Tempat berbagi
informasi, pemikiran,
kisah, artikel, tips, pengalaman, dan ilmu
berkaitan dengan
dunia medis, intelektual, dakwah, perempuan,

pendidikan anak,
remaja, keluarga dan generasi, juga sesekali barang jualan.....

Selamat Berlayar..........

Sabtu, 21 Maret 2009

Temukan Jati Dirimu !!

:
JADIKAN HIDUPMU …
LEBIH HIDUP..!!
(Dengan Temukan Jati Diri Sejati)

Oleh: Faizatul Rosyidah

Sobat , pernah nggak kamu-kamu melihat sungai? Eitts…jangan sewot dulu! Percaya deh kalau kalian semua pasti udah padha sering melihat sungai, tapi pernah nggak kamu-kamu dapat pelajaran dari tindakanmu merhati’in sungai tadi? Nah ngaku deh…ada yang belum pernah dapat pelajaran khan? Makanya kamu-kamu mesthi dengerin nih cerita gue ! Yang sabar ya….!
Kalau kita perhati’in dengan seksama, ada banyak hal yang bakal kita jumpai ketika kita lagi merhati’in sungai. Mulai dari besar sungainya, warna airnya, kedalamannya, isinya, arus airnya, apa yang ada di permukaan airnya, apa yang sedang melayang di dalamnya, dan apa yang ada di dasar sungainya alias yang lagi tenggelam.
Ada beda penampakan sesuatu yang hidup dengan sesuatu yang tidak hidup di dalam sungai tadi. Sepotong kayu yang terapung di atas sungai atau ikan yang sudah mati misalnya, maka kita akan bisa melihat kalau dia pasti bergerak ngiikut aja ke mana aliran sungai tadi membawanya, tidak terlihat adanya gerakan mandiri yang dilakukannya, yang punya arah dan gerakan tersendiri. Bahkan dianya hanya bisa diam ketika tidak ada aliran sungai yang menggerakkannya. Demikian pula dengan batu di dasar sungai tersebut. Dari hari ke hari dia tetep aja pada posisinya semula, diem, statis, tidak bergerak kalau tidak ada yang menggerakkannya. Itulah penampakan sepotong kayu, ikan mati dan sebuah batu; sesuatu yang mati alias ‘tidak hidup’.
Tapi coba kita tengok ikan-ikan yang hidup di sungai tadi. Sekalipun ikan tersebut kecil, sebesar ikan teri mungkin, tapi senantiasa kita akan bisa melihat gerakan tertentu yang dia lakukan secara mandiri, sesekali dia terbawa arus sungai yang cukup deras, tapi pada waktu yang bersamaan kita juga saksikan betapa ada upaya yang dia lakukan untuk mempertahankan posisinya, atau bahkan sekali waktu terlihat dia bergerak berenang melawan arus yang ada. Singkatnya ikan yang ‘hidup’ pasti akan terlihat bergerak secara mandiri dan punya arah tersendiri dalam geraknya tersebut, sekalipun arus sungai begitu deras membawanya ke arah yang berbeda.


Pelajarannya….bagaimanakah penampilan kita menjalani kehidupan ini? Apakah memang udah penampilan seseorang yang ‘hidup’ ataukah sebenernya kita hidup cuman tidak ada bedanya dengan sesuatu yang ‘mati’ tadi. Konkritnya? Apakah selama ini kita udah ngejalani hidup ini dengan senantiasa melakukan gerakan secara mandiri yang punya arah tertentu, punya tujuan tertentu sehingga gerak kita pun jadi tertentu; ataukah selama ini kita cuman bisa ngejalani hidup ini dengan cara ngikuut aja ama orang lain…tidak ngerti apa yang jadi tujuan hidup kita, tidak ngerti di dunia ini mau cari apa and ngapain. Kalau orang lain padha sekolah ya ikutan dong sekolah tanpa tahu sebenernya mau cari apa dengan sekolah, akhirnya kita menjalani masa-masa sekolah dengan rutinitas yang sama sekali tidak bermakna. Yang sekolah penampilannya sama aja dengan yang tidak sekolah; sama-sama seneng tawurannya, sama-sama suka ngompasin orang, sama-sama doyan narkobanya, dan lain sebagainya. Atau penampilan hidup kita itu statis, tidak ada progresifitas sama sekali, orang lain bahkan tidak bisa ngerasain bedanya antara adanya kita dan tidak adanya. Karena itu kita musti melakukan suatu perubahan dalam diri kita, supaya hidup yang kita jalani bisa ‘lebih hidup’. Bukan dengan cara ngisep rokok ‘Losta Masta’ tapi dengan cara memahami terlebih dulu siapa sich sebenernya jati diri kita ini? Yuk cari sama-sama…!!!

Jati Diri…Bukanlah Perkara Yang Remeh!
Ketidaktahuan atau ketidakjelasan tentang jati diri, masalah ini kayaknya emang tidak pernah lepas dari kehidupan kita, para remaja dan ABG. Berbagai berita dan kabar sekitar remaja seringkali menunjukkan kepada kita betapa ternyata kita -para remaja- itu masih banyak yang bingung dengan jati diri kita sendiri. Mulai dari maraknya tawuran antar pelajar tuk ngebukti’in siapa siswa yang ’paling jago’, kebiasaan ngeceng di pinggir-pinggir jalan demi mendapatkan gebetan, terjerat narkoba demi ‘kesetiakawanan’, ABG Komersial yang menjamur demi beberapa keping uang ‘tuk beli makanan ‘prestise’ macam McD, KFC, de el el… hingga banyaknya angka ‘kecelakaan’ di luar nikah atas nama cinta plus aborsi yang banyak dilakukan remaja, adalah sederet kasus yang menunjukkan betapa mayoritas kita itu belum atau tidak ngerti dengan jati diri kita itu sesungguhnya siapa, apa tujuan hidup kita, gimana cara meraih/mencapai tujuan tersebut, dan apa yang mesti kita lakukan. Maka jangan heran…begitu lagu “BERMIMPI” –nya Base Jam beberapa tahun yang lalu keluar (baca: dirilis), kita para remaja dan ABG seolah menemukan sosok yang bisa menyuarakan ‘suara hati’ kita yang lagi kebingungan mau cari apa di muka bumi ini, pokoknya kita maunya happy…tapi nggak tahu gimana cara ngedapetinnya, hingga akhirnya rasanya yang bisa kita lakukan ya cuman bermimpi dan bernyanyi….(“Aku hanya bisa bermimpi dan bernyanyi dalam hati…ku hanya ingin hidup bahagia….aku tak tahu apa yang kucari di muka bumi……”)
Jadi emang, kalau kita ingin bicara tentang jati diri, maka itu berarti kita harus ngebahas tentang diri kita sendiri dan kehidupan yang kita jalani. Menjalani kehidupan itu sendiri, Ibaratnya adalah melakukan sebuah perjalanan. Seseorang yang mau bepergian/berperjalanan haruslah tergambar dalam benaknya terlebih dahulu kenapa harus bepergian, untuk apa, hendak menuju kemana, dan gimana caranya supaya dapat sampe’ ke tujuan tadi; harus lewat mana, naik apa, dan berangkat dari mana. Demikian pula dengan kita, selama kita belum bisa merumuskan hal-hal di atas tadi, maka jangan harap kita bakal bisa sukses dalam perjalanan kita. Bisa jadi kita udah capek-capek habisin waktu, uang dan tenaga…eh ternyata kitanya ‘nggak nyampe’-nyampe’.... ya tentu aja, lah wong tujuannya kemana aja masih belum kita putuskan, ya mana mungkin kita bisa mutuskan mau naik kendaraan apa, berangkat dari mana, lewat jalan mana, dan apa yang musti kita lakukan agar bisa nyampe’ ke tujuan kita tadi. Jadinya mungkin kita ya cuman muter-muter aja tanpa ada arah yang jelas sampe’ kitanya jadi judheg dan capek dengan perjalanan tadi.
Begitu pula gambaran orang menjalani hidup. Kalau dia belum ngerti siapa sich dirinya itu, apa tujuan dia hidup, dan nggak tahu juga gimana caranya sampai ke tujuan hidupnya tadi, maka dia akan tampil sebagai orang-orang yang ‘mbulet’ aja, ke sana ke mari tapi tidak jelas mau kemana, hidupnya ngambang dan gampang banget kebawa arus orang-orang di sekitarnya. Kalau orang-orang di sekitarnya seharian pergi ‘ndhugem karena katanya itu adalah cara menunjukkan identitas diri…ikut dech orang ini ‘ndhugem, begitu sekitarnya tripping….karena lagi trend….ikut dech orang ini tripping, yang lain rambutnya dicat ngejreng….ikut dech dia ngecat rambutnya ngejreng, yang lain padha ‘nyabu….ikut dech dia ‘nyabu, yang lain padha demo….ikut-ikutan dech demo dia lakukan meski tidak ngerti untuk apa dan kenapa dia melakukan itu. Begituu seterusnya… Sehingga jadilah dia sebagai orang yang hidup tanpa ada landasan yang pasti.
Oleh karena itu, menjawab pencarian jati diri kita adalah suatu keniscayaan yang harus kita lakukan kalau ingin sukses dalam menjalani kehidupan ini. Karena dia adalah satu langkah awal yang harus kita lakukan sebelum kita menentukan kapan kita harus melangkah, kenapa kita harus melangkah dan ke arah mana kita harus melangkah. Dengan kata lain, kejelasan jati diri adalah langkah awal bagi kejelasan masa depan hidup kita.

Berfikir dan Berfikir … Adalah Sebuah Awal
Sebenarnya pertanyaan seputar jati diri kita: bahwa kita itu siapa sich? Di dunia ini mau ngapain sich? Habis itu mau kemana sich?... Secara alami mesthi akan muncul dalam benak kita kalau kita mau melihat dan memikirkan diri kita, alam sekitar dan kehidupan yang di sekeliling kita. Karena ketika manusia itu udah mencapai kondisi aqil baligh, yakni ketika kemampuan mengakalnya (berfikirnya) telah sempurna, maka dengan kemampuan mengakal (berfikir) yang dia punya tersebut, dia akan terangsang dan mampu memikirkan berbagai macam fakta di depannya. Ketika dia lihat laut yang begitu luas dengan beragam makhluk besar kecil di dalamnya, ketika dia melihat matahari yang cuman satu tidak sembilan kaya’ di ceritanya “Sun Go Kong” …sehingga manusia tidak kepanasan, ketika dia melihat rambut di wajah tubuhnya….yang berbeda-beda tingkat pertumbuhannya….ada yang bisa panjang kayak rambut kepala, tapi ada yang tidak….kayak alis, bulu mata, de el el padahal dia tidak ikutan ngatur, menunjukkan betapa semua itu begitu teraturnya, yang ‘ndhak mungkin dech itu semua ada karena kebetulan tanpa ada Yang menciptakannya dan mengaturnya, tanpa ada Sesuatu di balik semua itu, Sesuatu yang pada-Nya-lah kita bisa menyandarkan segala sesuatu yang bersifat serba terbatas tadi, hingga sampailah kita pada suatu pertanyaan: “darimana sich asal dari semua ini, asal dari manusia, alam semesta dan kehidupan ini? Untuk apa ya semua ini ada?
Begitu juga, ketika kita meneruskan pengamatan kita, maka kita akan melihat bahwa meskipun kita ingin hidup selamanya….tapi toh ternyata kita tidak bisa menolak bahwa kita pasti akan semakin tua dan kemudian secara pasti maut itu pun datang. Tidak pandang siapa pun, orang kayakah, miskinkah, tuakah, anak-anakkah, atau remaja seumuran dengan kamukah…ternyata begitu maut menjemput…maka manusia tidak pernah bisa menolak. Kemanakah mereka setelah mati? Apakah ber-reinkarnasi kaya’ di film-film Cina itu? Atau menjadi hantu gentayangan kayak ‘si Manis Jembatan Ancol’? Atau ya habis sudah riwayat orang yang mati tadi, atau bagaimana?
Kalau kita mau mengikuti dengan cermat proses pencarian jawaban ini, maka sebenarnya jawaban yang ditemukan oleh seseorang tadi terhadap tiga pertanyaan besar itulah yang akan menentukan apakah seseorang itu menjadi orang yang beriman, dan menganut aqidah Islam ataukah tidak. Demikian pula atas dasar jawaban tiga pertanyaan mendasar itulah seseorang itu akan menjalani dan membangun kehidupannya dengan model kehidupan yang bagaimana. Karena tiga pertanyaan di atas adalah kunci bagi terurainya pertanyaan-pertanyaan atau masalah-masalah cabang yang dihasilkannya.

Saatnya Mengerti, Siapa sich Aku ini?
Nah…. Kalau kita mau menggunakan akal yang udah dikaruniakan Allah ini kepada kita tadi, yang dengannya kita menjadi makhluk Allah yang berbeda dari makhluk Allah yang lain, maka kita akan sampai pada satu kesimpulan ketika kita mengamati fakta manusia, alam semesta dan kehidupannya, bahwa mesthiiii…ada Sesuatu yang ada di balik tiga hal tadi. Sesuatu yang telah menciptakan semua hal tadi, dari tidak ada menjadi ada, karena tidak mungkin manusia itu mengadakan dirinya sendiri, demikian pula gunung, kucing, laut dan seterusnya. Karena mereka semua bersifat terbatas, tentu harus ada dong Dzat yang telah menciptakan mereka, dimana Dzat tersebut harus berbeda dengan makhluk buatan-Nya, dia tidak boleh bersifat terbatas. Dia adalah Tuhan yang Maha Pencipta dan juga Maha Pengatur atas segala sesuatu, sehingga kita bisa melihat betapa teraturnya makhluk-makhluk ciptaan Tuhan ini berjalan. Nggak pernah dech kita liat matahari tabrakan sama bulan, burung tabrakan sama bintang, layangan tabrakan sama pesawat…meski semuanya berada di langit yang sama. Teratur banget khan?! Sehingga sangatlah logis, kalau kita pun setelah diciptakan oleh-Nya nggak akan pernah dibiarin aja….mau hidup dengan model gimana, mau makan apa, mau pake baju apa, mau tetep hidup apa endhak, dan sebagainya. Pendek kata, ketika kita diciptakan, telah juga disertakan Allah SWT, Sang Pencipta kita Yang Maha Pengatur tadi, aturan-aturan yang harus kita pake’ dalam menjalani kehidupan ini. Agar kita bisa hidup sebagaimana tujuan kita diciptakan oleh-Nya, karena sebagai pencipta kita, tentulah Allah Mata Tahu juga atas segala detil dan hakekat kita, apa yang bisa membahayakan kita dan apa yang bisa membahagiakan kita. Bukankah pencipta mobil adalah pihak yang paling tahu tentang seluk-beluk mobil ciptaannya itu? Lebih jauh lagi, mobil ciptaannya tadi akan bisa rusak dan tidak berdaya guna sebagaimana tujuan dia dibikin kalau cara penggunaan, bahan bakar, dan cara pemeliharaannya tidak sesuai dengan tata cara/aturan yang dikeluarkan pencipta mobil tersebut. Demikian pula manusia, kehidupannya akan kacau dan tidak akan berjalan sebagaimana tujuan dia diciptakan kalau selama menjalani kehidupan ini manusia tidak diatur dengan aturan-aturan buatan Penciptanya.
Oleh karena itulah kenapa kita butuh seseorang yang bisa menyampaikan aturan-Nya dan menunjukkan kepada kita bagaimana menyelesaikan masalah kehidupan kita menggunakan aturan-aturan hidup tadi. Seseorang yang telah diutus-Nya untuk membawa firman-firman-Nya (Al-Qur'an), yang berisi perintah dan larangan-Nya, juga ancaman dan kabar gembira-Nya. Seorang Rasul yang membacakan kepada kita kitab yang tidak mungkin diciptakan oleh manusia manapun, baik bangsa Arab atau bahkan oleh Rasul itu sendiri. Kitab yang memiliki gaya bahasa yang tinggi, yang mengkabarkan tidak hanya kejadian-kejadian di masa sekarang, namun juga di masa lampau dan yang akan datang. Yang terjamin kebenaran dan keasliannya sepanjang zaman. Yang terbukti tidak pernah bisa disamai oleh para penyair manapun yang telah berupaya mencoba membuat satu ayat saja yang semisal dengannya. Kitab yang terbukti tidak pernah bisa dirubah dan disusupi oleh satu kata pun selain dari firman-Nya, karena Allah sendirilah yang akan menjaganya.

“Diturunkan kitab ini dari Allah Yang Maha Penguasa lagi Maha Bijaksana”. (Terj. QS. Al-Ahqaaf 2)

“Sesungguhnya kami telah menurunkan peringatan dan kami-Lah yang akan menjaganya”. (Terj. QS. Al Hijr 9)
Dan berdasarkan pengkabaran dari Al-Qur'an -yang bisa kita buktikan kebenarannya bahwa ia adalah benar-benar kitab yang berisi kalam Allah yang telah terjamin kebenarannya secara mutlak karena berasal dari Dzat yang Maha Benar--, akan kita dapatkan informasi tentang kejadian manusia, kehidupan dan alam semesta ini. Sebagaimana yang tercantum dalam ayat di bawah ini:

“Hai manusia, jika kamu dalam keraguan tentang kebangkitan (dari kubur), maka (ketahuilah) sesungguhnya kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar kami jelaskan kepada kamu dan kami tetapkan dalam rahim, apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan, kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi, kemudian (dengan berangsur-angsur) kamu sampailah kepada kedewasaan, dan diantara umurnya sampai pikun, supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatu pun yang dahulu telah diketahuinya….” (Terj. QS. Al Hajj 5)
Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu, dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezeki untukmu; karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui. (Terj. QS. Al Baqarah 22)

Jadi jelas sudah, bahwa kita, alam semesta dan kehidupan ini adalah semuanya dari Allah SWT, dan bukan karena ada dengan sendirinya ataukah pula diadakan oleh sesuatu selain Allah. Ini adalah hal prinsip yang harus kita yakini karena terkait dengan pengakuan kita secara pasti bahwa Allah adalah Pencipta kita. Karena dengan pengakuan yang kuat, yakin 100 % tanpa ada keraguan akan hal inilah berarti kita baru disebut beriman kepada adanya Allah, bahwa Muhammad adalah utusan Allah, yang datang dengan membawa Al-Qur'an yang semata-mata merupakan kalam (perkataan) Allah. Termasuk ayat di atas tadi.
Dan ternyata, Allah yang telah menciptakan kita itu bersumpah:
“Maka demi Rabb-mu, mereka itu (pada hakekatnya) tidak beriman sebelum mereka menjadikan engkau (Muhammad) sebagai hakim (pemutus) atas segala permasalahan yang timbul di antara mereka, kemudian tidak ada rasa keberatan di hati mereka terhadap putusan yang engkau berikan, dan mereka menerima (pasrah) dengan sepenuhnya.” (QS. An Nisa’ 65)
Ayat di atas menunjukkan bahwa kalau kita itu mengaku beriman, maka konsekuensinya kita harus mau mengambil seluruh aturan yang telah diturunkan Allah melalui Rasul-Nya untuk mengatur segala aspek kehidupan kita, dan kita mengambil aturan tadi dengan penerimaan sepenuh hati tanpa ada rasa keberatan sedikitpun. Hal ini dipertegas lagi oleh Allah:

“Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali hanya untuk beribadah kepada-Ku” (Terj. QS. Adz Dzariyaat 56)
Maka untuk beribadah kepada Allah-lah, kita dihidupkan di dunia ini. Dengan cara bagaimana? Dengan cara melaksanakan segala apa yang diperintahkan oleh Allah, dan meninggalkan segala apa yang dilarang-Nya, dan inget !!….itu adalah konsekuensi dari keimanan kita kepada-Nya.
Jadi, kalau kamu mau ngapain-ngapain…inget-inget kamu mesti mengikatkannya pada hukum syara’: apakah perbuatan yang mau kamu lakukan itu diperintahkan, dilarang dan dibolehin sama hukum syara’. Dan itu harus kamu lakukan dalam segala aspek perbuatan kamu. Mulai dari bangun tidur, mandi, sholat, sarapan, sekolah, ikut les bimbel, ngaji, ngelarin ujian akhir sampe’ mau milih jurusan kuliah pun kamu harus sandarkan pada hukum syara’. Kalau diperintahkan ya cepetan ambil…laksanakan! Tapi kalau ternyata dilarang….yo tidak ada tapi-tapian, segera tinggalkan! Inget Man amalan itu supaya tidak sia-sia, harus menuhin dua syarat, yakni ikhlas dan bener alias sesuai ’ama hukum syara’.
Dan terakhir, satu hal yang pasti, bahwa segala sesuatu di dunia tidak ada yang bersifat abadi, mereka mesthi akan berakhir, karena mereka adalah makhluk yang penuh keterbatasan….yang tidak bisa menolak ketika maut atau hari akhir itu tiba. Kita pun demikian, sebagai manusia yang telah diciptakan oleh Allah, pada masanya nanti akan dimatikan-Nya dan akan dikembalikan lagi kepada-Nya. Karena Dialah asal dari segala sesuatu dan kepada-Nyalah akhir dari segala sesuatu itu dikembalikan. “Mengapa kamu kafir terhadap Allah, padahal kamu tadinya mati, lalu Allah menghidupkan kamu, kemudian kamu dimatikan dan dihidupkan-Nya kembali, kemudian kepada-Nyalah kamu dikembalikan.” (Terj. QS. Al Baqarah 28)
“Dan Allah menciptakan langit dan bumi dengan tujuan yang benar dan agar dibalasi tiap-tiap diri terhadap apa yang dikerjakannya”. (Terj. QS. Al Jaatsiyah 22)

“Katakanlah : ‘Allah - lah yang menghidupkan kamu kemudian mematikan kamu, setelah itu mengumpulkan kamu pada hari kiamat yang tidak ada keraguan padanya; akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”. (Terj. QS. Al Jaatsiyah 26)
Kembali kepada Allah, Sang pencipta kita, itulah akhir dari perjalanan hidup kita. Setelah sekian lama kita diberi kenikmatan hidup beserta segenap perangkat untuk menikmatinya, maka kita akan kembali menemui-Nya untuk mempertanggung jawabkan apa yang udah kita lakukan dan perbuat dengan segala kenikmatan itu. Apakah kita gunakan untuk mengkufuri-Nya ataukah kita pergunakan untuk mentaati-Nya. Semuanya akan diminta pertanggungjawabannya secara detail dan rinci, tidak bakalan ada yang lolos dari pengadilan-Nya. Sebagaimana firman-Nya:
“Dan barang siapa yang mengerjakan kebajikan seberat dzarrah, niscaya dia akan melihat (balasan) nya. Dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya pula.” (Terj. QS. Al Zalzalah 7-8)
Jadi, kalau kita itu ngerti and sadar bahwa kita bakalan ditanya tentang segala apa yang kita lakukan di dunia ini, tentu kita tidak akan pernah main-main ngejalani hidup ini. Kita tidak akan pernah memandang bahwa tujuan akhir dari hidup kita adalah pada kehidupan dunia ini thok, tapi lebih lanjut, karena kita ngerti bahwa akan ada kehidupan setelah kehidupan dunia ini, yang itu lebih kekal dan abadi, yang di sanalah ditentukan nasib kita apakah ngedapetin ridlo Allah dan surga-Nya ataukah ngedapetin murka dan Neraka-Nya, maka kita mestinya akan senantiasa ngejadi’in Ridlo Allah sebagai tujuan akhir dari segala tujuan amal perbuatan kita di dunia ini.
Sehingga kalau selama belasan umur yang kita punya kemaren itu lebih banyak kita pake’ hura-huranya ketimbang ibadahnya, atau lebih banyak maksiatnya ketimbang taatnya, dan juga lebih banyak lupa sama aturan Allah ketimbang ingatnya, maka sejak sekarang juga kita mesti menancapkan dalam pikiran kita, bahwa: ‘saya harus berubah’. Karena sekarang saya sudah menyadari bahwa saya adalah hamba Allah. Saya adalah seorang Muslim yang dihidupkan untuk melakukan ketaatan kepada Allah, dengan cara melaksanakan seluruh apa yang Allah perintahkan dalam hidup ini kepada saya sebagai hamba-Nya. Karena saya menyadari hanya dengan cara itulah saya akan bisa meraih dan sampai pada tujuan akhir saya, mendapatkan ridlo Allah, satu-satunya Dzat yang bisa memberikan kebahagiaan hakiki kepada saya.***

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar