Tempat berbagi
informasi, pemikiran,
kisah, artikel, tips, pengalaman, dan ilmu
berkaitan dengan
dunia medis, intelektual, dakwah, perempuan,

pendidikan anak,
remaja, keluarga dan generasi, juga sesekali barang jualan.....

Selamat Berlayar..........

Jumat, 20 Maret 2009

KEMAMPUAN BERSOSIALISASI DAN 3 TIPE ANAK

MENGENAL 3 TIPE ANAK DALAM BERSOSIALISASI
Oleh: Faizatul Rosyidah, dr

Setiap anak adalah istimewa. Masing-masing anak, dengan berbagai ragam sifat dan potensi yang dimilikinya adalah individu yang khas dan unik. Mereka berbeda satu dengan yang lainnya. Akan tetapi perbedaan tersebut tidak menjadikan mereka memiliki nilai keistimewaan yang berbeda. Adalah tugas kita para orang tua dan pendidik, untuk mengenali karakter dan potensi khas masing-masing anak, untuk kemudian kita bina, pupuk dan kembangkan hingga mereka semua tumbuh menjadi individu-individu istimewa tanpa meninggalkan karakter khasnya.
Ada beberapa tipe anak yang secara garis besar bisa dikelompokkan dalam tiga tipe dasar:

1. Anak yang Mudah
Anak-Anak golongan ini biasanya penampilannya penuh keberanian dan terbuka. Tampil berbicara apa adanya. Mudah bergaul dengan orang-orang yang baru dikenalnya,lincah serta banyak bicara. Mereka sama sekali tidak canggung berada di lingkungan yang baru. Bahkan beberapa dari anak-anak ini tergolong sangat aktiv.
Secara sekilas orang sering kagum dengan anak tipe ini. Pemberani, mandiri dan tidak ”mbok-mbok’en”. Pendek kata, tidak merepotkan. Memang tidak merepotkan, karena di rumah pun anak tipe ini biasanya lebih suka main ke luar. Ada banyak orang dan teman yang bisa ia datangi. Mungkin sesekali saja dia mengajak temannya ke rumah.

Tetapi ada kelemahan pula pada anak-anak golongan ini. Karena saking mudahnya beradaptasi, jadi terlalu sering berpindah tangan ’pengasuh’. Ini buruk akibatnya bagi dirinya sendiri. Hari ini dia bersama nenek, besok bersama tante, lusa bersama orang yang lain lagi. Di manapun tidak menjadi masalah baginya. Sementara kita tahu, setiap orang tidak pernah punya pola asuh yang sama. Batasan, larangan, cara memerintah, cara membujuk hingga nilai-nilai yang disampaikan dari ibu, tante dan nenek biasanya pun tidak sama. Bahkan adakalanya bertolak belakang. Semua itu hanya akan membuat anak bingung hingga akhirnya mereka menjadi sulit diberi pengertian.
Selain itu, karena sifat anak-anak ini yang sangat suka dan tertantang pada hal-hal baru, orang tua harus ekstra menjaga mereka. Kaki lecet, kepala benjol, lebam-lebam karena terjatuh adalah pemandangan sehari-hari yang bakal ditemui oleh orang tua pada anak dengan tipe ini. Sebentar luput dari perhatian, ada saja yang sudah mereka lakukan: naik pagar tidak bisa turun, kepala masuk lubang pagar tidak bisa keluar, jari-jari berdarah karena dimasukkan ke lubang kipas angin, dan semacamnya. Karena itu kewaspadaan tinggi terhadap barang-barang yang berbahaya (seperti listrik, benda-benda tajam, dan semacamnya.) berikut memastikannya tidak mudah terjangkau oleh anak dengan tipe ini harus dilakukan orang dewasa di sekitarnya.

2. Anak yang Perlu Pemanasan
Tidak terlalu berani, tidak pula penakut. Yang jelas ia perlu waktu untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan baru. Setelah tenggang waktu tersebut, mereka telah memperoleh kepercayaan dirinya kembali. Ia juga bisa menjadi begitu berani seperti teman-temannya yang bertipe ’mudah’.
Dengan orang yang belum dikenal mereka hanya diam, walaupun bukan berarti penakut. Tetapi setelah kenal, mereka bisa saja segera akrab. Anak-anak ini perlu dorongan semangat dari orang tuanya. Mereka perlu diberi motivasi terlebih dahulu.
Tindakan orang tua yang terlalu memaksa bukan pemecahan masalah yang baik. Sering orang tua ingin anaknya menjadi pemberani seperti anak-anak ’mudah’. Biasanya ketika anaknya masih menunjukkan gelagat ragu-ragu atau takut, mereka menjadi gusar. Tidak jarang kemudian keluarlah omelan, sindiran bahkan ancaman. Lebih parah lagi bila memaksakan anak yang sedang dalam proses penyesuaian untuk segera melakukan yang diminta orang tua.
Waktu pemanasan yang dibutuhkan anak untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan baru bisa dipersingkat dengan latihan-latihan. Diantaranya adalah dengan membawa mereka ke tempat-tempat baru agar belajar beradaptasi. Sebelum anak dilatih dengan membawanya ke tempat-tempat baru, hendaknya kita beri pengertian dan motivasi terlebih dahulu. Ini agar anak tidak terlalu terkejut dan sudah sedikit mengenal lingkungan baru tersebut lewat cerita kita. Cara lain adalah dengan meningkatkan keberaniannya secara umum. Misalnya dengan melibatkannya dalam jenis permainan tertentu yang bisa menumbuhkan keberaniannya. Demikian pula bisa dilakukan dengan memperluas sosialisasi dan pergaulannya secara alami dengan teman-teman sebayanya.

3. Anak yang Sulit
Anak tipe ini mungkin sering bikin orang tua ’makan hati’. Membuat gemas, jengkel, sekaligus malu. Bayangkan, kemanapun orang tua pergi, ia membuntut di belakang, baju ibu tak pernah boleh lepas dari pegangan tangannya. Bila ada orang menyapa, justru ia menelusupkan wajah di sela-sela baju ibu, seakan-akan hendak masuk ke dalamnya.
Anak-anak ini nampaknya kurang tertarik untuk ikut bermain bersama temannya. Mereka sering menampakkan rasa takut dan khawatir berlebihan bila berada di lingkungan yang baru. Dengan orang-orang yang belum dikenalnya, mereka sama sekali tak mau bicara. Padahal ketika di rumah, di tengah keluarga, anak-anak tersebut adalah anak yang lucu. Wajahnya yang imut, tingkahnya yang jenaka, serta bibir mungilnya tak henti-hentinya bercerita tentang satu demi satu teman barunya, juga pengalaman baru yang dialaminya. Siapa yang tak heran.
Namun ketika tiba di halaman sekolah, atau di suatu tempat baru, anak ini menjadi berubah kembali menjadi penakut, pasif, dan pemalu, yang terus minta ditemani ibu duduk di dekatnya. Di sekolah, mungkin ia akan melewatkan pekan pertama bersama ibu ikut ’sekolah’ di sampingnya. Seminggu berikutnya ibu boleh menunggu di luar kelas, tapi harus berdiri di dekat jendela sehingga bisa dilihat dari dalam. Di dalam kelas pun, ia belum tertarik untuk berkomunikasi dengan teman-temannya pada minggu-minggu awal. Mungkin pertama kali mau ikut maju di depan kelas untuk menyanyi setelah sebulan mereka sekolah.
Satu-satunya yang bisa dilakukan orang tua terhadap anak seperti ini adalah bersabar menunggu waktu. Berjalannya waktu akan bisa menyelesaikannya. Tak ada gunanya capai-capai mendamprat, mengomel atau ngotot memaksanya untuk jadi berani. Percuma, mungkin orang tua malah jadi sakit hati. Bahkan omelan, ejekan,dan hinaan dalam banyak kasus hanya akan menghilangkan rasa percaya diri anak.
Banyak orang tua yang ingin menunjukkan kemampuan anak-anaknya di depan orang lain menjadi geregetan gara-gara si anak tiba-tiba diam seribu bahasa, pemalu dan nampak bingung saat ditanyai macam-macam. Padahal semua pertanyaan tersebut bisa dijawabnya dengan lancar ketika di rumah.
Sebenarnya anak-anak ini memang sudah tahu jawaban-jawaban dari aneka pertanyaan yang didengarnya. Tetapi mereka sedang malas menjawab, lantaran tak menyukai suasana yang seakan menilai dan menguji kepandaian mereka. Nah, biasanya yang sewot justru orang tua karena merekalah sebenarnya yang ingin anaknya dipuji orang. (menggelikan bukan?!)
Penyebab utama perilaku ’sulit’ ini bisa jadi karena faktor kurangnya keberanian, kurang latihan bersosialisasi dengan lingkungan, namun bisa juga ’bawaan’. Cara mengurangi rasa kekhawatiran yang berlebihan terhadap lingkungan baru adalah dengan pembiasaan, pemberian pengertian, dan motivasi di samping meningkatkan keberanian mereka secara umum.
Dari setumpuk ’kejengkelan’ yang harus dipendam orang tua menghadapi perilaku anaknya yang ’sulit’ ini, ada kelebihan yang mereka miliki. Sifat sulit beradaptasi dengan situasi yang baru, membuat anak kerasan berada di rumah dan senantiasa berada di dekat ibunya. Hubungan batin dengan ibu biasanya amat erat, sehingga lebih memudahkan bagi orang tua untuk mengarahkannya (membuatnya menurut). Juga biasanya anak tumbuh menjadi lebih sabar dan telaten, meski tidak terlalu lincah. Mereka mudah diarahkan ke segi-segi kognisi. Akan tetapi yang harus diperhatikan, perkembangan keberanian mereka bisa jadi akan terhambat bila tidak segera ditangani perilaku ketakutan yang berlebihan mereka terhadap lingkungan baru.*

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar