Tempat berbagi
informasi, pemikiran,
kisah, artikel, tips, pengalaman, dan ilmu
berkaitan dengan
dunia medis, intelektual, dakwah, perempuan,

pendidikan anak,
remaja, keluarga dan generasi, juga sesekali barang jualan.....

Selamat Berlayar..........

Jumat, 20 Maret 2009

Profil Ahmad Juraij Al Manshur

MENGENAL AHMAD JURAIJ AL MANSHUR
Oleh: Faizatul Rosyidah (Umi Ahmad )

Anak Infaq
Anak Infaq, itulah frasa yang kami pernah gunakan untuk menggambarkan Ahmad. Yah memang, Ahmad adalah seorang anak yang sejak awal pertama kali direncanakan untuk hadir di bumi ini adalah dalam rangka untuk di’infaq’kan kepada orang tua lain yang sangat membutuhkan. Apakah itu berarti Ahmad adalah anak yang tidak diinginkan? Jawabannya adalah SAMA SEKALI TIDAK. Justru kehadirannya sangat diharapkan. Berawal dari permintaan tulus Pakde Ahmad yang sudah belasan tahun menikah akan tetapi belum juga dikaruniai seorang putra, agar sekiranya berkenan memiliki putra lagi untuk kelak mereka adopsi, ayah dan ibu Ahmad -yang memang dikenal sangat gemar mengulurkan tangan kepada siapa saja yang membutuhkan pertolongan mereka- tak kuasa menolak permintaan tersebut. Meski pada saat itu usia ibu Ahmad sudah tidak tergolong muda lagi untuk melahirkan, sementara ayah Ahmad pun sudah dalam keadaan kesehatan yang tidak lagi prima karena beberapa penyakit metabolik yang dimilikinya, ditambah dengan sebenarnya mereka sudah merasa cukup dan bersyukur dengan 2 orang putra-putri yang mereka miliki, akan tetapi dorongan niat baik untuk membantu saudara yang membutuhkan pertolongan mereka, membuat keduanya merealisir keinginan saudaranya untuk menambah putra agar kelak bisa mereka adopsi.
Maka seizin Allah, janin Ahmad pun mulai ada dan berkembang di perut ibunya.Akan tetapi rupanya Allah juga memiliki skenario lain untuk Ahmad. Ketika Ahmad baru berusia kurang lebih 1 bulan dalam kandungan, pakde Ahmad yang juga berikhtiar -sekian lama- untuk memiliki anak dengan cara mengadopsi bayi lain diperkenankan Allah mendapatkan calon bayi adopsi. Proses adopsi yang tidak mudah tersebut berjalan bersamaan dengan kehamilan Ahmad yang belum diketahui keduanya. Akhirnya pakde Ahmad berhasil mendapatkan bayi adopsi yang baru berusia 7 hari tersebut untuk dibawa pulang setelah semua proses adopsi yang ‘tidak mudah’ mereka lalui. Tentu moment itu menjadi sesuatu yang sangat membahagiakan mereka setelah sekian lama mereka berikhtiar untuk mendapatkan anak.

Itulah salah satu rahasia skenario Allah yang tengah Dia persiapkan untuk Ahmad. Umur kehamilan Ahmad pun terus bertambah seiring dengan kerepotan keluarga pakdenya yang juga tengah mengasuh seorang bayi. Janin Ahmad pun tumbuh dalam keadaan yang membinanya untuk memiliki kesabaran dan ketangguhan. Sang Ayah karena sakitnya beberapa kali masuk RS untuk opname. Janin Ahmad pun sudah terbiasa ikut ibunya yang harus tidur di RS merawat sang ayah, sambil bolak-balik memastikan 2 anak kecilnya (saudara-saudara ahmad) juga terawat dan terpenuhi kebutuhan-kebutuhannya. Bisa kita bayangkan, Ahmad sudah terbiasa dengan suasana kesabaran, ketegaran dan perjuangan yang dilakukan oleh ibunya sejak dia dalam kandungan.
Keadaan seperti ini berjalan hampir sepanjang usia kehamilan Ahmad. Ibunya harus merawat ayahnya yang sakit sambil mengasuh dua kakaknya yang juga masih kecil-kecil. Pada waktu usia kehamilan Ahmad 6 bulan, Ahmad hampir kehilangan sang ayah yang belum pernah melihat maupun dilihatnya. (Tentang ini akan kami ceritakan tersendiri) Tapi Allah menghendaki sang ayah bisa menyaksikan bayi Ahmad lahir di dunia. Meskipun selang beberapa bulan kemudian, tepatnya ketika Ahmad berusia 4 bulan, Allah sang Khaliq akhirnya benar-benar mengambil ayah Ahmad kembali ke sisi-Nya. Satu lagi episode perjalanan hidup yang disiapkan Allah untuk Ahmad. Kami sendiri sangat yakin semua skenario tersebut pada masanya nanti akan bisa dimengerti sebagai pendidikan tersendiri yang dilakukan Allah kepada Ahmad.
Ketika Ahmad lahir ke dunia tentu saja rencana untuk memberikannya kepada Pakdenya tidak bisa serta merta direalisir karena pada saat itu mereka sudah memiliki tanggungan bayi untuk diasuh yang sudah cukup merepotkan mereka.
Namun kemudian akhirnya kami yang diperkenankan Allah merawat Ahmad, filosofi bahwa Ahmad adalah anak yang memang sudah diikhlaskan oleh orang tuanya dengan niat baik untuk menjadi tabungan kebaikan pun kami bawa. Kami bertekad untuk mempersiapkan Ahmad untuk menjadi anak yang di’infaq’kan di jalan-Nya; menjadi hamba-Nya yang diridloi-Nya dan dia pun ridlo kepada Tuhan-Nya; menjadi seorang anak yang kelak menjadi salah satu dari generasi terbaik yang pernah dilahirkan untuk kemuliaan Islam. Dengannya kami berharap Ahmad bukan hanya bisa menjadi jalan teraihnya kemuliaan bagi kedua orang tuanya, maupun kami yang membesarkannya, akan tetapi lebih jauh lagi bagi umat ini secara keseluruhan. Itulah mengapa kami menyebutnya Anak Infaq….

Hampir Kehilangan Ayah Di Usia 6 Bulan Kandungan
Siang itu saya ditelpon ibu mengabarkan kalau paman saya (ayah Ahmad) baru pulang dari opname di sebuah RS Pemerintah di Surabaya karena kadar asam urat dan kadar gulanya yang tinggi. Tetapi begitu sampai di dalam rumah ternyata paman saya tersebut mendadak tidak sadar hingga sekarang. Saya diminta untuk segera melihat keadaannya.
Ketika saya sampai di sana saya mendapatkan cerita bahwa baru saja paman diijinkan oleh dokter yang merawat untuk pulang dari RS karena sudah sembuh dan keadaannya sudah stabil. Namun begitu menginjakkan kakinya ke dalam rumah ternyata paman saya tiba-tiba tidak sadar hingga ketika saya menemui beliau. Yang saya saksikan saat itu adalah paman saya yang sudah tidak bereaksi dengan rangsangan apapun, termasuk rangsang nyeri, nafas sudah satu-satu, kadang ada cepat kadang melambat bahkan kadang tidak ada, tekanan darah sudah tidak terukur, nadi teraba sangat lemah, semua tubuhnya sudah dingin,basah dan agak membiru. Beliau sudah jatuh dalam keadaan shock. Di sekelilingnya saya dapati saudara-saudara yang lain membacakan ayat-ayat Al Qur’an. Ibu Ahmad sendiri yang waktu itu sedang hamil Ahmad 6 bulan sudah pasrah dan ikhals seandainya sang suami saat itu dipanggil oleh-Nya.
Tapi Allah berkehendak lain. Ketika Ayah Ahmad berhasil kami antarkan ke RS terdekat, beliau masuk dengan diagnosa sementara Gagal jantung karena yang dominan terlihat saat itu adalah tubuhnya yang keseluruhannya memang membengkak (oedema anasarka). Biasanya ini terjadi pada kelainan jantung atau ginjal. Namun pada proses diagnosa berikutnya diketahui ternyata yang membuat beliau koma adalah shock hipoglikemik (sebuah keadaaan yang terjadi ketika kadar gula darah seseorang sangat rendah dan menurun dengan cepat). Ini adalah komplikasi yang cukup sering terjadi pada pasien dengan kadar gula tinggi (Diabetes Mellitus) yang kemudian mendapatkan terapi untuk menurunkan kadar gulanya tetapi pasien tersebut tidak mengimbanginya dengan makan yang seharusnya dilakukan. Jadi akhirnya kadar gulanya turun drastis.
Pada perjalanan berikutnya ayah Ahmad setelah pulih dari keadaan koma hipoglikemik yang sebelumnya dialaminya, ternyata harus opname cukup lama di RS tersebut karena ternyata sekarang ditemukan kelainan gagal jantung dan ginjalnya yang salah satu sebabnya adalah shock yang beliau alami sebelumnya. Begitulah, ayah Ahmad harus opname lagi pada hari beliau diijinkan pulang dari RS setelah opname 2 mingguan. Di RS yang kedua ini, opname lebih lama, hampir 3 bulan lamanya.Ayah Ahmad diperbolehkan pulang dalam kondisi kekuatan jantung yang kurang dari 60% menjelang kelahiran Ahmad.

Proses Kelahiran Itu
Selang tidak lama setelah kepulangan sang suami, ibu Ahmad pun melahirkan. Tepatnya tanggal 18 Agustus 2003 dini hari. Tentu saja ayahnya tidak bisa mendampingi ibunya melahirkan. Terlahir dengan berat badan 2.8 kg dan panjang badan 51 cm, alhamdulillah Ahmad adalah bayi yang sehat dan sempurna.

Hari-Hari Pertama Yang Penuh Dengan Kesabaran
Hari-hari pertama dalam kehidupan Ahmad tentu saja masih diliputi suasana keprihatinan karena meski ayahnya sudah tidak lagi opname, namun karena keterbatasan fisik yang dimilikinya saat ini membuat beliau tidak bisa membantu ibu Ahmad untuk menyelesaikan tugas-tugas rumah tangga. Jangankan membantu mengasuh anak-anaknya atau membantu pekerjaan sehari-hari di rumah, membawa diri sendiri saja sudah cukup memberatkan beliau. Sering beliau terjatuh ketika berjalan dan semacamnya. Justru ibu Ahmad yang saat itu harus ekstra sabar dan tegar karena harus mengurus bayi dan anak-anaknya yang masih kecil sekaligus mengurus ayah Ahmad yang sedang sakit. Memang ada seorang pembantu yang membantu beliau di rumah, akan tetapi tetap saja tanggung jawab dan beban yang harus ditanggung ibu Ahmad tidaklah ringan. Saya kira suasana kesabaran, ketegaran dan penuh perjuangan yang sudah ditemui Ahmad sejak detik awal kehidupannya juga adalah skenario Allah yang membantu Ahmad untuk mencapai kematangan dan kemandiriannya sejak kecil.

Bertemu Ahmad Pertama Kalinya
Kami bertemu dengan Ahmad pertama kalinya ketika dia berusia 2 minggu. Saat itu kami ketahui nama lengkap Ahmad adalah A. Juraij Al Manshur. Juraij adalah nama seorang Sholeh yang dikenal sebagai ahli ibadah pada masa dulu, sementara Manshur adalah nama kakek Ahmad dari jalur ibunya. Nama panggilan Ahmad sendiri saat itu adalah Juraij, kadang disingkat dengan panggilan Joe. Kami sempat sedikit mempertanyakan kenapa memilih nama Juraij sebagai panggilan. Karena pada mereka yang tidak terlalu mengenal tokoh Juraij dengan baik, mungkin justru sepenggal kisahnya --yang menceritakan bahwa ulama Juraij tersebut pernah tidak memenuhi satu kali panggilan ibunya ketika memanggil dan karenanya beliau kemudian mendapatkan fitnah sebagaimana doa ibunya yang saat itu merasa sakit hati kepada Allah agar anaknya diberi pelajaran— saja yang mungkin mereka ketahui. Saat itu ayahnya mengatakan mau memanggil Ahmad dengan A’ad sebagai singkatan dari Ahmad, tapi akhirnya pilihan jatuh pada Juraij atau Joe.
Kami sendiri tidak pernah mengira suatu saat Ahmad akan menjadi anak (asuh) kami.

Kehilangan Sang Ayah Yang Belum Pernah Menyentuh
Ayah Ahmad, biasa saya kenalkan ke Ahmad dengan sebutan Ayah Kautsar adalah tipe ayah yang kurang berani memegang, menggendong ataupun kontak fisik lain dengan anaknya ketika masih bayi. Menurut Ibu Ahmad, hal itu dilakukan karena ketakutan dan kekhawatiran yang dimilikinya kalau-kalau karena kecerobohan atau ketidaktahuannya, akan terjadi sesuatu yang membahayakan sang bayi. Itulah mengapa sejak Ahmad lahir hingga usia 4 bulan, yakni ketika beliau meninggal, ayah Ahmad relatif jarang ’menyentuh’ maupun kontak-kontak fisik lainnya untuk mengungkapkan kasih sayangnya kepada Ahmad. Yang sering beliau lakukan adalah menatap sambil menyapa/memanggil-manggil Ahmad yang kala itu dipanggilnya ”Juraij...Juraij...”

‘Orang Tua Baru: Abi Dan Umi’
Setelah sang ayah meninggal dunia, praktis ibu Ahmad bertambah kerepotannya. Pada saat meninggalnya, ayah Ahmad meninggalkan 3 putra yang pertama berusia 7 tahun, putrra ke dua 4 tahun dan 4 bulan (Ahmad). Sementara di luar rumah, ibu Ahmad yang seorang guru juga harus memenuhi kewajibannya tersebut. Apalagi pasca meninggalnya ayah Ahmad ada banyak hal berkaitan dengan wafatnya tersebut yang harus diurus, praktis ibu Ahmad cukup kepontal-pontal mengurus semua itu. Pada saat yang sama ketika sang ibu sibuk dengan beberapa urusan terkait wafatnya sang ayah dan beberapa tanggung jawab lain, Ahmad lebih sering diasuh oleh pengasuhnya; seorang wanita paruh baya yang cocok menjadi nenek Ahmad. Karena rumah pengasuhnya tidak jauh dengan rumah Ahmad, seringkali dia dibawa pulang oleh pengasuhnya tersebut ke rumahnya. Kadang dibawa cukup lama tanpa sepengetahuan ibunya. Saat itu Ahmad -yang sejak bayi memang cukup sering batuk- sakit batuk lagi dan agak parah. Ketika kami mengetahui kondisi Ahmad seperti itu, kami yang saat itu baru menikah dan belum dikaruniai momongan, mencoba menawarkan diri untuk membantu mengasuh Ahmad kepada ibu Ahmad. Ternyata penawaran kami tersebut disambut baik oleh tante saya tersebut. Beliau yang secara psikis mungkin memang sudah sejak awal siap untuk melepas Ahmad, lebih merasa sreg dan tidak khawatir Ahmad bersama kami daripada bersama pembantunya dengan pola asuh ’gaya jaman dulunya’.
Rencananya kami mau membawa Ahmad ketika sudah berusia 6 bulan, agar Ahmad bisa mendapatkan ASI eksklusifnya. Namun ternyata menurut ibunya, karena ASI nya tidak cukup banyak, sejak bayi Ahmad sudah tidak mendapat ASI eksklusif, sehingga kami dipersilahkan membawa Ahmad meski usianya belum 6 bulan. Jadilah Ahmad kami bawa untuk kami asuh sejak usia 5 bulan. Untuk membedakan dengan ayah dan ibu kandungnya kami memilih untuk memanggilkan diri kami dengan panggilan abi dan umi untuk Ahmad.
Komitmen kami sejak awal, bukan mengambil dan memisahkan Ahmad dari ibunya. Kami hanya berniat membantu membesarkan dan mendidiknya dengan sebaik-baiknya, agar kelak dia bisa menjadi jalan kemuliaan bagi kedua orang tuanya dan umat ini. Seandainya sewaktu-waktu Ahmad diminta ibunya kembali, Insya Allah sejak awal kami sudah menyiapkan diri dan tidak akan berusaha menghalanginya. Hal yang sama juga kami siapkan terhadap Ahmad. Dan Allah SWT Maha Mengetahui atas segala sesuatu dan Dialah sebaik-baik pemberi balasan.

Mengganti Nama Panggilan
Ketika Ahmad kami asuh, nama panggilan Juraij kami ganti dengan Ahmad. Pertimbangannya sebagaimana yang sempat kami ceritakan di atas, adalah karena tidak semua orang ketika mendengar nama Juraij dipanggil, memiliki persepsi tentang seseorang alim, sholeh dan ahli ibadah sebagaimana yang dimaksudkan oleh orang tuanya. Akan tetapi bisa jadi malah hanya mengetahui dan mengingat sepenggal kisahnya ketika Allah memberi pelajaran kepada beliau akibat pernah satu kali tidak bersegera memenuhi panggilan ibunya hingga membuat sang ibu sakit hati.
Pilihan akhirnya jatuh kepada nama Ahmad. Tanpa disingkat. Nama yang sama dengan manusia termulia yang pernah ada, yakni nabi Muhammad. Harapan kami tentu agar panggilan yang kami maupun siapa saja lakukan kepada Ahmad akan menjadi doa agar Ahmad kelak senantiasa bisa meneladani kepribadian Rasul tercinta tersebut.

Batuk; Penyakit Favorit
Anak kecil sakit adalah suatu hal yang wajar. Tinggal kita sebagai orang tua mereka yang harus tahu bagaimana bersikap dengan tepat dan tetap tenang. Ada beberapa penyakit yang sangat sering dialami seorang anak bayi, bisa berkembang ke arah membahayakan, namun pencegahan yang bisa kita lakukan sebagai orang tua sebenarnya sangat sederhana. Diantaranya adalah demam/panas, batuk dan diare. Terkait dengan demam, komplikasi yang kita khawatirkan adalah terjadinya kejang demam. Ketika terjadi kejang, maka suplai oksigen akan banyak habis di otot yang mengalami kejang sehingga suplai oksigen ke otak menurun. Inilah yang kita khawatirkan. Kalau terlalu sering anak kejang, bisa kita bayangkan proses perkembangan otak tentu terganggu, lebih lanjut hal itu akan berimplikasi kepada kecerdasan seorang anak. Masa rawan seorang anak mengalami kejang demam adalah usia 0-2 tahun, meski kadang juga terjadi pada usia diatasnya. Pada usia itu, orang tua harus selalu memiliki persediaan obat penurun panas yang harus juga diberikan ketika kita mendapati anak kita mengalami demam.
Sejak sebelum kami bawa, Ahmad sudah seringkali sakit. Dan sakitnya hampir selalu batuk. Ketika anak bayi batuk dan tidak segera tertangani, biasanya cepat sekali menjadi sesak karena saluran pernafasan mereka yang memang masih berukuran kecil ditambah riak/lendir gampang sekali menumpuk karena mereka belum bisa secara aktif mengeluarkan riak/lendir tersebut. Pertolongan pertama yang perlu disiapkan orang tua kalau anak bayi kita batuk adalah memberikan obat batuk yang mengandung mukolitik (pengencer dahak) dan memastikan makan minumnya tetap tercukupi. Karena biasanya ketika anak bayi batuk seringkali diiringi dengan muntah. Tidak usah panik, hal itu wajar terjadi karena panjang saluran pencernaan anak bayi sangatlah pendek, sehingga ketika ada sedikit rangsangan saja di tenggorokannya (misanya batuk) sudah cukup bisa membuatnya mengeluarkan isi lambungnya (muntah). Kekenyangan saja pun sudah bisa membuat mereka muntah. Makanya orang tua harus tetap tenang, dan juga sabar kalau harus berulangkali memasukkan makanan/minuman ataupun obat karena berulangkali pula dimuntahkan. Satu hal yang penting lagi, adalah segera bawa anak kita ke dokter untuk mendapatkan pengobatan sesegera mungkin.
Terkait dengan Ahmad sendiri, menggerus obat dan membuat puyer untuk Ahmad hampir menjadi agenda rutin tiap bulan saya lakukan. Kadang untuk batuk pilek, kadang diare, kadang untuk demamnya.Yang paling sering hingga sekarang adalah sakit batuknya. Kalau sekarang penyebab batuknya yang paling sering adalah kalau kebanyakan permen atau snack (jajanan anak yang banyak mengandung penguat rasa). Apakah saya dan abinya yang membelikannya permen? Tentu tidak. Salah satu kelemahan anak dengan tipe ’mudah’ bergaul dan mandiri adalah dia sering ’lepas’ alias bisa bermain dan bergaul ke mana saja, dengan siapa saja. Tidak harus dengan orang tuanya. Nah, biasanya orang-orang dewasa yang ditemui dan berinteraksi dengan Ahmad itulah yang paling sering memberikan permen. Meski kadangkala Ahmad bisa disiplin tidak menghisap permen atau makan jajan seperti yang saya pesankan, tapi tidak jarang pula dia lupa. Namanya juga masih anak-anak...

Aktiv, Jagoan Dan Pemberani Sejak Bayi
Sikap pemberani Ahmad sangat mudah dilihat sejak dia masih bayi. Dia memiliki keberanian untuk mencoba sesuatu yang untuk ukuran anak seusianya mestinya belum waktunya dilakukan. Tapi karena dia punya modal berani tersebut, seringkali dia bisa melakukan hal-hal tersebut lebih cepat dari kemampuan anak seusianya. Ketika Ahmad berumur kurang lebih 7-8 bulan, sering tetangga depan rumah sampai memanggil-manggil kami karena khawatir melihatnya naik turun kursi setinggi dadanya waktu dia masih baru bisa merangkak. Saya sih khawatir hanya pada waktu permulaan saja, ketika dia belum tahu caranya turun yang benar. Biasanya anak bayi yang baru bisa merangkak begitu ketika turun dari kursi atau kasur yang tinggi, menggunakan tangan dan kepalanya dulu. Namun setelah kami ajari dengan menjulurkan kedua kaki turun ke bawah dulu, maka bayi Ahmad segera merubah caranya turun. Pada waktu Ahmad berumur satu tahun dia mulai bisa jalan. Begitu merasa sudah bisa jalan, meskipun tentu saja sangat sering terjatuh, Ahmad seperti sudah ’alergi’ dengan merangkak. Jatuh berkali-kali tetap tidak membuatnya takut ataupun ragu untuk berdiri dan berjalan lagi. Besar sedikit mulai naik turun motor abinya. Mula-mula masih pegangan, lama-lama duduk di atasnya tanpa pegangan apapun sangat santai dinikmatinya. Beberapa waktu kemudian malah sudah tidur-tiduran di atas motor. Ya Allah...saya dan suami kadang sampai terheran-heran dengan nyalinya. Ketika masih play group, ketika tidak ada teman-temannya yang berani bermain di besi yang diperuntukkan anak-anak TK, malah dia bergelantungan di sana sambil berpegangan pada besi yang tingginya hampir dua kali tingginya, dengan santainya. Usia 4 tahun ini, ketika mendapati abinya menonton TV sambil duduk di lantai, Ahmad mulanya dengan alasan gendong dan memijit pundak abinya, sebentar kemudian pasti sudah berdiri di pundak abinya dengan tangan tanpa berpegangan apapun sambil tertawa-tawa kegirangan. Seperti adegan akrobat. Sekarang menjelang usia 5 tahun ini, malah naik sepeda dengan berusaha mengangkat roda depannya ke atas, maksudnya meniru sebuah iklan yang pernah dilihatnya. Masya Allah....kami harus ekstra menjaganya karena keingintahuannya yang tinggi sejalan dengan nyalinya yang besar pula.
Keberanian dan kepercayaan dirinya yang tinggi tidak hanya terlihat dari kemampuan motorik kasarnya, tapi juga terlihat pada ke-PD-annya untuk bergaul, berbincang atau berteman bahkan dengan orang yang tidak dikenalnya. Waktu di rumah kami di Sedati, yang kanan kirinya masih berupa sawah, Ahmad bisa kami dapati sedang berbincang-bincang asyik di pinggir sawah dengan seorang kakek petani penggarap di seberang rumah kami. Ketika saya ajak ke tempat cucian motor, pasti dia duduk jongkok di sebelah tukang cucinya sambil bertanya apa saja yang dilihatnya. Demikian pula ketika terpaksa harus nambal ban, dengan PD nya Ahmad pasti ngajak omong tukang tambal ban seputar aktivitasnya. Saya ajak ke swalayan untuk belanja, malah ngomong-ngomong dengan kasirnya. Ke tukang cukur ngajak jagongan tukang cukur atau orang yang lagi antre mau cukur. Begitulah, sampai-sampai di lingkungan rumah orang tua saya (karena Ahmad sering ke sana), Ahmad sudah kenal dan dikenal oleh tukang jualan es, buah, kue lekker, rujak sampai pentol yang biasa mangkal di belakang kampus IAIN, tepatnya di gang rumah orang tua saya. Ahmad kelihatan menikmati dan nyaman berteman ataupun sekedar berbincang dengan orang-orang besar tersebut. Sebaliknya, ketika bertemu dengan teman-teman sebayanya, sikap dominannya bisa jadi menimbulkan masalah. Karena kadang dia bersikap merasa harus bertanggung jawab dengan apa yang dilakukan temannya. Ketika menurutnya tidak tepat, langsung berusaha untuk ’diselesaikan’. Contohnya, saya ingat cerita salah satu gurunya di play group yang pura-pura menangis sambil bercerita ke guru yang lain karena tangannya terjepit meja disebabkan ada anak-anak (murid di kelas tersebut) yang bermain meja (didorong,dsb). Nah, ketika kemudian Ahmad mendapati ada diantara temannya yang sedang mainan meja, maka bisa diperkirakan dia akan langsung ’mengambil tindakan’ (baca: mulai dari megangi tangan hingga memukul sang teman tersebut).
Gabungan antara potensi keberanian mengambil inisiatif dan menghadapi resiko, PD (kepercayaan diri) yang tinggi, ketrampilan motorik kasar yang mantap, dengan bakat temperamental yang sangat dominan, ego anak kecil yang tinggi, tapi masih belum diiringi kematangan pemahaman dan emosi, seringkali membuat Ahmad dikenal ’jagoan’ dimana saja dia berada. Jagoan di sini memang konotasinya masih ke arah bersikap dominan, menang sendiri, tahan banting (meski kesakitan), sering membuat temannya menangis, sementara dia sendiri sangat jarang menangis.

’Bakat’ Temperamental
Nah sifat temperamental inilah yang senantiasa menjadi PR bagi kami, abi dan uminya untuk membantu Ahmad bisa mengendalikannya. Ahmad mudah sekali marah dan ’mengambil tindakan’ kalau menurutnya ada orang lain atau temannya yang ’nakal’. Tentu ’nakal’ di sini adalah sesuai persepsinya sebagai anak kecil (yang daya nalarnya masih dangkal, egosentrisnya masih tinggi, kualitas pemahamannya masih sangat sempit). Karena sebenarnya tidak ada anak kecil yang nakal. Yang ada adalah anak kecil yang aktif atau pendiam, yang berani atau penakut memulai sesuatu, yang ketrampilan motoriknya berbeda-beda, dan sebagainya. Tetapi itu semua tidak serta merta bisa menjadikan mereka yang pendiam kita judge sebagai anak ’baik’ sebaliknya yang sangat aktif sebagai anak ’nakal’. Karena saat itu mereka belum memiliki pemahaman yang sempurna yang bisa mereka jadikan sebagai pengikat tingkah laku mereka. Mereka masih dalam proses belajar mana dan apa sesuatu yang benar dan salah, yang baik atau buruk, yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Sehingga memang belum ada pembebanan hukum atas mereka.
Nah, kembali kepada kemarahan Ahmad kepada teman atau seseorang yang menurutnya nakal itu adalah bisa jadi karena hal-hal yang lazimnya terjadi pada anak-anak, seperti rebutan mainan, tidak sengaja tersenggol temannya, tabrakan ketika berkejaran, diledek dengan sebutan tertentu, dan semacamnya. Hanya bedanya dengan teman-temannya yang biasanya menangis ketika mengalami hal yang sama, Ahmad justru marah kepada seseorang yang menurutnya ’nakal’ tadi. Tidak jarang langsung dipukulnya seseorang tersebut. Dengan potensi keberanian yang dia punya bahkan dia tidak takut sekalipun yang dia pukul tubuhnya jauh lebih besar, usianya jauh lebih tua atau tidak. Biasanya hal tersebut bisa dicegah kalau ’kejadian’ yang membuat marah Ahmad tadi, kami, gurunya atau orang lain ketahui sebelum Ahmad melampiaskan kemarahannya, sehingga bisa disampaikan kepada Ahmad ’tafsir kejadian’ tadi dengan arif. Misalnya bahwa tadi Ahmad ketabrak temannya yang sedang lari-lari, hingga jatuh itu karena tidak sengaja, bahwa mainan Ahmad bukan direbut tapi cuman mau dilihat sebentar, bahwa temannya bukan mau melempar Ahmad tapi bolanya terbang terbawa angin yang keras hingga mengenai Ahmad, bahwa harusnya Ahmad lebih hati-hati, meminta maaf, atau memaafkan temannya dan seterusnya. Tapi tentu saja, tidak semua yang terjadi ketika anak-anak tersebut bergaul dan bermain dalam kekuasaan pengawasan kita.
Sehingga di sinilah sebenarnya kearifan kita sebagai orang dewasa dalam menyikapi apa yang terjadi diantara mereka sangat dibutuhkan. Yang harus kita pahami, bahwa ’pertengkaran’ atau ’permusuhan’ diantara mereka (anak-anak kita) sebenarnya tidaklah ada. Mereka bahkan belum paham apa itu ’musuh’, ’nakal’ dan ’bertengkar’. Bisa jadi seorang ibu yang tidak mau membelikan anaknya permen agar sang anak tidak sakit radang tenggorokan, dianggap oleh sang anak sebagai orang nakal dan harus dimusuhi. Justru dengan pertengkaran atau perkelahian-perkelahian ’semu’ itulah mereka akan dibawa pada kematangan emosi yang kelak mereka butuhkan. Dengan mengenal rasa senang dan sakit pada waktu yang bersamaan itu pulalah, mereka akan belajar untuk bergaul dengan ’sehat’. Dengan berbagai pengalaman warna rasa itu pula seorang anak akan belajar tentang kehidupan yang sesungguhnya dan dipersiapkan untuk menjadi individu yang siap mengarunginya. Tentang bagaimana kami berusaha mengajari Ahmad mengendalikan diri insya Allah di bagian lain buku ini.

Jarang Menangis, Sering Menangiskan
Ketika Ahmad masih bayi (usia di bawah 1 tahun) saya kadang sampai bertanya dalam hati, apa Ahmad ini gak ngerti caranya menangis ya kok sangat jarang sekali menangis dibandingkan anak seusianya yang memang lazimnya cukup sering menangis. Saya amati, tangisan Ahmad hanya terjadi kalau dia merasa (sangat) kesakitan. Sementara tangisan-tangisan manja seperti karena ada keinginannya yang tidak terpenuhi, sangat jarang. Kalaupun menangis, pasti sangat sebentar saja. Tapi kalau bikin temannya menangis...wah sepertinya cukup sering.
Tapi hal itu beberapa waktu kemudian -pasca Ahmad sakit diare hingga opname- berubah. Ahmad jadi pintar sekali menangis. Ada hal yang membuatnya tidak nyaman sedikit, ada maksudnya yang tidak segera dipenuhi, sudah menangis, menyerah. Hal yang sebelumnya sangat jarang dia lakukan. Biasanya kalau ada keinginannya yang belum terpenuhi, lebih cenderung membuatnya marah dan berusaha untuk bisa mendapatkannya. Misalkan mainan yang dimiliki temannya. Kalau mencoba pinjam tidak berhasil, Ahmad hampir gak pernah menangis, sebaliknya justru akhirnya dia membuat temannya tersebut menangis karena akhirnya mainan yang coba dia pinjam tadi dia ambil paksa. Kebiasaan baru menjadi anak cengeng dan gampang menyerah ini mungkin karena trauma ketika dia harus dipasang infus berkali-kali karena gagal, sembari kaki tangannya terbungkus rapat selimut hingga tidak bisa bergerak, sementara saat itu dia sudah berusaha menghentikan dengan berteriak-teriak ”sudah....sudah...” hingga menangis.
Bagi kami sendiri, pengalaman selama menjadi abi dan uminya ketika dia sementara berubah jadi gampang menyerah dan cengeng merupakan pengalaman baru. Dari sebelumnya yang harus ekstra berusaha mengendalikan dominansi dan agresifitas Ahmad, menjadi harus banyak memberikan dorongan agar Ahmad tidak mudah menyerah ataupun menangis.
Alhamdulillah, tidak lama setelahnya, Ahmad yang pemberani dan tidak cengeng sudah kembali lagi. Dan kami pun harus belajar untuk bisa mendampingi Ahmad menjadikan modal sifat-sifat pemberani dan dominan yang dimilikinya sebagai pembangun sifat kepemimpinannya. Kami yakin, Insya Allah sejalan dengan perkembangan mafhum yang dimilikinya, Ahmad akan semakin bisa mengendalikan karakter-karakter bawaannya dengan tepat.

Cara Berkenalan Dengan Teman Baru
Ini hal lain yang sempat saya perhatikan ketika membawa Ahmad (saat berusia 1-2 tahun) bermain di luar rumah bersama dengan teman-temannya. Kalau bertemu dengan anak kecil yang belum dikenalnya pasti didekati Ahmad. Kalau kemudian anak tersebut berlari-lari atau bergerak, maka biasanya Ahmad akan bermain-main dengannya, kejar-kejaran ataupun yang lainnya. Masalahnya, kalau kemudian temannya tersebut, setelah didekati, coba disapa dengan bahasa anak yang belum bisa bicara jelas ternyata diam saja, tidak memberi respons, biasanya oleh Ahmad temannya tersebut kemudian didorong, kadang sampai jatuh dan akhirnya menangis. (Mungkin maunya mengajak temannya tersebut agar tidak diam saja). Akhirnya bisa jadi banyak anak yang ditangiskan Ahmad ketika bermain. Yang lain lagi, kalau kemudian dia menemukan temannya tersebut sebentar-sebentar menangis karena takut dengan dirinya, Ahmad malah lebih senang menggoda mereka. Entah mainannya seperti hendak diambilnya, temannya tersebut seperti hendak dikejarnya, mendekatinya atau hal lain yang pada anak-anak tertentu sudah cukup membuat mereka menangis berkali-kali. Apakah hal tersebut saya biarkan? Tentu saja tidak. Berusaha menasehati dan memahamkannya tentu saja saya lakukan. Hanya pada saat itu, karakter khasnya lebih sering mendominasi daripada pemahamannya, karena memang belum usianya. Sama dengan anak seusianya yang cenderung cengeng, meskipun mereka juga berusaha untuk difahamkan dan dinasehati agar jadi anak pemberani dan tidak cengeng juga tidak serta merta berubah. Tapi dengan bertambahnya usia dan berkembangnya mafhum (pemahaman), anak-anak tersebut akan bersikap sebagaimana pemahaman yang mereka miliki, tentu tetap dengan kekhasan masing-masing yang berbeda satu sama lain.
Alhamdulillah, sekarang tentu saja sudah berbeda. Sekarang Ahmad sudah bisa untuk difahamkan. Sudah bisa diajari konsekuensi/akibat bersikap tidak baik.Dan pemahaman-pemahaman tersebut sudah mulai mengendalikan sikapnya. Meskipun tentu saja, pada waktu-waktu tertentu sikap temperamentalnya kadang masih keluar dan pemahaman yang dimiliki terkalahkan. Yang jelas, sekarang dia tidak serta merta mendorong temannya yang tidak mau lari-lari, sudah bisa bermain dan berbagi mainan bersama. Meskipun bukan berarti tidak pernah bertengkar dengan temannya. Rebutan mainan atau salah paham sih adalah hal yang biasa ... Namanya saja anak-anak. Biar mereka belajar warna dunia ini dengan berbagai rasa di dalamnya.

Susah Makan
Ini mungkin salah satu kesulitan umum yang dialami oleh banyak orang tua. Saya sendiri menghadapi masalah susah makan Ahmad ini sejak awal. Yakni sejak dia seharusnya mulai mendapatkan makanan pendamping ASI (bubur susu). Ahmad sama sekali tidak mau makan bubur. Berbagai cara kami lakukan mulai dari memvariasikan rasa, membawanya jalan-jalan, bujukan-bujukan hingga bubur itu kami jadikan seperti air minum yang kami coba minumkan ke Ahmad. Masalah susah makan ini berjalan hingga di usia 3 tahunan. Alhamdulillah, meski susah makan Ahmad sangat suka minum susu. Jadi asupan untuknya masih lumayan. Sekarang Alhamdulillah Ahmad sudah ’pintar’ makannya. Bukan hanya dalam hal memakan semua jenis makanan dan tidak hanya nasi+kuah seperti sebelumnya, tapi juga kemandiriannya dalam makan juga semakin bagus.
Pelajaran yang kami dapatkan dari susah makannya Ahmad ini adalah bahwa kita sebagai orang tua memang harus telaten, sabar dan kreatif mencari cara untuk bisa memastikan asupan yang didapatkan anak kita cukup.

Tipe Kinestetis Dan Auditory Dalam Belajar
Di atas sudah saya ceritakan bahwa Ahmad adalah anak yang sangat aktif (meskipun bukan terkategori anak dengan kelainan hiperaktif). Itulah anak kinestetik. Sangat aktif. Kalau diajak ke tempat yang baru, dimana saja, biasanya justru lebih suka jauh dari orang tuanya untuk mendapatkan pengalaman baru. Demikian pula Ahmad, ia akan mencoba untuk menyapa orang-orang yang ada disekelilingnya di mana saja dia berada. Inilah salah satu keuntungan anak kinestetik, yakni mudah bergaul dan lebih mandiri alias tidak mbok-mbok’en, sekalipun kadang kala perlu pengawasan lebih.
Dalam belajar pun dia adalah anak dengan tipe kinestetik. Ciri-cirinya menonjol diantaranya adalah tidak bisa duduk manis, khusyu’ dan konsentrasi dalam waktu yang cukup panjang. Sehingga cara belajar yang paling ’nyaman’ dan cepat untuk mereka justru adalah cara belajar yang mengakomodasi ’ketidakbisadiaman’ mereka. Karena justru ketika mereka dipaksa duduk manis dengan anggota tubuh yang khusyuk agar bisa diajari, maka konsentrasi mereka lebih banyak terforsir pada upaya mereka untuk ’mengendalikan’ tubuh mereka agar bisa diam dan duduk manis. Sementara justru mereka sulit berkonsentrasi pada pelajaran yang disampaikan.
Sebenarnya keaktifan anak kinestetik tidak kemudian membuat mereka menjadi susah menerima pelajaran. Tapi setiap anak akan mendapatkan kemampuan memahaminya secara optimal dan lebih cepat ketika pemberian pelajaran tersebut dengan metode belajar yang sesuai dengan tipe belajar mereka.
Sebenarnya tipe belajar anak ada 3 :
1. Visual : tipe pebelajar dengan menggunakan daya tangkap mata sebagai alat belajar yang dominan. Sehinggga tipe pebelajar ini lebih efektif dengan menggunakan gambar-gambar atau bentuk-bentuk yang secara visual bisa dirasakan.
2. Auditori : tipe pebelajar dengan menggunakan daya pendengarannya sebagai alat belajar yang dominan. Kalau pebelajar tipe ini lebih cenderung bisa lebih menerima materi melalui suara.
3. Kinestetik : tipe pebelajar melalui praktek langsung. Anak yang memiliki tipe kinestetik inilah, perlu adanya sarana sebagai action pembelajaran.
Tipe-tipe belajar ini tidak kemudian secara mutlak terpisah satu sama lain. Adakalanya seorang anak adalah pebelajar dengan tipe auditori sekaligus visual misalnya. Hanya biasanya selalu ada yang lebih dominan. Kita bisa melihatnya dari cara belajar yang mana yang paling nyaman dan memudahkan anak kita memahami pelajaran dengan lebih cepat dan optimal.
Ahmad sendiri, disamping memiliki tipe kinestetik lebih dominan, dia juga memiliki kecenderungan tipe auditori. Dia sangat mudah menerima dan memahami rangsangan suara yang dia dengar, sekalipun sepertinya tidak memperhatikan. Misal, ketika sedang asyik bermain, sementara di ruang sebelah ada orang lain sedang berdiskusi, seringkali Ahmad tiba-tiba ikut nyeletuk menyampaikan sesuatu yang ada hubungannya dengan diskusi tersebut, padahal dia kelihatannya sangat konsentrasi bermain dan tidak memberi perhatian sedikitpun pada sekitarnya. Inilah tipe yang dimiliki oleh Ahmad sebagai tipe dasar pembelajarannya.

Ahmad; Hukma Shabiyya (‘Dewasa’ Sejak Kecil)
Banyak orang bilang Ahmad itu adalah anak yang dewasa. Gaya dia berbicara memang gaya bertutur anak-anak, tapi content pembicaraannya yang memang sering seperti ‘terlalu dewasa’ untuk seumurnya, kadang malah membuat kami lupa kalau dia bahkan belum lima tahun.
Suatu ketika, keluarga besar kami melakukan ziarah dan doa bersama di pusara buyut dan kakek kami. Kebetulan masih satu lokasi dengan pusara ayah Ahmad. Maka kami beritahu dia dimana kuburan ayahnya berada. Ketika rombongan keluarga besar kami sedang berdoa di pusara buyut kami, Ahmad ternyata justru pergi ke pusara ayahnya yang berjarak sekitar 20 meter dari tempat kami. Di sana dia duduk di persis di depan nisan ayahnya, berjongkok, kepala menunduk dan kedua tangan ditengadahkannya seperti posisi orang berdoa. Khusyuk sekali. Tidak lama Ahmad berdiri, pergi ke tempat lain, lalu kembali lagi. Ternyata dia mengambil batu bata untuk didudukinya. Maka sebentar kemudian dia tampak khusyuk kembali. Cukup lama dia disana sambil mulutnya seperti membaca sesuatu. Kelak, kami tahu ternyata yang dia baca adalah surat al Kautsar yang dia ulang-ulang dimaksudkannya untuk mendoakan ayahnya yang bernama Kautsar.
Di lain kesempatan ketika kami melewati lokasi kuburan umum tempat ayahnya dikubur, Ahmad selalu mengucap salam dan menyapa ayahnya yang sudah di dalam kubur. Suatu ketika dia mengatakan “Mi di sana lho ayah kautsar dikubur, tapi sekarang sudah gak di situ lagi.” Saya bertanya “Dimana lho nak sekarang ayah Kautsar?” “Di surga. Mi besok-besok kita semua ke surga ya Mi, biar bisa ketemu sama ayah Kautsar. Soalnya Ahmad kangen mau lihat wajah Ayah Kautsar....”
Meski termasuk anak yang suka nggodain teman atau orang lain, saya mengamati, terhadap orang yang sudah tua (seperti ayah dan ibu saya), Ahmad seperti menahan diri tidak melakukannya. Malah kadang kesan berusaha menghibur atau menjaga ayah saya sangat terlihat. Ahmad pula yang sering diminta ibu saya membantu menemani dan menjaga ayah saya yang sakit stroke ketika tidak ada orang lain di rumah sementara beliau harus menangani pekerjaan di ruang lain. Pernah kami sempat terheran-heran ketika mendapati ayah saya bisa turun dari kursi rodanya dan berjalan menggunakan alat bantu berjalannya yang cukup besar ke dalam rumah, padahal tadi beliau didudukkan di luar, sementara alat bantu berjalannya di dalam rumah. Ternyata Ahmadlah yang membantu beliau turun dari kursi roda, membuka kunci-kuncinya, mengambilkan alat bantu berjalan dari dalam rumah hingga membantu beliau berjalan. Padahal ayah saya tersebut tidak bisa berbicara. Kata seseorang yang kebetulan melihatnya, dengan agak kesulitan memang Ahmad melakukannya, tapi dengan gaya ‘dewasa’nya Ahmad bisa melakukan tugasnya dengan sangat baik.
Ketika melihat ayah saya kesakitan ketika sedang dilakukan terapi, tanpa diminta dia akan menunggu di samping beliau sambil menghiburnya “Sabar ya Wak Abah, ini biar Wak Abah bisa jalan lagi...”. Kalau kami pamitan pulang, dia pasti mencium dan mendoakan ayah saya, padahal Ahmad itu terkenal susah untuk dicium, kecuali oleh abi dan uminya. Tapi untuk ayah saya yang sakit, dia sama sekali tidak menghindar seperti yang biasa dilakukannya. Dan banyak pengalaman lain tentang ‘kedewasaannya’ yang ‘mengesankan’ bagi kami.

Berdoa Ketika Menangis
Menangis adalah hiasan kehidupan, terlebih lagi buat anak-anak bahwa menangis merupakan ungkapan perasaannya. Tak jarang juga bagi anak-anak menangis dijadikan sebagai senjata untuk mengalahkan orang lain. Ahmad juga sama dengan anak-anak lainnya meskipun mungkin hampir tidak pernah menjadikan menangisnya sebagai senjata, karena dia tipe yang justru dominan ’fight’ daripada mudah menyerahnya. Tipe ’fight’ ini juga membutuhkan kesabaran dan teknik tersendiri untuk menghadapinya. Selama dia belum menyadari kesalahannya, maka selama itu pula apa yang kami lakukan selalu dilawannya. Ngomong dilawan dengan ngomong, Suara kami keraskan, dia menjawab dengan mengeraskan suara. Dipandang dengan tajam, Ahmad pun cukup bernyali untuk menajamkan pandangannya pada kami. Dan seterusnya.
Ketika ada sesuatu yang membuatnya sedih seperti kemauannya tidak dituruti atau kami ’marahi’ karena suatu hal, setelah bersikap ’menantang’ kami hingga cukup lama, biasanya kami akhiri ’pertengkaran’ tersebut dengan berdoa dan ’metode isolasi’ untuk meluruskan kesalahan yang belum disesalinya tersebut. Dengan tidak terpancing kemarahannya, kami angkat tangan untuk berdoa dengan keras di depannya ”Ya Allah, semoga Ahmad menjadi anak shalih, yang sabar, baik dan nurut sama abi uminya. Amiin”. Setelahnya kami bilang ”Sudah sana masuk kamar ! Berdoa biar jadi anak shalih, nanti kalau sudah baik boleh ngomong sama abi-umi”. Pada saat kami ’isolasi’ (tidak kami sapa dan gauli) itulah biasanya kemudian Ahmad menghentikan ’perlawanannya’ dan memulai menangis. Yang khas lagi, pada saat menangis itulah dia pasti berdoa kepada Allah, dan segera setelah selesai berdoa, nangisnya pun kemudian berhenti. Jadi menangisnya sangat singkat, dan berhenti setelah dia berdoa. Seperti sudah lega karena sudah mengadu kepada Allah. Selalu seperti itu. Biasanya setelah dia merasa bersalah, dengan sendirinya dia keluar kamar dan mulai mencoba menyapa kami, atau mulai usil untuk cari perhatian kami. Pada saat itulah kami memahami bahwa dia sebenarnya sudah menyesal, namun karena bakat kadar ’gengsinya’ yang tinggi, kadangkala masih sulit untuk disuruh meminta maaf. Alhamdulillah seiring dengan berjalannya waktu dan bertambahnya pemahaman dan kematangan emosinya, Ahmad sekarang lebih pandai ’mengendalikan’ diri. Dan kebiasaan berdoa setiap menangis sambil menyendiri, sampai sekarang pun masih dilakukan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar