kita tidak mengenalnya, adanya keinginan seorang bapak untuk senantiasa melindungi keluarganya, adanya ketertarikan antara pria dan wanita yang darinya memungkinkan dilakukannya aktivitas perkawinan yang akan melahirkan manusia-manusia baru, yang semuanya itu merupakan penampakan dari adanya naluri untuk melestarikan jenis (manusia) hingga tidak akan punah.
Allah SWT telah menerangkan keberadaan naluri tersebut, melalui beberapa kenyataan yang telah dinyatakan dalam beberapa ayat Al-Qur'an, antara lain ketika Allah SWT berfirman, menceritakan kisah Yusuf as. dengan seorang permaisuri raja:
“Sesungguhnya wanita itu telah bermaksud (melakukan perbuatan itu) dengan Yusuf, dan Yusuf bermaksud pula (melakukannya) dengan wanita itu, seandainya dia tidak melihat tanda-tanda (dari) Tuhannya.” (QS. Yusuf: 24)
Dorongan syahwat kepada lawan jenis tersebut merupakan kenyataan yang membuktikan keberadaan gharizatu an-nau’ Nabi Yusuf as. kepada permaisuri raja tersebut. Demikian pula permaisuri raja tersebut telah timbul syahwatnya kepada Nabi Yusuf as. dan ingin memenuhi gharizatu an-nau’-nya dengan beliau. Namun, Nabi Yusuf tidak melakukannya, karena Allah SWT telah melarangnya.
Contoh lain, adalah yang dikemukakan oleh Allah SWT dalam Al-Qur'an:
“Dan apabila manusia ditimpa kesusahan, maka ia memohon (pertolongan) kepada Tuhannya dengan kembali kepada-Nya.” (QS. Az-Zumar: 8)
“Kembali kepada Allah” serta meluapkan dan menumpahkan segala keluhan dan kelemahan diri kepada-Nya ketika ditimpa suatu musibah adalah fakta yang menunjukkan keberadaan naluri beragama (gharizatu at-tadayyun).
Dari uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa naluri/kecenderungan yang dimiliki oleh manusia (dan hewan) itu ada tiga, yaitu: (1) Naluri mempertahankan diri (gharizatu al-baqa’), (2) Naluri seksual/mempertahankan jenis (gharizatu an-nau’), dan (3) Naluri beragama (gharizatu at-tadayyun). Hanya saja banyak dari kita yang kemudian salah kaprah menyebut berbagai macam penampakan dari naluri tadi sebagai naluri itu sendiri. Misalnya sering kita menyebut adanya naluri keibuan, naluri kebapakan, naluri ketakutan, naluri untuk menyayangi dan disayangi, dan sebagainya.
Sobat, sampe’ di sini rasanya udah jelas deh bagi kita gimanakah gambaran dan penampakan potensi kehidupan ini (kebutuhan jasmani dan naluri) pada manusia.
Sementara penampakan dari dua potensi kehidupan itu pada hewan/ tumbuhan memang berbeda, sekalipun kita masih bisa mengindera bahwa kebutuhan-kebutuhan yang serupa dengan kebutuhan manusia itu ada pada mereka. Mulai dari kebutuhan fisik semacam kebutuhan akan makanan, minuman, suhu tertentu, udara tertentu, kebutuhan untuk BAB/BAK hingga penampakan dari adanya instink/naluri-naluri tersebut pada hewan/tumbuhan. Mulai dari adanya rasa takut yang juga ada pada hewan ketika bertemu dengan pemangsanya, kelakuan ‘sang kucing’ yang mengencingi pepohonan/dinding rumah untuk menandai ‘wilayah kekuasaannya’, adanya bentuk spora pada tumbuhan-tumbuhan tertentu sehingga bisa bertahan hidup ketika suasana tidak mendukung, yang kesemuanya itu merupakan penampakan dari adanya naluri/kecenderungan untuk mempertahankan diri pada hewan dan tumbuhan. Selain itu, adanya ketertarikan dan aktivitas kawin antara domba jantan dengan domba betina dan tidak dengan selainnya sehingga bisa dilahirkanlah domba-domba baru, kasih sayang seekor induk burung kepada anak-anaknya yang mendorongnya untuk mencarikan makan buat anak-anaknya, hingga harus adanya perkawinan antara putik dengan benang sari agar bisa dihasilkan tanaman baru, merupakan penampakan dari adanya naluri mempertahankan / melangsungkan jenis /keturunannya. Sementara penampakan dari naluri beribadah pada hewan adalah sesuatu yang juga ada faktanya, hanya kita saja yang tidak bisa memahami bagaimanakah cara mereka bertasbih, beribadah atau mengagungkan Zat yang Maha Agung (Allah) tersebut. Sebagaimana yang ditunjukkan oleh Allah dalam firman-Nya:
“Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tak ada satupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. (Terj. QS. Al Isra 44),
“Tidaklah kamu tahu bahwasannya Allah: kepada-Nya bertasbih apa yang ada di langit dan di bumi dan (juga) burung-burung dengan mengembangkan sayapnya. Masing-masing telah mengetahui (cara) sembahyang dan tasbihnya, dan Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan.” (Terj. QS. An Nuur 41)

Karakteristik Kebutuhan Jasmani dan Naluri
Keberadaan kebutuhan fisik dan naluri inilah yang ada pada setiap manusia. Siapapun dia asalkan masih berlabel manusia pasti punya dua fitrah ini, baik dia seorang Rasul, Raja, Kaisar, maupun rakyat jelata. Dan dua fitrah ini akan mendorong manusia untuk melakukan sesuatu perbuatan demi memenuhi kebutuhan tersebut. Taruhlah contoh bahwa manusia butuh makan, maka rasa lapar dalam dirinya inilah yang nantinya akan mendorong dia untuk bergerak mencari sesuap nasi, entah dengan cara meminta, membeli, mencuri atau dengan cara yang lain. Tahu orgil khan? Orgil alias orang gila.....Nah, siapa bilang orgil nggak butuh makan. Mereka tuh juga butuh makan, hanya kita aja yang nggak pernah merhatiin bagaimana cara mereka cari makan, ya nggak??
Contoh lain, misalnya dari naluri untuk melangsungkan keturunan. Yang salah satu penampakan adalah kecenderungan kita untuk menyukai lawan jenis kita. Si Boy, misalnya, lagi kasmaran ama si Betty. Satu sisi jatuh cinta emang sesuatu yang wajar karena emang kita punya potensi untuk itu, tapi lebih dari itu perasaan ini akan mendorong si Boy untuk melakukan sesuatu agar si Betty ngerti kata hatinya. Akhirnya kita pasti bisa bayangin kira-kira apa saja yang dilakukan si Boy, ya mulai dari hanya sekedar mencari perhatiannya si Betty lah… sampai akhirnya berusaha agar si Betty mau nerima rasa cintanya itu. Nah, contoh ini menunjukkan jika naluri itu juga butuh pemenuhan.
Inilah persamaan antara kebutuhan fisik dan naluri, yaitu sama-sama butuh akan pemenuhan. Akan tetapi, ada dua perbedaan yang sangat mendasar antara keduanya yang musti kita ketahui agar tidak salah dalam netapin langkah untuk memenuhinya. Yang pertama, dari sisi sifat pemenuhannya. Kalau di atas tadi udah dijelasin bahwa kebutuhan fisik dan naluri itu butuh pemenuhan, cuman sekarang apa yang bakal terjadi kalau kebutuhan fisik dan naluri tadi tidak dipenuhi? Coba aja pikirkan, seandainya seorang bayi (manusia juga khan??) nggak punya lobang anus sehingga nggak bisa BAB, apa yang terjadi? Pasti mati. Apa pula yang terjadi kalau manusia itu nggak bernafas, pasti juga akan mati. Demikian pula kalau mereka tidak makan, minum atau istirahat, pasti akan membawa diri mereka pada kebinasaan (kematian), sekalipun jarak waktu dengan kematian yang ditimbulkannya berbeda-beda. Nah, berarti bahwa sifat pemenuhan kebutuhan jasmani adalah pasti, karena jika tidak dipenuhi…maka akan mengakibatkan kematian.
Hal ini berbeda dengan naluri. Jika kebutuhan naluri nggak dipenuhi, maka manusia nggak akan mati, paling-paling dia akan senantiasa merasakan resah gelisah, gundah gulana, makan tak enak, tidur tak nyenyak dan yang sebangsa dengan itu ketika kebutuhan naluri tadi tidak dipenuhi. Misalnya kehidupan seorang biarawan/biarawati, yang menunjukkan bahwa sekalipun mereka tidak menikah (tidak memenuhi naluri seksualnya), akan tetapi mereka tetep bisa hidup. Demikian pula dengan si Boy tadi, seandainya cintanya akhirnya di tolak oleh si Betty, dia juga masih akan tetep hidup, bahkan mungkin bisa cari cewek lain yang lebih cantik. Hal ini berbeda halnya seandainya karena putus cintanya si Boy lalu jadi frustasi berat sampe tidak mau makan, minum, ’en tidur segala, maka bisa dipasti’in dalam jangka waktu sekian lama dia pasti bakalan ko’it (baca: mati). Bukan karena putus cintanya itu, tapi karena aksi mogok makan, minum ’en boboknya yang bisa ngebuat dia sampe’ pada kebinasaannya. Kalau saja dia tetep mau makan, minum ’en bobok, dijamin dia pasti masih bisa hidup sekalipun dengan perasaan yang resah gelisah, diliputi kegundahgulanaan. Nah Sobat, ini beda yang pertama, dari sisi sifat pemenuhannya.
Beda yang kedua adalah dari sisi rangsangan yang menyebabkan kebutuhan tadi minta pemenuhan. Kalau kebutuhan fisik, rangsangannya berasal dari dalam tubuh kita, sementara naluri rangsangannya berasal dari luar tubuh kita. Contohnya, pernah nggak nyoba mogok makan? Pasti lapar khan?? Walaupun kita pingin nggak makan, tapi rasa lapar itu pasti muncul karena rangsangan ini (rasa lapar) muncul dari dalam tubuh kita. Yang lain, misalnya, kita pingin ‘wayangan’ soalnya besok ada ujian, eh…..ini mata terasa berat untuk dibuat melek. Karena tubuh kita butuh tidur dan rasa ngantuk itu munculnya dari dalam tubuh kita. Contoh lain pernah khan ngerasain perut mules karena ingin BAB? Meski kita coba tahan-tahan, tuch hajat tidak bakalan ilang karena emang merupakan penampakan dari adanya kebutuhan dari dalam tubuh kita yang emang harus mengeluarkannya, dan bukannya karena habis nonton iklan kloset kitanya jadi ingin ke belakang, ya nggak?
Nah karakteristik asal rangsangan ini beda ama naluri, yang bakal tereak-tereak minta pemenuhan karena ada rangsangan dari luar yang menggugahnya. Rangsangan dari luar diri manusia itu bisa berupa fakta/realita dan bisa juga berupa pemikiran. Misalnya kasus si Boy tadi, dia nggak bakalan kasmaran ama si Betty kalau si Boy tidak pernah melihat si Betty, kenal ama si Betty ’en pernah berinteraksi ama si Betty, ya khan? Kaya’ kisahnya si tarzan itu lho! Bukankah sebelum Tarzan ketemu ama manusia dia tidak pernah jatuh cinta sama manusia? Demikian pula contoh lain mungkin gampang: Coba apa yang terjadi kalau misalkan kamu yang cowok dimasukkan ke sebuah kamar sendirian bersama cewek cantik yang lagi tidak pake’ baju alias bugil. Hayo naluri apa yang bakal terangsang? Yo jelas naluri seksualmu. Coba kalau sekarang kita ganti cewek tadi dengan sesuatu yang lain, masih sama-sama ceweknya ’en sama bugilnya, cuman bedanya sekarang sesuatu itu adalah seekor singa, coba nalurimu yang mana yang bakal terangsang? Apa masih naluri seksualmu? Jelas nggak, tapi naluri mempertahankan dirimulah yang muncul sehingga membuat kamu ketakutan dan bersegera lari nyelamatin diri kamu. Jadi jelas bukan, kalau naluri itu sangat bergantung kepada jenis rangsangan yang ada di luar diri kita?! Berbeda rangsangan maka berbeda pula naluri yang akan terangsang dan butuh pemenuhan.
Contoh lain, adalah pengalaman kita kalau lagi JJS ke mall atau pasar-pasar. Sekalipun di rumah tadi tidak pernah terbersit adanya keinginan buat beli boneka Barbie atau beli gelang manik-manik ‘gaul’, tetapi begitu mata kita melihat berbagai macam barang dagangan itu digelar di depan mata, maka terdoronglah kita untuk membelinya. Bahkan, adakalanya kita jadi bingung untuk memilih mau beli barang yang mana, kalau bisa semuanya deh kita borong, padahal waktu berangkat tadi tidak ada keinginan sama sekali untuk beli itu barang yang sekarang jadi ngebingungin kita. Jadi jelaslah fakta berbagai macam barang dagangan itu menjadi pendorong/perangsang naluri baqa’ kita untuk minta pemenuhan.
Inilah contoh beberapa rangsangan terhadap naluri manusia yang berupa realita/fakta. Di samping realita, pemikiran juga tidak kalah kuat pengaruhnya terhadap naluri manusia. Ketika seorang ABG membayangkan kembali adegan ‘panas’ dari BF yang ditontonnya mungkin 2 bulan yang lalu, maka dorongan syahwatnya pada waktu itu akan tumbuh, sekalipun di saat dia membayangkannya, tidak ada fakta adegan itu di hadapannya. Inilah yang seringkali mendorong banyak ABG kita yang ‘rusak’ akhirnya memperkosa anak-anak kecil atau nenek-nenek tua. Begitu pula, seseorang yang membayangkan betapa enaknya mempunyai rumah indah, kendaraan pribadi serta kebutuhan yang serba cukup, pastinya akan mendorong keinginannya untuk mempunyai semua barang tersebut. Begitu pula, ketika seseorang membaca Al-Qur'an, kemudian merenungkan isinya, antara lain tentang kenikmatan surga, maka akan bisa mendorong munculnya kerinduannya untuk berusaha ngedapetinya. Semua contoh tersebut merupakan penampakan dari pengaruh pemikiran yang bisa merangsang naluri pada manusia untuk ‘bangun’ dan minta pemenuhan.
Kedua rangsangan dari luar inilah yang mempengaruhi timbulnya dorongan kebutuhan naluri manusia untuk dipenuhi. Karena timbulnya naluri tersebut bukan dari dalam diri manusia, maka ketika naluri tersebut tidak dipenuhi pun, ia tidak akan mengalami kerusakan atau bahkan sampai mengalami kematian. Hanya dia akan mengalami kegelisahan hingga nalurinya tadi terpenuhi, atau hingga yang menjadi perangsang munculnya naluri tadi bisa kita eliminir atau pemenuhan terhadap naluri tadi kita alihkan. Misalnya dengan tidak membiasakan diri membaca atau melihat segala hal yang berbau pornografi, membiasakan dan memacu diri untuk senantiasa mengisi hari-hari kita dengan usaha untuk meraih prestasi yang tinggi, hingga menyibukkan diri kita dengan majelis-majelis ilmu dan dzikir yang senantiasa mengingatkan tujuan hidup kita di dunia ini, dsb.
Sebagaimana aktivitas puasa yang pernah diperintahkan oleh baginda saw kepada pemuda yang mempunyai keinginan kuat untuk menikah, ketika ia didominasi oleh kecenderungan seksualnya, namun masih belum mampu membina rumah tangga. Sabda baginda saw. :
“Wahai para pemuda, siapa saja diantara kamu yang mampu berumah tangga, maka menikahlah. Sebab menikah itu dapat menundukkan pandangan dan membentengi kemaluan. Namun, siapa saja yang tidak mampu, maka hendaklah berpuasa, sebab puasa itu dapat menjadi benteng (bagi seseorang).” (HR. Bukhori)
Puasa yang diperintahkan oleh Nabi saw tersebut adalah agar seseorang yang mempunyai keinginan kuat untuk menikah -karena dorongan gharizatu an-nau’(naluri seksual)nya- dapat memalingkan dorongan gharizatu an-nau’-nya kepada dorongan gharizatu at-tadayyun (naluri beragama). Sebab, puasa merupakan ibadah dan tiap ibadah mempunyai tujuan yang ingin dicapai, yaitu meningkatkan kekuasaan ruhiyah (spiritual) seseorang. Dengan spiritual yang meningkat, gharizatu an-nau’ seseorang dapat dikendalikan sehingga bisa ditekan.

Keistimewaan Manusia: Akal dan Pikiran
Potensi kehidupan manusia yang telah dibahas diatas bukanlah khas dimiliki oleh manusia saja. Pasalnya hewan juga punya fitrah kayak begini. Lantas apa yang membedakan manusia dengan hewan?
Sobat tersayang, dalam QS. Ath-Tiin: 4 Allah berfirman yang artinya:

“Sungguh telah Aku ciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.” Tafsir ayat ini menunjukkan bahwa maksud dari bentuk yang sebaik-baiknya adalah karena pada diri manusia telah dikaruniai akal. Karena akal inilah manusia bisa berpikir sehingga dia bisa mengembangkan alam semesta dan seisinya.
Berbeda dengan hewan yang nggak punya akal, manusia dapat lebih kreatif dan produktif. Buktinya kehidupan manusia dari zaman ke zaman selalu mengalami perubahan, jika dulu manusia masih hidup berpindah-pindah (nomaden), sekarang manusia sudah mampu membangun rumah yang bagus yang sanggup melindungi mereka dari serangan hujan dan panas, bahkan rumah tadi dilengkapi dengan berbagai sarana, seperti sarana pelindung kebakaran, penangkal petir, penangkal maling (alias pagar besi yang runcing) dan berbagai fasilitas serta sarana hiburan lainnya. Sementara hewan kalau kita cermati dari waktu ke waktu nggak pernah berubah. Monyet dari dulu sampai sekarang hidupnya tetap bergelantungan di pohon meskipun cuaca sangat menyiksa kehidupan mereka, toh mereka nggak pernah berpikir untuk membuat rumah, apalagi membuat baju. Kalaupun ada yang punya rumah, itu sih karena dibuatin dan dipelihara orang atau karena jadi topeng monyet. Itulah binatang.
So…. Kalau kita pingin berbeda dengan hewan, maka pakailah akal. Karena yang membedakan manusia dengan hewan adalah keberadaan akal itu sendiri. Dan kalau akal yang udah kita punya itu tidak kita pake’ …itu mah sama aja keadaannya antara adanya akal tadi ama tidak adanya, artinya meskipun kita punya akal tapi kalau tidak pernah kita pake yo berarti kita tidak ada bedanya blas dengan hewan. Sebagaimana firman Allah:
“Kami telah menjadikan untuk isi neraka Jahanam, kebanyakan dari manusia dan jin. Mereka mempunyai hati, namun tidak digunakan untuk melihat. Mereka mempunyai telinga, namun tidak digunakan untuk mendengar. Mereka itu seperti hewan, bahkan lebih hina lagi.” (QS. Al-A’raf: 179)
Ayat ini menerangkan adanya persamaan antara manusia dan jin dengan hewan, yaitu bahwa ketika manusia dan jin yang sama-sama diberi akal, pendengaran dan penglihatan, namun tidak dipergunakan untuk berpikir, mendengar dan melihat realita, maka mereka sebenernya sama aja dengan hewan. Pada asalnya mereka memang tidak sama dengan hewan, namun apabila keistimewaan mereka -yang membuat mereka menjadi berbeda- tadi tidak digunakan, maka mereka sama dengan hewan, yaitu ketika manusia tidak mau menggunakan akalnya untuk berpikir. Dengan demikian kalau kita pingin beda dengan hewan maka sebelum bertindak, mikir dulu doooong!!!

Berpikir Sebelum Berbuat
Diatas tadi sudah dijelaskan bahwa potensi kehidupan yang dimiliki manusia akan mendorong manusia untuk melakukan perbuatan atau aktivitas apa saja dalam rangka memenuhi kebutuhan fisik dan nalurinya. Jika seseorang itu haus dan butuh minum maka ia akan melakukan aktivitas apapun demi mendapatkan air minum, entah itu dengan meminta air minum, atau minum air mentah dan sebagainya. Begitu pula jika ia ingin kaya, maka ia akan berusaha mendapatkan kekayaan dengan jalan apa saja seperti bekerja, berdagang atau bahkan dengan mencuri atau dengan korupsi. Jadi semua potensi kehidupan manusia selalu mendorong manusia untuk beraktivitas dalam rangka memenuhi tuntutan tadi.
Akan tetapi, meskipun dorongan dari dalam dirinya kuat, agar perasaan-perasaan dan kebutuhan tersebut dipenuhi, namun yang menentukan apakah ia dipenuhi ataukah tidak adalah bergantung kepada pemahaman masing-masing orang tentang dorongan tersebut. Inilah yang membedakan antara manusia dengan hewan. Sebab hewan mempunyai naluri dan kebutuhan jasmani, namun tidak mempunyai akal, yang karenanya tidak akan pernah mempunyai pemahaman.
Dengan demikian -akal pada manusia- inilah yang harus difungsikan sebagai alat untuk mempertimbangkan apakah suatu perbuatan itu akan dilakukan atau tidak, sehingga kemuliaannya sebagai manusia tetap terjaga. Hanya saja haruslah diingat bahwa akal manusia itu punya sifat terbatas. Keterbatasan akal ini antara lain, akal tidak mampu memastikan apa yang akan terjadi pada masa mendatang, bahkan 1 detik kedepan pun akal tidak mampu mendeteksinya. Oleh karena itu sebenarnya akal tidak bisa digunakan untuk menentukan ukuran yang pasti tentang baik dan buruk. bisa jadi saat ini akal manusia mengatakan baik tapi beberapa detik kemudian akal berubah mengatakan hal itu buruk. Contohnya Sobat, ketika ada seorang pengusaha akan pergi ke luar negri untuk bisnisnya yang bernilai miliaran rupiah. Tetapi karena suatu hal dia terlambat datang ke bandara sehingga ia ketinggalan pesawat. Maka pada saat itu ia akan menilai ini hal buruk baginya karena itu berarti bisnis miliaran rupiah yang akan ia dapatkan hilang lenyap. Tapi begitu ia mendengar bahwa pesawat yang akan ia tumpangi tersebut meledak beberapa detik setelah lepas landas dari bandara, maka seketika itu juga akalnya mengatakan hal itu baik bagi dia karena dengan ketinggalan pesawat berarti nyawanya terselamatkan, akhirnya ia pun bersujud syukur.
Nah Sobat, ternyata akal kita terbatas, sehingga kita nggak akan bisa menggunakan akal sebagai tolok ukur untuk menilai suatu aktivitas apakah baik ataukah buruk, apakah lebih baik kita lakukan ataukah lebih baik kita tinggalkan. Karena adakalanya manusia mengira sesuatu itu baik bagi dirinya, padahal sebenarnya buruk, dan sebaiknya seringkali pula dia membenci sesuatu karena mengira sesuatu tadi buruk padahal hakikatnya baik. Sebagaimana firman Allah:
“......Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu amat bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu padahal itu amat buruk bagimu. Allah mengetahui sedangkan kamu tidak mengetahui.” (Terj. QS. Al Baqarah 216)
Sehingga haruslah ada tolok ukur yang lain selain akal yang mampu menilai perbuatan manusia itu sampai pada tataran hakikinya, tanpa mengandung suatu kesalahan (kenisbian), yang bisa menunjukkan apakah suatu perbuatan itu baik untuk dilakukan ataukah sebaliknya.
Dan yang pasti, tolok ukur itu haruslah bukan buatan manusia pula karena jika itu hasil buatan manusia maka sama saja hal itu menggunakan akal manusia. Dan tolok ukur itu jelas bukan pula berasal dari hewan atau makhluk-makhluk yang lain, karena itu tentu lebih tidak rasional, akan tetapi haruslah tolok ukur itu berasal dari Dzat yang bener-bener mengetahui hakikat manusia, kelebihan-kelebihannya serta kekurangannya. Yang Maha Mengetahui apa sajakah yang akan membawa kebaikan pada manusia, dan apa sajakah yang akan bisa merusak kehidupan manusia. Yap Sobat, tidak lain dan tidak bukan, aturan itu haruslah berasal dari ‘Sang Pencipta’ manusia itu sendiri (Allah SWT). Sebagai satu-satunya Dzat yang menciptakan manusia, maka hanya Allahlah yang paling ngerti tentang hakikat manusia. Sehingga aturan Allah sajalah yang musti kita jadikan tolok ukur dan standard perbuatan kita.
Tapi….eits…. Lalu dimana fungsi akal dong? Nah Sobat, fungsi akal yang membedakan kita dengan makhluk Allah yang lain tadi adalah untuk kita gunakan memahami aturan-aturan Allah tadi, sehingga kita bisa ngerti dengan cara gimana mestinya kita ngatur seluruh perbuatan kita. Atau dengan kata lain, dengan akal-lah kita akan mampu mengetahui aturan yang benar yang mestinya kita gunakan ketika kita hendak memenuhi seluruh kebutuhan-kebutuhan hidup yang menjadi potensi kehidupan kita. Dengan begitu kita akan senantiasa menjalani kehidupan ini dengan kemuliaan. Karena kita senantiasa memfungsikan akal kita untuk memahami hukum-hukum Allah, yang kemudian kita terapkan untuk mengatur seluruh aspek kehidupan kita. Gimana??***

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar