Tempat berbagi
informasi, pemikiran,
kisah, artikel, tips, pengalaman, dan ilmu
berkaitan dengan
dunia medis, intelektual, dakwah, perempuan,

pendidikan anak,
remaja, keluarga dan generasi, juga sesekali barang jualan.....

Selamat Berlayar..........

Sabtu, 11 April 2009

Memanfaatkan Photographic Memory

(Berbagi Pengalaman Mendidik Ahmad -edisi 4)
Oleh: Ummu Ahmad


Sebagaimana yang sudah saya tuliskan di awal, bahwa usia balita adalah masa dimana seorang anak mempunyai kualitas memori seperti foto. Selain itu anak-anak balita tersebut sering juga disebut sebagai ’the Great plagiator” alias peniru ulung. Apa yang dia lihat, itulah yang akan dia ingat. Apa yang dia dengar, itupun yang akan dia tirukan. Karenanya salah satu prinsip pendidikan pada usia ini adalah bagaimana memastikan mereka mendapatkan stimuli/rangsangan/informasi sebanyak-banyaknya, dan dipastikan semua stimuli/rangsangan/informasi yang dia indera, apapun itu, adalah hal yang baik dan benar.
Di sinilah orang tua sangat memegang peran sebagai guru pertama yang akan jadi teladan bagi anak. Dan rumahnya adalah lingkungan sekolah pertama bagi anak.
Terkait dengan memberikan beragam informasi, dalam masa-masa awal ketika anak kita belum bisa bicara, bukan berarti mereka belum bisa menyimpan informasi yang kita berikan. Sehingga orang tua memang harus ’banyak omong’ dan ’banyak cerita’ ketika sedang mengasuh anak-anaknya. Hal ini perlu dilakukan agar masa dengan daya rekam yang luar biasa ini tidak hanya terlewatkan dengan minim rangsangan dan informasi.


Saya sendiri sejak Ahmad bayi berusaha mengajaknya ngomong dengan menyebutkan apa dan siapa yang sedang dilihatnya atau ditemuinya. Adakalanya saya menyebutkan jenis-jenis kendaraan yang kami temui di jalan (bus, truk, sedan, motor, mobil molen, mobil box, dll), ada kalanya saya sebutkan jenis-jenis bangunan yang ada di pinggir jalan (kantor, warung, toko, POM bensin, dll.), ada kalanya warna benda, ukurannya, dan apa saja yang bisa saya sampaikan. Kelak ketika dia berumur satu tahunan, ketika sudah mulai bicara sedikit, ketika saya diam justru dia yang akan selalu bertanya terus ”ini apa? itu apa?” terus menerus sebagaimana sebelumnya saya terus menerus juga memberitahu dia ketika belum bisa bicara.
Pada saat anak kita sudah memiliki simpanan informasi lumayan banyak, kita bisa mengasah kepekaan penginderaannya dengan memanggil memori tersebut dalam permainan-permainan yang bisa kita lakukan bersamanya. Misalnya, saya meminta Ahmad menyebutkan sepuluh hal yang dia temui sepanjang perjalanan kami dengan cepat. Saya membuat suara tertentu yang berbeda ketika dia bisa menyebutkan dengan cepat (misal ”cliing...”), atau terlalu lama melebihi waktu yang saya tentukan (misal ”teett..”), atau yang disebutkannya ternyata pengulangan (misal ”ding dong..”), dan lain sebagainya. Kita bisa teruskan dengan sepuluh berikutnya, dan seterusnya. Jadi seperti permainan kuis. Kita akan bisa melihat sejauh mana kepekaan penginderaan anak kita, dan kecepatannya. Pada awal saya melakukannya dengan setelah beberapa kali saya melakukannya, terdapat perbedaan yang saya dapati pada hasil penginderaan Ahmad. Misal pada awal-awal saya melakukannya dia hanya menyebutkan : ”mobil, sepeda , orang, motor, rumah, sungai, pohon .....”, di kesempatan berikutnya lebih tajam dan lebih cepat, misal ” truk molen, truk tanki, bus, pickup, pagar biru, orang lagi makan, sampah di sungai, anak kecil menangis, kakek lagi duduk,...” dan seterusnya
Di kesempatan lain, mungkin kita mengulang dan me-recall informasi yang sudah tersimpan dalam benak anak kita dengan memintanya bercerita tentang kejadian apa saja yang mereka temui hari ini, atau ingin mereka ceritakan. Dengan metode ini sering kita akan mendapati cerita-cerita ’hebat’, lucu dan bahkan tidak masuk akal, meluncur dari mulut mereka dalam rangkaian kalimat-kalimat yang mungkin masih sangat sederhana.
Metode apapun bisa kita lakukan untuk memanfaatkan photographic memory ini. Pada prinsipnya, jangan pernah biarkan kemampuan ’kamera’ mereka hanya kita biarkan ’tergeletak’ dan ’terpakai’ ala kadarnya karena kita tidak membantu mereka mengoptimalkan potensi tersebut, dengan memberikan arahan bagaimana menggunakannya dengan sebaik-baiknya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar