Tempat berbagi
informasi, pemikiran,
kisah, artikel, tips, pengalaman, dan ilmu
berkaitan dengan
dunia medis, intelektual, dakwah, perempuan,

pendidikan anak,
remaja, keluarga dan generasi, juga sesekali barang jualan.....

Selamat Berlayar..........

Sabtu, 11 April 2009

Mengajar Anak 'Temperamental' Mengendalikan Diri

(Berbagi Pengalaman Mendidik Ahmad -edisi 5)
Oleh: Ummu Ahmad


’Bakat’ Temperamental
Sewaktu masih dibawah 4 tahun, sifat temperamental inilah yang senantiasa menjadi PR bagi kami, abi dan uminya untuk membantu Ahmad bisa mengendalikannya. Ahmad mudah sekali marah dan ’mengambil tindakan’ kalau menurutnya ada orang lain atau temannya yang ’nakal’. Tentu ’nakal’ di sini adalah sesuai persepsinya sebagai anak kecil (yang daya nalarnya masih dangkal, egosentrisnya masih tinggi, kualitas pemahamannya masih sangat sempit). Karena sebenarnya tidak ada anak kecil yang nakal. Yang ada adalah anak kecil yang aktif atau pendiam, yang berani atau penakut memulai sesuatu, yang ketrampilan motoriknya berbeda-beda, dan sebagainya. Tetapi itu semua tidak serta merta bisa menjadikan mereka yang pendiam kita judge sebagai anak ’baik’ sebaliknya yang sangat aktif sebagai anak ’nakal’. Karena saat itu mereka belum memiliki pemahaman yang sempurna yang bisa mereka jadikan sebagai pengikat tingkah laku mereka. Mereka masih dalam proses belajar mana dan apa sesuatu yang benar dan salah, yang baik atau buruk, yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Sehingga memang belum ada pembebanan hukum atas mereka.
Nah, kembali kepada kemarahan Ahmad kepada teman atau seseorang yang menurutnya nakal itu adalah bisa jadi karena hal-hal yang lazimnya terjadi pada anak-anak, seperti rebutan mainan, tidak sengaja tersenggol temannya, tabrakan ketika berkejaran, diledek dengan sebutan tertentu, dan semacamnya. Hanya bedanya dengan teman-temannya yang biasanya menangis ketika mengalami hal yang sama, Ahmad justru marah kepada seseorang yang menurutnya ’nakal’ tadi. Tidak jarang langsung dipukulnya seseorang tersebut. Dengan potensi keberanian yang dia punya bahkan dia tidak takut sekalipun yang dia pukul tubuhnya jauh lebih besar, usianya jauh lebih tua atau tidak. Biasanya hal tersebut bisa dicegah kalau ’kejadian’ yang membuat marah Ahmad tadi, kami, gurunya atau orang lain ketahui sebelum Ahmad melampiaskan kemarahannya, sehingga bisa disampaikan kepada Ahmad ’tafsir kejadian’ tadi dengan arif. Misalnya bahwa tadi Ahmad ketabrak temannya yang sedang lari-lari, hingga jatuh itu karena tidak sengaja, bahwa mainan Ahmad bukan direbut tapi cuman mau dilihat sebentar, bahwa temannya bukan mau melempar Ahmad tapi bolanya terbang terbawa angin yang keras hingga mengenai Ahmad, bahwa harusnya Ahmad lebih hati-hati, meminta maaf, atau memaafkan temannya dan seterusnya. Tapi tentu saja, tidak semua yang terjadi ketika anak-anak tersebut bergaul dan bermain dalam kekuasaan pengawasan kita.
Sehingga di sinilah sebenarnya kearifan kita sebagai orang dewasa dalam menyikapi apa yang terjadi diantara mereka sangat dibutuhkan. Yang harus kita pahami, bahwa ’pertengkaran’ atau ’permusuhan’ diantara mereka (anak-anak kita) sebenarnya tidaklah ada. Mereka bahkan belum paham apa itu ’musuh’, ’nakal’ dan ’bertengkar’. Bisa jadi seorang ibu yang tidak mau membelikan anaknya permen agar sang anak tidak sakit radang tenggorokan, dianggap oleh sang anak sebagai orang nakal dan harus dimusuhi. Justru dengan pertengkaran atau perkelahian-perkelahian ’semu’ itulah mereka akan dibawa pada kematangan emosi yang kelak mereka butuhkan. Dengan mengenal rasa senang dan sakit pada waktu yang bersamaan itu pulalah, mereka akan belajar untuk bergaul dengan ’sehat’. Dengan berbagai pengalaman warna rasa itu pula seorang anak akan belajar tentang kehidupan yang sesungguhnya dan dipersiapkan untuk menjadi individu yang siap mengarunginya.

Belajar Mengendalikan Diri
Mengendalikan diri tidaklah berarti tidak boleh marah. Hanya saja marah pun bukan berarti harus berteriak-teriak, membentak-bentak, mengeluarkan kata-kata tidak pantas atau bahkan melayangkan cubitan, pukulan atau hal lain yang menyakitkan. Marah di sini adalah ketegasan untuk menunjukkan bahwa sesuatu ’yang salah’ tidak boleh disetujui dan dibiarkan, akan tetapi harus ditolak dan diluruskan. Tentu dengan cara yang membuat kita bisa menyampaikan pesan tersebut kapada anak, dengan kontrol emosi dan fisik yang harus bagus.

Ketika Ahmad marah, hal pertama yang harus kami lakukan adalah tidak terpancing memarahinya. Kontrol diri betul-betul harus terlihat oleh Ahmad. Mulai dari roman muka, mimik, bahasa, intonasi, hingga bahasa tubuh kami yang lain harus terbaca oleh Ahmad bahwa kami tidak terpancing ikut marah dan sangat terkendali. Ini tentu bukan perkara yang begitu saja mudah untuk dilakukan. Kami pun harus belajar melakukannya dengan kerja keras dalam kondisi apapun (meski adakalanya juga kami ’terpancing’ pada keadaan dan situasi tertentu).
Setelah memastikan kami dalam keadaan pengendalian diri yang benar-benar bagus, biasanya kami menjawab kemarahan Ahmad tersebut dengan kalimat-kalimat berintonasi rendah yang berusaha mengarahkan Ahmad untuk menceritakan kemarahannya dalam bentuk verbal. Kami tanya dia apa yang membuatnya marah dan memberikan penjelasan atau tafsir terbaik dari apa yang ia alami dengan penuh ketelatenan dan yang penting ’tidak menampakkan’ sedikitpun emosi kemarahan. Ketika upaya mengajaknya bicara belum memungkinkan untuk dilakukan karena masih didominasi nafsu amarah, biasanya mendoakannya secara langsung dengan dikeraskan di hadapannya saat itu juga adalah hal yang kami lakukan. Bisa jadi panjang dan macam-macam doa yang kami baca, sambil meredam kemarahan Ahmad. Maka emosi meluap-luap yang tadi ditunjukkan dengan memukul atau membanting sesuatu, atau warna muka memerah dengan pandangan mata yang menantang, juga nafas yang memburu akan berangsur-angsur menghilang tertransfer dalam bentuk kemarahan secara verbal. Dari kemarahan secara verbal yang masih disertai tingginya intonasi bicaranya, perlahan-lahan berubah hanya dalam bentuk content/isi pembicaraannya saja yang menunjukkan dia marah, namun intonasi sudah mulai merendah dan terkontrol. Hingga akhirnya Ahmad bisa untuk kami belai, pangku, berikan pelukan dan ciuman sambil mengajaknya tarik nafas panjang sembari membaca istighfar untuk menyudahi dan menyesali kesalahannya tadi.
Dari proses marah hingga bisa mengendalikan diri yang membutuhkan waktu panjang -di awal-awal kami melatih pengendalian dirinya-, kini Alhamdulillah Ahmad sudah jauh lebih bagus dan lebih cepat dalam mengendalikan kemarahannya. Kini ketika dia marah, dia tunjukkan kemarahannya itu dengan mengatakannya secara verbal (”aku marah....”), meski kadang masih terlihat roman muka marah di wajahnya. Insya Allah, dengan bertambahnya mafhum dan ketundukanya pada apa yang dipahaminya, kemampuan pengendalian diri Ahmad semakin hari semakin baik. Hingga pada saatnya nanti, dia bisa dengan tepat meletakkan kapan dia boleh dan harus marah, serta bagaimana mengekspresikan amarahnya tersebut dengan benar. Semoga kami dimudahkan Allah membantu Ahmad melakukannya. Amiin.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar