Tempat berbagi
informasi, pemikiran,
kisah, artikel, tips, pengalaman, dan ilmu
berkaitan dengan
dunia medis, intelektual, dakwah, perempuan,

pendidikan anak,
remaja, keluarga dan generasi, juga sesekali barang jualan.....

Selamat Berlayar..........

Sabtu, 21 Maret 2009

Jangan Lagi Buang Umurmu !!

JANGAN LAGI BUANG UMURMU…!
Oleh: faizatul Rosyidah


Sobatku, satu hal lagi yang sering membuat kita menunda-nunda melakukan kebaikan adalah perasaan kita bahwa kita masih memiliki banyak kesempatan. Kita ngerasa…kita-kita khan masih muda, jauh deh dari gambaran bakal mengalami kematian dalam waktu dekat. Karena ngerasa masih bakal memiliki umur yang panjang, maka ringan aja deh kita kemudian menunda-nunda sesuatu yang semestinya bisa segera kita selesaikan dan emang seharusnya kita selesaikan. Banyak dari kita yang sampe’ sekarang belum genap sholatnya…berencana ‘ntar kalau udah tua bakal kita benerin deh sholat kita. Demikian pula dengan yang doyan ‘ndugem’ dan tripping….berpikiran mumpung masih muda dipake’ aja kesempatan ini buat seneng-seneng….. ‘ntar khan kalau udah tua udah masanya buat tobat. Ada juga yang nunda rencana nutup aurat dan berjilbabnya ‘ntar aja kalau udah kuliah atau kalau udah nikah atau kalau udah kerja…soalnya kalau sekarang khawatir tidak ’laku’ lah, susah nyari’ kerja-lah, sudah terlanjur lingkungan sekarang melihat kita nggak pake jilbablah daan masih beragam alasan lain yang kita pasti punya untuk meyakinkan… pokoknya kita berubahnya ‘ntar-ntar aja deh….khan masih banyak kesempatan, lah wong kitanya masih muda je!
Tapi apa emang bener kita masih punya banyak kesempatan? Apa emang bener karena masih muda kita tidak bakalan mati duluan? Nah…Sobat, coba deh kalian inget kejadian meninggalnya beberapa remaja, temen-temen kita beberapa waktu yang lalu saat nonton konsernya Sheila on Seven, Peterpan atau band Ungu di beberapa kota kemarin. Masih inget khan? Belum lagi berita-berita di koran, majalah, atau di tipi yang nyerita’in banyak kejadian nggak kalah tragis yang juga menimpa remaja kita selain kejadian diatas yang membawa mereka pada kematian. Berapa banyak remaja kita yang dijemput ajal pas lagi “make” (make’ narkoba, red), karena OD (over dosis), atau karena udah kena AIDS. Berapa banyak juga yang mati pas lagi asyiknya nge-drag race di jalanan, lagi tawuran, lagi berenang, lagi aborsi, lagi ‘ndugem’, lagi naik kapal, naik kereta, atau mungkin kebanjiran pas lagi tidur di rumah. Begitu maut datang…ternyata mereka sama sekali tidak bisa menolaknya atau mungkin sekedar menundanya. Dan….berakhirlah seluruh kesempatan yang kita kira masih panjang itu.
Nah…karena itulah Sobat, kalau sampe’ sekarang kita masih juga tidak sadar kalau kematian bisa menjemput kita kapan aja…rasanya perlu deh kita revisi pemahaman kita terhadap umur tadi dengan pemahaman yang benar. Gimana, mau ikutan?? Dengerin baik-baik ya…!

Umur….Sebuah Nikmat Yang Tak Ternilai
Imam Hasan Al Basri, salah seorang ulama' salaf yang patut menjadi teladan dalam menggunakan waktunya secara efektif, berkata: “Aku sangat terpukul oleh satu kalimat yang pernah kudengar dari Hajjaj, ketika ia berkhutbah di atas mimbar ini. Sesungguhnya ‘satu saat’ dari umur seseorang yang telah hilang atau sirna untuk sesuatu di luar hakikat manusia diciptakan maka pantas jika ‘sesaat’ itu menjadi penyesalan seumur hidupnya hingga hari kiamat tiba.” (Ibnu Katsir, Al Bidayah wa Nihaya, jilid IX, hlm.123)
Ungkapan diatas bukanlah sebuah khayalan yang tidak memiliki fakta ataupun makna. Namun ungkapan tersebut adalah sebuah kebenaran, sebagaimana sabda Rasulullah SAW: Tidak ada sesuatu yang paling disesali oleh para penghuni surga, kecuali atas satu saat yang pernah mereka lalui di dunia, yang tidak meraka gunakan untuk mengingat Allah di dalamnya.” (HR. Thabrani, dalam Shahih al-Jaami’ as-Shaghiir, no.5322)
Nah, cuman yang mengherankan…dalam hadits ini kok yang menyesal itu justru dari para penghuni surga, dan bukannya penghuni neraka, padahal sebagaimana kita ketahui, para penghuni surga adalah mereka yang semasa hidupnya bukanlah mereka yang suka menyia-nyiakan waktu, namun mereka adalah orang-orang yang gemar mengisi waktunya dengan hal-hal yang bermanfaat, walau memang tidak menutup kemungkinan bahwa sebagai manusia biasa mereka pun kadang-kadang lalai dan lengah, dan inilah rupanya yang kemudian mereka sesalkan. Jika demikian kenyataannya, itu artinya… udah pasti penyesalan mereka (penghuni neraka) akan lebih pahit dan mendalam ketika menyadari kesia-siaan waktu mereka ketika hidup di dunia.
“Dan mereka berteriak di dalam neraka itu: “Ya Tuhan kami, keluarkan kami niscaya kami akan mengerjakan amal yang saleh berlainan dengan yang telah kami kerjakan.” Dan apakah kami tidak memanjangkan umurmu dalam masa yang cukup untuk berfikir bagi orang yang mau berfikir; dan (apakah tidak) datang kepada kamu pemberi peringatan? Maka rasakanlah (adzab Kami) dan tidak ada bagi orang-orang yang zalim seorang penolong pun.” (Terj. QS. Al Faathir 37)
Jelas khan betapa mereka sampe’ memohon-mohon untuk diberi kesempatan hidup lagi walaupun cuman sesaat, yang mereka bilang bakal mereka pake seluruh kesempatan kedua itu untuk beribadah dan beramal sholeh. Tapi sayang, kalau ujian atau ulangan…emang masih ada harapan ‘tuk dapet kesempatan UP (Ujian Perbaikan) atau ‘her’ alias ngulang, tapi kalau masalah umur Maan…tidak ada yang namanya bonus ataupun ekstra. Sekali ajal datang menjemput kita, maka tak bisa kita majukan or undurkan meski cuman sedetik aja.
“Maka apabila telah tiba ajal mereka, mereka tidak dapat meminta ditunda, meskipun sesaat dan tidak pula dapat meminta diajukan.” (Terj. QS. An Nahl 49)
Sesungguhnya umur adalah waktu dan kesempatan. Dan waktu adalah hidup itu sendiri. Orang yang sudah mati, tentulah ia tidak lagi memiliki waktu ini. Dan karenanya, tahu dan sadar akan pentingnya waktu berarti memahami nilai hidup dan kehidupan. Sebaliknya orang yang tidak mengenal pentingnya waktu maka ia seakan-akan hidup dalam keadaan mati, meskipun dia bernafas dimuka bumi.
Maka alangkah malang dan patut dikasihani, kalau ada diantara kita yang hidupnya cuman diisi dengan aktivitas JJS dari satu mall ke mall yang lain, ngeceng dari satu night club ke night club yang lain, tripping dari satu diskotek ke diskotek yang lain, lari dari satu konser ke konser yang lain hanya demi melihat wajah artis idola kita, atau hanya demi ngedengerin suara penyanyi favorit kita, yang bahkan seringkali membuat kita semakin lupa akan hakekat hidup dan musti kita apain hidup kita ini. Jadilah kita akhirnya menjadi seorang remaja yang ngejalani hidup tanpa tujuan yang jelas, yang akhirnya membuat kita juga tidak akan ngerti gimana musti kita isi umur dan hidup kita ini. Maka beragam aktivitas yang ‘tidak jelas’ akhirnya habis-habisan kita geber, seolah-olah padat mengisi hidup kita, dari pagi hingga pagi lagi kita sudah punya seabreg aktivitas yang udah ’membunuh’ waktu kosong kita, mulai dari pacaranlah, latihan nge-band-lah, ngeceng seharianlah, cangkruklah, ngerumpi-lah, trek-trekan lah, cobain narkobalah, nonton bioskop-lah, rame-rame nonton konserlah daaan beragam aktivitas lain yang kita bilang adalah dalam rangka membunuh waktu kosong kita dan manfaatin waktu hidup kita. Padahal tanpa kita sadari, pelan tapi pasti…apa yang kita lakukan itu sebenarnya adalah membunuh diri kita sendiri, karena pada hakikatnya waktu adalah hidup kita. Kita udah dengan begitu sukses membunuh hidup kita tadi dengan membunuh dan membuang kesempatan yang mustinya kita jaga dari segala hal yang akan membuatnya terbuang secara sia-sia.
Sementara pada waktu yang bersamaan kita juga melihat, betapa orang rela ngorbanin apa aja ‘hanya’ buat bertahan hidup satuuu hari aja lebih lama. Mereka rela nguras kocek jutaan, puluhan, ratusan juta, bahkan milyaran rupiah buat mempertahankan hidup mereka. Tapi terbukti, ternyata tidak ada satu hal pun yang dapat kita pake’ buat ngebeli umur kita. Tidak juga dengan harta sedunia. Kalau ternyata giliran kita tiba, tidak sedetik pun kita bisa nawar malaikat pencabut nyawa untuk menunda giliran kita.
Nah, sekarang nyadar kan kalau hidup kita begitu berharga, ngga’ bisa kita perpanjang sedetik pun, dan ngga’ bisa kita beli dengan apapun.

Umur, Musti Kita Apakan??
Kalau kita udah nyadar betapa berharganya hidup kita tentunya kita sekarang bakal serius menautkan dua alis kita buat mikirin: “Mau diapain sih hidup kita yang begitu berharga ini?” Tentunya kita menginginkan yang terbaik dalam hidup kita, Iya kan? Nah masalahnya sekarang adalah apa sih yang terbaik dalam hidup?
Sebentar-sebentar…. Disamping kamu ada kaca? Kalau ada, berdiri sebentar dan ambil kaca itu. Udah? Sekarang ngaca’o! (maksudnya: berkacalah, pen) …Siapa sih kamu? Kamu pasti tau kalau kamu adalah seorang Muslim. Yang itu berarti kudunya kamu punya jawaban yang tepat untuk pertanyaan-pertanyaan diatas karena Islam adalah agama yang begitu lengkap. Termasuk dalam hal umur ini.
Sebelum kita bahas, ada baiknya kita merenung sejenak. Ketika seseorang, “Boy” misalnya, itu telah menetapkan satu tujuan yang hendak diraihnya, yakni nyampe’ ke Jakarta misalnya. Maka tentu dia akan berusaha menempuh jalan-jalan yang akan membawanya menuju kepada tujuan yang hendak diraihnya, dan bukannya melakukan aktivitas-aktivitas yang itu malah memelencengkan dirinya dari tujuan yang hendak diraihnya. Apakah itu aktivitas-aktivitas yang nggak ada kaitannya dengan langkah yang harus dia tempuh, atau aktivitas yang membuatnya semakin sulit dan lama untuk mencapai tujuannya atau bahkan aktivitas-aktivitas yang membuatnya malah semakin menjauhi tujuan yang ingin diraihnya. Dalam kasus Boy ini, maka ketika dia memahami bahwa untuk bisa nyampe’ ke Jakarta itu dia harus naik kereta yang jurusannya emang ke Jakarta, trus sebelumnya dia harus pesen tiket, lalu pergi ke stasiun kereta, maka tentu Boy ini akan meniti jalan yang harus ditempuhnya itu. Dan bukannya cuman bengong di rumah aja, tidur-tiduran ‘nungguin umur bertambah sambil berharap pada waktunya nanti, dia akan tiba di Jakarta. Jelas nggak akan bisa! Dia harus penuhi syaratnya dulu sebelum berharap pada hasilnya. Sesuatu yang sangat logis bukan?!
Nah, analog dengan “Boy” tadi, kita yang ngakunya manusia dan hamba Allah SWT harus menyadari dulu apa sebenarnya tujuan hidup kita. Dengan kata lain, apa sebenarnya tujuan kita diciptakan di dunia ini?
Maka dalam hal ini, Allah sebagai Pihak yang memberi kita kesempatan ‘hidup’ ini telah menyatakan dalam firman-Nya di Surat Adz-Dzariyaat: 56, yang artinya:

“Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia itu, kecuali untuk beribadah kepada-Ku”.
Jadi cukup jelas, untuk beribadah kepada Allah-lah tujuan kita diciptakan di dunia ini. Dan kembali kepada Allah untuk mempertanggungjawabkan ‘hidup’ kita itulah muara dari aktivitas yang kita lakukan di dunia ini. Apakah nanti kita termasuk ke dalam golongan mereka yang berhasil meraih surga dan ridhanya Allah, ataukah termasuk mereka yang gagal dan mendapatkan neraka serta murka Allah.
Nah, sekarang yang menjadi pertanyaan adalah: jalan mana yang harus kita tempuh agar kita bisa mencapai tujuan kita dan mendapatkan keberhasilan (yakni surga dan ridhanya Allah). Apa yang musti kita lakukan?
Maka, dalam hal ini sebenarnya Allah telah memberikan tuntunan kepada kita langkah-langkah apa yang mustinya kita tempuh. Islam mengatakan bahwa setiap Muslim yang sudah aqil baligh (menjadi mukallaf: terbebani hukum), haruslah mengikatkan seluruh perbuatannya kepada hukum syara’, dan tidak boleh melakukan satu perbuatan pun –dalam kedudukannya sebagai hamba Allah yang tidak didasarkan pada seruan hukum syara’. Sebab Allah berfirman:
“Maka demi Tuhanmu, mereka pada hakekatnya tidak beriman hingga menjadikan kamu (Muhammad) hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan…” (Terj. QS. An Nisa’ 65)
“Dan apa-apa yang diperintahkan/diberikan oleh Rasul, ambillah. Dan apa-apa yang dilarangnya, maka tinggalkanlah!” (Terj. QS. Al Hasyr 7). Juga berdasarkan sabda Rasulullah SAW:
“Siapa saja yang melakukan perbuatan tidak sesuai dengan tuntunanku, maka perbuatan itu akan tertolak.”
Antara lain dari nash-nash inilah, kemudian lahir kaidah syara’ yang mengatakan “Bahwa hukum asal suatu perbuatan itu terikat dengan hukum syara’.” Bahwa segala aktivitas perbuatan kita itu ada hukum syara’ yang mengaturnya, apakah itu wajib, sunnah, mubah, makruh, atau haram. Jadi ketika kita ingin mendapatkan ridha Allah sehingga bisa masuk surga dan mendapat pahala yang sebanyak-banyaknya maka yang bisa kita lakukan adalah dengan menjalani semua yang diperintahkan Allah dan menjauhi semua yang dilarang oleh-Nya.
Kalau begitu banyak dong! Wah…kayaknya kurang deh waktu 24 jam buat itu. Tapi apa bener sih? Coba deh kita tengok diri kita sendiri selama 24 jam mulai dari bangun tidur, kita bangun, trus mandi, sholat, makan, sekolah atau kuliah, belajar, ngrumpi, ngobrol ngalor ngidul sama temen, main basket, ngelamun, nonton TV, bahkan kita sempet juga jalan-jalan ke Mall, nonton film, ngeceng, ‘cangkruk, ke diskotik mungkin, atau….eh….ternyata banyaak yaaa yang bisa kita kerjakan dalam 1 hari saja.
Tapi…tunggu dulu! Apakah beragam aktivitas yang udah kita lakukan itu memang merupakan aktivitas yang harus dan emang sebaiknya kita lakukan? Atau semua aktivitas tersebut justru beragam aktivitas yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan tujuan hidup kita!! Lalu bagaimana mungkin kita bisa nyampe’ ke tujuan kita kalau jalan yang kita ambil saja sudah keliru. Padahal aktivitas macam yang terakhir-terakhir itu kan yang saat ini lebih mendominasi waktu kita, para generasi muda Islam??!
Sobat tersayang, kalau saja kita mau menengok para generasi pendahulu kita. Akan kita dapatkan gambaran pemanfaatan umur yang luar biasa optimalnya oleh mereka. Tengok saja Ali bin Thalib, Thalhah bin Ubaidillah, Sa’ad bin Abi Waqas, Abdullah bin Mas’ud hingga Usamah bin Zaid. Kamu-kamu kenal siapa mereka? Yap, mereka adalah para ABG yang berusia 8 hingga belasan tahun, namun memiliki kekuatan pola pikir dan pola sikap islami yang tinggi. Mereka itulah dan bersama beribu pemuda lainnya yang telah memperjuangkan dan mendakwahkan Islam ini, yang telah menyisihkan siang dan malam mereka demi kepentingan Islam, membawa panji-panji Islam hingga tersebar ke seluruh penjuru dunia, hingga meliputi 2/3 bagian dunia ini dan kemudian sampai kepada kita. Bayangkan, betapa hebat kepribadian mereka, dan betapa optimal mereka menggunakan umur yang mereka punya.
Masih banyak yang lain, salah satunya adalah seorang pemuda belia, yang demi mendengarkan anjuran gurunya, Ishaq Ibnu Rahawaihi: “Alangkah baiknya kamu menghimpun suatu buku yang khusus untuk sunnah (hadits) Rasulullah yang sahih belaka”, dan menyadari betapa pentingnya penghimpunan dan penjagaan tersebut, pemuda Muhammad bin Ismail itu rela berkelana dari kota ke kota di daerah Syam, Mesir, Hejaz dan lainnya, menempuh 8000 km dengan berjalan kaki. Menyerahkan hidup dan masa mudanya untuk menjaga salah satu warisan terbesar Rasulullah SAW: As Sunnah. Pemuda itu kemudian dikenal oleh sejarah sebagai Al Bukhori yang untuk menulis sebuah kitab hadits Al Jami’us Shahih, pemuda itu mengorbankan 16 tahun hidupnya. Begitu pula yang rata-rata dilakukan oleh para pendahulu kita macam Imam Syafi’i, Imam Malik, Imam Ahmad, dan Imam Hanafi yang kelak kita kenal menjadi empat imam dengan hasil-hasil ijtihad mereka yang begitu bermanfaat bagi umat ini hingga di masa kita saat ini.
Mungkin kamu sekarang lagi geleng-geleng kepala…Baru ‘ngeh’ dengan kondisi remaja sekarang yang begitu mengenaskan, ‘membuang-buang’ umur yang mereka miliki dengan aktivitas yang ngga’ ada bagus-bagusnya….((haa…? Iyaa taa…?) ini ngomongnya dengan nada terbengong-bengong lho!!) dan baru ‘ngeh’ dengan kondisi para shahabat dan para generasi pendahulu kita yang begitu hebat. Ada perbedaan yang tajam antara keduanya dalam memanfaatkan umur mereka.

So...Jangan Lagi Buang Umurmu !!!
Yap, kalau kamu udah kumplit baca semua tulisan diatas bisa jadi kamu sekarang tambah yakin untuk tidak lagi berlelet-lelet. Tidak lagi melakukan hal-hal yang tidak sesuai dengan apa yang diatur sama Islam. Dan bukan cuman itu, sekarang…karena kita baru nyadar betapa berharganya umur ini ketika kita udah berusia “tuwir” gini….mestinya kita berlomba-lomba dengan waktu, untuk segera mengejar ketertinggalan kita dalam mencari tahu tentang semua aturan Islam, berusaha nerapinnya. Bangun…bangun euy..!!! Sekarang waktunya kita merubah diri kita dan segala aktivitas kita dalam hidup ini hingga kelak kita akan menjadi generasi unggulan umat ini yang senantiasa menegakkan dan memperjuangkan Islam ini. Gimana…? Setuju khan…!!
“Dan katakanlah: “Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang beriman akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakannya kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” (Terj. QS. At Taubah 105).***

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar