Tempat berbagi
informasi, pemikiran,
kisah, artikel, tips, pengalaman, dan ilmu
berkaitan dengan
dunia medis, intelektual, dakwah, perempuan,

pendidikan anak,
remaja, keluarga dan generasi, juga sesekali barang jualan.....

Selamat Berlayar..........

Sabtu, 11 April 2009

Bersikap Tepat Menghadapi Pertengkaran Antar Anak

(Berbagi Pengalaman Mendidik Ahmad -edisi 15)
Oleh: Ummu Ahmad


Sebagai anak dengan tipe yang ‘mandiri’, sejak awal sekolah play group kami tidak perlu menunggunya sekolah secara penuh. Kami hanya perlu memastikan bahwa semua kebutuhannya selama di sekolah sudah kami siapkan. Tasnya selain berisi buku, juga kami isi dengan makanan, minuman, baju ganti hingga persiapan pampers. Sekalipun waktu itu Ahmad sudah tidak lagi memakai pampers. Kami tunjukkan dimana kami meletakkan tasnya, kami beritahu kalau dia membutuhkan bantuan tinggal cari bu guru, dan sebagainya.
Dari sisi kemandiriannya ini banyak wali murid yang biasa menunggu anak-anak mereka sekolah ‘cukup terpesona’ melihat keberanian dan kemandirian Ahmad. Namun wali murid yang merasa ‘resah’ melihat Ahmad yang seringkali menangiskan anak-anak mereka mungkin juga tidak sedikit. Pada titik inilah kita sebagai orang tua dan guru harus bisa menempatkan diri dan juga bersikap arif. Satu sisi sebagai orang tua atau guru kita tidak boleh melakukan stigmatisasi kepada seorang anak ‘jagoan’ dengan stigma ‘nakal’ , ‘jahat’ dan semisalnya, karena sebenarnya memang mereka tidaklah demikian. Namun kita juga harus bisa berempati kepada anak-anak ‘korban’ anak ‘jagoan’ dan orang tuanya yang khawatir terhadap anak-anak mereka.
Kami sendiri, tentu saja tidak pernah membiarkan Ahmad melakukan sesuatu yang tidak ‘tepat’ kepada teman-temannya. Berbagai cara yang bisa kami tempuh untuk ‘meluruskan’ Ahmad pun kami lakukan. Namun pada saat usia anak belum mencapai usia berpikir kritis (sekitar 7-8 tahunan) yang perkembangannya baru dimulai sekitar usia 3 tahun, maka memang sifat-sifat dasar yang dimiliki merekalah yang lebih sering muncul ketimbang pemahaman mereka. Tentu saja bagi seorang anak yang cenderung pemalu dan penakut, dia akan sangat jarang menangiskan temannya, namun mungkin seringkali justru sering menangis. Bisa karena temannya, bisa pula tanpa harus ada alasan yang ‘pantas’ membuatnya menangis. Ini pun sebuah karakter bawaan yang adakalanya membuat orang tua juga ‘gemas’ namun harus tetap sabar kepada sang anak, kala membantunya untuk bisa mengendalikan rasa takut dan pemalunya.


Demikian pula dengan anak-anak yang bertipe seperti Ahmad. Mereka memiliki potensi untuk menjadi seseorang yang dominan dengan keberanian dan kemandiriannya. Namun ketika proses menuju terbentuknya mafhum yang akan mengendalikan potensi tersebut belum sepenuhnya sempurna, sedikit banyak pasti mereka memang akan menjadi anak-anak yang tampil dominan dan ‘jagoan’ di tengah-tengah temannya yang bertipe lain. Namun kalau anak ‘jagoan’ bertemu anak ‘jagoan, maka ada dua kemungkinan. Mereka bisa terlihat sangat cocok ketika bermain, namun ketika ada hal yang memicu ‘pertengkaran’ maka ‘pertengkaran’ yang terjadi pun bisa lebih hebat, karena tidak ada yang merasa ‘pantas’ untuk mengalah/dikalahkan.
Sebuah panduan yang pernah saya dengar dari seorang pakar pendidikan anak tentang ‘perkelahian’ antar anak (sebaya) adalah sepanjang anak-anak tersebut berkelahi dalam keadaaan tangan kosong (tidak membawa sesuatu yang berbahaya), bukan keroyokan, sedahsyat apapun kelihatannya perkelahian tersebut, sekeras apapun tangisan anak yang terjadi di situ, tidak akan berbahaya bagi mereka. Jadi ketika kita sudah memastikan bahwa anak-anak kita bermain dalam keadaan ‘aman’, sedikit terjatuh, tercakar, terdorong, hingga menangis karena pukulan yang dirasakan oleh anak kita, bisa menjadi pelajaran berharga bagi mereka untuk tumbuh menjadi individu yang peka, ‘kuat’ dan siap mengarungi kehidupan yang memang kaya warna dan rasa ini.
Ada terlalu banyak hal yang bisa membuat dua anak berkelahi. Semuanya wajar, sebagai proses pembelajaran dalam mengurangi rasa keakuan (ego) nya untuk bisa memahami dan menghormati hak teman. Justru ketika seorang anak tak pernah bertengkar, selalu mengalah dan menghindari perselisihan, maka perkembangan kepribadian mereka menjadi pasif dan kurang memiliki inisiatif. Orang tua tidak perlu cemas dengan perselisihan antar anak.
Sebaliknya yang jangan sampai terjadi adalah orang tua kemudian terpancing masuk dan intervensi ke dalam ‘pertengkaran’ semu anak-anak mereka. Misalnya orang tua jadi musuhan dengan orang tua yang lain gara-gara anak mereka. Karena sebenarnya anak-anak itu bisa segera dan secepat mungkin lupa dengan perselisihan mereka. Jarak berpikir mereka demikian pendeknya, sehingga apa yang terjadi bisa terlupakan dengan demikian cepatnya. Adu pukul yang terjadi pagi hari, bisa segera disambung main bersama di siang harinya. Saling tendang di sore hari, pagi harinya bisa bercanda dan berangkat sekolah bersama-sama. Seperti itulah fitrah mereka.
Fitrah ’bermusuhan’ dan berdamai’ bisa begitu cepat terjadi, karena merupakan bagian dari fase normal perkembangan anak. Jika ada pihak ketiga yang mengganggu, menghambat dan terlalu turut campur di dalamnya, justru akan merusak fitrah ini sehingga tidak berlaku lagi. Nasehat yang bersifat provokatif dan justru mengajarkan anak agar memendam permusuhan seperti: ”khan sudah Mama bilang, jangan main sama si Momo, memang dia itu anak nakal. Kamu pasti nanti dipukulnya. Biar saja, biar nanti dia gak punya teman”,atau ”Dibilangin Bunda berapa kali, jangan main sama si Mimi! Anaknya itu emang nangisan, manja. Kalau kamu mainan sama dia, kesenggol dikit pasti nangis, nanti kamu dimarahin mamanya lho!”, ketika mendapati anak atau murid kita mengadukan seorang temannya yang dianggap nakal atau cengeng, adalah salah satu hal yang bisa merusak fitrah anak sehingga mereka justru terbiasa ’memelihara’ permusuhan ketimbang ’memupuk’ perdamaian dan kemaafan.
Saya ingat sebuah kisah yang disampaikan kakak saya tentang dua tetangganya di suatu daerah yang saling berseteru hingga ke pengadilan gara-gara ‘perkelahian’ yang terjadi antar anak mereka. Orang tua yang merasa anaknya jadi korban kenakalan temannya melaporkan anak ‘nakal’ tersebut ke pihak berwajib. Begitu seterusnya hingga kedua orang tua tersebut pun berhadapan sebagai ‘musuh’ untuk membela anak masing-masing. Apa yang terjadi? Ketika kedua orang tua tersebut harus berhadapan di kantor polisi dalam keadaan ‘berseteru’, ternyata anak-anak yang menjadi pangkal ‘perseteruan’ mereka, di tempat yang sama malah bermain bersama dengan rukunnya, tidak nampak sedikit pun sisa-sisa ‘permusuhan’ diantara mereka.
Nah, kalau sudah begini, pantaskah kita sebagai orang tua tetap memelihara ’sakit hati’ sementara anak-anak kita bahkan tidak merasa ada yang salah?!

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar