Tempat berbagi
informasi, pemikiran,
kisah, artikel, tips, pengalaman, dan ilmu
berkaitan dengan
dunia medis, intelektual, dakwah, perempuan,

pendidikan anak,
remaja, keluarga dan generasi, juga sesekali barang jualan.....

Selamat Berlayar..........

Sabtu, 21 Maret 2009

Perubahan Itu Dimulai Dari Usahamu !!

PERUBAHAN ITU
DIMULAI DARI USAHAMU !!
Oleh: Faizatul Rosyidah


Sobat , pernah nggak kalian denger kalimat seperti ini: “Emm…sebenernya sih aku ingin pake’ jilbab, tapi gimana ya, kok rasanya aku belum siap, habisnya…belum dapet hidayah sih..” atau “Anak itu kok nggak berubah-ubah sich…dari dulu bandelnya kok nggak ilang-ilang….mungkin karena emang belum dapet hidayah kali ya….?” Atau mungkin masih seabreg lagi kalimat-kalimat semacam ini yang pernah lewat di kuping kita, atau bahkan mungkin sering meluncur deras dari bibir kita sendiri… Gimana? Iya ndak sih?
Emang, hidayah adalah satu kata yang sering kali jadi tumbal plus kambing hitam atas kelakuan-kelakuan tidak baik kita (juga orang lain) sehari-hari. Jadi penjambret…dibilang karena belum dapet hidayah makanya masih belum tobat, terjerat lingkaran setan narkoba, semakin masuk dalam pola pergaulan bebas, masih belum rutin sholat, belum juga mau puasa ramadhan, belum mau nutup aurat….semuanya dibilang karena belum dapet hidayah.
Pertanyaannya sekarang, apa emang bener begitu sih ? Apa emang bener seseorang itu hanya akan bisa jadi baik kalau dia udah dapet hidayah dari Allah? Apa bener juga kalau kita ingin jadi baik berarti kita musti nungguin hidayah itu nyamperin kita? Yang itu berarti kita nungguin Allah ngasihkan hidayah itu ke kita? Kalau gitu kasihan dong para penjahat itu, cuman gara-gara Allah belum ngasih hidayah, mereka bisa terancam masuk neraka. Tapi….apa emang ya gitu? Nah daripada kita pusing-pusing, tidak ngerti, yang malah bisa membuat kita salah faham and salah jalan. Mendingan kita cari sama-sama yuk penjelasan yang benar dari Islam tentang hal ini !!!


Hidayah? Apaan ……tuch?
Hidayah berasal dari kata Hadaa, Yahdii, Hudan, Hidayatan, yang arti bahasanya ar-rasyad (penerangan) dan ad-dalalah (petunjuk). Sedangkan makna istilah syar’iy-nya --yaitu makna yang ditunjukkan oleh syariat Islam-- berarti mengikuti petunjuk Islam dan mengimaninya.
Lawan kata dari Hidayah adalah dhalalah. Nah kalau yang satu ini berasal dari kata dhalla, yadhillu, dhalaalan, dhalaalatan, yang artinya dhiddu ar-rasyad atau kebalikan dari petunjuk dan penerangan alias kesesatan, yang secara istilah berarti menyimpang dari Islam.
Jadi….dikatakan orang itu dapet hidayah ketika dia beriman dengan Islam lalu dia mengikuti apa yang ditunjukkan oleh Islam. Sementara orang yang tersesat adalah orang yang tidak mengimani Islam dan dia tidak mengikuti petunjuk Islam.
Gimana? Udah jelas? Nah, kalau ternyata arti dari hidayah itu adalah seperti itu, maka pertanyaan selanjutnya adalah: gimana sih caranya biar si hidayah itu nyamperin kita? Apa hidayah itu emang sesuatu yang tiba-tiba jatuh dari langit, atau tiba-tiba bakal kita dapetin waktu lagi konkow-konkow kalau emang waktunya Allah ngasih? atau kita musti usaha dulu kalau ingin ngedapetinnya?

Hidayah, Kudu Dicari or ditungguin sih?
Wah, buat ngejawab pertanyaan ini, kita kudu punya sumber yang akurat guys, bukan dari primbon, bukan pula dari diary kamu, tapi dari sumber yang kita bisa percaya pasti kebenarannya. Pasti tau donk…Yap, sumber itu adalah Al-Qur'an dan As-Sunnah.
Nah, kalau kita mau repot dikiit aja buat ngebuka Al-Qur'an maka di dalamnya bakal kita jumpai banyak ayat yang menerangkan tentang hal itu. Diantaranya:
”Katakanlah (Muhammad): ‘Sesungguhnya Allah menyesatkan siapa saja yang ia kehendaki dan menunjukkan (jalan) kepada-Nya atas siapa saja yang bertaubat kepada-Nya.” (QS. Ar Ra’du: 27)
“Sesungguhnya Allah menyesatkan siapa saja yang ia kehendaki dan menunjuki siapa saja yang ia kehendaki.” (QS. Fatir: 8)
“Tetapi Dia menyesatkan kepada siapa saja yang Dia kehendaki dan menunjuki siapa saja yang Dia kehendaki.” (Terj. QS. An Nahl: 93)
Demikian pula dengan ayat pada Al An’am 39, Yunus 35, Al A’raf 43, Al Kahfi 17 dan Al Qasas 56.
Dari semua ayat-ayat di atas maka kita dapatkan pemahaman terhadap makna tekstual bahwa semua hidayah (petunjuk) dan dhalalah (kesesatan) itu semata-mata dikembalikan kepada ketentuan Allah, nggak ada unsur manusianya blas. Jadi orang itu mau menjadi seorang yang iman dengan Islam dan ngikutin petunjuk Islam itu semata-mata karena Allah yang menghendaki begitu. Demikian pula, ketika ada seorang yang dia itu tetep dalam kekufurannya alias tidak beriman, dan juga tidak mau ngikutin aturan Islam -misalnya suka ngutil barang orang, melakukan perampokan dengan pembunuhan atau melakukan zina misalnya-, itu pun semata-mata karena Allah menghendaki dia jadi orang yang tersesat.
Mungkin kamu sekarang jadi mikir, masa’ ya gitu sih? Eit, tunggu dulu Sobat…penjelasan ini belum kelar, jadi kamu kudu sabar baca penjelasan ini sampe’ akhir, jangan dihentikan sampe’ di sini bisa buahahaya.!!!
Jadi sobat, emang kalau kita mau memahami ayat-ayat di atas tadi sekedar dari makna harfiah atau tekstualnya, maka akan kita dapatkan pemahaman seperti di atas. Tapi sobat, kamu juga harus tahu bahwa untuk memahami sebuah dalil itu tidak boleh dipahami secara sendiri-sendiri dan terpisah dari dalil-dalil yang lain, tapi harus memahami dalil-dalil tersebut dengan melihatnya merupakan satu kesatuan dengan dalil-dalil yang lain. Karena nggak mungkin suatu ayat dalam Al-Qur'an itu memiliki makna yang bertentangan dengan ayat yang lain. Kalau secara tekstual kita memahami ada ayat yang bertentangan, maka pasti kita yang salah dalam memahaminya.
Nah kalau emang menjadi orang yang tertunjuki dan menjadi orang yang tersesat itu sepenuhnya bisa kita nisbahkan karena perbuatan Allah semata, padahal dalam banyak ayat Allah juga menunjukkan bakal menyiksa dan mengancam orang-orang yang tersesat (tidak beriman dan tidak mau mengikuti petunjuk Islam) itu dengan adzab yang pedih, -sebagaimana dalam beberapa ayat berikut ini:
“Allah menjanjikan kepada orang-orang munafiq laki-laki dan orang-orang munafiq perempuan serta orang-orang kafir neraka jahanam, dimana mereka akan kekal di dalamnya.” (Terj. QS. At Taubah 68), juga
“siapa saja yang melakukan kejahatan, maka ia akan dibalas dengan (balasan) kejahatan” (Terj. QS. An Nisa’ 123) - maka itu berarti Allah telah mendhalimi hamba-Nya.
Padahal di ayat yang lain jelas-jelas Allah menyatakan:
“Siapa saja yang melakukan kebajikan, maka itu adalah untuk dirinya sendiri dan siapa saja melakukan keburukan-keburukan, maka itu pun untuk dirinya dan Tuhan kamu tidak pernah berbuat dlalim kepada hamba-hamba-Nya. (Terj. QS. Fushilat 46), juga

“Dan sekali-kali Aku tidak pernah berbuat dlalim kepada manusia (Terj. QS. Qaf 29)
Sehingga dari sini mestinya muncul pertanyaan dalam diri kita; lho kok bisa ya ada pertentangan antara kelompok ayat yang pertama yang menyatakan bahwa mendapatkan petunjuk dan kesesatan itu adalah semata-mata karena Allah, dengan kelompok ayat kedua yang menyatakan bahwa mendapatkan petunjuk dan kesesatan itu adalah semata-mata karena usaha manusia sehingga karenanya Allah akan mengadzab siapa saja yang melakukan hal-hal yang bertentangan dengan Islam. Apa emang iya dua ayat tadi bertentangan? Atau pemahaman kita yang kurang tepat?

Gimana kita Musti Memahami Hal ini??
Nah gini Sobat, sebagaimana yang kita semua udah paham, Al-Qur'an itu adalah sebuah kitab yang diturunkan oleh Allah yang berisi firman-firman Allah, Dzat Yang Maha Benar, sehingga sebenernya tidak akan mungkin ayat-ayat di dalam Al-Qur'an itu ada yang salah ataupun saling bertentangan satu sama lain, lah wong dia berasal dari Dzat Yang Maha Benar.
Memahami dalil-dalil berkaitan dengan masalah hidayah ini, maka sebenarnya kalau kita ingin memahami maksud dari suatu ayat, ngga’ cukup hanya dengan memahami makna tekstualnya saja. Akan tetapi kita juga harus memahami bagaimanakah makna kontekstual yang terkandung dalam sebuah ayat, hubungan atau kaitan dengan ayat-ayat atau dalil-dalil yang lain, qorinah (penunjukan-penunjukan) yang seperti apa yang dikandungnya dan yang dikandung dalil berkaitan dengan masalah tersebut, dan sebagainya. Sehingga singkatnya emang tidak gampang mau memahami sebuah hukum dari sebuah dalil, dibutuhkan modal tertentu untuk bisa melakukannya. Mulai dari modal bahasa Arab yang OK, hafalan hadits, ayat dan juga dalil-dalil yang lain, ngerti sebab turunnya sebuah dalil, kaitan dengan dalil-dalil yang lain seperti apa, (apakah menunjang, dihapuskan dengan dalil lain, bisa digabungkan, atau hubungan yang lain). Singkatnya kita musti ngerti gimana kaedah untuk menarik kesimpulan hukum dari sebuah dalil, yang mana hal ini dibahas dalam ilmu ushul fiqh.
Nah terkait dengan dalil mengenai hidayah dan dlalalah ini, maka dalil-dalil yang secara tekstual menunjukkan bahwa hidayah dan dlalalah adalah semata karena perbuatan Allah tersebut kalau kita pahami secara kontekstual, ternyata dalil-dalil tersebut mengindikasikan suatu makna bahwa memang Allah yang memberikan hidayah dan dlalalah tetapi tidak secara langsung. Artinya Allah-lah yang memang menciptakan hidayah dan dlalalah tadi, tetapi manusialah yang mengupayakan sehingga hidayah tersebut sampai pada dirinya. Indikasi yang bisa mengalihkan makna dari bahwa hidayah dan dlalalah itu langsung berasal dari Allah kepada makna tidak langsung, (artinya ada usaha manusia diantara keduanya) itu ada dua: yang pertama Indikasi syara’ (qarinah syar’iyah) dan yang kedua Indikasi akal (qarinah aqliyah).
Indikasi syara’ adalah banyaknya ayat-ayat lain yang menunjukkan (secara tekstual) bahwa mendapatkan petunjuk ataukah kesesatan itu adalah karena perbuatan manusia. Diantaranya adalah: “Maka siapa saja yang mencari petunjuk, maka sesungguhnya ia mencari petunjuk untuk dirinya sendiri. Dan siapa saja yang tersesat, maka sesungguhnya ia sedang menyesatkan dirinya sendiri.” (Terj. QS. An Naml 92),
“Siapa saja yang mendapat petunjuk maka (petunjuk itu) untuk dirinya sendiri, dan siapa yang sesat maka sesungguhnya dia semata-mata sesat buat (kerugian) dirinya sendiri…”(Terj. QS. Az Zumar 41),
“Dan orang-orang kafir berkata: ‘Ya Tuhan kami perlihatkanlah kepada kami dua jenis orang yang telah menyesatkan kami (yaitu) sebagian jin dan manusia…” (QS. Fushilat: 29).
Ayat-ayat diatas secara tekstual menyatakan bahwa ternyata manusialah yang mengusahakan hidayah dan dlalalah, dimana ia dapat menyesatkan dirinya sendiri maupun dapat juga menyesatkan orang lain. ayat-ayat diatas mengembalikan hidayah dan dlalalah kepada manusia dan jin.
Sementara indikasi akal (qorinah aqliyah)-nya adalah : seandainya memang benar bahwa mendapatkan petunjuk ataupun kesesatan itu semata-mata karena perbuatan Allah, padahal Dia kemudian akan memberikan imbalan pahala dan surga bagi siapa saja yang mendapatkan hidayah (mengimani Islam dan mengikuti petunjuknya) dan akan mengadzab siapa saja yang berjalan di atas jalan kesesatan (tidak beriman pada Islam dan tidak mau mengikuti petunjuk Islam), berarti Allah telah berbuat dlalim kepada manusia. Padahal Allah tidak akan mungkin berbuat dlalim kepada hamba-hamba-Nya. Sebagaimana firman-Nya:
“Dan sekali-kali Tuhanmu tidak akan berbuat dlalim kepada hamba-Nya.” (QS. Fushilat: 46).” Dan Aku sekali-kali tidak akan berbuat dlalim kepada manusia.” (QS. Qaf: 29)
Jadi, dengan menggabungkan kedua kelompok ayat tentang hidayah diatas, yang secara memiliki arti yang bertentangan, kita dapat memahami bahwa ternyata beberapa ayat yang menyatakan bahwa hidayah dan dhalalah berasal dari Allah itu sebenarnya bermakna bahwa Allahlah Zat yang Maha Menciptakan hidayah dan dhalalah, dan manusia yang mengusahakan agar hidayah dan dhalalah tersebut bisa sampai kepada dirinya.
Allah adalah Zat yang Maha Adil, yang tidak mungkin berbuat dhalim dengan membuat seseorang tersesat dan kemudian menyiksanya dalam neraka. Karena sesungguhnya Allah telah memberikan petunjuk bagi siapa saja yang mau mengikuti dan mengimani petunjuk itu. Sehingga apabila Allah memberi balasan kepada manusia dengan suatu siksaan di neraka, hal itu bukan karena kesalahan Allah, tapi murni karena kesalahan dan kelalaian orang itu sendiri. Dan apabila Allah memberi balasan berupa surga, hal itu juga bukan karena kemurahhatian Allah semata, tapi hal itu karena hasil usaha manusia tersebut.
Dengan kata lain, sesungguhnya setiap manusia secara fitrah telah diberi oleh Allah kecenderungan untuk beriman dan untuk kufur. Inilah yang dimaksud bahwa Allahlah yang menciptakan hidayah dan dhalalah, karena Allahlah yang telah memberikan kepada manusia kecenderungan untuk menerima dan menolak Islam. Selain itu Allah juga telah menunjukkan kepada kita manakah kebenaran dan petunjuk itu dengan mengutus Rasul yang membawa petunjuk-Nya. Dan setelah manusia dibekali dengan kecenderungan semacam itu, manusia kemudian diberi pilihan untuk memilih satu diantara dua alternatif, yaitu keimanan yang akan membawa kepada ridlo dan surganya Allah ataukah kufur yang akan membawa kepada murka dan nerakanya Allah. Sebagaimana ditunjukkan dalam firman Allah:

“Dan kami telah memberinya dua pilihan (jalan), ada yang bersyukur (menjadi mukmin) dan ada yang kafir” (Terj. QS. Al Balad: 10)

“Dan Dia telah mengilhamkan pada jiwa (manusia), (jalan) kefasikan dan (jalan) ketaqwaan.” (Terj. QS. As Syams: 8)
Dan adalah janji Allah kalau kita mau usaha nyari petunjuk Allah, maka akan dimudahkan oleh Allah dengan diberi petunjuk tadi kepada kita, sebagaimana dalam firman-Nya:
“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) kami, benar-benar akan kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan kami.” (Terj. QS. Ankabut: 69)

So…kita kudu gimana?
Dari sini kita bisa mengambil kesimpulan bahwa ternyata hidayah itu adalah sesuatu untuk dicari bukan untuk ditunggu sambil ongkang-ongkang kaki. Dan untuk bisa mendapatkan petunjuk Islam dan mengimaninya, tidak bisa tidak, kita harus berupaya untuk memahami Islam terlebih dahulu, tentu saja hal itu tidak akan pernah kita dapetin kalau kitanya emang males mikir. Mikir tentang siapa hakikatnya kita, alam semesta dan kehidupan ini, dari manakah kita dan alam semesta ini berasal, untuk apa kita ada di dunia, dan setelah menjalani kehidupan di dunia ini kita mau kemana?! (persis kaya’ bahasan pertama itu lho)
Nah…. Kalau kita sudah ketemu dengan petunjuk Islam, maka yang harus kita lakukan berikutnya adalah segera mengimaninya dan mengikuti segala apa yang diperintahkannya dan meninggalkan segala apa yang dilarangnya. Dengan cara begini pasti deh kita akan senantiasa menjadi orang yang tertunjuki, menjadi orang yang senantiasa ngedapetin hidayah, menjadi orang yang senantiasa berjalan dalam petunjuk dan penerangan Islam yang akan membawa kita sampai pada tujuan yang kita idam-idamkan, yakni mendapatkan ridlo dan Surganya Allah SWT.
Menjadi seorang Muslim yang iman kepada Islam mungkin sekarang sudah kita lakukan, tinggal langkah berikutnya yang harus kita realisasikan yakni mengambil segala apa yang datang bersama Islam tadi dengan tasliiman (penerimaan sepenuh hati) tanpa ada rasa keberatan sedikitpun. Apakah ketika hendak mengikuti perintah untuk menutup aurat dan berjilbab, melaksanakan kewajiban sholat 5 waktu, melakukan puasa di bulan Ramadhan, melaksanakan perintah menuntut tsaqofah (ilmu) Islam, melaksanakan perintah untuk berdakwah dan ketika melaksanakan perintah-perintah lainnya. Ataupun ketika kita hendak meninggalkan aktivitas zina / free sex, meninggalkan minum miras ataupun mengkonsumsi narkoba, meninggalkan tawuran, membuang rasa malas, dan ketika meninggalkan larangan-larangan Islam yang lainnya. Semuanya harus kita ambil (untuk kita lakukan ataukah kita tinggalkan) sebagaimana dia (peraturan Islam tadi) datang, dengan perasaan penuh penerimaan, tanpa ada keberatan atau paksaan sedikitpun. Karena bukankah itu memang konsekuensi yang harus kita jalankan sebagai seorang Muslim? Sebagaimana firman Allah dalam surat An Nisa’: 65:
“Maka demi Rabb (Tuhan)-mu, mereka itu (pada hakekatnya) tidak beriman sebelum mereka menjadikan engkau (Muhammad) sebagai hakim (pemutus) atas segala permasalahan yang timbul di antara mereka, kemudian tidak ada rasa keberatan di hati mereka terhadap putusan yang engkau berikan, dan mereka menerima (pasrah) dengan sepenuhnya.” (QS. An Nisa’ 65)
Memang untuk bisa senantiasa melakukan yang demikian itu bukanlah sesuatu yang mudah, tapi pasti bisa kita lakukan karena sesungguhnya:
“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan batas kesanggupannya…” (QS. Al Baqarah: 286)
Jadi ….ayo segera berlomba-lomba untuk mendapatkan hidayah itu; dengan cara mengimani Islam dan senantiasa menjadikan tuntunan Islam sebagai petunjuk yang harus kita ikuti. And inget Sobat…itu semua dimulai dari usahamu, so tunggu apa lagi ?!!!***

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar