Tempat berbagi
informasi, pemikiran,
kisah, artikel, tips, pengalaman, dan ilmu
berkaitan dengan
dunia medis, intelektual, dakwah, perempuan,

pendidikan anak,
remaja, keluarga dan generasi, juga sesekali barang jualan.....

Selamat Berlayar..........

Sabtu, 11 April 2009

Mengajar Anak Senang Berdoa

(Berbagi Pengalaman Mendidik Ahmad -edisi6)
Oleh: Ummu Ahmad


Sebagaimana kita fahami, doa adalah senjata bagi orang beriman, bahkan disebutkan juga bahwa doa adalah inti dari ibadah. Maka kami sebagai orang tua juga meyakini bahwa dengan doa itulah manusia memiliki sandaran yang kuat. Sejak kecil kami mengenalkan doa-doa sekaligus pentingnya kedekatan dengan Sang Maha Kuasa yakni Alloh SWT kepada Ahmad.
Pengenalan pentingnya doa tersebut tidak hanya kami lakukan dengan mengajarinya menghafal dan mengamalkan doa-doa tertentu. Akan tetapi lebih dari itu kami membiasakan Ahmad melihat bahwa berdoa bisa dilakukan dimana saja dan untuk maksud apa saja. Berikutnya juga membiasakan dia berdoa di mana saja dan terkait hal/maksud apa saja.
Salah satu bentuk doa yang sering kami perlihatkan kepada Ahmad adalah berdoa untuk dirinya agar menjadi anak baik, shalih, sabar, tangannya dipakai untuk yang baik-baik, mulutnya dipakai ngomong yang baik-baik, dan doa kebaikan apapun itu untuknya sesuai dengan konteks yang sedang terjadi. Itu adalah salah satu cara andalan kami untuk ’mengendalikan’ Ahmad, karena dengan metode ’berdoa langsung di hadapannya’ tersebutlah Ahmad langsung luluh dan nurut. Adakalanya saya sendiri yang berdoa. Adakalanya abinya sendiri, ketika beliau yang sedang bersamanya. Tapi adakalanya juga abi yang berdoa, sementara saya meng-aminkan doa yang dibaca oleh abi Ahmad, atau sebaliknya, ketika kami berdua bersama Ahmad.
Sehingga dalam kehidupan Ahmad, meskipun terlihat seperti tidak bisa diam, akan tetapi perasaannya sangat halus dan mudah disentuh/tersentuh. Ketika di televisi ada berita tentang musibah, kami ajari dia berdo’a untuk mereka yang tertimpa musibah tersebut. Ketika melihat anak busung lapar atau mereka yang sakit, kami biasakan dia berdoa untuk mereka, dan seterusnya.
Begitulah, hingga Ahmad akhirnya memang terbiasa berdoa di mana saja, untuk maksud apa saja dan untuk siapa saja. Termasuk terbiasa mendoakan kebaikan untuk orang lain yang mungkin tidak dikenalnya. Sering dia kami dapati berdoa di atas motor ketika kami sedang di perjalanan. Ketika saya tanya “berdoa apa nak?” Jawabannya bisa macam-macam, karena ada banyak hal yang ditemui di perjalanan. Adakalanya dia mendoakan anak kecil yang lagi jualan koran, pak polisi, pengemis, seseorang yang sakit, cacat atau orang lain. Seringkali pula dia berdoa untuk kami, misalnya ketika di perjalanan siang yang sangat terik, ketika kami termasuk Ahmad merasa kepanasan, dia nyeletuk ”Abi-Abi, besok-besok kalo ada rezeki kita beli mobil ya”. Dijawab oleh abinya “Ahmad doakan agar Allah memberikan rezeki untuk beli mobil”. Maka saat itu juga dia berdoa dengan bahasanya sendiri ....dan apapun bisa menjadi doanya.



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar