Tempat berbagi
informasi, pemikiran,
kisah, artikel, tips, pengalaman, dan ilmu
berkaitan dengan
dunia medis, intelektual, dakwah, perempuan,

pendidikan anak,
remaja, keluarga dan generasi, juga sesekali barang jualan.....

Selamat Berlayar..........

Sabtu, 11 April 2009

Pendekatan ‘Positif’, Jangan ‘Negatif’ (Pelajaran Dari Doa Untuk Abi Yang ‘Nakal’)

(Berbagi Pengalaman Mendidik Ahmad -edisi 7)
Oleh Ummu Ahmad


Pakailah pendekatan positif ketika memberi pelajaran dan bukan pendekatan negatif. Katakan ‘tidak baik’ dan jangan katakan ‘nakal’. Katakan ‘tidak sabar’ dan jangan katakan ‘pemarah’. Pakailah pendekatan ‘hadiah’ daripada ‘pendekatan sanksi/hukuman’.
Hal ini sebenarnya juga sudah kami pahami. Tetapi satu peristiwa yang pernah terjadi membuat kami lebih berhati-hati lagi untuk memastikan pelajaran apapun kepada anak kita harus tersampaikan dengan ‘pendekatan positif’ dan bukan ‘pendekatan negatif’ terutama ketika mengajari anak usia dini.
Saya sangat ingat betul, waktu itu saya dan Ahmad lagi menonton televisi. Acara yang kami tonton saat itu adalah sinetron “Rahasia Ilahi”. Biasanya sinetron ini bercerita tentang seseorang yang gemar melakukan maksiat/kejahatan, lalu mendapatkan balasan dari Allah atas kemaksiatan/kejahatannya. Pada saat channel baru saya pindah, ada adegan seorang bapak yang sedang memukuli dan membentak istrinya. Seperti biasa, Ahmad langsung tersentuh perasaannya hingga mau menangis dan meminta channel segera diganti. Saya pun segera mengganti channel sambil mendudukkannya di pangkuan, sembari menjelaskan bahwa yang seperti itu tidak bagus, tidak boleh dilakukan. Maka mengalirlah pertanyaan darinya tak putus-putusnya. “Kenapa Mi?” tanyanya. “Karena itu bisa menyakiti ibunya, itu namanya gak bagus, orang jahat”, jawab saya. “Orang jahat nanti sama Allah diapakan Mi?”, tanyanya lagi. “Sama Allah nanti akan dihukum di akhirat”, jawab saya. “Dihukum sama Allah apa Mi?”, tanyanya belum puas. “Dimasukkan ke dalam neraka Nak”, jawab saya.. “Diapakan di neraka Mi?” kejarnya terus. Saya pun jawab “dibakar sama api yang sangat panas”. “Iya, dibakar ya Mi sama Allah”.... Ahmad mengangguk-angguk sambil pandangannya mengisyaratkan dia sedang memikirkan sesuatu.
Beberapa hari berlalu. Suatu waktu, Ahmad dinasehati abinya karena suatu hal tidak tepat yang dilakukannya. Seperti biasa, bakat temperamentalnya muncul dan membuatnya ‘menantang’ terus abinya, hingga kemudian abinya menghentikan ‘pertengkarannya’ dengan Ahmad dan memintanya masuk kamar dan berdoa agar jadi anak baik. Ahmad pun masuk kamar sambil menangis. Seperti biasanya pula, pada saat menangis itulah dia berdoa pelan, namun cukup terdengar oleh saya yang waktu itu kebetulan di dekatnya: “Ya Allah...itu... abi nakal, hukum Ya Allah, dibakar...”. Sontak saya kaget, lalu memberikan penjelasan padanya kalau abinya tidak nakal. Abinya itu karena saking sayangnya sama Ahmad melarang Ahmad melakukan hal-hal yang membahayakan....dan seterusnya.
Sejak itu, kami membuat re-komitmen baru. Bahwa tidak boleh ada pendekatan ‘hukuman’ dulu dalam menerangkan apapun meskipun konteksnya untuk orang jahat. Jadi kalau ada fenomena ‘orang jahat’ yang ditemui Ahmad, kami sampaikan dan ajarkan agar kita mendoakan mereka agar segera taubat jadi orang baik dan besok bisa masuk surga Allah...
Jadi sekali lagi, gunakan pendekatan ‘positif’ dan membangun! Dan bukan sebaliknya!



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar