Tempat berbagi
informasi, pemikiran,
kisah, artikel, tips, pengalaman, dan ilmu
berkaitan dengan
dunia medis, intelektual, dakwah, perempuan,

pendidikan anak,
remaja, keluarga dan generasi, juga sesekali barang jualan.....

Selamat Berlayar..........

Sabtu, 11 April 2009

Mengenalkan Ayah dan Ibu Kandung Kepada Anak Angkat

(Berbagi Pengalaman Mendidik Ahmad - edisi 2)
Oleh: Ummu Ahmad

Menjadi orang tua dari seorang anak yang bukan anak kandung kita, seringkali menghadapkan kita pada kesulitan tersendiri ketika harus menjelaskan siapa sebenarnya orang tua kandung anak kita. Banyak dari kita yang malah dengan sengaja -karena ketidaktahuan- menutup-nutupi bahkan menjauhkan anak kita tersebut dari orang tua kandung mereka. Kadang, bukan karena bermaksud menutupi identitas orang tua kandung sang anak, tapi hanya bermaksud menundanya hingga saat yang tepat tiba, seringkali kita temui di masyarakat orang tua (angkat) yang membuat anak-anak gadis mereka shock menjelang pernikahannya karena baru mengetahui bahwa sang ayah tidak bisa menjadi wali pernikahannya karena ternyata bukan ayah kandungnya.Atau banyak kisah serupa yang menceritakan betapa hancur dan kecewanya sang anak karena merasa sekian lama dibohongi oleh orang tua mereka.
Tulisan di bawah ini adalah pengalaman kami dalam mengenalkan orang tua kandung Ahmad sejak dini, dan secara alami. Semoga bermanfaat.

*******

Sebagai seseorang yang paham akan bagaimana penjelasan Islam tentang kedudukan seorang anak angkat, dan pentingnya kejelasan dan penjagaan atas nasab, kami pun mendidik Ahmad sebagaimana penjelasan Islam tersebut. Bahwa status Ahmad sebagai anak angkat tidak boleh dikaburkan atau disamarkan menjadi anak kandung, siapa sebenarnya orang tua kandungnya, siapa sebenarnya kami ’orang tua baru’nya dan apa konsekuensinya, secara bertahap sejalan dengan perkembangan pemahaman yang dimiliki Ahmad, kami sampaikan dan jelaskan.
Yang pertama kami lakukan adalah memanggilkan diri kami dengan panggilan yang berbeda (abi-umi) dengan panggilan untuk ayah dan ibunya Ahmad, berikut penjelasan siapa nama ayah Ahmad, siapa nama ibu Ahmad, lalu siapa kami, sehingga nantinya tidak ada kejumbuhan. Demikian pula, kami memanggilkan semua saudara-saudara kami (saya dan Ahmad adalah sepupu) dengan panggilan sesuai hubungan kekerabatannya dengan Ahmad. Sehingga hubungan kekerabatan yang dipahami Ahmad adalah yang berdasarkan bahwa Ahmad adalah sepupu kami, dan bukan anak kami. Sementara mengapa dia memanggil kami dengan abi dan umi, dan bukannya mbak atau mas sebagaimana kakak-kakaknya, karena kami adalah orang tua (baru) yang mengasuh dan membesarkan dia.


Selain mengenalkan siapa orang tua dan saudara-saudara kandungnya, kami juga secara bertahap jelaskan kepada Ahmad bahwa dia harus berbuat baik dan berbakti kepada orang tuanya. Penjelasan ini tentu dengan pilihan bahasa yang bisa dipahami Ahmad. Kami berikan contoh dan langsung kami biasakan Ahmad untuk melakukannya. Diantaranya adalah biasa berdoa untuk orang tuanya, menurut dengan nasehat ibunya, memenuhi panggilan ibunya, membantu ibunya, dan semacamnya yang bisa dilakukan oleh anak seusia Ahmad. Demikian juga sering saya sampaikan bahwa besok kalau Ahmad sudah besar, harus bisa menjaga ibunya dan hal-hal lain yang kelak kami harapkan dia lakukan untuk orang tuanya.
Tentu untuk bisa tidak asing dengan ayah dan ibu kandungnya, Ahmad harus juga biasa bertemu mereka, dan tidak boleh kami isolir dari keluarga kandungnya. Oleh karenanya secara berkala kami mengajaknya ke rumah ibunya dan keluarga dari ayahnya. Kadang bahkan Ahmad menginap tanpa kami. Pada waktu hari raya, selain Ahmad kami pertemukan dengan keluarga besar dari pihak ibunya (keluarga besar kami), juga dibawa oleh ibunya bertemu dengan keluarga besar ayahnya. Hal itu dilakukan tidak sekedar agar Ahmad mengenal orang tua dan saudara-saudaranya, akan tetapi lebih dari itu untuk menunjukkan perkembangan Ahmad kepada ibu dan juga saudara-saudaranya agar Ahmad senantiasa juga didoakan oleh mereka. Secara berkala Ahmad juga kami bawa ke pusara ayahnya untuk kami ajari bagaimana mendoakan ayahnya yang sudah meninggal.
Hingga sekarang, ketika saya mendaftarkan Ahmad sekolah, nama wali murid tetaplah orang tua kandungnya. Ibunya selalu kami beritahu perkembangan Ahmad baik di sekolah maupun di rumah.
Alhamdulillah, dalam perjalanannya, pemahaman Ahmad tentang siapa orang tua kandungnya berikut konsekuensinya sepertinya semakin dia pahami. Terkadang kami dibuat terperangah mendengar pertanyaan-pertanyaan ataupun pernyataannya yang menunjukkan sepertinya hal tersebut sudah dia pahami betul.
Ketika melewati kompleks pemakaman ayahnya, tidak lupa dia memberi salam kepada ayahnya dan mendoakannya. Pernah suatu saat di atas motor dalam perjalan kami pulang ke rumah dia berkata ” Umi...dulu kan ayah Ahmad ayah Kautsar, trus sudah meninggal, trus sekarang ayah Ahmad jadi Abi. Alhamdulillah ya Mi, jadi Ahmad punya ayah dua”, sambil memeluk abinya dari belakang. Di lain kesempatan –mungkin setelah proses berfikir yang dia lakukan- Ahmad bertanya pada saya dimanakah abinya ketika ayahnya masih ayah Kautsar. Di lain kesempatan, ketika saya mengeluh kecapekan, dan badan sakit semua, Ahmad langsung memijit tangan saya bergantian kiri dan kanan dengan sangat enak dan cukup lama. Ketika tangan sudah selesai, tidak saya kira dia meminta kaki saya juga untuk dia pijit. Pada saat itulah kemudian saya mencoba bertanya pada Ahmad ”Ahmad, besok kalau Ahmad sudah besar, Ahmad njagain umi atau ibu Yun?” Agak lama Ahmad tidak menjawab, hingga akhirnya dia bilang begini ”Atau Ahmad diiris jadi dua saja ya Mi?”, sambil tangannya memperagakan membelah dirinya jadi dua. Saya segera menyahut ”Ga usah Nak. Besok kalau Ahmad sudah besar, Ahmad njagain Ibu Yun aja ya!” Yang kemudian dengan riang dia jawab ”Iya. Umi dijagain abi saja ya!”....Dalam hati, selain terharu, saya juga bertanya-tanya apa yang dipahami Ahmad tentang menjaga ibunya. Di atas semua itu, tentu saja rasa syukur saya kepada Allah karena Ahmad bisa memiliki niat mulia seperti itu. Semoga Allah SWT mendidiknya menjadi jalan kemuliaan bagi orang tuanya, kami yang mengasuhnya, dan juga umat ini secara keseluruhan. Amiin Ya Rabbal ’Alamiin.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar